Ephemeral

Ephemeral
29.


__ADS_3

"Kau mempunyai banyak orang yang sedang mengkhawatir kan dirimu sekarang diluar sana, jangan terbawa oleh suasana rumah ini! sejak dulu memang sudah seperti dan tidak bakal pernah berubah lagi."


"Kau tinggal sendirian disini pak?"


"Lalu dengan siapa lagi aku harus tinggal?"


"Istri dan anakmu? atau mungkin kakak mu? lalu adikmu?"


"Tidak ada."


"Tidak ada?! maaf pak aku tidak bermaksud..."


"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa."


Will l merasa tidak enak dengan beliau karena takut menyinggung dan menyakiti perasaan nya.


"Kau harus mempunyai seseorang yang setidak nya bisa menemanimu dalam menghabiskan hari-hari yang mungkin berat ini!"


"Aku bisa mengatasinya kau tidak perlu khawatir! oh ya, ngomong-ngomong siapa namamu? dari tadi aku bingung ingin memanggil mu dengan sebutan apa."


"Aku juga sebenarnya tidak tau siapa diriku..."


"Tidak tau? maksudmu?"


"Ah tidak, lupakan saja. Namaku Hwang Will l kau bisa memanggilku Will l ..."


"Will l ? nama yang cukup unik!"

__ADS_1


Sofa hitam yang berada di ruang tamu setidaknya menjadi pengisi kekosongan rumah itu sedikit.


"Apa kau tidak takut denganku? aku mengetahui sesuatu hal yang penting tentang liontin merah itu!"


"Takut? aku sama sekali tidak takut padamu pak." Will l tersenyum tipis.


"Percaya diri sekali kamu Will l . Bagaimana kalau ternyata aku ingin berbuat sesuatu yang buruk padamu?"


"Kalau kau ingin berbuat seperti itu pasti sudah kau lakukan sedari tadi!"


"Ternyata anak ini tidak sebodoh yang aku kira."


"Stev e maksud bapak?"


"Ya begitulah!"


"Ada apa ini kau menyebut-nyebut namaku?!" sahut Stev e yang datang bersama Aku u ke rumah itu.


"Duh Will l kemana sih?! kok nomernya gak aktif-aktif ya dari kemarin???" ungkap Aku u yang masih terus-menerus menelpon Will l berkali-kali.


Nomor yang ada tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi.


"Aish kok gak bisa sih?!"


"Nah ini masuk!"


'Nomor tidak dikenal? nomornya siapa ini?' kata Aku u dalam hatinya karena Nomor yang tidak dikenal meneleponnya.

__ADS_1


"Halo... ini siapa ya?"


"Siapa coba?"


Diam sejenak...


"Loh Will l ?! kamu ganti nomor?"


"Akhirnya kau membukbakal pintu ini juga padaku!" keluh Stev e , "apa yang kau lakukan Will l sampai-sampai dia ingin membukbakal pintunya untukmu?" lanjutnya.


"Aku cuma sekedar ngobrol aja..." sahut Will l .


"Asal kalian tau betapa nekatnya anak ini, hujan lebat tangah malam begitu dia malah kesini. Untung saja aku membawanya masuk!" lanjutnya berbicara.


"Aishhh kau ini! kalau terjadi apa-apa padamu bagaimana?" Stev e menjitak kepala Will l .


"Akh sakit tau!" Will l menampik tangannya.


"Sssttt! jangan membantah."


"Apa-apaan ini yang satu bilang iya yang satu bilang bukan, dasar kalian ini!"


Mereka semua pun duduk di sofa ruang tamu pada pagi hari itu, mendengarkan paman ku yang mulai memberitahu tentang buku itu.


"Pertama, jangan pernah mempercayai buku ini sepenuhnya kalau kau tidak benar-benar paham dengan apa yang ada di dalamnya!" ujarnya.


"Maksud bapak isi buku ini bohong?!" sahut Stev e .

__ADS_1


"Aku tidak bilang seperti itu! dengarkan ucapanku dulu baik-baik."


"Maksud bapak kalau dia harus menjelaskannya sendiri itu bagaimana? penulis buku ini memangnya masih hidup sampai sekarang?"


__ADS_2