
TIME SKIP 1 HARI
Natsu perlahan membuka matanya. Tubuhnya benar-benar lemas dan ia seperti tidak punya tenaga untuk bergerak. Seluruh sendi-sendinya terasa sangat sakit dan ia merasa bawa ada cairan yang yang terus mengalir di bagian kepalanya.
Natsu lalu mengangkat tangannya dan menyentuh pelipis kirinya. "E-e-ehhh, darah?" Gumam Natsu.
"Kau sudah bangun?"
Natsu pun terkejut saat mendengar seseorang berbicara dan ia langsung mengarahkan pandangannya pada orang tersebut.
Natsu melihat 3 orang wanita yang masin-masing dari mereka memiliki rantai dilehernya dan pakaian mereka yang compang-camping. Wajah mereka yang kotor dan sekujur tubuh mereka yang penuh dengan luka. Kaki mereka pun terikat oleh rantai yang terlihat cukup kokoh untuk dihancurkan.
"siapa kalian?" Tanya Natsu.
"Namaku Hancock. Mereka yang dibelakangku adalah Sandersonia dan juga Marigold. Mereka berdua saudaraku." Ucap seorang wanita yang bernama Hancock.
Natsu pun mencoba untuk duduk dan menyandarkan punggungnya pada dinding yang berada dibelakangnya. Natsu melihat sekitarnya dan ia menyadari bahwa ia kini berada dalam jeruji besi.
"Penjara? Kenapa aku berada di penjara?" Tanya Natsu.
"Ini bukan penjara. Ini tempat tinggal kita." Jawab Hancock.
"Tempat tinggal? Apa maksudmu? Siapa yang mau tinggal di balik jeruji besi seperti ini?" Tanya Natsu.
"Bukan keiinginan kita untuk tinggal disini." Ucap Marigold sambil merundukan kepalanya.
Natsu yang mendengar itu pun merasa aneh dan merasa ada yang tidak beres dari ketiga wanita yang berada di depannya ini.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan." Ucap Natsu.
"Kami bertiga adalah budak dari bangsawan dunia Tenryuubito." Ucap Hancock dengan datar tanpa ekspresi sedikit pun.
Natsu yang mendengar itu pun hanya menggaruk kepala belakangnya karena dia masih tidak paham dengan apa yang Hancock katakan.
"Budak? Kenapa kalian ingin menjadi budak?" Tanya Natsu.
Hancok, Marigold dan Sandersonia yang mendegar pertanyaan Natsu pun hanya menghela nafas karena mereka tahu bahwa Natsu masih anak-anak dan tidak mengerti apapun betapa kejamnya dunia ini dan betapa menyedihkannya hidup sebagai budak.
"Aku tidak perlu menjelaskannya. Kau akan melihatnya sendiri." Ucap Sandersonia kepada Natsu.
STEP! STEP! STEP!
Terdengar langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat dan kini terlihat ada seseorang yang berdiri di depan jeruji besi tersebut.
"Oi bocah! Bersikaplah baik dan jangan berbuat yang aneh-aneh. Beberapa bulan yang lalu tempat ini di invasi oleh seseorang dan banyak budak yang berhasil melarikan diri. Kau adalah budak baru disini dan belajarlah dari para wanita yang berada di belakangmu." Ucap orang tersebut dengan serius dan langsung pergi meninggalkan Natsu.
Natsu tidak terlalu mengerti dengan apa yang orang tersebut bicarakan namun ada hal yang ia cukup soroti, yaitu kata budak. Natsu pun langsung mengarahkan pandangannya pada ketiga wanita yang berada dibelakangnya.
"Apa maksudnya dengan budak?" Tanya Natsu.
"Artinya kau harus menuruti semua perintah majikanmu mulai sekarang. Tidak ada tempat bagimu untuk lari." Ucap Hancock.
"Lalu, apa yang dia maksudkan dengan invasi?" Tanya Natsu.
"Beberapa bulan yang lalu, seorang manusia ikan datang ke tempat ini dan membebaskan para budak yang berada disini." Ucap Sandersonia.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kalian tidak ikut melarikan diri?" Tanya Natsu.
"Kami sempat berhasil kabur namun, sesaat sebelum kami akan melompat, kami tertangkap lagi." Ucap Hancock yang terdengar dari nada bicaranya seperti orang yang putus asa dan tidak punya harapan.
Natsu pun sebenarnya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Natsu cukup pintar untuk melihat emosi orang dan bisa mengetahui mana orang yang sedang senang dan mana orang yang sedang bahagia.
"Apa kalian tidak pernah berupaya untuk meloloskan diri tanpa bantuan dari orang lain?" Tanya Natsu.
Hancock yang mendengar pertanyaan Natsu hanya mengangkat sedikit bibirnya dan menyeringai mengejek Natsu.
"Apa kau pikir semudah itu melarikan diri? Apa kau pikir kami tidak pernah berbuat apa-apa untuk lari dari tempat sialan ini?" Tanya Hancock.
"Aku kan hanya bertanya. Kenapa kau malah marah seperti itu?" Tanya Natsu.
"Hentikan. Kau hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Pertanyaanmu hanya membuat kakakku semakin kesal." Ucap Marigold.
"Kalau begitu aku akan membebaskan kalian dari sini." Ucap Natsu sambil tersenyum.
Hancock, Marigold dan Sandersonia yang mendengar perkataan Natsu pun hanya tersenyum dan memandang remeh Natsu.
"Memangnya kau bisa apa? Besi yang ada di lehermu itu akan meledak jika kau berbuat yang aneh-aneh." Ucap Hancock
Natsu yang mendengar itu pun langsung mengarahkan pada besi yang mengikat dilehernya dan menyentuhnya. "Hmm…."
Natsu pun langsung teringat saat ia diberitahu beberapa trik dari kakeknya bahwa haki dapat melepaskan seseorang dari belenggu rantai atau borgol. Natsu pun langsung memejamkan matanya dan mencoba untuk mempraktekan kekuatan haki tersebut.
CRACK! CRACK!
Terlihat bahwa besi yang mengikat di leher Natsu pun seketika penyok dan terlepas dari leher Natsu.
"Ba-Bagaimana bisa?" Tanya Hancock.
"Kakekku mengajarkanku beberapa triknya, karena dia sedang menunggu dan juga aku tidak berniat duduk diam tanpa melakukan apapun" Ucap Natsu sambil menyeringai.
Natsu lalu berjalan mendekati Hancock dan memegang cincin leher yang berada pada lehernya.
CRACK! CRACK!
Natsu pun dengan mudah melepas cincin leher tersebut. Ia pun melakukan hal yang sama kepada dua saudara Hancock tersebut dan membuat mereka bertiga kini telah lepas dari cincin leher itu.
"Nah, sekarang kita bisa keluar dari sini kan?" Tanya Natsu sambil tersenyum.
Hancock yang mendengar itu pun langsung meneteskan air matanya karena ia tidak menyangka hari ini akan tiba. Hari dimana ia akan bebas selamanya. Mungkin terlalu dini untuk mengatakan dia akan bebas namun tidak tahu kenapa ia merasa hari ini adalah hari kebebasannya terutama setelah melihat Natsu mampu membebaskan kerngkeng yang ada di leher mereka.
"Uhm! Ngomong-ngomong siapa namamu?" Tanya Hancock kepada Natsu.
"Aku Natsu Dragneel, Senang bertemu denganmu!" Ucap Natsu dengan seringainya.
Hancock dan kedua saudarinya pun tersenyum melihat tingkah laku bocah yang ada didepannya itu.
"Sepertinya, kau mempunyai hati yang baik Natsu-Chan!" Ucap Sandersonia.
"Meskipun kau masih anak-anak, namun kau adalah pria pertama yang bersikap baik kepada kami." Ucap Marigold.
"Baiklah Natsu, sepertinya kita harus keluar dari sini secepatnya." Ucap Hancock kepada Natsu.
__ADS_1
Natsu yang mendengar itu pun menganggukan kepalanya dan mengarahkan tangannya ke pinggangnya untuk mencabut pedangnya.
"E-eh?" Natsu pun kebingungan karena ia baru sadar bahwa dia tidak tahu jalannya.
"SIAL! AKU TIDAK TAHU DIMANA TEMPAT INI!?" Teriak Natsu dengan sangat keras.
Hancock dengan sigap langsung menutup mulut Natsu dan memeluknya dari belakang. "Ssst! Dasar bodoh jangan berteriak!" Bisik Hancock.
"SIAPA TADI YANG BERTERIAK!?"
Mereka bereempat pun terkejut saat mendengar ada seseorang yang berteriak.
"Kuso! Ternyata masih ada penjaga disini!" Ucap Sandersonia.
"Apa yang harus kita lakukan Ane-Sama!?" Tanya Marigold kepada Hancock.
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat dan akhirnya terlihat penjaga yang berdiri dihadapan sel mereka.
"Kenapa kalian berteriak hah!?" Tanya Penjaga tersebut.
Hancok yang melihat itu pun langsung berjalan kearah penjaga. Ia sedikit menyingkap bajunya dan sedikit memperlihatkan belahan ***********.
"Aku merasa sedikit kesepian disini. Maukah kau menemaniku sebentar?" Tanya Hancock dengan nada menggoda.
Penjaga tersebut pun menelan ludahnya dan terlihat wajahnya memerah dan matanya focus menatap belahan payudara Hancock.
"Ten-Tentu saja!" Ucap penajaga tersebut.
"Kalau begitu kau harus masuk kesini." Ucap Hancock sambil tersenyum dengan manis.
Penjaga itu pun langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci dan membuka sel tersebut.
Hancock yang melihat itu pun langsung menyeringai dan mengarahkan kedua tangannya kearah penjaga tersebut, tapi penjaga itu dengan sigap mencengkram kedua tangan Hancock dan bersiap menyetubuhinya, tapi Natsu langsung mencengkram pergelangan tangan penjaga itu dan langsung menatapnya dengan tajam
“Apa yang mau kau lakukan dasar keparat?” Ucap Natsu dengan nada yang rendah dan pandangannya tajam seperti seorang naga
Seketika, terdapat Naga api di belakang Natsu lalu penjaga tersebut langsung pingsan. Ketiga wanita yang melihatnya hanya melebarkan matanya tapi tidak melebarkan matanya tapi tidak menanyakannya lebih jauh
“Ngomong ngomong, Hancock, kau tadi mengangkat kedua tanganmu seperti ingin menyerang penjaga itu, tapi bagaimana caranya, apa kau pengguna buah iblis?” Tanya Natsu yang penasaran
"Hehehehe, aku pengguna buah iblis jadi kekuatan yang tadi ingin kukeluarkan tidak bisa aku ajarkan kepadamu." Ucap Hancock.
"Ho jadi begitu" Tanya Natsu.
"Nanti saja penjelasannya." Ucap Hancock sambil tersenyum, tidak lama setelah itu, terdengar suara ledakan dan Hancock pun langsung memegang tangan Natsu.
"Cepat ikuti aku! Aku tau rute yang paling aman untuk kabur dari sini! Mari, Soni kalian juga ikuti aku!" Ucap Hancock kepada Natsu dan kedua saudarinya.
Mereka berempat pun akhirnya keluar dari sel tersebut dan berlari untuk keluar dari tempat tersebut.
"Bagaimana bisa kau mengetahui rute untuk kabur?" Tanya Natsu.
"Aku dulu saat pertama kali disini hampir berhasil kabur dari tempat ini dan kali ini aku tidak akan gagal lagi." Ucap Hancock.
Tanpa mereka sadari, tempat para budak di atas Red line sedang diserang oleh salah satu manusia ikan berwarna merah, Fisher Tiger
__ADS_1