Felix Charles : The Lonely Star

Felix Charles : The Lonely Star
|2. THE BRIGHT SPOT


__ADS_3

******


Felix menekan tombol on off lampu tidurnya


yang berada di nakas bergantian, membuat penerangan minim di kamarnya menjadi


padam lalu terang kembali, hal itu terjadi secara berulang-ulang


hingga beberapa saat. Sampai akhirnya tangannya berhenti dan membiarkan


penerangan remang-remang itu menyala.


Dia menyandarkan kepalanya di kursi, mendongak. Berganti menatap langit-langit kamarnya.


"Ibu..." ucapnya memecah diantara heningnya malam.


"Apakah ibu tidak ingin bertemu


denganku?"


Suara lirih itu terdengar semakin


menyayat ditengah sepinya malam, bahkan suara hewan malam yang biasanya saling


menyahut pun sekarang entah kemana perginya. Seakan suasana itu sangat


mendukungnya untuk bersedih. Matanya perlahan memanas, menciptakan genangan


bening di kantung bawah matanya.


"A-apakah ibu merindukanku...?"


Dia tergagap karena menahan tangisnya mati-matian, sungguh dirinya tidak mau


meneteskan air matanya barang sekali saja seumur hidup. Dulu kakek pernah


berkata; jika laki-laki itu tidak harus terus-terusan berlagak kuat dan menahan


air matanya mati-matian hanya untuk memperlihatkan kalau dirinya kuat. Memangnya


apa yang salah dengan menangis? Apakah air mata itu aib hingga dia harus terus


disembunyikan dibalik kelopak tanpa niat untuk memperlihatkannya barang sekali


seumur hidup?


Siapapun itu, selama


dia masih berstatus sebagai ‘mahkluk hidup’ dia sangat berhak meneteskan air


mata kala hati sudah lelah dengan yang dirasa.


Jadi, tidak masalah


bukan jika dia menangis kali ini?


"Ibu... Aku ingin bertemu


ibu..." ucapnya terbata hingga tangis yang dia tahan sedari tadi—atau


mungkin sedari dulu pecah malam itu juga.


Ditempat lain, wanita berperawakan tinggi


semampai dengan mahkota bunga yang melekat indah di kepalanya itu memalingkan


wajahnya kearah samping kala melihat putranya sedang menangis karenanya dari


sebuah kolam ajaib yang selalu dia gunakan untuk mengawasi segala aktifitas


yang dilakukan anak itu.


Isakkan kecil yang keluar dari bibir anak


laki-lakinya seakan meruntuhkan dunianya secara perlahan. Apalagi racauan tak


masuk akal itu membuat hatinya bagai diremat karena merasa gagal sebagai


seorang ibu.


Dia mengarahkan tangannya kearah kolam


itu hingga membuat kolam ajaib itu tidak lagi memperlihatkan wajah sedih Felix.


Dia berbalik arah dan duduk di atas tanah tinggi tak jauh dari posisi kolam


ajaib sambil memandang sendu tebaran bintang di langit.


"Ratu Freya, ada yang bisa saya


bantu?" tanya seorang pria yang sedari tadi duduk disana sebelum


dia.


Dia terkekeh pelan mendengar panggilan 'Ratu'


dari temannya sejak kecil itu. "Kau meledekku?"


"Tentu saja tidak, kau itu memang


seorang Ratu," balas pria itu.


"Hentikan,lah, Ed. Aku hanya penjaga


bukan penguasa seperti yang otak kecilmu pikirkan itu," dengus wanita itu


kesal sendiri karena orang-orang selalu menyebutnya ratu di negeri ini. Padahal


kenyataannya, negeri ini adalah negeri tanpa pemerintahan, semua orang bebas


melakukan apapun tanpa diikat oleh aturan, kecuali hal yang tidak bermoral atau


berbau negatif maka akan ditindak lanjuti olehnya dengan persetujuan semua


orang.


"Kau tidak ingin menemuinya?"


tanya Ed.


"Aku sudah menginginkan itu dari


dulu, asal kau tahu." Dia memandangi kunang-kunang yang berada di telapak


tangannya, cahaya dari kunang-kunang itu mulai redup.


"Lalu apa rencanamu


selanjutnya?"


"Membuka jalan pintas lagi,"


ucap Freya tenang, sambil memindahkan kunang-kunang itu pada bunga yang berada


di sampingnya.

__ADS_1


"Kau gila? Sama saja kamu mengundang


anakmu masuk kandang singa," Edward menatap wanita di sampingnya itu tak


percaya.


"Coba kita perbaiki, dia, lah,yang


dihampiri singa, karena dia bukan singanya."


********


"Aku pulang!" Seru


Felix ketika baru saja pulang dari sekolah.


Dia menolehkan kepalanya sana-sini karena


tidak ada tanda-tanda ada kehidupandi rumah. Dia


melangkah kearah dapur untuk memeriksa, tapi nyatanya nihil, tidak ada orang


sama sekali.


Lalu matanya tak sengaja melirik sebuah note  kuning yang


ditempelkan di kulkas. Disana tertulis bahwa bibi dan Scarlett sedang keluar


dengan neneknya juga, entahlah pergi kemana.


Dia beranjak dari dapur menuju ke


kamarnya yang berada di lantai dua. Felix menaruh tasnya di sofa lalu beralih


menghempaskan tubuhnya di kasur, rasanya melelahkan sekali setelah berjalan


kaki dari sekolah menuju rumah.


Iya, sekolahnya memang berjarak hanya


beberapa kilo meter dari rumahnya. Tapi tetap saja melelahkan, seharusnya dia


meminta sepeda untuk hadiah ulang tahunnya kemarin.


Tunggu, hadiah...ya?


Dia bangkit dari kasur dan menghampiri


lemari bajunya, mencari sebuah kotak kecil yang diberikan kakeknya saat beliau


masih ada dahulu.


Felix ingat sekali jika kakek


memerintahkannya untuk membuka kotak itu saat dia berumur cukup dan nenek sudah


memberitahukan sesuatu tentang ibunya. Dulu dia tidak begitu tertarik dengan


isinya, jadinya dia menurut saja kepada kakek.


Dan, dia menemukannya.


Kotak kecil kuno dengan ukiran bunga


indah di bagian samping. Dia kembali duduk di kasur dan membuka kotak


itu.


Ternyata isinya adalah sebuah benda


kuno—seperti aksesoris berbentuk bintang  dengan ukuran


sudah lama. Kertasnya pun sudah


terlihat menguning.


Namun anehnya, bintang itu hanya


sebagian. Tidak seperti bintang utuh pada umumnya, entahlah, tapi sepertinya


ada bagian lainnya.


Dia beralih menatap gulungan kertas—bukan


kertas yang biasa digunakan manusia zaman sekarang melainkan kertas zaman


dahulu yang berada di kotak itu. Di ujung surat terdapat nama seseorang yang


ditulis menggunakan tinta, tapi nama itu bukan nama kakek, namun nama seorang


perempuan.


"Freya?" Dia menautkan kedua


alisnya membaca nama yang sangat asing menurutnya. Siapa ‘Freya’?


Tangannya perlahan bergerak untuk membuka


surat itu. Tapi anehnya lagi, tidak ada tulisan apapun didalamnya.


"Kenapa kosong?" Tanyanya


kebingungan sendiri.


Namun beberapa saat kemudian dari surat


itu muncul suatu butiran cahaya cahaya kecil berwarna kuning berterbangan di


depannya secara perlahan hingga membentuk wajah manusia yang tersenyum


kearahnya.


Dia terbelalak kala menyadari itu wajah


siapa. Wajah itu sama


persis seperti yang ia lihat di memori Nenek beberapa hari lalu, "ibu?"


Butiran cahaya kecil itu berubah bentuk


lagi menjadi sebuah jejeran tulisan rapi.


'Jika bintang itu menemukan bagiannya


yang hilang maka pintu dari negeri para makhluk bersayap akan terbuka.'


Negeri para makhluk bersayap? Maksudnya


negeri para peri seperti ibunya? Sungguh, ini terlalu mengejutkan untuknya,


apalagi dengan tulisan yang keluar dari kertas dan mengambang di udara tadi.


Kemudian jejeran tulisan rapi itu perlahan memudar dan hilang dengan


sendirinya.

__ADS_1


Felix berpikir sejenak, bagaimana caranya


dia menemukan sebagian bintang itu? Oh, ayolah mana mungkin dia bisa menemukannya


hanya dengan feeling dan opini semata, setidaknya berilah sedikit


petunjuk.


"Masa bodoh, lah!" Dia bangkit


dari tempat tidur hendak mengambil makanan yang berada di meja makan, namun


ekor matanya tak sengaja melirik kertas kosong yang masih tergeletak di atas


ranjang, mendadak sudah tergambar sesuatu disana. Refleks tangannya bergerak


dengan cepat untuk mengambil surat itu.


"Lemari?" Anak laki-laki itu


mengamati lemari putih dengan beberapa ukiran bunga cantik yang tampak asing


baginya itu lekat, entah dia yang tidak tahu atau memang tidak ada. Tapi jujur,


dia tidak pernah melihat lemari seperti itu di rumah ini.


Dia mengamati kotak dan lemari itu secara


bergantian, ukiran di kotak itu sama dengan ukiran lemari yang digambarkan oleh


kertas.


Tidak pernah melihat lemari itu artinya


lemari itu berada di tempat yang tidak pernah dikunjunginya. Tapi dimana? Semua


tempat disini dia pernah mengunjunginya. Ah, ini membingungkan.


"Apa aku cek satu-satu saja?"


Dia memeriksa satu kali lagi gambar


lemari itu lalu kembali terkejut.


"Wah, lihat saja sekarang latarnya


pun muncul," ucapnya kagum.


Tapi tunggu, dia tidak pernah mengunjungi


gudang bawah selama ini. Karena tidak pernah diizinkan untuk masuk ke sana,


tidak tahu karena apa.


"Benarkah disana? tanyanya.


Dan lagi, di kertas itu muncul sebuah


tulisan.


"Dia ada di tempat semua barang


dikumpulkan?"


Entah kenapa dia berpikir jika kertas ini


mampu mendengar suaranya, dan bahkan mampu membalas ucapannya melalui


tulisan.


"Pasti ada sesuatu di sana,"


ucapnya yakin.


Dengan masih membawa kertas itu di


tangannya, dia berjalan cepat keluar dari kamarnya dan turun menuju lantai


bawah untuk pergi ke gudang yang berada sedikit masuk di lorong gelap sisi


kanan ruang tamu.


Saat sudah sampai di depan pintu,


tangannya yang hendak membuka knop pintu dia hentikan di udara. Dia menengok


kanan-kiri bergantian berharap nenek dan bibi pulang lebih lambat lagi agar


setidaknya dia mendapatkan sedikit titik terang untuk bisa tahu tentang tempat


asal ibunya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, dia


membuka pintu itu perlahan hingga menampakkan tumpukkan barang yang sudah


berdebu. Ada satu hal yang menarik perhatiannya, sebuah benda persegi panjang


yang ditutupi menggunakan kain putih. Benda lumayan tinggi itu berada tak jauh


dari tempatnya berdiri.


Felix berjalan mendekat kearah sana,


semakin dekat dia bisa melihat dengan jelas bahwa yang ditutupi kain putih itu


adalah sebuah lemari.


Dia menyentuh ujung kain saat berada di


depan lemari itu, berniat membukanya secara perlahan untuk berjaga-jaga jika


terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Hampir saja dia membuka sebagian,


tiba-tiba seekor hewan kecil berwarna hitam melompat kearahnya membuatnya


terkejut dan melepaskan tautan tangannya dari kain putih itu.


"Huh, hanya tikus," gumamnya


sambil mengelus dadanya yang bergemuruh.


Dengan cepat dia membuka kain itu,


dan...benar!


Lemari putih yang sama persis seperti


yang tergambar di kertas tadi.


Tangannya bergerak untuk membuka lemari


bercat putih itu. Sampai akhirnya—

__ADS_1


"Felix!"


********


__ADS_2