
Germilang berusaha sekuat mungkin menahan rasa laparnya, lalu melanjutkan jalannya ke arah ruangan kerja nya.
Langkah nya terhenti, ketika melihat seorang wanita berseragam office girl duduk di anak tangga sambil menikmati makanan di dalam bekal dengan begitu lahap.
Matanya memicing, sepertinya ia tidak asing dengan wajah wanita itu.
Dia adalah Cahaya, wanita berambut pirang itu asik mengunyah makanan.
Germilang berjalan menghampiri.
"Enak sekali ya, pagi-pagi sudah sarapan." Ujar Germilang yang sontak membuat cahaya kaget dan tersedak makanannya.
"Ugh... Ugh..." Cahaya menepuk-nepuk pelan dadanya.
Ia langsung mengambil botol minuman di sampingnya, dan meminumnya hingga dirinya merasa lega.
"Huu lega, Alhamdulillah."
Cahaya menatap sengit ke arah Gemilang.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu?"
"Kau mengganggu sarapan pagi ku!" Ucap cahaya ketus.
"Kamu lupa aku siapa?"
Germilang mengangkat alis nya dan tersenyum sinis.
Cahaya lupa bahwa Germilang adalah bos di kantor tempatnya bekerja.
Ia membuang nafas, menahan diri agar tidak membuat wajah bosnya itu penuh dengan luka memar.
Lalu cepat-cepat Cahaya pura-pura tersenyum.
"Maaf pak, tadi saya tidak sengaja. Refleks hehe." Ucap Cahaya dengan sopan.
Sebenarnya, ia sudah sangat muak dengan pria di hadapannya ini, tapi ia tahan demi kedua buah hatinya.
Germilang puas melihat respon Cahaya.
Kruyuk... Kruyuk.... Kruyuk....
Tiba-tiba perut Germilang berbunyi, bukan hanya Germilang yang mendengar melainkan cahaya juga mendengarnya.
Wanita itu menahan tawa.
"Gausah ketawa!" Ujar Germilang sambil melirik tajam ke arah Cahaya.
"Maaf pak"
"Pak milang laper ya?" Tanya Cahaya.
Germilang tak menjawab, ia melihat ke arah bekal yang di pegang Cahaya. Bekal itu masih terisi dengan nasi putih dan lauk tumis kangkung.
Germilang menjadi ngiler melihat nya.
"Boleh kah? Jika kamu berbagi sarapan dengan saya."
"Maksud nya, saya dan pak Milang?"
Cahaya di buat kaget, mulut wanita itu terbuka seakan tak percaya apa yang di katakan bosnya.
Germilang mengangguk.
"Emang kamu tega, lihat bosnya kelaparan kek gini?" Ucap Germilang dengan nada melas.
Germilang ialah orang kaya dan bos perusahaan besar, jika ingin makan ia bisa memilih restoran mewah dengan menu-menu enak. Tapi sekarang kenapa harus dengan bekal cahaya yang tinggal tersisa sebagian.
"Kamu ga mau ya? Kok diem aja. Keburu saya mati kelaparan nih." Ujar Germilang.
"Udahlah kasih aja, itung-itung berjasa buat bos. Siapa tau pas gajian di kasih tambahan tips hehe." Batin Cahaya dalam hati.
Cahaya menyodorkan bekal makan nya.
"Ini pak." Ujarnya.
Germilang menerima dengan sepenuh hati, tanpa malu dia duduk di anak tangga dan langsung melahap makanannya.
Cahaya membatin.
"Ini bos ga ada jaim-jaimnya. Udah makan sisa dari karyawannya eh sekarang dengan pd nya duduk di anak tangga."
"Sungguh sederhana dan merakyat. Eh kok merakyat tapi mekaryawan haha."
Cahaya tertegun, ia kagum dengan bos nya itu. Tanpa ia sadari Germilang menangkap basah dirinya yang sedang tersenyum sambil menatap lekat Germilang.
"Hey Cahaya!" Panggil Germilang.
"Cahaya tak menyahut.
"Cahaya!" Panggil lagi Germilang dengan nada tinggi.
Cahaya tersadar.
"Iya pak? Kenapa?" Sahutnya.
"Kenapa kamu liatin saya terus, Cahaya?" Tanya Germilang sambil ia menyendok sesuap nasi, lalu seraya menyuapkan ke dalam mulutnya.
"Duh mampus, ketawan deh." Cahaya menepuk jidat.
__ADS_1
"Ahh engga pak, kan saya juga punya mata hehe." Jawab Cahaya sambil tersenyum, menutupi rasa malunya.
"Jangan-jangan kamu suka sama saya?"
"Dih, Pd banget." Cibir Cahaya ketus.
Tiba-tiba datang Ardian.
"Wahh, Big boss lagi asik pacaran nih ye." Ledek Ardian.
"Diam!" Pekik Germilang.
"Jangan marah-marah dong, kan cuman bercanda." Ujar Ardian.
"Ada proyek besar yang akan ingin ku perlihatkan." Lanjut Ardian.
Germilang sudah selesai makan, kotak bekal itu telah habis. Gemilang menutupnya lalu berdiri.
"Ayo ke ruangan Ku. Kita juga perlu bahas tentang kerja sama dengan perusahaan lain." Ucap Germilang, ia berjalan pergi mendahului, Ardian mengikuti Germilang dari belakang.
Cahaya teringat, kotak bekal miliknya di bawah pergi Germilang.
"Pak milang, kotak bekal saya jangan di bawah!"
"Nanti saya cuciin, tenang aja." Sahut Germilang dari jauh.
-
Di rumah kediaman bintang.
Mayang duduk di kursi pinggir kolam ikan yang terletak di taman belakang, mendengarkan air yang bergerimicik merdu dari air terjun buatan.
Ia sudah mulai terbiasa untuk mengikhlaskan kepergian bintang.
Tidak ada gunanya juga ia menangis darah pun, Bintang tak akan kembali.
"Bintang sayang, mama sudah ikhlas. Semoga kamu tenang di sana." Gumam Mayang sambil memberikan makan ikan.
Segerombolan ikan mas itu berebut makanan hingga menimbulkan suara di dalam kolam.
"Mama." Panggil Fero sang anak keduanya yang datang.
Lelaki itu berdiri di belakang Mayang lalu mengusap bahu mamanya dengan lembut.
"Fero Senang, akhirnya mama bisa ikhlasin kepergian kak bintang."
Mayang tersenyum.
"Sudah saatnya mama hidup normal lagi." Balas Mayang.
"Ma, Bagaimana kabar Kak Germilang? Apa dia masih terpuruk. Pasti berat banget buat dia." Ujar Fero yang menanyakan kabar tunangan kakak nya itu.
"Mama gatau Fer, mama pengen banget ngeliat kondisi Germilang." Ucap wanita tua yang terlihat awet muda itu.
Tiba-tiba ia mendapat ide untuk mengajak Mayang mengunjungi Germilang.
"Ma gimana kalo kita bawain makan siang buat kak Germilang, kita anter ke kantornya."
Mayang menengok ke belakang, ke arah Fero.
"Dari mana kamu tau kalo Germilang di kantor, belum tentu juga. Apalagi kalo keadaan nya masih sedih."
"Fero tau ma, kemarin pulang sekolah Fero lewat kantornya kak Germilang. Aku lihat Ada mobil nya Kak Germilang yang terparkir."
"Mama setuju, anak mama ini paling pandai." Ucap Mayang sambil memberi kecupan manis di kening Anak bujang nya.
-
"Kira-kira nanti kita bawa apa ya Tan, buat makan siang Germilang? Makanan Kesukaan Germilang?" Tanya Devita pada Tamaya.
Mereka berdua sedang duduk bersama di sebuah caffe.
"Germilang sangat suka dengan masakan rumahan, apa aja dia suka." Balas Tamaya seraya menyeruput coklat panas pesanannya.
Devita mengangguk pelan.
"Baiklah Tante, nanti kita mampir sebentar di warung makan untuk membelinya."
"Tante ga salah milih kamu untuk germilang, udah cantik perhatian lagi the best lah." Tamaya menatap kagum Devita.
Devita tersenyum.
"Ah Tante bisa aja, aku hanya ingin menjadi yang terbaik dan mengambil hati Germilang." Balasnya.
"Tante, apa perlu kita sebelum kesana kabarin Germilang dahulu?" Tanya Devita.
"Gausah, biar jadi kejutan buat Germilang." Ucap Tamaya menggeleng pelan.
-
Jam sudah menunjukkan pukul 11.20, waktu istirahat untuk para pekerja.
Sedangkan yang lain memanfaatkan waktu istirahat nya untuk sekedar makan siang atau hanya rehat sejenak, Germilang memilih tetap berkutat di depan laptopnya.
Drrttt... Drrttt... Drrtt...
Suara nada dering telepon dari ponsel Germilang.
Germilang melihat sekilas layar ponselnya, ternyata panggilan dari Ardian.
__ADS_1
Germilang menghentikan pekerjaannya lalu mengangkat.
"Iya halo, ada apa?" Tanya Germilang.
"Big boss, apa kah kau masih mengerjakan proyek itu?" Ujar Ardian.
"Ya"
"Ohh, kau tidak ingin menitip makanan? Pumpung aku lagi ada di restoran depan kantor."
"Tidak usah, Aku tidak lapar." Germilang mematikan sambungan telepon.
Tok... Tok... Tok...
Baru saja ia ingin melanjutkan pekerjaannya, ia mendengar pintu di ketuk.
"Masuk" Ucap Germilang.
"Selamat Siang Anak mama." Ternyata yang datang adalah Tamaya dan Devita.
Germilang beranjak dari kursi kerjanya.
"Mama? Kok mau kesini ga ngabarin Germilang dulu."
Germilang mendekat ke arah Tamaya, lalu mencium tangan mamanya itu.
"Biar kejutan dong sayang" Jawab Tamaya.
"Mama sama Devita kesini mau nganterin makan siang buat kamu. Ini semua ide Devita. Dia begitu perhatian lhoo sama kamu." Lanjut Tamaya.
"Biar kamu semangat kerjanya." Timpal Devita sambil tersenyum simpul.
"Tidak usah repot-repot, Kan Germilang bisa beli nanti." Ucap Germilang.
"Sayang, masalahnya bukan itu. Tapi kita mau makan bersama."
"Biar kamu lebih Deket sama calon istri pilihan mama."
"APA! CALON ISTRI?!"
Semua orang dalam ruangan itu menoleh ke arah pintu.
Germilang membelalakkan matanya, yang datang adalah Calon mertua dan Calon adik iparnya. Mayang dan Fero.
"Bu, tidak seperti itu Bu." Germilang menghampiri mereka.
"Kau jahat sekali Germilang! Kuburan bintang tunangan mu saja masih basah, kau sudah dapat pengganti nya! Lelaki Macam apa kau itu!" Mayang sudah menangis terisak.
"Bu, Germilang bisa jelasin. Ibu salah paham."
"Gausah kak! Sudah jelas semuanya!" Hardik Fero, remaja itu mendekap tubuh mamanya yang menangis itu.
"Memangnya kenapa kalau Germilang mendapat pengganti bintang?, ada salahnya? Lagi pula ikatan tunangan mereka sudah berakhir, bintang telah tiada. Tidak sepatutnya kau mengatur-atur Germilang." Ujar Tamaya, wanita itu melipat kedua tangan nya di dada.
"Ma, jangan buat ini semakin panjang."
Mayang mendongakkan kepalanya, matanya terlihat sembab. Ini tidak adil untuk putrinya yang sudah tiada!
"Jaga ucapan Tante!" Pekik Fero.
"Hey kau bocah ingusan! Jangan ikut campur." Ucap ketus Tamaya.
"Mungkin sifat buruk mu itu menurun dari Tamaya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Mayang tersenyum sinis.
Tamaya tersulut emosi.
"Niat awal aku kesini untuk mengunjungi mu, membawakan mu makan siang. Walau bintang sudah tiada, kau sudah ku anggap anak sendiri. Tapi nyatanya apa? Kau jahat Germilang!" Mayang kembali terisak.
BRAKKK.....
Mayang membanting kotak makan itu di depan Germilang, makanannya menjadi berantakan berceceran di lantai.
Fero mengelus-elus bahu Mayang.
"Ma, Ayo kita pulang aja."
Mayang mengangguk pelan.
Fero menuntun mamanya untuk keluar dari ruangan kerja Germilang.
Tinggal mereka bertiga dalam ruangan itu.
"Sayang kenapa kamu diam aja? Dia udah jatuhin harga diri kamu!" Tamaya menatap Germilang yang diam mematung.
"Ma, aku mau sendiri."
"Silakan mama keluar."
Tamaya mengerti keadaan Germilang saat ini, sepertinya ia sedang marah karena tadi berdebat dengan Calon mertuanya itu.
"Baik lah, mama sama Devita keluar."
"Jangan lupa di makan yah." Lanjut Tamaya sambil meletakkan Tas spunbond yang berisi makanan.
Germilang tak menjawab.
-Bersambung
See you guys ❤️
__ADS_1