
Danisha sudah pulih, ia baru tahu kalau ia mengalami infeksi pada usus dan ada bagian dari ususnya harus di potong.
Karna statusnya tidak single lagi otomatis ia harus ikut aturan Reyhan yang kini sudah jadi suaminya. Semua tanggung jawab tentang Danisha berada di tangan Reyhan.
" Mulai sekarang, kamu harus dengar kata kata saya suka atau tidak suka " ujar Reyhan tegas saat mereka sudah ada di apartemen Reyhan.
" Mungkin kamu terlalu kaget dengan situasi ini, saya tidak memaksa kamu harus tidur sekamar dengan saya. itu terserah kamu, mau punya kamar sendiri atau kamu ada di kamar saya itu kembali pada hati kamu " ujar Reyhan setelah meneguk air putih.
" intinya, saya tidak pernah memaksa kamu dalam hal yang tidak kamu suka. cuman kamu tidak boleh melanggar aturan saya, maaf saya harus keras dalam hal ini "ucap Reyhan dengan menghujam Danisha dengan tatapan seriusnya.
Reyhan mengulurkan kertas yang berisi poin poin peraturan untuk Danisha.
Danisha membaca dengan kening berkerut. Banyak sekali hal yang tak boleh di langgar. mulai dari jam berapa sudah berada di rumah, harus laporan tiap tiga jam sekali, sampai apa yang boleh dan tak bolehpun di makan pun ada.
" Masa makan pun di atur ? "
" kamu tau kenapa kamu sampai berada di rumah sakit ? " tanya Reyhan tanpa mengubah mimiknya dari menjemput di rumah sakit sampai mereka tiba di apartemen. serius.
" pola makanku yang salah " jawab Danisha sambil tertunduk. Sebenarnya suasana hatinya yang telah membuat pikirannya kacau, hingga ia hidup seenaknya. Membuat sebuah keputusan yang sangat bertentang dengan hatinya sebenarnya membuat ia uring uringan.
Mengatakan tidak cinta padahal sangat cinta ibarat nelen empedu. pahit.
" itu kamu tau, sekarang istirahatlah. kamu mau tidur sama saya atau ingin punya kamar sendiri ? " tanya Reyhan sambil melipat tangan di dada. ia tahu jawaban ini bakal keluar lama dan penuh pertimbangan. mungkin perlu call a friend dan jawabannya sudah jelas, tidur sama suami.
" punya kamar sendiri..kak " jawab Denisha dengan nada rendah.
" Ekhm ! oke..kalau itu jadi pilihan kamu " tanggap Reyhan, deheman itu sebenarnya menetralisir rasa kecewa yang tiba tiba singgah di hati.
" Karna saya sudah tahu kamu akan menjawab itu, saya sudah persiapkan semua kebutuhan kamu di kamar itu " tunjuk Reyhan pada kamar di sebelah kamarnya.
Reyhan membantu Danisha membawa kopernya ke dalam kamar.
Danisha memendarkan pandangannya ke sekeliling kamar, kamar itu di cat warna hijau. warna kesukaannya.
Danisha mendengar pintu dikunci dan ia reflek berbalik.
" hanya uji nyali " ucap Reyhan sambil nyengir. Danisha membelalakan mata. ia mana siap yang begituan.
" Siap ga siap harus siap Ca " ujar Reyhan dari balik pintu. Danisha menggigit bibirnya. kok pak dosen bisa baca pikirannya sih.
Danisha berbaring dan memeluk guling. Ia belum sepenuh percaya kalau, ia dan Reyhan adalah suami istri. Berarti semua rencananya gagal, meski ia berusaha menjauh, takdir yang membuatnya dekat dengan orang yang masih di cintainya dan kini ia harus berpura pura tidak cinta agar diceraikan. Kenapa terdengar menyakitkan sekali.
Danisha tertidur sampai pagi, pengaruh obat membuat tidurnya nyenyak. ketika bangun Danisha melihat jam di layar hp. sudah jam sepuluh pagi.
__ADS_1
Danisha keluar kamar dan melihat pesan di tempel di kulkas.
" di makan buburnya, dua hari ini kamu jangan ke kampus dulu "
******
Nadin mengangkat tangan ketika Reyhan memanggilnya.
" Nanti, selesai kuliah kamu temui saya di ruangan saya " ujar Reyhan sambil membereskan modul perkuliahan yang terserak di atas meja.
" oke, sekian dulu untuk hari ini, kalian boleh keluar " ucap Reyhan mengahiri kelas.
Nadin terpaku di tempat duduknya, ia juga heran. pak Reyhan sama sekali tidak mempertanyakan kenapa Danisha tidak masuk, apa Reyhan emang dosen tipe tidak pedulian. Nadin garuk garuk kepala.
hati hati Nadin mengetuk pintu ruangan Reyhan.
" masuk !" perintah Reyhan
" silahkan duduk " titahnya saat Nadin ragu ragu mendekati kursi
" kamu tau kenapa saya panggil ke sini ? " tanya Reyhan seperti biasa dengan suara beratnya.
" enggak pak, apa saya ada salah pak ? " Nadin balik bertanya dengan wajah cemas. Reyhan menghela nafas sebentar menautkan kedua tangannya dan menatap Nadin seksama. Nadin tambah gugup di buatnya.
" kamu tau dimana Danisha sekarang ? " Nadin menggeleng, sementara Reyhan menyembunyikan senyum, dia baru saja vidio call dengan Danisha memastikan anak itu sudah makan atau belum. Tadi ia lupa memberi tahu dimana letak obat.
" kemarin, saya kerumahnya, rumahnya nggak ada orang, dan saya hubungi nomornya ga aktif, saya kuatir pak dia kenap napa, kata Rio pas pulang Kemping badannya panas, tu anak memang bandel pak, kaya mau bunuh diri pelan pelan. saya sudah larang dia jangan memforsir energi buat daki gunung, panjat tebing, adu panco, kayanya tu anak galau karena asmara deh pak " cerocos Nadin mulus kaya jalan tol. informasi yang cukup penting untuk Reyhan mesti harus nahan ketawa.
" Danisha ada sama keluarganya dan dia aman, saya ikut mengantarkannya kerumah sakit. mungkin ada alasan tertentu kenapa keluarganya tidak memperbolehkan teman temannya menjenguk " jelas Reyhan membuat Nadin terpana.
" Saya juga bagian dari keluarganya, ayah saya dan ibunya masih saudara sepupu " tambah Reyhan, menahan Nadin yang ingin bicara.
" Biarkan saya bicara dulu " tegur Reyhan saat Nadin ingin bicara lagi.
" Keluarganya ingin tahu semua kebiasaan buruknya sehingga ia bisa sakit, kalau kamu tahu kamu ceritakan saja semuanya jangan di tutup tutupi, ini demi kebaikan Danisha " Reyhan menggerakkan tangannya agar Nadin bicara.
Rem blong, Nadin cerita semua kebiasaan buruk Danisha dari a sampai z nggak ada yang ditutup tutupi. Dasar sahabat cepu, tutuk Nadin sendiri. tapi ga pa palah, kan demi kebaikan Danisha sendiri. biar kena omel hii..hii..
" Oke..terima kasih, saya rasa informasinya sudah cukup, kamu mau pulang bareng saya "
" mau pak " jawab Nadin tergesa.
Nadin bersorak dalam hati, dia bakal melangkah anggun di samping pak Reyhan, dia akan selfie di dalam mobil Reyhan dan bikin Kristi jealous.
__ADS_1
" Nad, lo udah dapat kabar dari Ica ? " tanya Rio saat mereka berpas pasan dengan Nadin menuju parkiran.
" tu anak belum ngasih kabar " ujar Nadin tergesa karna ia lihat pak Reyhan bergegas menuju mobilnya.
" sori Yo, gue buru buru nih. nebeng sama pak Reyhan " Nadin setengah berlari mengejar Reyhan. dengan terengah engah ia masuk ke mobil Reyhan. Sebelum masuk ia sempat melambaikan tangan pada teman temannya bak ratu kecantikan dapat tiara.
" Didepan aja " tegur Reyhan saat Nadin mendaratkan bokongnya. ketika ia keluar lagi, ia diteriaki uuu..sama teman temannya. tapi ia malah memberikan dadahan terindah ketika membuka pintu depan. mereka semua ternganga.
Nadin tersenyum saat Reyhan memandangnya datar.
" Saya nggak nyangka lo bapak itu saudara Ica " ujar Nadin saat mobil sudah berjalan. Reyhan hanya menanggapi dengan senyuman.
" tu anak ya pak, perlu ada orang yang galakkin dia biar ga aneh aneh. makan kurang, istirahat kurang apalagi belajar juga kurang, dia itu sebenarnya pintar lo pak, cuman dia bilang dia lagi galau sudah mutusin pacarnya, dia yang mutusin dia yang galau aneh kan pak " tutur Nadin seperti ember bocor. nggak perlu titik koma.
Reyhan mendengarkan dengan seksama, terutama pada kalimat terakhir ia menoleh pada Nadin. ia geleng geleng sambil tersenyum. berarti benar dugaannya ada suatu hal yang membuat Danisha menjauhinya dan itu bukan Keinginan Danisha.
Nadin minta diturunkan di sebuah mini market karena ia ingin belanja sesuatu sebelum pulang.
Danisha terkejut ketika layar laptopnya di tutup tiba tiba. Ia baru ingat poin peraturan itu. pertama ketika Reyhan pulang, ia harus bersikap layaknya Seorang istri. mengambil tas Reyhan, cium tangan dan membantu melonggarkan dasi kalau Reyhan sedang pakai dasi. mengambilkan suami air minum dan duduk di samping suami.
Danisha tersenyum ketika semuanya dilakukannya dengan sempurna. Tapi kembali seperti berangkat tadi wajah itu seperti berat mengangkat senyum. Danisha tersenyum kecut.
" Saya sudah dapat transkrip nilai kamu, ada 7 mata kuliah dengan nilai C, lima diantaranya saya yang akan mengajar " ucap Reyhan dalam helaan nafas berat. Danisha menutup mulutnya yang menganga saat Reyhan menunjukan transkrip nilainya yang ancur ancuran.
" Trus...saya juga dengar dari Nadin semua kebiasaan kamu yang membuat kesehatan sama nilai kamu drop "
" Nadin ? ember betul tu anak " umpat Danisha.
" Jangan salahkan dia, karna dia sayang kamu dia berbuat seperti itu " sergah Reyhan. Ia berdiri dan kembali melipatkan tangan di dada.
" Meski saya suami, saya tak akan bersikap manis sama kamu jika kamu masih menjalankan kebiasaan buruk itu " ucap Reyhan sambil duduk dengan menyilang kaki. kaki yang di atas di goyang goyangkan.
" Sekarang tolong pijitkan punggung saya " pinta dosen muda itu dengan memutar punggungnya ke arah Danisha.
" ogah.." tanggap Danisha yang kemudian melesat cepat ke arah kamarnya.
" met bobok, pak dosen galak " ucap Danisha sebelum menutup pintu.
" awas ya kalau kamu mimpi buruk, saya juga ogah temani kamu " Danisha tak jadi menutup pintu dan kembali ke sofa dan melakukan aoa yang Reyhan suruh.
.
"
__ADS_1
"