HANYA INSAN BIASA

HANYA INSAN BIASA
BAB 21


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan seketika lampu menyala terang tepat di atas tubuh wanita yang berbaring tak berdaya.


Beberapa orang berpakaian hijau mulai melakukan tugasnya yang sebagai tenaga medis. Malam ini mereka bekerja untuk melakukan operasi pada wanita itu.


Di luar ruangan.


Reza duduk di kursi tunggu depan ruang operasi, Reza menutup wajahnya dengan telapak tangan, di balik itu Reza masih menangis.


Tidak tahu, saat ini ia menjadi pria yang sangat lemah, bahkan yang biasanya memiliki banyak ide dan cara karena kejeniusannya, tapi sekarang mendadak tidak berarti sama sekali.


Hal ini yang membuat Reza menangis, karena takut kehilangan wanita yang dicintai, yaitu Anjani.


"Tuan."


Terdengar suara Vito datang menyapa, Reza perlahan mengalihkan telapak tangannya yang tadi menutup wajahnya, kini tatapan mereka bertemu, Reza melihat Vito membawa paper bag.


"Tuan, mandilah. Baju Anda sangat kotor." Vito mengantungkan paper bag itu ke hadapan Reza.


Namun Reza masih diam aja belum mengambil alih paper bag dari tangan Vito. Dilihat dari mata dan wajahnya, Reza sangat malas untuk berganti pakaian, karena tidak mau meninggalkan Anjani dalam sedetik pun.


"Di saat nanti, Ibu Anjani sadar. Tuan bisa menemuinya sudah berpakaian bersih," ucap Vito yang mencoba membujuk Reza.


Dan untungnya berhasil, Reza ahirnya menerima paper bag itu yang sudah lengkap dengan isi pakaiannya serta handuk.


Reza memakai kamar mandi di rumah sakit ini untuk dirinya membersihkan badan. Vito duduk menunggu seorang diri di kursi tunggu.


Dua puluh menit, Reza keluar dari dalam kamar mandi. Wajah pria itu kini tampak fresh, meski masih memasang wajah kesedihan.


Reza terus berjalan ingin kembali ke ruang operasi, Reza kemudian melihat jam tangannya diantara langkahnya itu.


Sekarang sudah larut malam, tapi Reza tidak merasakan lelah dalam tubuhnya, saat kembali menatap ke depan sembari terus berjalan, di tempat ujung sana ada sebuah ruangan bertuliskan Musholla.


Membaca papan nama itu, Reza seketika menghentikan langkahnya. Air matanya kembali menetes.


Entah sudah berapa lama ia tidak melakukan ibadah sholat, bahkan sampai lupa kapan terakhir melakukannya.


Hah! Reza membuang nafas kasar, saat kakinya membawanya melangkah mendekati Musholla. Reza merasa bersalah.


Dan kembali menghentikan langkahnya ketika sudah tiba di pintu Musholla itu. Reza menoleh yang ternyata ada beberapa kran untuk tempat wudhu di sana.


Hah! Reza kembali membuang nafas kasar, merasa malu sama Tuhan yang sudah ia lupakan, hanya perkara dunia.


Tapi rasa tak berdaya saat ini menginginkan hatinya untuk masuk ke dalam ruangan suci itu.


Keselamatan nyawa Anjani adalah di luar kuasanya, Reza tidak bisa melakukan apa pun. Meski ia miliki uang banyak yang mampu membayar dokter berapa pun itu, tapi tetap dokter hanya bisa berusaha saja dan tidak bisa menjamin nyawa Anjani akan selamat dan saat ini Reza sadar akan hal itu.


Ahirnya dengan air mata yang kembali menetes karena sedih mengingat Anjani. Reza ahirnya mengambil air wudhu.

__ADS_1


Dan dipersetiga malam ini Reza berdoa dalam sujud panjangnya setelah selesai melaksanakan ibadah sholat.


Dalam sujud panjangnya itu? Reza tak henti menangis sembari bibirnya terus mengucap doa untuk keselamatan Anjani.


Reza memohon dengan sungguh-sungguh, karena sadar tak ada tempat lagi untuk dirinya minta pertolongan selain pada Tuhan.


Reza keluar dari tempat Musholla setelah merasa hatinya lebih tenang, Reza kembali mendatangi ruang operasi. Dimana masih ada Vito yang duduk di kursi tunggu seorang diri.


Vito berdiri mempersilahkan Reza untuk duduk.


"Aku mau kamu ke kantor polisi melaporkan laki-laki yang sudah menabrak, Anjani."


Reza berkata dengan suara yang dingin setelah ia dan Vito sama-sama duduk.


"Baik, Tuan. Saya akan datang ke kantor polisi." Vito menganggukkan kepalanya.


"Dan buat laki-laki itu masuk penjara bagaimana pun caranya!" ucap Reza yang kini lebih tegas.


Vito menganggukkan kepalanya lagi.


Dan tidak lama kemudian setelah mereka selesai bicara, lampu di ruang operasi padam, tanda operasi sudah selesai.


Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Anjani keluar, dan seketika langsung disambut pertanyaan Reza.


"Dokter, bagaimana keadaan Anjani? Anjani, selamat kan, Dokter?"


"Operasi Alhamdulillah lancar," ucap sang dokter.


"Sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang ICU, karena keadaan pasien masih lemah."


Setelah berkata demikian, Dokter pun pergi dari hadapan Reza.


Deg!


Vito terkejut saat melihat Reza yang tiba-tiba melakukan sujud syukur. Sungguh! Ini adalah hal yang langka Reza lakukan yang pernah Vito lihat.


Bahkan saat Reza berkali-kali menang tender sampai ratusan juta, pria itu tidak pernah sampai sujud syukur.


Malah kesannya biasa aja karena sudah terbiasa.


Tapi saat ini apa? Reza sampai sujud syukur begitu mendengar nyawa Anjani bisa diselamatkan.


Satu hal yang Vito tahu saat ini, mungkin Anjani lebih berarti bagi Reza dari pada harta yang pria itu miliki.


Vito kemudian tersenyum, ia bangga sama bosnya itu, yang selama ini selalu bersikap arogan, tapi hati yang keras itu bisa melunak jika sudah bertemu dengan wanita yang tepat.


*

__ADS_1


*


*


Keesokan harinya.


Di sebuah rumah mewah, seorang pelayan sedang berjalan cepat menuju pintu utama untuk membukakan pintu karena ada suara bel.


Deg!


Pelayan itu langsung terkejut begitu pintu ia buka, yang ternyata tamunya adalah seorang polisi.


"Selamat siang, mau tanya apa benar rumah ini kediaman, Tuan Louis Handoyo?"Polisi itu menatap pelayan yang saat ini tengah gugup


"I-iya be-bar."


Aden, kenapa polisi mencarimu? batin pelayan itu cemas.


"Saya, mau bertemu."


"Tunggu sebentar, Pak." Setelah berkata demikian, Pelayan itu masuk ke dalam lagi.


Tidak lama kemudian datanglah wanita baya yang wajahnya masih cantik di usianya yang sudah tak lagi muda.


"Ada apa ya, Pak?" tanya Ibu Rara, ibunya Louis.


"Saya datang kemari membawa surat penangkapan untuk saudara bernama, Louis Handoyo."


Duarr!!


Bagai ada sambaran petir di siang bolong yang tanpa hujan.


"Kenapa anak saya mau ditangkap, Pak!" tanyanya dengan histeris, belum apa-apa Ibu Rara sudah menangis.


"Karena, Tuan Louis. Menabrak orang dan kini korbannya masuk rumah sakit," jelas pak polisi itu.


Duar!!


Ibu Rara yang terkejut dua kali ahirnya pingsan karena tidak sanggup dengan kabar buruk ini yang menimpa putra satu-satunya.


"Ibu," ucap pak polisi, ia juga panik lihat Nyonya pemilik rumah pingsan.


"Ibu Rara ..." teriak Pelayan yang melihat ibu Rara pingsan di atas lantai.


Di perusahaan Handoyo Company, Louis yang masih sibuk kerja tiba-tiba mendengar hp nya berdering dan setelah ia angkat, ia pun langsung terkejut mendengar kabar ibunya pingsan dan ada polisi di rumah ibunya.


Ya, meski wajah Louis masih ada bekas lebam tapi pria itu tetap ke kantor, dan Ibu Rara tidak tahu keadaan Louis sekarang, karena Louis tidak pulang ke rumah, ia menginap di apartemennya untuk menghindari ibunya yang akan histeris jika melihat wajahnya yang habis dipukuli.

__ADS_1


Kini sudah waktunya, batin Loius dengan tatapan sendu.


"Maafkan aku, ibu," ucap Louis lirih.


__ADS_2