HANYA INSAN BIASA

HANYA INSAN BIASA
BAB 23


__ADS_3

"Bagaimana keadaan wanita itu sekarang?" Nenek Julia menepuk lengan Reza, dan hal ini membuat Reza terkejut untuk kedua kalinya.


Apa lagi saat melihat Nenek Julia sedikit tersenyum saat bicara.


"Anjani belum sadarkan diri, Nek. Dia habis dioperasi," jawab Reza dengan suaranya yang terdengar sedih.


"Jadi namanya Anjani?" tanya Nenek Julia dan Reza pun menganggukkan kepalanya.


Nenek Julia mengambil nafas panjang sebelum ahirnya kembali bicara, "Apa kamu sungguh ingin bisa bersama Anjani, Reza?"


Reza kembali menatap Nenek Julia dengan bingung.


"Kamu ingin menikah dengan, Anjani?" tanya Nenek Julia lagi saat melihat Reza hanya diam menatapnya dengan kebingungan yang tergambar jelas di wajah Reza.


"Reza memang berniat akan menikahi, Anjani. Dapat atu pun tanpa restu dari, Mami."


Jelas Reza dengan serius yang langsung membuat Nenek Julia mengerti.


"Jika begitu segeralah menikah dengannya," ucap Nenek Julia setelah beberapa saat terdiam.


Reza menautkan kedua alisnya. "Menikah?" tanyanya dengan bingung, karena tidak menyangka neneknya akan mudah menyetujui keinginannya. Apa lagi saat mengingat tempo hari Nenek Julia menolak hubungannya dengan kekasihnya. Reza jadi curiga.


Di tatap serius oleh Reza, Nenek Julia terkekeh kecil sembari membawa tubuhnya bersandar di sandaran sofa.


"Kau harus menikah sebelum Rafael menikah. Kau tahu kan? Akibatnya apa jika Rafael menikah lebih dulu."


Reza mengepalkan tangannya di bawah sana setelah mendengar alasan Nenek Julia memintanya segera menikah.


"Kamu tahu kan? Sejak dulu keluarga besar Pratama tidak pernah akur. Dan jangan sampai perusahaan yang sudah kamu pimpin jatuh ke tangan Rafael, hanya karena kamu belum menikah."


Jelas Nenek Julia lagi dengan lebih serius.

__ADS_1


"Dua Minggu lagi Rafael akan menikah, jadi kamu harus menikah sebelum dua Minggu tiba." Nenek Julia menepuk bahu Reza. "Jangan kecewakan Nenek," ucap Nenek Julia sebelum beranjak pergi dari samping Reza hingga kini tinggallah Reza yang duduk seorang diri di sana dengan pikiran-pikiran rumit dalam kepalanya.


*


*


*


"Louis ... Louis!" teriak wanita baya dengan menangis yang terus menerus memanggil nama putranya.


"Bu, berhentilah menangis. Ayah, akan berusaha untuk membebaskan Louis dari dalam penjara." Tuan Handoyo memeluk istrinya, untuk menenangkan sang istri.


"Bagaimana bisa Louis di penjara, Ayah. Ini tidak adil! Semua itu kan kecelakaan, bukan suatu hal yang Louis sengaja!" ucap Ibu Rara menggebu dan marah, ia tidak terima putranya di penjara.


"Iya, Bu. Tenang, Ayah akan berusaha untuk membebaskan Louis. Sekarang yang penting Ibu berhenti menangis. lihatlah mata Ibu bengkak." Tuan Handoyo menatap wajah istrinya.


"Ibu tidak tenang, Ayah. Ibu khawatir dengan keadaan Louis di sana!" teriaknya dengan menangis lebih kencang.


*


*


*


Reza yang sudah kembali lagi ke rumah sakit langsung menemui Anjani.


Baru saja ia masuk ke ruangan Anjani, kini matanya melihat wanita itu duduk dengan tatapan kosong.


Reza mendekat kemudian menepuk bahu Anjani, dan seketika wanita itu sadar dari lamunannya.


"Kamu sudah kembali?" tanya Anjani sembari menatap wajah Reza yang kini tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Hem," jawab Reza yang kemudian duduk di sebelah Anjani.


Keduanya saat ini saling memandang, jika Anjani menatap Reza sembari mengingat pria itu dalam ingatannya. Berbeda dengan Reza yang sedang memikirkan caranya menikahi Anjani sebelum dua Minggu.


Sementara keadaan Anjani sekarang sedang lupa ingatan, sungguh Reza sangat pusing sekali saat ini.


Adik dari Kakek Pratama adalah orang yang serakah, wajar saja jika Nenek Julia ketakutan. Dan ingin dirinya menikah supaya dalam menjalankan perusahaan kewenangannya lebih kuat.


Dan lamunannya Reza itu terganggu saat mendengar suara Anjani mengaduh kesakitan sembari memegangi kepalanya.


"Anja, Anjani kamu kenapa?" Reza panik langsung memegang bahu Anjani.


Anjani tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.


"Istirahat lah sekarang, jangan terlalu banyak pikiran," ucap Reza sembari membaringkan tubuh Anjani di ranjang pasien.


"Istirahat lah," ucap Reza lagi sembari merapihkan rambut Anjani supaya lebih nyaman tidurannya.


"Maaf, aku sama sekali tidak bisa mengingat tentang kamu," ucap Anjani sedih.


Reza tersenyum sembari menggenggam tangan Anjani. "Tak perlu diingat, yang penting kamu tahu bahwa aku adalah pria yang sangat mencintaimu."


Setelah berkata Reza mengecup kening Anjani. Dan kecupan hangat itu mampu menyentuh hati Anjani, hingga ia merasa apa yang di kata Reza benar semua.


"Tidurlah, aku di sini menemanimu."


Anjani menurut dan seketika memejamkan matanya. Reza duduk di kursi yang ada di sebelahnya, terus menatap wajah Anjani.


Setelah dirasa Anjani sudah tidur, Reza beranjak dari sana, tiba-tiba ia ingat sesuatu, dan kini duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu.


Reza melakukan sambungan telepon.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa pria itu sudah menceraikan, Anjani?" tanya Reza pada anak buahnya melalui sambungan telepon. Menyebut nama Nudin saja lidahnya jijik, mengingat Nudin yang sudah menyakiti Anjani.


__ADS_2