Germilang Cahaya

Germilang Cahaya
7. Mencari pengganti Bintang


__ADS_3

Germilang lama terdiam.


Jika ia tidak mengiyakan, ia merasa kasihan.


"Om gamau ya?" Tanya Alula, ia menunggu jawaban Germilang.


"Siapa bilang gamau, sayang?"


Sepertinya ia harus mengiyakan saja.


"Lah itu om germilang diem aja, iya kan kak?" Giliran Aluna yang berucap.


"Iya, om mau kok jadi papa Alula sama Aluna." Ujar Gemilang.


Anak kembar itu langsung tersenyum lebar.


"Kalian lagi ngapain? Kayanya seru banget." Ucap cahaya yang baru saja datang, ia membawakan secangkir teh hangat untuk germilang.


Ia meletakkan di meja, lalu cahaya ikut duduk.


"Ihh mama kepo" ledek Alula.


"Gapapa dong kan mama mau ikutan"


Kedua bocah itu ingin bercerita kepada mamanya, namun.....


"Kalian siap siap untuk belajar ya, sana masuk kamar." Suruh cahaya kepada anak kembarnya.


Alula dan Aluna mengangguk tanpa membantah.


"Belajar yang rajin yah." Ucap Germilang.


"Siap om." Ujar kedua anak kembar itu bersamaan.


Dua anak itu beranjak dari duduk lalu berjalan pergi ke kamarnya.


"Di minum teh nya, maaf hanya bisa menghidangkan itu saja."


"Tidak apa-apa, ini lebih dari cukup." Timpal Germilang seraya mengambil cangkir tehnya, kemudian menyeruputnya sedikit.


Cukup menghangatkan tubuhnya, hawanya yang sedang hujan deras.


"Terimah kasih"


Cahaya hanya membalas dengan tersenyum.


"Manis" Ucap Germilang tanpa sadar.


Germilang terpukau melihat senyuman itu, lekukan bibirnya itu mirip sekali dengan bintang.


"Apanya yang manis? Tehnya atau apa?"


Germilang tersentak, lalu dengan cepat ia membuang jauh-jauh pikiran nya.


"Tidak, lupakan saja." Ucap nya dengan tenang.


Cahaya berdecak kesal


"Kau ini kenapa sih? Tidak jelas dan begitu mengesalkan."


Germilang terdiam tak merespon.


Drttt... Drttt... Drttt...


Suara nada dering dari handphone Germilang.


Germilang merogoh saku jasnya untuk mengambil handphone miliknya.

__ADS_1


"Hallo ma, ada apa?"


Ternyata yang menelponnya adalah Tamaya, mamanya.


"Sayang, pulanglah ada sesuatu hal penting yang Papa sama Mama mau ngomongin." Jawab Tamaya.


Germilang terdiam.


"Halo germilang? Are you okey?"


"I'am fine, ma. Germilang akan segera pulang."


"See you mam." Germilang mengakhiri sambungan telepon nya.


"Saya akan pulang." Ujar germilang sambil memasukkan handphone nya kembali ke saku jas nya.


"Tolong habiskan tehnya yah bos ku, saya sudah capek-capek membuatkannya."


Cahaya tidak rela, jika teh yang ia buatkan hanya di minum sedikit.


Sungguh tidak menghargai.


Dasar Cahaya cewe perhitungan, wkwk.


Germilang menatap datar cahaya, lalu tangannya meraih cangkir yang berisi teh itu.


Ia langsung meminum nya sampai habis dengan sekali tegukan saja.


-


Sesampai di rumah mewahnya itu, Germilang mendapati kedua orang tuanya itu sedang duduk dan berbincang dengan seorang wanita di ruang tamu.


Di lihat dari wajah dan postur tubuhnya seperti seumuran dengan nya.


"Anak mama, ternyata udah pulang." Tamaya beranjak dari soffa ketika menyadari anak kesayangannya itu datang.


"Ada apa ma?" Tanya germilang to the point.


Mendengar pertanyaan anaknya, Tamaya tersenyum senang.


"Jadi gini sayang, mama mau ngenalin seseorang." Ujar Tamaya sambil melirik ke arah wanita itu.


"Kenalin ini, namanya Devita. Anak sahabat Mama." Ujar Tamaya memperkenalkan wanita berambut pendek itu.


"Anaknya cantik kan?"


"Ya? Terus?" Germilang bingung maksud mamanya memperkenalkan Devita padanya.


"Ya gapapa, siapa tau kalian bisa menjadi teman." Sahut Wijaya.


"Nah benar kata Papa, terus bisa Deket dan siapa tau cocok ya pa hehe." Timpal Tamaya.


Devita hanya terkekeh kecil sebagai respon nya


Germilang sekarang paham, maksud kedua orang tuanya itu. Yang ingin menjodohkan dirinya.


Dirinya heran, tanah kuburan tunangannya saja masih basah. Kenapa secepat ini untuk mencari pengganti bintang.


Ya, walaupun seandainya ia sudah bisa move on dari bintang.


Ia bisa mencari sendiri pasangan hidupnya tanpa harus dengan cara di jodohkan.


Ia kesal kepada mama dan papanya.


Germilang menarik nafasnya pelan, menahan rasa kesalnya.


"Ma, pa. Germilang mau tidur, cape." Ujar Gemilang, ia tidak mau berdebat lebih panjang.

__ADS_1


"Tapi sayang, temenin Devita ngobrol sebentar saja. Kasihan dia udah jauh-jauh kesini. Mau kan?" Tamaya sedikit mendesak Gemilang.


"Ma, biarlah germilang tidur. Kasian dia  seharian keluar, pasti sangat lelah." Sahut  Wijaya, sebenarnya ia tidak tega dengan anaknya tapi ini semua kemauan istrinya, tidak ada pilihan lain.


"Baiklah, selamat beristirahat anak mama sayang." Ucap Tamaya sembari memberi kecupan manis di kening Germilang.


Umur boleh tua, tapi di manja mama tetap nomer satu. Sebuah kalimat yang cocok untuk mendeskripsikan keluarga Wijaya ini.


"Malam ma,pa."


Germilang berjalan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


"Devita, tolong maafkan sikap Germilang yah." Tamaya meminta maaf.


"Gapapa Tante, saya memaklumi kok." Jawab perempuan yang mengenakan rok pendek itu sambil tersenyum.


"Dia orangnya emang cuek gitu, tapi kalo udah sayang jangan di tanya. Wuihhh bucinnya bukan maennn."


Devita tertawa kecil mendengar ucapan Tamaya.


-


Pagi telah tiba, Germilang sudah siap dengan setelan jas kantornya.


Ia berjalan menuju meja makan, untuk ikut bergabung bersama kedua orang tuanya menikmati sarapan.


"Selamat pagi pa,ma." Sapa Germilang.


"Pagi" Wijaya melihat sekilas ke arah anaknya, ia senang akhirnya germilang menyibukkan diri di kantor, tidak lagi merenung bersedih memikirkan bintang lagi.


"Pagi, sayang." Balas Tamaya, ia menggeser kursi disampingnya menyiapkan germilang untuk duduk.


"Lho lho, itu dasinya ga bener sayang." Tutur Tamaya saat melihat Germilang mengenakan dasi sedikit berantakan.


"Biarlah ma." Germilang mengacuhkan bahunya, setelah kepergian bintang, ia menjadi cuek dengan penampilannya.


"No! Anak keturunan keluarga Wijaya harus selalu rapi."


"Sini, biar mama benerin." Pinta Tamaya agar Germilang mendekat ke arahnya.


Germilang mendekat pasrah.


Wijaya terkekeh pelan melihat tingkah laku istri dan anaknya itu.


"Makanya kamu tu segera cari pendamping, biar ada yang ngurus. Kamu Taukan mama sudah semakin tua tidak mungkin terus menerus mengurus mu. Sudah saatnya juga papa mama menimang cucu dan kamu juga sebagai anak tunggal harus menambah keturunan keluarga Wijaya." Tamaya menasehati Germilang sambil membenarkan dasi yang di kenakan germilang.


Germilang mendengus kesal, kenapa Tamaya begitu mendesaknya untuk segera mencari pengganti Bintang.


"Ma, sudahlah. Germilang sudah dewasa. Dia tau apa yang buruk apa yang baik. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung." Wijaya menimpali, ia paham sekali perasaan anaknya saat ini.


"Pa, tapikan demi kebaikan germilang juga. Mama pengen yang terbaik buat germilang." Ucap Tamaya.


"Germilang berangkat kerja dulu." Lelaki berbadan kekar itu berlalu pergi, tanpa menyalami tangan Tamaya dan Wijaya.


Ia sudah di selimuti rasa kesal.


Niatnya yang ingin duduk di kursi dan menikmati sarapan bersama itu buyar begitu saja.


Rasa laparnya hilang.


Sesampai di kantornya, suasana kantor masih terlihat sepi. Tidak terlihat karyawan yang berlalu lalang.


Germilang berangkat begitu pagi.


"Diam lah, tahan Germilang." Gumamnya sambil memegangi perutnya yang berbunyi karena kalaparan.


-Bersambung

__ADS_1


See you guys❤️


__ADS_2