
******
Felix menekan tombol on off lampu tidurnya
yang berada di nakas bergantian, membuat penerangan minim di kamarnya menjadi
padam lalu terang kembali, hal itu terjadi secara berulang-ulang
hingga beberapa saat. Sampai akhirnya tangannya berhenti dan membiarkan
penerangan remang-remang itu menyala.
Dia menyandarkan kepalanya di kursi, mendongak. Berganti menatap langit-langit kamarnya.
"Ibu..." ucapnya memecah diantara heningnya malam.
"Apakah ibu tidak ingin bertemu
denganku?"
Suara lirih itu terdengar semakin
menyayat ditengah sepinya malam, bahkan suara hewan malam yang biasanya saling
menyahut pun sekarang entah kemana perginya. Seakan suasana itu sangat
mendukungnya untuk bersedih. Matanya perlahan memanas, menciptakan genangan
bening di kantung bawah matanya.
"A-apakah ibu merindukanku...?"
Dia tergagap karena menahan tangisnya mati-matian, sungguh dirinya tidak mau
meneteskan air matanya barang sekali saja seumur hidup. Dulu kakek pernah
berkata; jika laki-laki itu tidak harus terus-terusan berlagak kuat dan menahan
air matanya mati-matian hanya untuk memperlihatkan kalau dirinya kuat. Memangnya
apa yang salah dengan menangis? Apakah air mata itu aib hingga dia harus terus
disembunyikan dibalik kelopak tanpa niat untuk memperlihatkannya barang sekali
seumur hidup?
Siapapun itu, selama
dia masih berstatus sebagai ‘mahkluk hidup’ dia sangat berhak meneteskan air
mata kala hati sudah lelah dengan yang dirasa.
Jadi, tidak masalah
bukan jika dia menangis kali ini?
"Ibu... Aku ingin bertemu
ibu..." ucapnya terbata hingga tangis yang dia tahan sedari tadi—atau
mungkin sedari dulu pecah malam itu juga.
Ditempat lain, wanita berperawakan tinggi
semampai dengan mahkota bunga yang melekat indah di kepalanya itu memalingkan
wajahnya kearah samping kala melihat putranya sedang menangis karenanya dari
sebuah kolam ajaib yang selalu dia gunakan untuk mengawasi segala aktifitas
yang dilakukan anak itu.
Isakkan kecil yang keluar dari bibir anak
laki-lakinya seakan meruntuhkan dunianya secara perlahan. Apalagi racauan tak
masuk akal itu membuat hatinya bagai diremat karena merasa gagal sebagai
seorang ibu.
Dia mengarahkan tangannya kearah kolam
itu hingga membuat kolam ajaib itu tidak lagi memperlihatkan wajah sedih Felix.
Dia berbalik arah dan duduk di atas tanah tinggi tak jauh dari posisi kolam
ajaib sambil memandang sendu tebaran bintang di langit.
"Ratu Freya, ada yang bisa saya
bantu?" tanya seorang pria yang sedari tadi duduk disana sebelum
dia.
Dia terkekeh pelan mendengar panggilan 'Ratu'
dari temannya sejak kecil itu. "Kau meledekku?"
"Tentu saja tidak, kau itu memang
seorang Ratu," balas pria itu.
"Hentikan,lah, Ed. Aku hanya penjaga
bukan penguasa seperti yang otak kecilmu pikirkan itu," dengus wanita itu
kesal sendiri karena orang-orang selalu menyebutnya ratu di negeri ini. Padahal
kenyataannya, negeri ini adalah negeri tanpa pemerintahan, semua orang bebas
melakukan apapun tanpa diikat oleh aturan, kecuali hal yang tidak bermoral atau
berbau negatif maka akan ditindak lanjuti olehnya dengan persetujuan semua
orang.
"Kau tidak ingin menemuinya?"
tanya Ed.
"Aku sudah menginginkan itu dari
dulu, asal kau tahu." Dia memandangi kunang-kunang yang berada di telapak
tangannya, cahaya dari kunang-kunang itu mulai redup.
"Lalu apa rencanamu
selanjutnya?"
"Membuka jalan pintas lagi,"
ucap Freya tenang, sambil memindahkan kunang-kunang itu pada bunga yang berada
di sampingnya.
__ADS_1
"Kau gila? Sama saja kamu mengundang
anakmu masuk kandang singa," Edward menatap wanita di sampingnya itu tak
percaya.
"Coba kita perbaiki, dia, lah,yang
dihampiri singa, karena dia bukan singanya."
********
"Aku pulang!" Seru
Felix ketika baru saja pulang dari sekolah.
Dia menolehkan kepalanya sana-sini karena
tidak ada tanda-tanda ada kehidupandi rumah. Dia
melangkah kearah dapur untuk memeriksa, tapi nyatanya nihil, tidak ada orang
sama sekali.
Lalu matanya tak sengaja melirik sebuah note kuning yang
ditempelkan di kulkas. Disana tertulis bahwa bibi dan Scarlett sedang keluar
dengan neneknya juga, entahlah pergi kemana.
Dia beranjak dari dapur menuju ke
kamarnya yang berada di lantai dua. Felix menaruh tasnya di sofa lalu beralih
menghempaskan tubuhnya di kasur, rasanya melelahkan sekali setelah berjalan
kaki dari sekolah menuju rumah.
Iya, sekolahnya memang berjarak hanya
beberapa kilo meter dari rumahnya. Tapi tetap saja melelahkan, seharusnya dia
meminta sepeda untuk hadiah ulang tahunnya kemarin.
Tunggu, hadiah...ya?
Dia bangkit dari kasur dan menghampiri
lemari bajunya, mencari sebuah kotak kecil yang diberikan kakeknya saat beliau
masih ada dahulu.
Felix ingat sekali jika kakek
memerintahkannya untuk membuka kotak itu saat dia berumur cukup dan nenek sudah
memberitahukan sesuatu tentang ibunya. Dulu dia tidak begitu tertarik dengan
isinya, jadinya dia menurut saja kepada kakek.
Dan, dia menemukannya.
Kotak kecil kuno dengan ukiran bunga
indah di bagian samping. Dia kembali duduk di kasur dan membuka kotak
itu.
Ternyata isinya adalah sebuah benda
kuno—seperti aksesoris berbentuk bintang dengan ukuran
sudah lama. Kertasnya pun sudah
terlihat menguning.
Namun anehnya, bintang itu hanya
sebagian. Tidak seperti bintang utuh pada umumnya, entahlah, tapi sepertinya
ada bagian lainnya.
Dia beralih menatap gulungan kertas—bukan
kertas yang biasa digunakan manusia zaman sekarang melainkan kertas zaman
dahulu yang berada di kotak itu. Di ujung surat terdapat nama seseorang yang
ditulis menggunakan tinta, tapi nama itu bukan nama kakek, namun nama seorang
perempuan.
"Freya?" Dia menautkan kedua
alisnya membaca nama yang sangat asing menurutnya. Siapa ‘Freya’?
Tangannya perlahan bergerak untuk membuka
surat itu. Tapi anehnya lagi, tidak ada tulisan apapun didalamnya.
"Kenapa kosong?" Tanyanya
kebingungan sendiri.
Namun beberapa saat kemudian dari surat
itu muncul suatu butiran cahaya cahaya kecil berwarna kuning berterbangan di
depannya secara perlahan hingga membentuk wajah manusia yang tersenyum
kearahnya.
Dia terbelalak kala menyadari itu wajah
siapa. Wajah itu sama
persis seperti yang ia lihat di memori Nenek beberapa hari lalu, "ibu?"
Butiran cahaya kecil itu berubah bentuk
lagi menjadi sebuah jejeran tulisan rapi.
'Jika bintang itu menemukan bagiannya
yang hilang maka pintu dari negeri para makhluk bersayap akan terbuka.'
Negeri para makhluk bersayap? Maksudnya
negeri para peri seperti ibunya? Sungguh, ini terlalu mengejutkan untuknya,
apalagi dengan tulisan yang keluar dari kertas dan mengambang di udara tadi.
Kemudian jejeran tulisan rapi itu perlahan memudar dan hilang dengan
sendirinya.
__ADS_1
Felix berpikir sejenak, bagaimana caranya
dia menemukan sebagian bintang itu? Oh, ayolah mana mungkin dia bisa menemukannya
hanya dengan feeling dan opini semata, setidaknya berilah sedikit
petunjuk.
"Masa bodoh, lah!" Dia bangkit
dari tempat tidur hendak mengambil makanan yang berada di meja makan, namun
ekor matanya tak sengaja melirik kertas kosong yang masih tergeletak di atas
ranjang, mendadak sudah tergambar sesuatu disana. Refleks tangannya bergerak
dengan cepat untuk mengambil surat itu.
"Lemari?" Anak laki-laki itu
mengamati lemari putih dengan beberapa ukiran bunga cantik yang tampak asing
baginya itu lekat, entah dia yang tidak tahu atau memang tidak ada. Tapi jujur,
dia tidak pernah melihat lemari seperti itu di rumah ini.
Dia mengamati kotak dan lemari itu secara
bergantian, ukiran di kotak itu sama dengan ukiran lemari yang digambarkan oleh
kertas.
Tidak pernah melihat lemari itu artinya
lemari itu berada di tempat yang tidak pernah dikunjunginya. Tapi dimana? Semua
tempat disini dia pernah mengunjunginya. Ah, ini membingungkan.
"Apa aku cek satu-satu saja?"
Dia memeriksa satu kali lagi gambar
lemari itu lalu kembali terkejut.
"Wah, lihat saja sekarang latarnya
pun muncul," ucapnya kagum.
Tapi tunggu, dia tidak pernah mengunjungi
gudang bawah selama ini. Karena tidak pernah diizinkan untuk masuk ke sana,
tidak tahu karena apa.
"Benarkah disana? tanyanya.
Dan lagi, di kertas itu muncul sebuah
tulisan.
"Dia ada di tempat semua barang
dikumpulkan?"
Entah kenapa dia berpikir jika kertas ini
mampu mendengar suaranya, dan bahkan mampu membalas ucapannya melalui
tulisan.
"Pasti ada sesuatu di sana,"
ucapnya yakin.
Dengan masih membawa kertas itu di
tangannya, dia berjalan cepat keluar dari kamarnya dan turun menuju lantai
bawah untuk pergi ke gudang yang berada sedikit masuk di lorong gelap sisi
kanan ruang tamu.
Saat sudah sampai di depan pintu,
tangannya yang hendak membuka knop pintu dia hentikan di udara. Dia menengok
kanan-kiri bergantian berharap nenek dan bibi pulang lebih lambat lagi agar
setidaknya dia mendapatkan sedikit titik terang untuk bisa tahu tentang tempat
asal ibunya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, dia
membuka pintu itu perlahan hingga menampakkan tumpukkan barang yang sudah
berdebu. Ada satu hal yang menarik perhatiannya, sebuah benda persegi panjang
yang ditutupi menggunakan kain putih. Benda lumayan tinggi itu berada tak jauh
dari tempatnya berdiri.
Felix berjalan mendekat kearah sana,
semakin dekat dia bisa melihat dengan jelas bahwa yang ditutupi kain putih itu
adalah sebuah lemari.
Dia menyentuh ujung kain saat berada di
depan lemari itu, berniat membukanya secara perlahan untuk berjaga-jaga jika
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Hampir saja dia membuka sebagian,
tiba-tiba seekor hewan kecil berwarna hitam melompat kearahnya membuatnya
terkejut dan melepaskan tautan tangannya dari kain putih itu.
"Huh, hanya tikus," gumamnya
sambil mengelus dadanya yang bergemuruh.
Dengan cepat dia membuka kain itu,
dan...benar!
Lemari putih yang sama persis seperti
yang tergambar di kertas tadi.
Tangannya bergerak untuk membuka lemari
bercat putih itu. Sampai akhirnya—
__ADS_1
"Felix!"
********