
Reza selalu berada di samping Anjani, menggenggam tangan Anjani terus menerus, tak bosan-bosan matanya terus melihat wajah Anjani yang masih belum sadarkan diri.
Setelah melewati pasca operasi kata dokter memang butuh waktu lama untuk sadar.
Reza tidak meninggalkan Anjani dalam sedetik pun, paling ia pergi hanya ke kamar mandi, karena Reza takut terjadi apa-apa dengan Anjani.
Saat ini mata Reza rasanya berat sekali, semalam ia tidak bisa tidur, Reza mau mencoba memejamkan matanya tiduran sambil duduk dengan tangannya ia jadikan bantalan yang ia letakkan di atas kasur pasien.
Baru aja Reza mau masuk ke alam mimpi tiba-tiba ia merasakan sebuah gerakan, Reza kaget dan kembali terjaga duduk tegap seperti semula.
"Em ... Aku dimana?" ucap Anjani dengan suara lemahnya. Anjani mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan silaunya lampu di ruangan itu.
Reza bangkit dari duduknya, menggenggam tangan Anjani. "Anjani, kamu sudah sadar?" Reza tersenyum, ia sangat bahagia ahirnya Anjani sadar juga.
Anjani menatap pria yang berdiri sembari sedikit membungkuk menatapnya. "Anjani? Siapa, Anjani?"
Deg!
Reza langsung terkejut mendengar pertanyaan Anjani barusan.
"Sayang, Anjani itu nama kamu. Kamu lupa sama nama sendiri." Reza tertawa, sedikit mencandai Anjani.
Namun respon yang Anjani berikan kembali membuat Reza terkejut.
Anjani menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingat apa pun."
Anjani berusaha mengingat semuanya, namun yang didapat malah kepalanya sakit.
"Aw!" rintih Anjani sembari memegangi kepalanya.
Reza langsung ikut memegang kepala Anjani, tatapannya sangat khawatir. "Sayang, jangan dipaksa mengingat. Tunggu di sini, aku akan memanggil dokter."
Setelah berkata seperti itu, Reza pun pergi keluar meninggalkan Anjani.
"Siapa aku? Aku juga tidak kenal siapa pria tadi," ucap Anjani pada diri sendiri sembari menatap pintu yang dilewati Reza.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Reza kembali lagi sudah bersama dokter dan satu perawat.
"Dokter, ayo cepat segera periksa Anjani. Kenapa dia tidak mengingat namanya."
Reza bicara menggebu ingin dokter segera memeriksa Anjani dan berharap hasilnya bukan seperti yang Reza inginkan.
Sungguh Reza tidak mau sampai Anjani lupa ingatan, karena itu yang terbayang saat ini.
Tapi ternyata harapan Reza tinggal harapan saja, setelah dokter mengatakan Anjani mengalami lupa ingatan.
"Dokter, tapi apa bisa disembuhkan?" Reza menatap dokter dengan intens, menuntut jawaban yang bisa membuat hatinya tenang.
"Masih bisa sembuh, karena sifatnya tidak permanen," jawab dokter yang seketika membuat Reza sedikit lega. Itu artinya masih ada harapan Anjani akan ingat padanya.
Anjani ku aku tidak sanggu kau melupakan aku dengan cara seperti ini, batin Reza sembari menatap Anjani yang masih tampak bingung di wajahnya.
"Dan Anda bisa membantunya untuk membuatnya mengingat kembali dengan hal-hal yang biasa Ibu Anjani lakukan," imbuh dokter itu, yang seketika menyadarkan lamunan Reza.
"Baik, Dok. Terimakasih." Reza tersenyum dan mengangguk kecil.
Dokter dan perawat kemudian keluar, dan sekarang tinggallah Reza dan Anjani saja.
Anjani mengangguk kecil tanda mengerti, tapi matanya memancarkan luka, dan Reza sedih melihat itu.
"Namaku?" tanya Anjani.
"Nama kamu, Anjani." Reza semakin erat menggenggam tangan Anjani. "Aku adalah calon suami kamu."
Deg!
Mata Anjani seketika membola besar. "Calon su-suami?" ulang Anjani.
"Ya" jawab Reza meyakinkan.
Reza sengaja berkata calon suami, meski sebelum Anjani kecelakaan telah memutuskan hubungan dengannya, tapi bagi Reza itu tidak berarti.
__ADS_1
Hubungan ini masih ada dan Reza berani menyebut Anjani sebagai calon istrinya bukan sekedar kekasihnya saja.
Apa lagi sekarang Nudin sedang melakukan proses perceraian dengan Anjani, tentu Reza tahu karena orang suruhannya yang memberi tahu, bahkan Reza juga mengancam Nudin lewat telepon untuk pria itu segera ceraikan Anjani.
"Maaf, aku tidak ingat apa pun." Anjani menunduk dalam, mata yang tadi terkejut kini berganti sayu dan tidak berarti lagi.
"Hei, jangan seperti itu." Reza mengangkat kepala Anjani yang menunduk itu untuk membalas tatapannya. "Aku akan membantumu, jangan bersedih." Reza menghapus air mata yang keluar dari sudut mata Anjani.
Setidaknya dengan kamu seperti ini, kamu tidak akan pergi tinggalkan aku Anjani. Aku mencintaimu, batin Reza.
Reza membantu Anjani berbaring lagi yang sejak tadi ikut duduk. "Istirahatlah," pinta Reza.
Reza terus duduk di samping ranjang dan terus menggenggam tangan Anjani, sampai wanita itu tertidur, Reza baru pergi dari ruangan itu.
"Pulang, Reza. Nenek, mau bicara."
Reza membaca pesan singkat dari neneknya sembari terus berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
*
*
*
"Hanya demi wanita miskin itu, kau sampai tidak mengurus diri. Lihatlah wajahmu kusut kurang tidur!"
Sindiran sinis Mami Evi setelah Reza sampai di rumah. Saat ini Reza berkumpul di ruang tamu bersama Mami Evi dan juga Nenek Julia.
"Diam kau, Evi!." sentak Nenek Julia, menatap tajam ke Evi. "Reza pulang aku yang meminta, jangan kau rusak mood Reza dengan kata-kata kamu itu! Jika kau tidak suka lebih baik jangan ikut obrolan kami!" ucap tegas Nenek Julia.
"Sudahlah!" Mami Evi meniggalkan ruang tamu itu.
Reza dan Nenek Julia sama-sama menghela nafas berat melihat sikap Mami Evi.
Nenek Julia kemudian menatap Reza sembari berkata serius, "Nenek, sudah mendengar cerita dari mami kamu mengenai pacar kamu yang tertabrak mobil malam itu."
__ADS_1
Deg!
Reza menoleh hingga tatapan mereka bertemu.