Guru Cantikku

Guru Cantikku
Pengkhianatan


__ADS_3

Larasati menyapa pria berpakaian sekuriti yang sedang berdiri tak jauh dari pintu pagar rumah tersebut. Untuk memastikan jika rumah ini memang benar rumah Pak Rusdi, Larasati lantas bertanya kepada pria tersebut.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria yang sepertinya penjaga keamanan di kediaman Pak Rusdi.


"Apa benar ini dengan rumahnya Pak Rusdi?" Larasati balik bertanya.


"Iya, benar."


"Apa saya boleh bertemu dengan beliau?"


"Maaf, ada keperluan apa ya, Mbak?"


"Emh, saya hendak melamar menjadi guru privat putrinya. Kebetulan saya diberi tahu rekan kerja saya jika beliau sedang membutuhkan guru privat untuk anaknya," tutur Larasati.


"Baiklah. Sebentar saya tanyakan dulu!"


Larasati mengangguk. Dia membiarkan sekuriti itu memasuki pos penjagaan. Mungkin untuk menghubungi majikannya.


Sembari menunggu, Larasati mengecek ponsel. Barangkali ada pesan atau panggilan masuk dari sang suami. Biasanya, di jam makan siang begini, suaminya selalu meminta Larasati mengirimkan makanan siang melalui aplikasi layanan makanan online. Namun, kali ini tidak ada pesan apa pun dari nomor kontak suaminya.


Hmm, Mas Agam bilang, hari ini dia mau nyari kerja. Apa mungkin dia belum pulang?


Lamunan Larasati buyar tatkala mendengar suara pintu gerbang dibuka.


"Silakan masuk, Mbak!"


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Di kediaman Adinata.


"Apa kamu tahu, jam berapa Rafa pulang?" tanya Rahayu kepada asisten rumah tangganya.


"Saya tidak tahu, Nyonya. Mbak Atun yang menemukan Den Rafa," sahut Mirna.


Tak lama berselang, Atun keluar dari dapur. Dia berpapasan dengan majikan dan juniornya di ruang tengah.


"Mau kamu bawa ke mana nampan itu, Tun?" tegur Rahayu.


"A-anu, Nyonya. Sa-saya ingin membawa makan siang Den Rafa ke kamarnya," jawab Atun terbata-bata. Dia tahu kalau majikannya tidak suka anaknya makan di kamar.

__ADS_1


"Tadi pagi, sarapannya sudah kamu bawa ke atas, sekarang makan siangnya. Apa kaki anak itu sudah lumpuh sehingga dia tidak bisa turun untuk makan?" omel Rahayu begitu kesal.


"Maaf, Nyonya. Ini bukan kemauan Den Rafa, saya sendiri yang berinisiatif untuk membawa makan siang ini ke kamarnya. Saya lihat, sepertinya Den Rafa kurang enak badan. Tadi pagi, sarapannya pun tidak habis. Seperti sedang tidak selera makan saja," sahut Atun, mencoba membela anak majikannya.


"Pantas saja kalau dia tidak enak badan, emangnya dia pikir enak hidup di jalanan," timpal Adinata yang baru keluar dari ruang kerjanya.


Ketiga perempuan itu menoleh ke arah Adinata. Rahayu hanya bisa ikut menimpali omongan suaminya dengan raut wajah yang semakin kesal, sedangkan Atun, dia hanya bisa menghela napas melihat sikap kedua majikannya. Seolah tidak pernah ingin peduli tentang kesehatan putranya. Lain lagi dengan Mirna, yang hanya diam dan bengong melihat reaksi majikannya.


"Maaf, Tuan. Tapi Den Ra–"


"Sudah-sudah, bisa naik tensi saya kalau denger pergaulan anak itu. Ya sudah, Pa, Mama berangkat dulu. Mama ada meeting dengan anak-anak butik selepas jam makan siang," ucap Rahayu, memotong perkataan Atun.


"Ayo Ma, Papa juga harus memantau proyek baru di kabupaten," timpal Adinata.


Pasangan super sibuk itu lantas mengambil tas kerjanya masing-masing dan meninggalkan kedua asisten rumah tangganya tanpa pesan ataupun amanat harus mengurus anaknya dengan baik.


"Kok gitu ya, Mbak?" celetuk Mirna.


Atun menoleh. "Maksudnya?"


"Tuan dan nyonya terlihat masa bodoh terhadap den Rafa. Seakan-akan, Den Rafa itu bukan anak kandung mereka. Hmm, apa mungkin Den Rafa memang bukan darah dagingnya tuan dan nyonya?" sambung Mirna.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Larasati keluar dengan wajah yang tidak bersemangat. Rupanya, pekerjaan yang ditawarkan rekan kerjanya, sudah ada yang mengisi. Namun, istrinya Pak Rusdi menyarankan Larasati agar menemui tetangganya. Rumahnya terletak di ujung komplek. Kabarnya, tetangga Ibu Rusdi membutuhkan guru les membaca untuk putranya.


Tentu saja Larasati senang mendengar kabar tersebut. Namun, setelah mendengar kabar jika anak tetangganya merupakan ABK, Larasati harus berpikir berulang kali untuk menerima tawaran pekerjaan itu.


Larasati menghentikan langkahnya di sebuah warung nasi. Hari sudah sangat siang, matahari pun cukup terik. Tidak mungkin dia melanjutkan perjalanannya hanya dengan berjalan kaki.


Hmm, sebaiknya aku pulang saja. Besok aku lanjutkan kembali.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Di sebuah kontrakan kecil.


"Mas yakin nih, Laras gak bakalan pulang cepet-cepet?" tanya seorang wanita yang sedang bergelayut manja pada lengan Agam.


"Iya, Sayang. Tadi dia bilang ke Mas kalau dia mau cari pekerjaan tambahan," jawab Agam seraya mengisap rokoknya.

__ADS_1


"Kamu kok jahat banget sih, Mas. Ngebiarin Laras nyari kerja tanpa motornya," tegur perempuan berambut ikal tersebut.


"Aih, tapi kamu suka, 'kan, Mas antar kamu ke kantor pake motor," balas Agam.


Perempuan berkulit putih itu hanya tertawa lebar menimpali ucapan Agam.


"Ya udah, masuk yuk! Mas udah gak tahan nih," ajak Agam.


"Serius, Mas? Di rumah?" tanya perempuan itu, tercengang.


"Ya di rumah lah, emang mau di mana lagi? Kandang domba?" guraunya.


"Ish, Mas. Kalau Laras pulang gimana?" rengut perempuan itu seraya memukul pelan lengan Agam.


"Haish, sudah Mas bilang kalau dia lagi keliling nyari kerja, jadi gak bakalan pulang siang-siang begini," ulang Agam.


"Tapi gak aman, Mas. Mainnya juga gak bakalan nyaman, mending pindah ke tempat kost Dhea aja," rengek perempuan itu.


"Ya elah, Dhe. Pasti aman kok, 'kan biasanya juga kita main di sini. Ayo, ah! Keburu lemes lagi nih," sahut Agam.


"Ya, 'kan kita biasanya main pagi, Mas. Pas Laras lagi kerja, jadinya tenang. Ini sudah siang loh, Mas. Dia pasti udah pulang dari tempat kerjanya. Dhea takut kalau tiba-tiba dia nongol di rumah," balas Adhea.


"Ya sudah, mangkanya buruan. Gak usah banyak ngobrol juga. Yuk ah, secelup aja, yang penting masuk," lanjut Agam.


"Astaga, mana enak secelup, Mas," gerutu Adhea seraya mengerucutkan bibirnya. "Dhea tuh maunya ma– humph!"


Belum selesai perkataan Adhea, Agam sudah melahap habis bibir sensualnya dengan sangat rakus. Sedetik kemudian, dia mengangkat tubuh sintal Adhea dan membawanya ke kamar.


Di dalam kamar, Agam membaringkan Adhea. Tanpa melepaskan ciumannya, tangan Adam mulai melepas kancing kemeja Adhea satu per satu.


Bi'rahi yang sudah sangat memuncak, memaksa pasangan itu bergerak cepat untuk saling meluncuti setiap helai yang melekat pada tubuh mereka. Tak lama berselang, tubuh polos keduanya terekspos begitu sempurna.


Agam melepaskan pagutannya. Berpindah pada sebuah tempat yang begitu harum dan selalu memikatnya. Indera perasa Agam mulai menjelajahi setiap inci bagian inti milik Adhea. Membuat perempuan itu meringis geli seraya menjambak rambut pasangannya.


"Mas, Dhea mau pipis," ucapnya di antara desis kenikmatan yang dia rasakan.


Agam tersenyum, tapi dia tidak menyudahi aktivitasnya. Lidahnya semakin menekan ke dalam, membuat gadis itu sedikit menjerit atas sebuah kenikmatan yang tidak mampu dia ungkap dengan rangkaian kata.


"Mas, iish ..."

__ADS_1


"Ya Tuhan ...!"


__ADS_2