Guru Cantikku

Guru Cantikku
Dua Garis Merah


__ADS_3

Rafael melajukan kendaraan beroda duanya begitu cepat. Tiba di rumah, dia segera memasuki ruang pribadi sang ayah. Rafael mendekati koleksi buku Adinata yang berjejer rapi dalam sebuah rak bersusun tiga. Dia lantas mengambil dua buah buku tebal di jajaran rak kedua. Sedetik kemudian, dia lantas melihat sebuah pintu kecil berukuran 10 x 10 cm, menempel di dinding.


Rafael menarik jepit rambut hitam dari rambut bagian samping. Setelah itu, dia memasukkan ujung jepit tersebut ke lubang kunci yang terdapat pada pintu itu.


Trek!


Dengan satu kali putaran, Rafael akhirnya berhasil membuka kunci tersebut.


Di balik pintu kecil itu, ternyata ada beberapa tombol angka berderet rapi membentuk persegi. Dengan cekatan, Rafael menekan tombol angka yang menjadi password brankas ayahnya.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Rafael, sehingga akhirnya dia bisa membuka brankas tersebut dengan cepat. Rafael tersenyum senang melihat setumpuk uang dengan mata uang Indonesia dan juga aaing.


Uh, ada untungnya juga dulu gue sering ngutil duit bokap. Jadi hapal di luar kepala kan, password ni benda yang selalu didewakan bokap, batin Rafael seraya menyeringai sinis.


Dengan cekatan, Rafael akhirnya mengambil beberapa gepok uang berwarna merah dari brangkas ayahnya. Sebenarnya, Rafael tertarik untuk mengambil gepokan dollar yang tertata rapi di dalam brankas. Namun, di saat dia membayangkan jasa tukar, dia pun mengurungkan niatnya karena dianggap ribet.


Bodo amatlah, kalau entar ketahuan bokap juga. Toh selama sebulan ini gue gak dikasih uang jajan sama dia, dengus Rafael di dalam hatinya.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Setelah beberapa hari, hubungan dingin pun terjadi di antara Larasati dan suaminya. Permohonan maaf yang kerap kali Agam ucapkan, selalu tidak pernah digubris oleh Larasati. Perempuan berwajah oval dan berkulit putih itu merasa kebingungan. Di satu sisi, dia murka terhadap Agam. Namun, di sisi lain Larasati ragu. Jika memang benar dia hamil, tidak mungkin dia bisa segera berpisah dari Agam.


Apa aku berpura-pura tidak mendengar kabar kehamilan ini, ya? Supaya aku bisa terlepas dari jerat siksa batin mas Agam? batin Larasati.


"Tapi, bagaimana jika aku benar-benar hamil?" keluhnya, pelan. "Tentu aku tidak bisa lepas dari cengkeraman mas Agam," imbuhnya.


Larasati menjambak pelan rambut panjangnya. Dia terlihat frustasi memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika dia benar-benar hamil.

__ADS_1


"Ya Allah ... aku tidak akan pernah menampik kehamilan ini jika ternyata benar aku hamil. Namun, aku sudah tidak sudi hidup satu atap dengan laki-laki brengsek itu! Aku ingin berpisah dengannya, Tuhan. Berpisah dari pria benalu yang hanya bisa menumpang hidup kepada istrinya," gumam Larasati.


Sungguh, Larasati tidak bisa membiarkan permasalahannya berlarut-larut. Setelah hampir sepekan tidak masuk sekolah karena kesehatannya terganggu, Larasati lantas mulai bangkit.


"Ini bukan saatnya untuk lemah. Ada ataupun tidak adanya janin di dalam rahimku, aku harus tetap mengambil keputusan. Dan keputusan terbaikku, adalah berpisah dari mas Agam," tekad Larasati.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Di sebuah tempat kost putri. Adhea tampak berjalan mondar-mandir di dalam kamar kostnya. Sejak peristiwa perselingkuhannya terkuak, Adhea tidak berani menampakkan diri di hadapan sahabatnya, Larasati. Dia tidak punya nyali untuk menemui perempuan itu.


Sepekan telah berlalu, tapi tidak pernah ada kabar dari kekasih gelapnya yang tak lain adalah suami sahabatnya sendiri. Adhea mendengus kesal tatkala sambungan teleponnya tidak pernah diangkat oleh sang kekasih.


"Ish, awas saja kamu Mas. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu lolos dari tanggung jawabmu menikahi aku. Enak saja mau ngambil keperawanan aku begitu saja," gerutu Adhea seraya melemparkan ponsel ke atas ranjang.


Huft!


Adhea menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk. Lagi-lagi dia membuang napas dengan kasar ketika mengingat terbongkarnya perselingkuhan dia dengan Agam. Namun, senyum menyeringai terbit di kedua sudut bibirnya. Tiba-tiba Adhea merasa bersyukur karena perselingkuhan ini terbongkar. Dengan begitu, peluang untuk memiliki Agam seutuhnya, semakin terlihat jelas.


"Lihat saja nanti, Mas. Aku, atau kamu yang menang." Lirih Adhea tersenyum licik.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Setelah berhasil mendapatkan uang, Rafael pun kembali ke markas Dark Eagle.


"Ini hasil aksi gue. Semoga cukup untuk mencukupi kebutuhan rumah singgah," ucap Rafael seraya menyerahkan bungkusan amplop berwarna coklat, berbentuk persegi panjang dan cukup tebal.


Bimbim lantas meraih amplop yang diletakkan Rafael di atas meja. Sejurus kemudian, dia membuka isi amplop tersebut. Kedua bola mata Bimbim membulat sempurna tatkala melihat isi dari amplop tebal itu.

__ADS_1


"Dari mana lu dapetin uang dalam jumlah banyak begini?" tanya Bimbim datar. Dia takut kalau-kalau Rafael bertindak dan akan membahayakan dirinya sendiri dan juga para anggota Dark Eagle.


"Tenang aja, deh. Apa pun yang terjadi, pokoknya gue gak bakalan libatin kalian. Gue janji!" jawab Rafael, pasti.


"Bukan seperti itu ceritanya, Fa. Kita cuma takut kalau polisi mencium aksi lu. Kita semua peduli sama lu, dan gak mau lu kenapa-napa," sahut Bimbim.


"Tenang saja, Bang. Gue bisa pastiin, kalau itu duit aman. Polisi pun gak ada hak buat nangkep gue," jawab Rafael seraya memegang bahu sahabatnya, "ngomong-ngomong, tuh duit cukup kan, buat finishing rumah singgah?" sambung Rafael, mengalihkan pembicaraan.


"Inshaallah cukup, Fa," sahut Bimbim, sambil membolak-balikkan beberapa uang gepokan tersebut.


"Ya sudah, sekarang juga, sebaiknya kita cari tukang. Supaya rumah singgah itu lekas selesai," usul Rafael.


"Ide yang bagus, tuh!" sahut Anan.


Bimbim tersenyum. "Ayo, kita temui mang Karyo lagi!" ajaknya.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Larasati masih membolak-balikkan sebuah benda pipih berbentuk panjang. Dia merasa ragu dengan perbuatan yang akan dilakukannya subuh ini.


Akan tetapi, Larasati harus tetap maju. Dia tidak ingin gegabah dalam bertindak. Benar apa yang dikatakan dokter tersebut. Semakin cepat dia melalui tes, maka akan semakin cepat juga ketahuan hasilnya seperti apa.


Larasati mengunci rapat pintu di kamar mandi. Dia lantas mengeluarkan sebuah mangkuk kecil yang sudah dibawanya dari dapur. Sesaat kemudian, Larasati berjongkok untuk menampung air seninya ke dalam wadah tersebut.


Lepas itu, Larasati kemudian mencelupkan alat tes kehamilannya ke dalam wadah berisi air seninya. Setelah kurang lebih 5-10 detik, Larasati lantas menarik benda pipih tersebut dan mengibas-ibaskannya.


Perlahan, terdapat zat yang berwarna merah naik ke alat bagian atas. Tak lama berselang, zat berwarna merah tersebut memisahkan diri dan perlahan membentuk dua garis merah di atas testpack.

__ADS_1


Larasati tertegun menatap dua garis merah yang terpampang jelas. Dia hamil! Ternyata dugaan dokter desa itu sangatlah tepat. Larasati tengah berbadan dua!


Aku harus segera memastikannya ke bidan.


__ADS_2