Gagal Move On, Dosenku Suamiku

Gagal Move On, Dosenku Suamiku
Serba salah


__ADS_3

Danisha hanya membolak balik buku yang ia ambil dari rak tanpa membacanya. ia berbohong kalau ia pergi ke perpus bersama Rio. Nyatanya ia duduk sendiri di pojok perpus. Ia masih mencoba meredam gemuruh hatinya yang panas melihat aksi Dea memakaikan dasi di leher Reyhan Ditambah sikap cuek suaminya itu.


" Kenapa kamu mesti marah Danisha, bukankah kau ingin melepas Reyhan dari hidupmu " ucap Danisha dalam hati. Semalam ia sudah sepakat dengan Wanda kalau ia akan minta cerai dari Reyhan. Secara teori alasan mengatakan mereka tidak ada kecocokan mungkin bisa diterima oleh keluarga sebelum resepsi dilaksanakan.


" Kenapa lu Ca, suntuk banget kayanya. Sori gara gara gue ngajak ngobrol, lu yang kena hukum " tegur Nindi tiba tiba sudah duduk di samping Danisha.


" Tu dosen emang nyebelin banget " sewot Danisha, ia jadi teringat senyum Reyhan saat membiarkan tangan Dea bergirlya di lehernya.


" Jangan bilang begitu, lama lama bisa cinta. Dari awal masuk kelas gue perhatiin pak Reyhan liat ke arah lu tu beda Ca, kaya gimana gitu.."


" Yang jelas beda karna gue mantan..ups " Danisha menutup mulutnya.


" Jelaskan Ca ? " todong Nadin. Danisha menggelengkan kepala.


" Sudah jangan di bahas lagi, gue mau fokus baca Nad " Danisha membuka halaman yang ia tutup tadi mulai fokus dengan barisan kalimat yang ditulis dalam buku. Tapi pikirannya tetap pada wajah suaminya. Sekarang ia benar lihat dengan nyata sosok itu dengan seorang perempuan, bukan Dea tapi yang ini lebih manis. mahasiswi juga kayanya.


" Jadi beneran lu pernah pacaran sama pak Reyhan ? pantesan ada aura aura berbeda saat kalian saling menatap benci benci tapi rindu, lu masih cinta kan ? cemburu kan doi di deketin cewek cewek cakep " Nadin masih ngoceh.


Plak !


" Auu ! "


Danisha menggeblak kepala Nadin pakai buku hingga Nadin menjerit membuat beberapa pasang mata menoleh pada mereka termasuk Reyhan. tak lama mereka fokus kembali dengan diskusi yang tertunda.


" Ssssst...! " tegur seorang mahasiswi di dekat Nadin. Mata Danisha tak bisa diajak kompromi, ekor matanya memperhatikan dua orang yang saling melempar senyum itu.


" Eh..kemana ?" cegat Nadin saat Danisha beranjak dari kursi.


" Cari makan yuk " ajak Danisha. ia mulai merasakan perutnya perih karena tadi pagi ia tidak sarapan.


" Yuk " balas Nadin bersemangat. sampai dikantin Danisha terdiam. ia memeriksa dompetnya, keuangannya mulai menipis. biasanya ia akan di beri uang oleh ayahnya atau melakukan pekerjaan part time job untuk kebutuhan sehari hari sementara biaya pendidikannya di biayai oleh nenek Reyhan. Tapi karna ia sudah menikah maka tentu saja ia harus minta uang dari suaminya. Sekarang ia sedang ilfil bertemu Reyhan. laki laki yang suka tebar pesona.


" Ayo Ca " Nadin menarik tangan Danisha. Tapi Danisha menahan kakinya.

__ADS_1


" Gue..." Danisha jadi gugup.


" gue yang traktir " ujar Nadin yang paham kalau seperti ini Danisha pasti kehabisan uang. akhirnya Danisha mengikuti kemauan Nadin makan di kantin.


Danisha melihat layar hp, sama sekali tak ada notifikasi pesan dari Reyhan. Ia juga gengsi mengirim pesan terlebih dahulu.


" Ca..gue ada kerjaan buat lo. lu mau nggak jadi guru les privat untuk ponakan gue "


Danisha tak menjawab, ia sibuk Memperhatikan hpnya.


" Ca...lu dengar gue nggak sih ?" Nadin menggoyangkan bahu Danisha.


" Eh..lu bilang apa tadi ? sori gue nggak fokus. gue lagi nyari loker part time " dusta Danisha. ia baru saja melamunkan seseorang.


" itu yang mau gue bilang, ada part time job buat lu "


" kerja apa ? jangan yang berat berat ya, gue mau fokus studi semester ini biar cepat di wisuda " sambut Danisha antusias. ia ingin melebur semua kegundahan hatinya dengan mencari kesibukan di luar jam kuliah.


" Oke...gue terima "


Sepulang kuliah Danisha ikut Nadin ke rumah sepupu Nadin. Sampai sore Reyhan belum menghubunginya sampai akhirnya hp itu kehabisan daya.


Karena keadilan ngobrol Danisha kemalaman pulang, ia memilih pulang naik taksi online daripada diantar Nadin. ia tak mau sahabatnya itu tau kalau tinggal dengan Reyhan sekarang.


Danisha menekan angka pasword masuk unit apartemen Reyhan dan terkejut karena Reyhan sudah berdiri di depan pintu dengan tangan terlipat di dada, wajahnya begitu datar. dan tatapanya kurang bersahabat.


" Dari mana saja ? kenapa tak mengabari saya kalau pulang malam. Oo..jadi ini kelakuanmu, keluyuran tak tentu waktu !"


deg !


Danisha menelan ludahnya. Ia tertunduk, sudah dari pagi ia merasa diabaikan. saat belajarpun dia ditatap dengan sinis. Tak menanyakan keberadaan dirinya, lebih asik bercanda dengan cewek cewek cantik itu.


" Bukan urusan kakak ! " sentak Danisha emosi. ia berlari ke kamarnya tapi Reyhan berhasil meraih tangannya. Danisha menghempaskan tangan Reyhan agar laki laki itu mau melepas tangannya.

__ADS_1


" Lepas nggak atau hal yang nggak kakak inginkan terjadi " ancam Danisha. Reyhan bergeming. ia malah menarik tubuh Danisha agar mendekat padanya.


" AUUU..! Aduuh..." Jerit Reyhan. Danisha berlari terbirit ke kamarnya setelah berhasil menghantam pusaka Reyhan dengan lututnya.


Keputusan untuk melakukan itu sudah ia perhitungkan, semakin mereka sering bertengkar maka semakin mudah untuk mereka berpisah.


keduanya sama sama tak keluar kamar, Danisha mengganti pakaian dan berbaring di kasur. tadi ia sudah makan malam di rumah Nadin. sementara Reyhan mengelus elus pusakanya yang masih perjaka itu. hantaman lutut Danisha cukup membuat pusakanya berdenyut. perih.


" Tenang sayang, dia harus dapat pembalasan " ucap Reyhan dengan tangan terkepal. ia ingat sesuatu. Dari pagi ia tak tahu apakah istrinya itu sudah makan atau belum. Ia tadi sudah memesan dua kotak nasi ayam goreng tapi karena panggilannya tak kunjung tersambung ia jadi kesal sendiri.


tok tok tok !


Danisha yang hampir terlelap terkejut mendengar ketukan pintu dengan malas ia berdiri dan membuka pintu.


" Kamu sudah makan ? " tanya Reyhan lembut. Danisha mengernyitkan kening. biasa korban penganiayaan akan membenci pelakunya. Nah yang ini beda.


" Saya sudah beli ayam goreng kesukaan kamu. makan yuk " ajak Reyhan. Danisha menggeleng.


" Tadi aku sudah makan di rumah sepupu Nadin " Danisha mau menutup pintu tapi Reyhan menahan pintu dengan kakinya, meski harus menahan perih di area dalam boxer. ia mengernyit, terlihat menahan perih.


" sakit ya ?" tanya Danisha sok polos. padahal dalam hati tersenyum.


" menurutmu ? "


Danisha nyengir. tadi hantaman lutut pada benda berharga itu dengan kekuatan penuh plus pakai tenaga dalam alias tenaga hati yang cemburu.


" Temani saya makan " titah Reyhan sambil berbalik. Danisha prihatin juga melihat suaminya itu jalan ngangkang menuju meja makan, pengennya sih bantu di papah tapi takut dibalas dengan cara yang Danisha mau.


Reyhan tak bicara apapun setelah mereka sampai di meja makan. begitupun Danisha, ia juga bingung harus bicara apa sama Reyhan. apakah ia harus membahas permintaan Wanda dan membuat hatinya jadi hancur sendiri.


" Kenapa kamu ingin melepaskan saya, apa benar kamu tak mencintai saya lagi ? " tanya Reyhan setelah meminum.air putih segelas penuh.


Glek ! pertanyaan ini bobotnya tak terhitung jumlah sksnya untuk ujian cinta.

__ADS_1


__ADS_2