Hate So Love

Hate So Love
Episode 21.


__ADS_3

Langit mengemudikan mobilnya ke arah puncak, membuat Senja mulai bingung dan penasaran.


"Sebenarnya kita mau ke mana, sih? Ini kan jalan ke arah puncak?" cecar Senja.


"Nanti kau juga akan tahu," jawab Langit yang tengah fokus mengemudi.


Mobil sedan mewah berwarna hitam itu melaju cepat di jalanan yang lengang, tak ada kendaraan lain yang melintas di pukul dua pagi.


Tiba-tiba Langit menepikan mobilnya di sebuah warung tepi jalan yang kebetulan masih buka.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Senja lagi.


"Tunggu sebentar, aku mau beli minum." Langit buru-buru turun, meninggalkan senja seorang diri di dalam mobil.


Senja celingukan sembari memeluk dirinya sendiri, dia kedinginan karena hanya memakai kaos ketat lengan pendek dan rok mini, dia tentu tak membawa jaket karena tak tahu akan pergi ke daerah pegunungan yang dingin.


Hatinya terus bertanya-tanya apa yang ingin Langit tunjukkan tentang Cakra? Dia sangat penasaran dan berharap ini sesuatu yang baik.


Tak lama kemudian, Langit kembali masuk ke dalam mobil dengan membawa dua gelas teh hangat.


"Ini buat mu!" Langit menyodorkan segelas teh hangat kepada Senja.


Dengan gemetaran Senja meraih gelas berisi teh hangat itu dan menyesapnya perlahan, rasa hangat langsung terasa di mulut serta tenggorokannya.


Langit pun meminum teh hangat miliknya sembari melirik Senja dengan sinis, tanpa gadis itu sadari, dia telah mencampurkan sesuatu ke dalam teh tersebut.


***


Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, akhirnya mobil Langit tiba di depan sebuah penginapan yang sudah pemuda itu booking. Dia mematikan mesin mobilnya lalu memutar kepalanya memandang Senja yang sudah tertidur pulas di kursi penumpang.


Langit mengguncang pundak Senja, "Hei, bangun! Kita sudah sampai."


Tapi tak ada respon dari Senja, gadis mungil itu tetap tertidur dengan sangat nyenyak. Langit pun tersenyum dan bergegas keluar dari mobil, dia berjalan ke arah pintu sebelah kiri lalu membukanya. Dengan hati-hati Langit melepas safety belt nya lalu mengangkat tubuh Senja dan membawa gadis itu masuk ke dalam penginapan.


Langit membaringkan Senja di atas kasur empuk, dia melepaskan tas gadis itu lalu meletakkannya di meja nakas. Dia kemudian mendekati ranjang dan menatap wajah damai Senja.


"Dia cantik juga," ucap Langit tanpa sadar, namun kemudian dia menggeleng, "apa yang aku pikirkan? Ayo Langit, fokus pada tujuanmu datang ke sini!"


Dia lantas mengeluarkan ponselnya lalu memotret Senja yang tengah tertidur dan mengirimkannya ke nomor Cakra.


"AKU SEDANG BERSAMA ADIKMU DI SEBUAH PENGINAPAN, KAMI AKAN BERSENANG-SENANG SAMPAI PAGI."

__ADS_1


Sebuah pesan Langit sertakan difoto yang dia kirim tadi. Tak berapa lama pesan itu centang biru yang artinya sudah dibaca, namun tak ada balasan, membuat Langit kesal sendiri.


"Jadi kau enggak peduli? Baiklah, jangan salahkan aku karena melakukan lebih dari ini," sungut Langit, dia naik ke atas ranjang dan hendak membuka baju yang Senja kenakan, namun saat melihat wajah damai gadis itu, mendadak ada keraguan di dalam hatinya.


Tring.


Sebuah pesan masuk dari nomor Cakra, Langit buru-buru membacanya.


"JANGAN MACAM-MACAM! LEPASKAN ADIKKU!"


Langit pun membalas pesan itu.


"KALAU KAU MAU AKU MELEPASKAN ADIKMU, KAU HARUS MENYERAHKAN DIRI KE POLISI. AKU BERI WAKTU SETENGAH JAM DARI SEKARANG ATAU BERSIAPLAH UNTUK MELIHAT MASA DEPAN ADIKMU HANCUR DI TANGANKU."


Pesan berupa ancaman itu Langit kirim dan langsung dibaca, namun lagi-lagi tak ada balasan.


Langit menghela napas dan kembali memandangi Senja, entah mengapa dia merasa tak tega untuk melakukan rencananya. Dia pun akhirnya menarik selimut menutupi tubuh Senja kemudian berjalan menjauhi ranjang dan memilih untuk menjatuhkan dirinya di atas sofa.


Langit terus mengamati layar ponselnya, dia akan menunggu setengah jam ke depan, apakah Cakra akan menyerahkan diri? Atau tetep bersembunyi.


***


Dering ponsel yang nyaring membuat Langit tersentak dan seketika tersadar dari alam mimpi, dia meraba sesuatu yang berbunyi dan bergetar di bawah badannya, sebuah benda pipih dengan merek ternama dia dapatkan. Dia lantas membuka mata, namun buru-buru memicingkan nya lagi karena matanya masih terasa perih dan sepat.


"Halo, Pa," sapa Langit dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Kamu di mana? Kenapa semalam enggak pulang?"


"Aku tidur di rumah teman, soalnya semalam lagi ada acara," kilah Langit bohong, sebab dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Teman yang mana?"


"Ada, teman SMA aku. Oh iya, ada apa Papa telepon?" Langit mengalihkan pembicaraan.


"Tadi Pak Hendra menelepon, pihak kepolisian menemukan petunjuk baru di TKP."


"Apa itu, Pa?"


"Nanti saja Papa ceritakan kalau kamu sudah di rumah. Sekarang kamu pulang."


"Iya-iya, Pa."

__ADS_1


Langit langsung mengakhiri pembicaraan. Dia memejamkan mata untuk mengurangi rasa perih karena rasa kantuk yang masih dia rasakan. Namun Langit sontak kembali membuka matanya saat dia teringat Senja dan sadar jika saat ini mereka sedang berada di penginapan.


"Astaga, aku lupa!" Langit langsung bangkit, dan terkejut melihat sebuah selimut yang tadi malam dia gunakan untuk menutupi tubuh Senja kini menyelimuti dirinya. Dia Lantas menoleh ke arah ranjang dan mendadak bingung karena Senja tidak ada.


"Ke mana dia?" Langit menyibak selimut itu dan beranjak dari sofa.


Dia mengedarkan pandangannya, kamar berukuran besar itu sepi, tak ada siapa pun. Dia mengalihkan pandangan ke meja nakas, dan tas Senja sudah tidak ada di sana.


"Apa dia pergi?" tebak Langit.


Tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka, Senja muncul dengan membawa nampan berisikan dia gelas teh hangat dan dia mangkuk mie instan.


"Kau bangun juga akhirnya!" ujar Senja seraya melangkah masuk dan meletakkan bawaannya di atas meja.


"Kau dari mana?" tanya Langit.


"Kau enggak lihat aku bawa apa? Ya udah pastilah aku cari makanan," jawab Senja.


"Kenapa enggak bangunkan aku?"


"Kau itu tidur sudah seperti orang mati, sudah banget dibangunin. Sementara perut aku udah keroncongan, ya aku pergi aja sendiri. Lagian dekat, kok! Cuma beberapa meter dari sini."


Senja duduk di sofa dan mengambil semangkuk mie instan rasa soto ayam yang dia pesan, lalu mengangkat sesendok mie tersebut dan meniupnya. Sedangkan Langit masih terpaku menatap gadis itu.


"Kenapa kau masih berdiri di sana? Ayo makan!" pinta Senja tanpa memandang Langit, dia pun mulai makan.


Langit pun akhirnya ikut duduk di samping Senja dan mengambil mangkuk mie miliknya dan mulai makan.


"Kenapa kita bisa ada di sini?" tanya Senja.


Langit terdiam sejenak, lalu kemudian menjawab, "Semalam saat diperjalanan, kau tertidur nyenyak sekali. Aku enggak tega, jadi aku pesan penginapan biar kau bisa tidur dengan nyaman."


"Tapi kau enggak macam-macam, kan?" Senja menatap Langit dengan curiga.


Langit mendadak gugup, dia bahkan hampir tersedak mie yang sedang dia telan, "Enggak lah! Kau pikir aku selera denganmu?"


"Iya-iya, aku tahu seleramu itu yang kayak Catherine Wilson," ledek Senja, dia teringat pada Keysha yang seksi dan berparas seperti bule.


Langit tak menjawab, dia lebih memilih untuk menikmati mie instan di hadapannya.


"Jadi sebenarnya apa yang ingin kau katakan tentang kakakku?"

__ADS_1


Langit termangu dan sontak berhenti mengunyah mendengar pertanyaan Senja, dia belum menyiapkan alasan apa-apa karena semalam ketiduran sewaktu menunggu balasan dari nomor Cakra.


***


__ADS_2