
*****
Sosok anak laki-laki berambut pirang dengan netra biru yang indah tampak
sedang memandang luasnya langit malam yang begitu memanjakan mata, dengan ribuan gemerlap
bintang menghiasinya.
Dia menumpukan tangannya pada pagar minimalis yang berada di balkon
kamarnya, enggan untuk beranjak dari
sana walaupun udara dingin malam itu terasa semakin menusuk tulang.
Suara derap langkah kaki terdengar mendekat kearahnya, namun itu tak membuat
dirinya mengalihkan tatapannya dari benda kecil bercahaya di langit yang saat
ini menjadi pemandangan paling lebih menarik untuknya.
"Kenapa belum tidur?" Suara itu terdengar sangat menenangkan di
telinganya, apalagi ditambah dengan usapan lembut di rambutnya yang diberikan
oleh pemilik suara.
Dia menoleh kesamping dan mendapati neneknya sedang menatapnya teduh, dia
tersenyum tipis lalu mengalihkan tatapannya kembali kearah langit.
"Sedang melihat ibu," balasnya, membuat nenek yang berada di
sampingnya menurunkan tangannya yang berada di kepala anak itu.
"Felix, nenek tau perasaanmu. Tapi untuk sekarang nenek belum bisa
memberitahumu," jelas nenek dengan raut khawatir tergambar jelas
diwajahnya.
Felix menghadap neneknya dan memegang pundak wanita yang sudah merawatnya
sedari kecil sekaligus menggantikan peran seorang ibu yang sampai sekarang
tidak ia tahu identitasnya.
Bagaimana wajah ibunya itu pun tidak pernah sekalipun ditunjukkan
kepadanya.
"Tidak mengapa nenek, aku mengerti. Sekarang nenek kembali ke kamar
saja, sudah malam."
"Tapi—" Sebelum berbicara lebih panjang lagi, Felix mendorong
pelan bahu nenek menuju pintu keluar kamarnya.
"Sudahlah, Nek. Felix
akan tidur juga." Dia menutup pintunya saat neneknya sudah sepenuhnya
keluar, membuat wanita itu menghembuskan napas berat lalu tak lama mulai
beranjak dari depan kamar sang cucu.
Felix menyandarkan tubuhnya di pintu, sudah hampir dua belas tahun dia hidup
dengan sebuah pertanyaan yang selalu bersemayam di otaknya. Dia tidak pernah
mencari tahu. Walau sebenarnya dia
sangat ingin melakukannya.
Salahkah dia jika sampai saat ini
dia masih memberi kesempatan lebih lama kepada Ibunya untuk mencari dirinya?
Atau...lebih tepatnya ‘menunggu’?
Kau tahu rasanya ingin membenci seseorang tapi selalu tumbang dengan rasa sayang yang begitu kuat?
Ah, itu sangat tidak enak. Kuharap kalian tidak pernah merasakannya.
Tapi entah mengapa hatinya berkata dia harus memecahkan teka-teki ini.
Terakhir kali saat dia mengutarakan niatnya, neneknya menangis dan
memeluknya erat. Seakan melarangnya untuk tidak mencari tahu.
Sebagai anak yang cukup mengerti keadaan hanya dengan melihat raut wajah,
Felix sangat mengerti bahwa ada hal buruk yang seharusnya tidak ia dekati saat
itu.
"Sebenarnya ada masalah apa?" batinnya.
*******
"HEI ANAK PEMALAS! BANGUN KAMU!"
Suara menggelegar beserta gedoran pintu dari luar itu sontak membuatnya
terbangun dari tidur. Dengan mata setengah terpejam dia bergegas membuka pintu
sebelum bibinya lebih marah lagi.
Saat pintu terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya sedang berkacak
pinggang dan menatap galak kearahnya, membuat dia berusaha membuka matanya agar
terbuka sepenuhnya.
__ADS_1
"Enak sekali kamu bangun siang seperti ini. Sana bersih-bersih halaman
rumah!" Sentak wanita berambut keriting nan mengembang itu.
"Jangan lupa siram tanamannya juga," lanjut bibi.
"Tidak sarapan dahulu, bi?" tanyanya polos, membuat wanita di
depannya itu menurunkan tangannya yang semula berada di pinggang.
"Salah siapa bangun kesiangan." Bibi melengos dan pergi dari
hadapannya membuatnya menunduk sedih lalu kembali masuk kedalam kamarnya untuk
mandi.
Dia mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah lesu sambil
menguap sesekali, dia sangat mengantuk sekali. Bagaimana tidak? dia baru saja
terlelap jam empat pagi tadi karena mimpi buruk sialan yang selalu mengganggu
tidur nyenyaknya setiap saat.
Felix memang sering sekali bermimpi buruk sedari kecil, sehingga membuatnya
sulit tertidur di malam hari. Dahulu, biasanya kakeknya yang akan selalu
menemaninya sampai bisa tertidur dengan nyenyak tanpa bermimpi buruk. Tapi
sejak kakek tiada, dia tidak mengerti bagaimana caranya untuk tidur dengan
tenang seperti dahulu, bagaimana cara mengatasi mimpi buruknya ini, dan
terkadang dia bahkan begitu takut untuk sekedar memejamkan mata. Untung saja
hari ini hari minggu.
Dia berdecak melihat jam yang baru menunjukkan pukul tujuh pagi kala sudah
keluar dari kamar mandi. Oke, sepertinya bibi memang sengaja menjahilinya agar
dia tidak terus-terusan bangun siang. Dan dia melotot kaget saat menyadari
kamarnya begitu berantakan dari mulai sprei yang semula sudah dirapikannya kini
acak-acakan dan beberapa camilan nampak berjatuhan di lantai kamar. Hanya
dengan melihat tentu ia sudah tau siapa pelakunya.
"Bi—"
"Felix cepat turun sarapan! Kalau satu menit lagi belum turun kamu
tidak dapat sarapan!"
Baru saja ingin berteriak marah karena dia kehilangan kesempatan tidur
berharganya serta kamarnya menjadi kacau balau seperti kini, bibi sudah memotong kalimatnya membuatnya
di tangga paling bawah karena licin.
Bukannya meringis kesakitan karena pantatnya sudah sakit bukan main, dia justru
malah melongo tak percaya karena didepannya ada bibi dan neneknya tersenyum
kearahnya sembari membawa kue ditangan mereka, dilengkapi juga dengan anak
kecil yang baru berumur tiga tahunan memutari badannya sambil
melempar-lemparkan tepung kearahnya sambil tertawa kecil.
"Selamat ulang tahun Felix!" seru nenek dan bibinya bersamaan.
Sedangkan dia yang masih dengan posisi yang sama hanya mengerjapkan matanya
bingung, sebenarnya dia terlalu banyak pikiran atau bagaimana sampai tidak
ingat sama sekali jika hari ini adalah hari peringatan kelahirannya yang ke
tiga belas.
"Selamat ulang tahun, kakak," ucap bocah kecil itu saat berhenti
di depannya sambil membelai pipinya dengan tangan kecilnya itu. Tindakan itu
sukses membuat Felix gemas sendiri, tanpa pikir panjang dia langsung berdiri
dan menggendong bocah itu.
Itu adalah Scarlett, putri
satu-satunya dari bibi yang sekarang tinggal dengannya.
"Terima kasih, anak cantik," ujarnya sembari mencubit pelan hidung
bocah itu.
"Maaf karena kami baru sempat memberimu kejutan pagi ini, sekarang ayo
tiup lilinnya," perintah nenek, dia menghampiri bibi dan neneknya yang
membawa kue masih dengan posisi menggendong Scarlett, sebelum bibi mengambil
alih Scarlett dari gendongannya.
Felix mengepalkan tangannya meminta permohonan kepada Tuhan sebelum meniup
lilin. Jangan tanyakan apa permohonannya, sudah tentu tentang ibunya yang tak
kunjung dipertemukan oleh Tuhan dengannya.
Dia meniup lilinnya saat sudah selesai berdo'a, dihadiahi tepuk tangan kecil
__ADS_1
dari Scarlett.
"Kamu tahun ini mau hadiah apa?" tanya nenek sembari mengusap kepalanya lembut.
"Felix ingin nenek menceritakan tentang ibu," balasnya, membuat
kedua orang dewasa itu seketika tertegun lalu saling bertatapan sesaat.
Nenek menghembuskan napasnya pelan, lalu menuntun Felix untuk duduk di
bangku meja makan. Nenek mengambil tangan kirinya dan menggenggamnya.
"Baca pikiran nenek Felix, kamu akan menemukan jawabannya setelah
itu," ucap nenek membuat dia mengerutkan alisnya bingung. Maksudnya?
Memangnya dia cenayang apa bagaimana?
"Kamu bisa, coba tatap mata nenek." Bibinya menyahut dari sampingnya membuat Felix menatapnya. Wanita itu menggenggam tangannya pelan,
mengangguk menyakinkan. Sekali lagi dia memandang kearah nenek dengan
ragu tapi dibalas anggukkan oleh wanita itu.
Netra birunya menatap netra karamel yang kelam milik sang nenek. Tak lama
sekelebat ingatan mulai nampak dimatanya membuatnya mengerutkan dahi, seperti sebuah kaset lama yang diputar
kembali.
Disana terlihat seorang wanita cantik—ralat cantik sekali dengan sayap putih
dan telinga runcing, tampak sedang dikejar oleh segerombolan lebah raksasa yang
sangat mengerikan. Wanita itu membawa bayi kecil yang sedang menangis di
gendongannya.
Terlihat cahaya biru dari tangannya yang diarahkan kepada bayi itu hingga
membuat bayi itu diam, tidak menangis lagi. Tapi perlahan tubuhnya dan bayi itu
mengecil, wanita cantik itu dengan gerakan cepat bersembunyi di pohon beringin
besar yang berada di depan sebuah rumah satu-satunya di daerah itu.
Setelah dilihat sudah tidak dikejar lagi, tangannya sekali lagi melambai,
membuat keduanya kembali ke bentuk semula.
"Siapa di sana?"
Wanita itu menengok kearah pintu yang terbuka dengan terkejut, disana terlihat sepasang suami istri yang usianya sudah
cukup matang sedang berdiri diambang pintu dengan raut bingung. Wanita
itu berniat kabur, namun ambruk karena sayapnya terluka.
Nenek berlari kedalam dan mengambil sesuatu—seperti obat dari dedaunan, lalu
keluar menghampiri wanita itu dan membantunya diikuti oleh kakek. Beliau
mengolesi bagian sayap yang terluka dengan obat yang dia bawa tadilalu membebalkan kain lusuh dibagian itu.
Terdengar suara tangisan dari bayi yang berada di gendongan wanita itu
membuat nenek ingin mengambil alih dari gendongan wanita itu tapi diurungkan.
"Boleh aku meminta tolong kepada kalian berdua?" ucap wanita itu
mulai membuka suara.
"Meminta tolong apa?" tanya kakek.
Wanita itu menatap kakek, "tolong jaga anakku."
Kakek dan nenek langsung tercengang ditempat, mereka saling memandang sesaat. "M-memangnya ada masalah apa?"
Tanya nenek.
"Dia akan selalu berada dalam bahaya jika terus bersamaku." Wanita
itu menatap anaknya sendu lalu kembali menatap nenek dan kakek.
"Aku tahu kalian menginginkan anak laki-laki," ujar wanita itu
dengan senyuman walau matanya sudah berkaca-kaca.
Wanita itu menyerahkan bayinya kepada nenek.
"Namanya Felix, tolong jaga dia seperti kalian menjaga anak kalian
sendiri." Dia mengusap rambut anaknya pelan, sembari menitikkan air
mata.
"Jangan beri tahu dia tentang aku sampai dia cukup umur," wanita
itu mencium pucuk kepala anak laki-lakinya lama.
Mata Felix mengerjap, dia seakan ditarik kembali ke dunia nyata. Dadanya
bergemuruh hebat, dia hampir jatuh dari kursi jika tidak ditahan oleh
bibi.
Felix memegangi dadanya sambil menatap lantai nanar. Nenek memegang
pundaknya, "dia tidak membuangmu Nak. Tapi menyelamatkanmu."
"Jadi ibuku itu bukan manusia?" tanyanya.
"Bukan, ibumu seorang peri."
__ADS_1
****