Guru Cantikku

Guru Cantikku
Pemilihan Ketua Baru


__ADS_3

"Bagaimana ini, Mas? Apa omongan gadis itu bisa dipercaya?" tanya Rahayu, terlihat sedikit khawatir.


"Kalaupun memang bisa dipercaya, apa kamu mau, mencari anak itu?" Adinata balik bertanya.


"Ish, Mas. Mana bisa ... aku, 'kan harus pergi ke Paris untuk acara butikku," kilah Rahayu.


"Dan aku juga harus pergi ke Jepang untuk perjalanan bisnisku," timpal Adinata.


"Terus?" tanya Rahayu.


"Ya sudah, biarkan saja. Toh nanti kalau udah bosen keluyuran, si Rafa pasti balik lagi ke rumah," putus Adinata.


Rahayu terdiam. Sebenarnya, dia merasa kesal dengan keputusan Adinata. Akan tetapi, Rahayu pun tidak bisa membangkangnya. Sama seperti sang suami, dia sendiri memiliki kesibukan yang dianggap penting, bahkan lebih penting daripada mencari anaknya.


Pasangan suami istri yang terlahir dari keluarga berada itu pun, kembali mengemasi barang-barang mereka. Kabar tentang keberadaan anaknya pun, sepertinya tidak cukup berharga bagi mereka. Baik Adinata maupun Rahayu, keduanya terlihat tidak terlalu peduli, bahkan mereka tidak memiliki waktu untuk mencari Rafael, atau sekadar memerintahkan orang untuk mencarinya.


Di balik pintu kamar, Atun hanya bisa menghela napas ketika tanpa sengaja mendengar percakapan majikannya. Dia yang hendak mengantarkan teh untuk tuan dan nyonyanya, akhirnya berbalik arah dan kembali ke dapur. Tak sanggup menahan rasa sedihnya, Atun pun menyimpan kembali nampan teh di atas meja makan. Sedetik kemudian, Atun pergi ke kamar untuk menumpahkan rasa sesak di dadanya.


Tiba di kamar, Atun menyambar foto Rafael kecil yang selalu terpajang di meja riasnya. Air mata sudah bercucuran tatkala mengusap wajah menggemaskan itu.


"Ya Allah, den ... malang benar nasib kamu, Nak. Bahkan, kedua orang tuamu lebih mementingkan bisnis mereka daripada mencari kamu. Padahal, setiap orang tua bekerja pasti untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Namun, apa yang harus mereka penuhi jika mereka sendiri terlihat masa bodoh dengan keberadaan anaknya?" tangis Atun, pilu.


🔥🔥🔥


Malam mulai merangkak. Namun, Rafael masih belum bisa memejamkan mata. Ingatannya kembali pada masa beberapa minggu lalu, saat pertama kali bertemu mendiang Yohanes.


"Ah, Yo ... kenapa harus sesingkat ini pertemuan kita?" gumam Rafael sembari memainkan pemantik api.


Rafael mengeluarkan sebatang rokok. Dia lantas menyalakan benda tersebut dan mulai mengisapnya. Saat sedang menikmati barang subhat itu, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, sehingga membuat Rafael menoleh. Tampak Bimbim berdiri di samping Rafael.

__ADS_1


"Belum tidur, Fa?" tanya Bimbim.


Rafael tersenyum kecut. "Gak bisa tidur, Bang," sahutnya.


Bimbim lantas duduk di samping Rafael. Dia pun mengambil sebatang rokok milik Rafael dan mulai menyalakannya. Dengan penuh kenikmatan, Bimbim mengisap rokok tersebut dan memainkan kepulan asap yang keluar dari mulutnya.


"Lu sendiri, kenapa belum tidur, Bang?" Rafael balik bertanya.


"Gue gak ngantuk, Fa. Mungkin lagi banyak pikiran juga," jawab Bimbim.


Rafael menautkan kedua alisnya. "Pikiran? Mikirin apa, Bang?"


"Huft!"


Bimbim membuang napas dengan kasar. Sedetik kemudian, dia menatap lekat ke arah Rafael.


"Lu tahu sendiri kan, Fa, kalau geng kita mengalami kekosongan kepemimpinan?" ucap Bimbim.


"Gue takut anak-anak kehilangan arah karena hal tersebut, Fa. Gue gak mau mereka kembali ke jalanan hanya untuk bertahan hidup," jawab Bimbim.


"Maksudnya gimana ya, Bang? Apa bisa diperjelas lagi kalimatnya? Jujur, Rafa gak ngerti," aku Rafael.


"Merujuk pada wasiat bang Yo dan juga dukungan dari anak-anak, gue mau lu jadi ketua geng Dark Eagle berikutnya. Apa lu setuju?"


Rafael terkejut mendengar ucapan Bimbim. Dia anak baru di sini, bagaimana mungkin dia menjadi ketua geng motor tersebut? Lagi pula, ucapan seseorang saat menjelang kematian, tidak mungkin lantas bisa dijadikan wasiat, pikir Rafael.


"Maaf, Bang. Apa tidak sebaiknya Abang saja yang menggantikan almarhum bang Yo? Lagi pula, usia Abang di atas gue, Abang sudah cukup lama ikut almarhum bang Yo. Gue pikir, Abang yang lebih berhak menggantikan posisi bang Yo dibandingkan gue." Rafael berkilah.


"Usia tidak bisa menjadi patokan mutlak tingkat kedewasaan seseorang, Fa. Gue yakin, saat mendiang Yohanes milih lu buat gantiin dia, itu karena dia tahu kemampuan lu dalam memimpin. Karena itu, kita sepakat untuk ngangkat elu sebagai ketua yang baru," papar Bimbim.

__ADS_1


"Hhh,...." Rafael menghela napas. "Jika menurut Abang itu yang terbaik, gue nurut aja, Bang," pungkas Rafael.


Bimbim tersenyum. Dia lantas menepuk pundak Rafael, sebelum akhirnya masuk ke markas Dark Eagle.


Keesokan harinya.


Setelah berziarah ke makam mendiang Yohanes, semua anggota geng motor Dark Eagle tengah berkumpul di ruang depan markasnya. Bimbim berdiri di tengah-tengah anggota Dark Eagle untuk berbicara.


"Hari ini, kita berkumpul di sini untuk mengadakan sebuah musyawarah yang sangat penting, yaitu pemilihan ketua baru yang akan memimpin kita semua dalam kelompok geng motor yang sudah dibentuk oleh abang kita tercinta, almarhum Yohanes. Berdasarkan wasiat beliau dan juga pertimbangan saya selaku orang yang dituakan di sini, saya memutuskan untuk mengangkat saudara Rafael Dinata sebagai ketua baru geng motor Dark Eagle," papar Bimbim. "Apa di antara kalian ada yang keberatan?" tanyanya kepada seluruh anggota Dark Eagle.


Semuanya diam. Tidak ada yang bisa memberikan usulan atau pendapat mereka, karena mereka tahu jikalau Bimbim tidak akan salah dalam mengambil keputusan. Bimbim adalah orang kedua yang mereka segani setelah Yohanes, dan mereka sangat mempercayainya.


"Tolong jangan diam saja. Jika ada yang berkeberatan dengan keputusan ini, silakan bersuara. Meskipun gue menjadi saksi atas wasiat bang Yo kepada Rafa, tapi gue gak bakalan mengambil keputusan tanpa persetujuan kalian. Jadi, jika di antara kalian ada yang merasa mampu menjadi kandidat pemimpi Dark Eagle, silakan acungkan tangan!" pinta Bimbim.


"Seperti yang sudah kita sepakati semalam, Bang. Kita semua sangat menghormati keputusan Abang. Terlebih lagi, permintaan Rafael untuk menjadi ketua baru kita, itu juga atas keinginan bang Yo. Gue pribadi yakin, bang Yo tidak akan sembarang menunjuk orang untuk menggantikan beliau. Jika wasiat bang Yo memang meminta Rafael untuk menggantikan posisinya, gue pikir itulah yang terbaik. Bang Yo tidak mungkin memilih sembarang orang untuk memimpin kami," tutur salah seorang anggota Dark Eagle.


"Iya, Bang. Itu benar, kita semua setuju kalau Rafael diangkat menjadi pemimpin kita," timpal yang lainnya.


"Benar, saya juga setuju, Bang."


"Iya, Bang. Setuju!


"Setuju, yuk!"


Kalimat setuju menggema jelas di markas Dark Eagle. Bimbim setuju mendengar kalimat persetujuan dari teman-temannya. Dia lantas memanggil Rafael untuk mendekatinya.


"Baiklah Rafael Dinata, hari ini, saya dan teman-teman sepakat untuk mengangkat kamu menjadi pemimpin kami. Semoga kamu berkenan menerima penobatan ini. Kami berharap, di bawah kepemimpinan kamu, Dark Eagle semakin maju," tutur Bimbim seraya menyematkan sebuah pin berlambang Burung elang di saku pakaian Rafael.


Rafael tersenyum tipis. Sungguh, dia tidak punya kata sambutan yang lebih baik selain ucapan terima kasihnya.

__ADS_1


"Jujur, gue gak tahu harus bilang apa saat ini. Satu yang harus kalian tahu, kalau gue bakalan berusaha semaksimal mungkin untuk mengemban dan menjalankan wasiat dari mendiang Yo."


Pada akhirnya, atas kesepakatan seluruh anggota geng motor Dark Eagle, Rafael pun dinobatkan sebagai ketua baru dari geng tersebut.


__ADS_2