Echoes Of The Abyss

Echoes Of The Abyss
Bab 24: Cinta yang Bertumbuh


__ADS_3

Lian merasa hatinya berdebar kencang ketika dia menyadari perasaannya terhadap Eris semakin dalam. Selama petualangan mereka di dunia bawah tanah yang mematikan, dia telah melihat sisi lain dari Eris yang membuatnya terpesona. Eris adalah wanita yang kuat, pintar, dan cantik, dengan kekuatan sihir yang luar biasa. Dia juga memiliki tekad yang kuat untuk menyelesaikan misinya, yang membuat Lian semakin terpesona padanya.


Namun, Lian juga merasa waspada terhadap perasaannya. Dia tidak ingin terlalu terbawa emosi dan melupakan tujuan utama mereka, yaitu keluar dari dunia bawah tanah itu. Selain itu, dia tidak yakin apakah perasaannya dibalas oleh Eris atau tidak. Eris selalu bersikap dingin dan sulit ditebak, membuat Lian merasa khawatir dan bingung.


Suatu malam, saat mereka beristirahat di tempat yang relatif aman, Lian memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Eris. Dia tahu itu adalah keputusan yang berisiko, tetapi dia tidak bisa menahan perasaannya lagi. Dia perlahan-lahan mendekati Eris yang sedang tidur dan duduk di dekatnya.


"Eris, aku harus mengatakan sesuatu padamu," ujar Lian dengan hati-hati.


Eris terbangun dan menatap Lian dengan tatapan tajam. Lian merasa gemetar, tetapi dia terus berbicara dengan berani. "Aku tahu kita belum lama kenal, tetapi aku merasa sangat dekat denganmu. Aku tidak tahu apakah perasaanku dibalas atau tidak, tetapi aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat peduli denganmu."


Eris diam sejenak, seakan memikirkan kata-kata apa yang harus diucapkan. Lalu, dia tersenyum dan mengelus rambut Lian lembut. "Aku juga peduli padamu, Lian. Kamu adalah teman yang baik dan aku merasa terhormat bisa berpetualang bersamamu."


Meskipun Eris tidak langsung menjawab dengan perasaannya, Lian merasa lega dan bahagia. Dia tahu bahwa perasaannya tidak sia-sia dan dia telah menunjukkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.


Keesokan harinya, saat mereka terus menavigasi labirin yang mematikan, Lian dan Eris semakin dekat satu sama lain. Mereka berbicara tentang masa lalu mereka, harapan mereka untuk masa depan, dan impian mereka yang terpendam. Mereka juga menggandeng tangan ketika mereka menghadapi rintangan yang sulit, memberikan dukungan dan kekuatan satu sama lain.


Di saat-saat sulit itu, Lian merasa bahwa hubungan mereka semakin kuat dan perasaannya semakin dalam. Dia tahu bahwa petualangan mereka belum berakhir dan masih ada banyak bahaya yang harus dihadapi, tetapi dia merasa yakin bahwa mereka bisa mengatasi semua itu bersama-sama.


Ketika mereka berhenti untuk istirahat di sebuah goa yang indah, Lian dan Eris saling berbicara tentang pengalaman mereka di dunia bawah tanah itu. Lian mengungkapkan rasa terkejutnya ketika pertama kali melihat keajaiban sihir Eris, sementara Eris menceritakan sedikit tentang masa lalunya yang misterius dan bagaimana dia belajar menguasai sihir.


Saat mereka duduk bersebelahan, Lian merasa semakin tertarik pada Eris dan merasa bahwa dia mungkin sedang jatuh cinta padanya. Namun, dia masih tidak yakin apa perasaannya dibalas, karena Eris tampaknya masih menyimpan banyak rahasia.


Sementara mereka beristirahat, Lian menunjukkan kepada Eris beberapa benda yang berhasil dia ambil selama petualangan mereka. Salah satunya adalah kristal yang dia temukan di goa itu. Eris merasa terkejut ketika melihat kristal itu dan mengakui bahwa dia pernah melihat kristal serupa di masa lalunya.


Ketika Eris menyentuh kristal itu, tiba-tiba terdengar suara menggema dari kejauhan. Suara itu semakin lama semakin keras, dan mereka berdua merasa bahwa itu adalah suara yang tidak ramah.


"Eris, apa itu suara itu?" tanya Lian, ketakutan.


Eris merasa bahwa suara itu mungkin berasal dari sesuatu yang jauh di dalam goa itu, dan mereka harus waspada. Mereka mengambil perlengkapan mereka dan bergerak dengan hati-hati melalui goa itu.


Tiba-tiba, dari dalam kegelapan, muncul sebuah makhluk besar dan ganas. Lian dan Eris saling berhadapan dengan makhluk itu dan memperjuangkan hidup mereka. Namun, ketika Lian hampir terluka parah, Eris mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan dia.

__ADS_1


Lian merasa sedih dan kehilangan setelah Eris meninggal. Dia tahu bahwa dia tidak akan bisa keluar dari dunia bawah tanah itu tanpa bantuan Eris. Namun, dia juga merasa berterima kasih karena Eris telah memberinya kesempatan untuk bertahan hidup dan menemukan jalan keluar dari goa itu.


Lian mengambil kristal itu dan merasa bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk menemukan jalan keluar dari dunia bawah tanah itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan keluar dari sana dan melanjutkan hidupnya dengan keberanian dan kegigihan yang sama seperti Eris. Dengan hati yang berat, dia melanjutkan perjalanannya sendiri, sambil membawa kenangan Eris dalam hatinya.


Lian merasa hatinya berdebar keras saat Eris menatapnya dengan tatapan penuh makna. Dia tahu ada sesuatu yang ingin dikatakan Eris, dan Lian merasa takut dengan apa yang akan dikatakannya.


"Eris, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Lian, mencoba mengendalikan gugupnya.


Eris memandang Lian dengan lembut dan menjawab, "Lian, aku sudah lama merasa terikat denganmu. Aku tidak pernah bertemu dengan seseorang seperti kamu sebelumnya, dan aku merasa bahwa kita memiliki ikatan yang kuat."


Lian merasa hatinya berdebar semakin kencang saat Eris berbicara. Dia tidak pernah berpikir bahwa Eris akan mengakui perasaannya padanya.


"Aku tahu bahwa kita berada di tempat yang berbahaya dan mungkin tidak ada masa depan yang pasti di depan kita, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku merasa lebih hidup saat berada di dekatmu," lanjut Eris. "Apa yang kamu pikirkan tentang itu?"


Lian merasa hatinya meleleh mendengar kata-kata Eris. Dia tahu bahwa perasaannya terhadap Eris sudah tumbuh menjadi lebih dari sekadar teman.


"Eris, aku merasakan hal yang sama," jawab Lian dengan tulus. "Aku juga merasa bahwa kita memiliki ikatan yang kuat, dan aku ingin menjalani petualangan ini bersamamu."


Namun, saat mereka merasa aman dalam pelukan satu sama lain, suara deru angin kencang tiba-tiba terdengar dari jauh. Lian dan Eris segera menarik diri dari pelukan mereka dan mengambil posisi siap tempur.


"Kita harus siap menghadapi apa pun yang datang," kata Eris, siap mengeluarkan sihirnya.


Lian mengangguk dan meraih pedangnya, siap melawan apapun yang muncul. Mereka berdua menatap ke arah suara dan menunggu dengan hati yang berdebar.


Tiba-tiba, sebuah bayangan besar muncul dari kegelapan. Lian dan Eris menatap dengan penuh konsentrasi saat makhluk itu semakin dekat.


Saat makhluk itu semakin dekat, mereka menyadari bahwa itu adalah seekor naga yang besar. Naga itu terbang di atas mereka, memancarkan hembusan api yang panas dari mulutnya.


Lian dan Eris berdiri tegak, siap melawan naga itu. Mereka tahu bahwa pertarungan ini akan menjadi salah satu yang terberat yang pernah mereka hadapi, tetapi mereka tidak akan menyerah tanpa melawan habis-habisan.


Dalam sekejap, pertarungan hebat dimulai. Naga itu menerjang mereka dengan cepat, dan Lian dan Eris menghindar dengan gerakan yang lincah. Mereka menyerang naga dengan pedang dan sihir mereka, menyebabkan luka-luka yang besar di tubuh naga itu. Namun, naga itu tidak membiarkan dirinya kalah begitu saja. Dengan ekornya yang panjang dan kuat, naga itu menyerang mereka dengan keras, mengirimkan mereka terbang ke belakang.

__ADS_1


Lian merasakan tubuhnya jatuh keras ke tanah. Dia merasa sakit di sekujur tubuhnya, tetapi dia tahu dia tidak boleh menyerah. Dia berdiri dan mengangkat pedangnya dengan penuh tekad. "Eris, jangan menyerah!" serunya.


Eris yang terengah-engah dan berdarah-darah, menatap Lian dengan mata yang penuh semangat. Dia mengangguk, lalu mengambil napas dalam-dalam, dan mengeluarkan mantra sihir yang kuat. Cahaya putih terang memancar dari tangannya dan menyebar ke seluruh tubuh naga itu.


Naga itu berteriak kesakitan dan terus berjuang melawan sihir Eris, tetapi lama kelamaan, serangannya melemah dan tubuhnya melemah. Lian dan Eris bekerja sama untuk menyerang naga dengan keras, mengambil kesempatan pada setiap kesempatan untuk menyerang lemahnya. Akhirnya, naga itu jatuh ke tanah dan tak bernyawa.


Lian dan Eris terengah-engah dan berkeringat, tetapi mereka merasa sangat lega. Mereka berhasil mengalahkan naga itu dan melanjutkan petualangan mereka menuju ke jalan keluar dari dunia bawah tanah yang misterius.


Setelah mereka pulih, mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan semangat baru. Saat mereka menjelajahi labirin yang rumit, mereka menemukan lebih banyak rahasia dan misteri yang tersembunyi dalam dunia bawah tanah itu. Namun, mereka tidak pernah menyerah dan selalu bekerja sama untuk mengatasi rintangan yang ada di depan mereka.


Selama petualangan mereka, Lian dan Eris mulai merasa tertarik satu sama lain. Mereka merasa semakin dekat dan lebih memahami satu sama lain. Namun, mereka juga menyadari bahwa mereka harus fokus pada tujuan utama mereka - untuk menemukan jalan keluar dari dunia bawah tanah dan kembali ke dunia nyata.


Akhirnya, setelah melalui berbagai rintangan dan bahaya, mereka menemukan jalan keluar dari dunia bawah tanah itu. Mereka merasa sangat lega dan bahagia saat mereka keluar ke permukaan dan kembali ke dunia nyata.


Namun, petualangan mereka belum berakhir. Mereka menyadari bahwa mereka telah tumbuh dan belajar banyak selama petualangan mereka. Mereka merasa lebih kuat dan lebih yakin dalam kemampuan mereka untuk menghadapi rintangan yang ada di depan mereka. Dan di antara semua itu, mereka menyadari bahwa cinta mereka tumbuh dalam petualangan itu dan mereka bersama-sama menghadapi segala hal yang akan datang.


Ketika naga itu terbang lebih rendah, Lian mengambil kesempatan dan melompat ke punggungnya. Dia berusaha keras untuk menyeimbangkan dirinya di atas tubuh naga yang bergerak liar. Lian mengambil pedangnya dan memotong sayap naga dengan sekuat tenaga. Naga itu meluncur ke tanah dengan keras, mengirimkan debu dan batu-batu besar terbang ke mana-mana.


Eris segera mengejar Lian ke tanah, siap membantu temannya. Mereka berdua menyerang naga itu dengan sihir dan pedang mereka, memotong dan membakar tubuh naga. Naga itu menderita dan berjuang, namun akhirnya kekuatannya mereda dan mati di antara debu dan asap.


Lian dan Eris saling berpandangan, menghela nafas lega. Mereka berhasil mengalahkan naga itu, tetapi mereka merasakan kelelahan dan rasa sakit yang luar biasa. Lian memandang ke arah Eris dan berkata, "Terima kasih atas bantuanmu. Kita berhasil mengalahkannya bersama-sama."


Eris tersenyum kecil dan menjawab, "Kita saling membantu. Tidak mungkin aku melakukannya tanpamu."


Lian dan Eris kemudian berjalan perlahan-lahan, berusaha untuk menemukan jalan keluar dari labirin itu. Mereka melewati beberapa lorong yang tampaknya mengarah ke arah yang benar, namun ternyata tidak ada jalan keluar sama sekali. Mereka terus berjalan, semakin lelah dan putus asa.


Namun, setelah berjalan selama beberapa waktu, mereka akhirnya menemukan jalan keluar. Cahaya matahari menyilaukan mereka ketika mereka keluar dari labirin. Mereka berdua menatap ke arah langit dan tersenyum, merasakan kelegaan yang luar biasa.


"Lian," Eris berkata dengan suara lembut, "Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu denganmu di dunia bawah tanah ini. Kau membuatku merasa hidup lagi, dan aku tidak pernah bisa mengungkapkan betapa berterima kasihnya aku padamu."


Lian tersenyum, merasakan hatinya berdegup kencang. Dia tahu bahwa dia sudah jatuh cinta pada Eris, dan dia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa wanita misterius itu. "Aku juga beruntung bisa bertemu denganmu, Eris. Kau memberiku keberanian dan harapan, dan aku tidak akan pernah melupakannya."

__ADS_1


Mereka berdua saling memandang dan tersenyum, merasakan kebahagiaan yang tak tergambarkan. Mereka tahu bahwa petualangan mereka belum berakhir, dan bahwa mereka masih harus menghadapi banyak rintangan di masa depan. Namun, mereka tidak takut lagi. Bersama-sama, mereka merasa bahwa tidak ada yang tidak mungkin.


__ADS_2