Felix Charles : The Lonely Star

Felix Charles : The Lonely Star
|1. THE BEGINNING


__ADS_3

*****


Sosok anak laki-laki berambut pirang dengan netra biru yang indah tampak


sedang memandang luasnya langit malam yang begitu memanjakan mata, dengan ribuan gemerlap


bintang menghiasinya.


Dia menumpukan tangannya pada pagar minimalis yang berada di balkon


kamarnya, enggan untuk beranjak dari


sana walaupun udara dingin malam itu terasa semakin menusuk tulang.


Suara derap langkah kaki terdengar mendekat kearahnya, namun itu tak membuat


dirinya mengalihkan tatapannya dari benda kecil bercahaya di langit yang saat


ini menjadi pemandangan paling lebih menarik untuknya.


"Kenapa belum tidur?" Suara itu terdengar sangat menenangkan di


telinganya, apalagi ditambah dengan usapan lembut di rambutnya yang diberikan


oleh pemilik suara.


Dia menoleh kesamping dan mendapati neneknya sedang menatapnya teduh, dia


tersenyum tipis lalu mengalihkan tatapannya kembali kearah langit.


"Sedang melihat ibu," balasnya, membuat nenek yang berada di


sampingnya menurunkan tangannya yang berada di kepala anak itu.


"Felix, nenek tau perasaanmu. Tapi untuk sekarang nenek belum bisa


memberitahumu," jelas nenek dengan raut khawatir tergambar jelas


diwajahnya.


Felix menghadap neneknya dan memegang pundak wanita yang sudah merawatnya


sedari kecil sekaligus menggantikan peran seorang ibu yang sampai sekarang


tidak ia tahu identitasnya.


Bagaimana wajah ibunya itu pun tidak pernah sekalipun ditunjukkan


kepadanya.


"Tidak mengapa nenek, aku mengerti. Sekarang nenek kembali ke kamar


saja, sudah malam."


"Tapi—" Sebelum berbicara lebih panjang lagi, Felix mendorong


pelan bahu nenek menuju pintu keluar kamarnya.


"Sudahlah, Nek. Felix


akan tidur juga." Dia menutup pintunya saat neneknya sudah sepenuhnya


keluar, membuat wanita itu menghembuskan napas berat lalu tak lama mulai


beranjak dari depan kamar sang cucu.


Felix menyandarkan tubuhnya di pintu, sudah hampir dua belas tahun dia hidup


dengan sebuah pertanyaan yang selalu bersemayam di otaknya. Dia tidak pernah


mencari tahu. Walau sebenarnya dia


sangat ingin melakukannya.


Salahkah dia jika sampai saat ini


dia masih memberi kesempatan lebih lama kepada Ibunya untuk mencari dirinya?


Atau...lebih tepatnya ‘menunggu’?


Kau tahu rasanya ingin membenci seseorang tapi selalu tumbang dengan rasa sayang yang begitu kuat?


Ah, itu sangat tidak enak. Kuharap kalian tidak pernah merasakannya.


Tapi entah mengapa hatinya berkata dia harus memecahkan teka-teki ini.


Terakhir kali saat dia mengutarakan niatnya, neneknya menangis dan


memeluknya erat. Seakan melarangnya untuk tidak mencari tahu.


Sebagai anak yang cukup mengerti keadaan hanya dengan melihat raut wajah,


Felix sangat mengerti bahwa ada hal buruk yang seharusnya tidak ia dekati saat


itu.


"Sebenarnya ada masalah apa?" batinnya.


*******


"HEI ANAK PEMALAS! BANGUN KAMU!"


Suara menggelegar beserta gedoran pintu dari luar itu sontak membuatnya


terbangun dari tidur. Dengan mata setengah terpejam dia bergegas membuka pintu


sebelum bibinya lebih marah lagi.


Saat pintu terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya sedang berkacak


pinggang dan menatap galak kearahnya, membuat dia berusaha membuka matanya agar


terbuka sepenuhnya.

__ADS_1


"Enak sekali kamu bangun siang seperti ini. Sana bersih-bersih halaman


rumah!" Sentak wanita berambut keriting nan mengembang itu.


"Jangan lupa siram tanamannya juga," lanjut bibi.


"Tidak sarapan dahulu, bi?" tanyanya polos, membuat wanita di


depannya itu menurunkan tangannya yang semula berada di pinggang.


"Salah siapa bangun kesiangan." Bibi melengos dan pergi dari


hadapannya membuatnya menunduk sedih lalu kembali masuk kedalam kamarnya untuk


mandi.


Dia mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah lesu sambil


menguap sesekali, dia sangat mengantuk sekali. Bagaimana tidak? dia baru saja


terlelap jam empat pagi tadi karena mimpi buruk sialan yang selalu mengganggu


tidur nyenyaknya setiap saat.


Felix memang sering sekali bermimpi buruk sedari kecil, sehingga membuatnya


sulit tertidur di malam hari. Dahulu, biasanya kakeknya yang akan selalu


menemaninya sampai bisa tertidur dengan nyenyak tanpa bermimpi buruk. Tapi


sejak kakek tiada, dia tidak mengerti bagaimana caranya untuk tidur dengan


tenang seperti dahulu, bagaimana cara mengatasi mimpi buruknya ini, dan


terkadang dia bahkan begitu takut untuk sekedar memejamkan mata. Untung saja


hari ini hari minggu.


Dia berdecak melihat jam yang baru menunjukkan pukul tujuh pagi kala sudah


keluar dari kamar mandi. Oke, sepertinya bibi memang sengaja menjahilinya agar


dia tidak terus-terusan bangun siang. Dan dia melotot kaget saat menyadari


kamarnya begitu berantakan dari mulai sprei yang semula sudah dirapikannya kini


acak-acakan dan beberapa camilan nampak berjatuhan di lantai kamar. Hanya


dengan melihat tentu ia sudah tau siapa pelakunya.


"Bi—"


"Felix cepat turun sarapan! Kalau satu menit lagi belum turun kamu


tidak dapat sarapan!"


Baru saja ingin berteriak marah karena dia kehilangan kesempatan tidur


berharganya serta kamarnya menjadi kacau balau seperti kini, bibi sudah memotong kalimatnya membuatnya


di tangga paling bawah karena licin.


Bukannya meringis kesakitan karena pantatnya sudah sakit bukan main, dia justru


malah melongo tak percaya karena didepannya ada bibi dan neneknya tersenyum


kearahnya sembari membawa kue ditangan mereka, dilengkapi juga dengan anak


kecil yang baru berumur tiga tahunan memutari badannya sambil


melempar-lemparkan tepung kearahnya sambil tertawa kecil.


"Selamat ulang tahun Felix!" seru nenek dan bibinya bersamaan.


Sedangkan dia yang masih dengan posisi yang sama hanya mengerjapkan matanya


bingung, sebenarnya dia terlalu banyak pikiran atau bagaimana sampai tidak


ingat sama sekali jika hari ini adalah hari peringatan kelahirannya yang ke


tiga belas.


"Selamat ulang tahun, kakak," ucap bocah kecil itu saat berhenti


di depannya sambil membelai pipinya dengan tangan kecilnya itu. Tindakan itu


sukses membuat Felix gemas sendiri, tanpa pikir panjang dia langsung berdiri


dan menggendong bocah itu.


Itu adalah Scarlett, putri


satu-satunya dari bibi yang sekarang tinggal dengannya.


"Terima kasih, anak cantik," ujarnya sembari mencubit pelan hidung


bocah itu.


"Maaf karena kami baru sempat memberimu kejutan pagi ini, sekarang ayo


tiup lilinnya," perintah nenek, dia menghampiri bibi dan neneknya yang


membawa kue masih dengan posisi menggendong Scarlett, sebelum bibi mengambil


alih Scarlett dari gendongannya.


Felix mengepalkan tangannya meminta permohonan kepada Tuhan sebelum meniup


lilin. Jangan tanyakan apa permohonannya, sudah tentu tentang ibunya yang tak


kunjung dipertemukan oleh Tuhan dengannya.


Dia meniup lilinnya saat sudah selesai berdo'a, dihadiahi tepuk tangan kecil

__ADS_1


dari Scarlett.


"Kamu tahun ini mau hadiah apa?" tanya nenek sembari mengusap kepalanya lembut.


"Felix ingin nenek menceritakan tentang ibu," balasnya, membuat


kedua orang dewasa itu seketika tertegun lalu saling bertatapan sesaat.


Nenek menghembuskan napasnya pelan, lalu menuntun Felix untuk duduk di


bangku meja makan. Nenek mengambil tangan kirinya dan menggenggamnya.


"Baca pikiran nenek Felix, kamu akan menemukan jawabannya setelah


itu," ucap nenek membuat dia mengerutkan alisnya bingung. Maksudnya?


Memangnya dia cenayang apa bagaimana?


"Kamu bisa, coba tatap mata nenek." Bibinya menyahut dari sampingnya membuat Felix menatapnya. Wanita itu menggenggam tangannya pelan,


mengangguk menyakinkan. Sekali lagi dia memandang kearah nenek dengan


ragu tapi dibalas anggukkan oleh wanita itu.


Netra birunya menatap netra karamel yang kelam milik sang nenek. Tak lama


sekelebat ingatan mulai nampak dimatanya membuatnya mengerutkan dahi, seperti sebuah kaset lama yang diputar


kembali.


Disana terlihat seorang wanita cantik—ralat cantik sekali dengan sayap putih


dan telinga runcing, tampak sedang dikejar oleh segerombolan lebah raksasa yang


sangat mengerikan. Wanita itu membawa bayi kecil yang sedang menangis di


gendongannya.


Terlihat cahaya biru dari tangannya yang diarahkan kepada bayi itu hingga


membuat bayi itu diam, tidak menangis lagi. Tapi perlahan tubuhnya dan bayi itu


mengecil, wanita cantik itu dengan gerakan cepat bersembunyi di pohon beringin


besar yang berada di depan sebuah rumah satu-satunya di daerah itu.


Setelah dilihat sudah tidak dikejar lagi, tangannya sekali lagi melambai,


membuat keduanya kembali ke bentuk semula.


"Siapa di sana?"


Wanita itu menengok kearah pintu yang terbuka dengan terkejut, disana terlihat sepasang suami istri yang usianya sudah


cukup matang sedang berdiri diambang pintu dengan raut bingung. Wanita


itu berniat kabur, namun ambruk karena sayapnya terluka.


Nenek berlari kedalam dan mengambil sesuatu—seperti obat dari dedaunan, lalu


keluar menghampiri wanita itu dan membantunya diikuti oleh kakek. Beliau


mengolesi bagian sayap yang terluka dengan obat yang dia bawa tadilalu membebalkan kain lusuh dibagian itu.


Terdengar suara tangisan dari bayi yang berada di gendongan wanita itu


membuat nenek ingin mengambil alih dari gendongan wanita itu tapi diurungkan.


"Boleh aku meminta tolong kepada kalian berdua?" ucap wanita itu


mulai membuka suara.


"Meminta tolong apa?" tanya kakek.


Wanita itu menatap kakek, "tolong jaga anakku."


Kakek dan nenek langsung tercengang ditempat, mereka saling memandang sesaat. "M-memangnya ada masalah apa?"


Tanya nenek.


"Dia akan selalu berada dalam bahaya jika terus bersamaku." Wanita


itu menatap anaknya sendu lalu kembali menatap nenek dan kakek.


"Aku tahu kalian menginginkan anak laki-laki," ujar wanita itu


dengan senyuman walau matanya sudah berkaca-kaca.


Wanita itu menyerahkan bayinya kepada nenek.


"Namanya Felix, tolong jaga dia seperti kalian menjaga anak kalian


sendiri." Dia mengusap rambut anaknya pelan, sembari menitikkan air


mata.


"Jangan beri tahu dia tentang aku sampai dia cukup umur," wanita


itu mencium pucuk kepala anak laki-lakinya lama.


Mata Felix mengerjap, dia seakan ditarik kembali ke dunia nyata. Dadanya


bergemuruh hebat, dia hampir jatuh dari kursi jika tidak ditahan oleh


bibi.


Felix memegangi dadanya sambil menatap lantai nanar. Nenek memegang


pundaknya, "dia tidak membuangmu Nak. Tapi menyelamatkanmu."


"Jadi ibuku itu bukan manusia?" tanyanya.


"Bukan, ibumu seorang peri."

__ADS_1


****


__ADS_2