Felix Charles : The Lonely Star

Felix Charles : The Lonely Star
|3. GET IN


__ADS_3

*****


"Felix!"


Panggilan itu membuatnya tersentak kaget dan


mengurungkan niatnya untuk membuka pintu lemari, dia menyembunyikan diri di


bawah meja usang yang berada di samping lemari, meja itu tertutupi tumpukkan


barang lama yang cukup tinggi sehingga tidak akan terlihat orang. Tindakan


refleks itu membuat kepalanya terbentur sisi meja hingga berbunyi cukup keras, bayangkan


betapa sakitnya.


Tangannya yang tidak memegang kertas bergerak


untuk mengelus kepalanya yang terbentur. Dia mengintip kearah pintu gudang yang


masih tertutup, sungguh, dia panik sekali saat mendengar namanya dipanggil oleh


bibi tadi. Saat hendak berdiri karena dirasa tidak ada orang yang mengetahuinya


masuk kesini, dia berniat untuk berdiri. Sebelum—


'Klek'


Dia kembali ke tempat persembunyianya dengan


cepat karena terdengar suara pintu gudang dibuka.


"Felix, apakah itu kau?" tanya


seseorang yang berada di ambang pintu, itu suara bibinya. Jangan bilang karena


suara kepalanya terbentur tadi terdengar sampai ruang tamu, ah,sial. Sekeras


itu, kah? Dia memeriksa kepalanya sekali lagi apakah berdarah atau tidak,


ternyata tidak. Tapi terasa sedikit sakit. Dia mengintip dari samping meja,


terlihat bibinya yang masih celingukan mencari sumber suara.


"Tidak ada siapa-siapa, mungkin hanya


tikus," ucap bibi lalu menutup pintu dan pergi dari gudang.


Felix bernapas lega, dia keluar dari kolong meja.


Untung saja bibi tidak menyadari jika kain yang menyelimuti lemari sudah


tersingkirkan, bisa mati dia jika nenek dan bibi mengetahui dia masuk gudang


ini. Tapi ada yang aneh, jika gudang ini sangat rahasia dan tidak ada yang


boleh masuk, lantas kenapa saat ia masuk kemari pintunya tidak dikunci?


Netranya bergerak untuk melihat kertas yang dia


dapatkan dari kotak pemberian kakek, apakah itu bantuan sihir? Karena tadi dia


melihat gemboknya tergantung di sana namun dalam keadaan terbuka. Felix


menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali dengan cepat, sadar akan pikirannya


yang mulai ngawur.


Lebih baik dia keluar dari sini sebelum nenek


melihatnya. Mungkin lebih baik dia tidak membuka lemari itu sekarang.


*******


Sosok anak laki-laki dengan kacamata yang bertengger


di hidungnya itu tampak sedang berkutat dengan beberapa tumpukkan buku yang


berada di meja belajarnya dengan penerangan hanya dari lampu belajar.


Dia membolak-balikan lembar demi lembar buku


tebal yang berisi materi sekolahnya itu. Sekali lagi dia mengacak-acak


rambutnya frustasi sendiri, bagaimana tidak? Sedari tadi dia mencoba fokus


memahami materi yang dia dapatkannya dari sekolah tadi agar pikirannya


teralihkan, namun tidak berhasil.


Anak laki-laki itu menyandarkan tubuhnya di kursi


belajarnya sembari menghela napas panjang, dia terus memikirkan tentang surat,


bintang, dan lemari aneh itu.


Tiga benda yang berhubungan dengan ibunya itu


terus menerus menghantui pikirannya, dia mengambil kotak tadi, mengambil sebuah


bentuk bintang tiruan minimalis yang menurutnya sangat indah, setiap 1 cm dari


sudut bintang itu terdapat batu berlian biru yang menghiasinya.


Dia meletakkan benda itu di meja, lalu beralih


membuka gulungan surat kecil yang menurutnya bisa menjawab pertanyaan yang


dilontarkannya tadi siang.


Haruskah dia mencoba bertanya? Sepertinya tidak


buruk jika mencobanya sekali lagi.


Dia berdehem sebentar, memandang surat itu

__ADS_1


serius,


"Hei surat usang, apakah kau tahu sesuatu


tentang lemari itu?" tanyanya pelan.


Nihil.


Tidak muncul apapun di sana, tidak seperti siang


tadi. Bahkan setelah beberapa menit setelahnya pun tidak ada tulisan apapun di


sana. Huh, sudahlah mungkin tadi memang hanya perasaannya saja.


Dia memejamkan matanya lelah. Lihatlah, bahkan


dia sudah seperti orang gila karena berbicara dengan kertas kosong. Ah,


sudahlah.


Matanya terbuka, melihat jam weker yang berada di


nakas yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Waktu berlalu begitu cepat sekali,


bahkan sekarang sudah tidak ada suara gaduh Scarlett dan bibi lagi di


bawah.


Tunggu, dia melupakan sesuatu.


"Bodoh, mengapa aku tidak datang lagi ke


sana sekarang saja? Malah bertanya dengan kertas seperti orang gila!"


ucapnya sambil menepuk pucuk kepalanya.


Dia memasukkan surat serta bentuk bintang tiruan


tadi ke dalam kotak dan membawanya, ia membuka pintu kamarnya pelan, mengintip


luar sisi kanan dan kiri bergantian, barangkali ada orang.


Saat dirasa tidak ada, Felix keluar dari kamar


menuju lantai bawah tanpa menimbulkan suara gaduh apapun, tak lupa dengan


senter kecil yang berada di tangan kanannya.


Penerangan di sana sudah padam sedari


tadi—mungkin. Saat sampai di ujung tangga dia menyalakan senternya hingga dia


bisa melihat jalan walau hanya remang-remang.


Anak laki-laki dengan balutan kemeja kotak-kotak


dan celana jeans itu melanjutkan langkahnya hingga sampai di gudang tempat


lemari itu berada.


Dia meneguk ludahnya saat sudah berada tepat di


memeriksa ada apa di dalam lemari itu.


Dengan satu kali hembusan napas, dia meyakinkan


diri untuk membuka lemari itu. Dan, terbuka.


Namun.... Kosong.


Dia masuk dan memeriksa bagian dalam lemari itu


namun juga tidak ada sesuatu yang aneh.


Kepalan tangannya mengetuk kayu bagian tengah


lemari itu. "Tidak ada apa-apa disini..."


"Jadi ini maksudnya aku dibohongi oleh


surat?" gumamnya tak percaya dengan mata yang menelusuri sekeliling bagian


lemari sempit itu.


Hingga netra birunya terfokus pada satu titik, di


sela-sela kayu bagian tengah agak keatas ternyata ada sebuah lubang


kecil.


Instingnya mengatakan jika mungkin ada sesuatu di


belakang lemari, tapi kelihatannya konyol, mana mungkin, aneh-aneh saja. Dia


berbalik, ingin beranjak pergi dari sana. Namun diurungkannya, karena tiba-tiba


suatu hal terlintas di benaknya, lebih baik memeriksa dahulu bukan?


Felix memutar tubuhnya lagi, berjinjit agar bisa


melihat jelas lubang itu. Matanya membulat kala melihat sesuatu yang tidak


pernah diduganya sebelumnya di sana.


Dengan cepat, dia keluar dari dalam lemari dan mendorong


lemari itu dari sisi samping agar sedikit bergeser.


Dan... Benar.


Ada sebuah pintu yang mempunyai ukiran yang sama


di setiap sisinya seperti ukiran yang ada pada lemari dan kotak pemberian


kakek.

__ADS_1


Anak laki-laki itu berjalan mendekat dan meraba pintu


itu, satu hal yang menarik perhatiannya, bentuk bintang tiruan tadi ternyata


sebagiannya ada di pintu itu.


Felix membuka kotak itu dan mengambil bentuk


bintang tiruan yang ada di dalamnya. Mencocokannya sekali lagi, dan memang


sama.


"Apakah bintang ini adalah kunci?"


ucapnya pelan.


Felix memasangkan bintang itu pada bagian yang


kosong pada tengah pintu itu. Iya, mungkin inilah yang dimaksud oleh surat


tadi, kedua bintang yang terpisah itu adalah sebuah kunci, jika disatukan maka


pintu ini akan terbuka.


Tak lama, sebuah cahaya putih terlihat keluar


dari balik pintu itu membuat matanya silau. Tapi perlahan cahaya itu hilang,


dia membuka matanya dan hal pertama yang dia lihat adalah pintu tadi yang sudah


terbuka dan sebuah tempat yang menurutnya begitu aneh namun—indah


sekali,sungguh.


Pohon-pohon tampak berdiri kokoh di sekeliling


tempat itu serta bunga-bunga indah yang mengeluarkan serbuk kuning bercahaya


seperti yang dikeluarkan oleh surat tadi. Dia melangkahkan kakinya mendekat


kearah tempat itu membuat pintunya kembali tertutup.


Kupu-kupu berwarna-warni terbang kesana kemari


bersamaan dengan ribuan kunang-kunang yang pembawa warna hijau mengelilingi


kumpulan bunga tersebut. Sayapnya nampak bercahaya dan terlihat makin indah


karena pantulan dari serbuk bercahaya yang dikeluarkan oleh bunga-bunga. Tempat


ini hutan namun keadaan dalamnya saat masuk seperti taman bunga.


Felix menghampiri salah satu bunga yang


dihinggapi oleh kupu-kupu berwana hitam bercampur ungu. Kupu-kupu itu terbang


dan mendekat kearahnya, dia mengangkat tangannya di depan dada membuat hewan


dengan sayap cantik itu hinggap di jari telunjuknya.


Senyumnya merekah hingga gigi-gigi rapinya


terlihat.


"Siapa kau?" tanya seseorang dari


belakangnya.


Dia refleks menoleh kearah sumber suara, terdapat


tiga orang tanpa busana dengan sayap hitam di punggung mereka tampak melotot


kearahnya. Ketiga orang itu membawa tongkat di tangan kanan mereka.


"Siapa kalian?" tanyanya, bukanya takut


pada pelototan mereka, dia malah membalas tatapan mereka dengan tatapan


tajam.


"Kami penjaga disini, ini adalah daerah


kekuasaan peri hitam, tidak ada yang boleh melintasi perbatasan ini," ucap


orang yang berada di tengah.


Dia menautkan alisnya bingung mendengar perkataan


mereka, peri hitam? Daerah kekuasaan? Apa maksudnya?


"Apakah kau mata mata yang diutus Ratu


Freya?" tanya orang yang di sebelah kiri.


"Ratu Freya? Apa maksudmu? Aku baru datang


dari dunia manusia, siapa Ratu Freya?" tanyanya kebingungan. Tapi


sebenarnya dia hanya pura-pura saja.


Tiga makhluk itu saling berpandangan beberapa


saat, lalu menyeringai kearahnya. Dua orang diantara mereka mendekat kearahnya


dan memegang kedua lengannya kuat seperti akan menahan seseorang.


"Mau apa kalian?" tanyanya sambil


berusaha melepaskan tautan tangan mereka dari tangannya.


Mereka berdua makin mengeratkan pegangannya,


sambil tertawa menyeramkan. Tapi tidak membuat Felix takut.


"Kami akan membawamu ke hadapan raja

__ADS_1


kami."


****


__ADS_2