
Senja sedang membaca pesan-pesan dari nomor Cakra di ponsel Langit. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Langit memutuskan untuk menjadikan pesan-pesan itu sebagai alasannya mengajak Senja pergi.
"Jadi selama ini kakak juga meneror mu?" tanya Senja yang baru tahu jika Langit juga mendapatkan teror dari nomor sang kakak.
"Iya, dia memintaku untuk memecat mu dari bar," sahut Langit.
"Kakak juga memintaku mengundurkan diri dan menjauhi mu. Dia juga tahu kejadian percobaan penculikan di depan bar waktu itu."
"Aku yakin dia berada di sekitar bar dan memantau kita," tebak Langit.
Senja menggeleng, "Enggak, aku justru berpikir jika kakak masih bersembunyi, dia memantau kita dan mencari tahu semuanya dari seseorang."
Langit mengernyit, "Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Aku tahu kakak sangat menyayangi aku, dia enggak mungkin diam aja jika melihat aku dalam bahaya. Jadi kalau memang dia ada di sekitar bar saat kejadian waktu itu, dia pasti menyelamatkan aku."
"Bisa saja dia takut untuk menampakkan diri."
"Menurutmu apa yang lebih ditakutkan seorang kakak selain melihat adiknya terancam dan dalam bahaya?"
Langit bergeming mendengar pertanyaan Senja itu. Seketika dia teringat apa yang Bastian katakan waktu itu jika Cakra memiliki mata-mata.
"Ah, sudahlah! Kau pasti enggak akan tahu, karena kau enggak punya adik!" Senja mengibaskan tangannya.
Wajah Langit berubah masam, dia tahu Senja lagi-lagi meledeknya.
"Aku yakin ada seseorang yang selama ini berada di sekitar kita dan mengirimkan informasi ke kakak."
"Tapi siapa?" cecar Langit.
"Mana aku tahu! Makanya kau selidiki lah!" sambung Senja enteng.
"Aku sudah meminta bantuan seorang detektif sekaligus IT untuk menyelidiki kasus ini dan melacak keberadaannya!"
"Benarkah? Kalau kau tahu keberadaan kakak, cepat beri tahu aku! Aku ingin sekali bertemu dia, aku rindu."
"Iya, aku pasti akan memberitahu mu setelah aku jebloskan dia ke penjara," sahut Langit sinis.
Senja langsung cemberut, "Sudah aku bilang kakakku enggak bersalah! Bukan dia yang membunuh Tante Rani!"
"Kalau bukan dia pelakunya, lalu kenapa dia melarikan diri dan bersembunyi seperti ini? Dia bahkan sampai mengabaikan adiknya sendiri," sindir Langit.
"Dia pasti punya alasan melakukan ini," bantah Senja.
"Terserah apa katamu! Mau sekuat apa pun kau membelanya, pada akhirnya dia akan tetap mendapatkan ganjaran dari apa yang dia perbuat!"
"Aku yakin kakak enggak bersalah!" Senja tetap bersikeras.
"Kalau begitu suruh dia pulang! Jangan jadi pengecut yang terus bersembunyi!" Langit beranjak dan keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Hei, kau mau ke mana?" teriak Senja.
"Pulang!" balas Langit yang berjalan menuju mobilnya.
"Tunggu aku!" Senja Langsung berjalan cepat mengejar Langit, kakinya masih terasa sakit, jadi dia tak bisa berlari.
Senja buru-buru masuk ke dalam mobil Langit dan menutup pintu.
Langit melirik Senja sembari memasang safety belt nya.
"Jadi kau jauh-jauh mengajakku ke sini hanya untuk mengatakan ini? Padahal di bar pun bisa!" gerutu Senja.
"Aku takut ada yang mendengarnya," dalih Langit.
"Alah, bilang saja kau memang ingin mengajakku jalan-jalan," ejek Senja.
"Jangan kepedean! Sudah pakai safety belt mu!"
"Iya-iya." Senja menarik sabuk pengaman di samping kepalanya lalu berusaha memasangnya, tapi dia kesulitan.
"Susah sekali! Safety belt nya rusak nih!" gerutu Senja.
"Masukkan lalu tekan yang kuat!" pinta Langit.
"Sudah, tapi tetap enggak bisa!" keluh Senja.
"Ck, kau ini!" Langit yang kesal pun melepaskan sabuk pengaman miliknya lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Senja.
Langit tersentak dan langsung menurunkan pandangan lalu merebut safety belt yang Senja pegang, "Sini aku pasangkan! Gitu aja enggak bisa!"
Dengan satu kali coba, Langit berhasil memasang sabuk pengaman di tubuh Senja, sedangkan gadis mungil itu hanya terdiam dengan wajah merona.
Suasana mendadak canggung, Langit pun kembali ke posisinya dan memasang safety belt nya lagi. Dia berusaha bersikap biasa saja meskipun jantungnya masih berdetak tak karuan. Langit menyalakan mesin mobilnya lalu melesat pergi meninggalkan penginapan itu.
***
Langit tiba di rumah setelah mengantar Senja pulang, dia langsung menemui David sebab sudah sangat penasaran dengan apa yang akan sang ayah katakan mengenai petunjuk baru tentang kematian sang mama.
"Apa yang Pak Hendra katakan, Pa?" cecar Langit begitu berhadapan dengan David.
"Polisi menemukan kunci mobil di semak-semak yang berada di tepi jurang belakang villa, dan setelah dicocokkan, ternyata itu kunci mobil Cakra," terang David.
Langit tercengang, "Bagaimana bisa kunci mobilnya ada di belakang villa? Sementara mobilnya di halaman depan?"
"Entahlah, tapi menurut analisa polisi, kemungkinan Cakra sempat ke belakang villa dan enggak sadar kalau kuncinya terjatuh. Sepertinya ini alasan kenapa dia meninggalkan mobilnya di sana, dia kehilangan kuncinya."
"Masuk akal juga, sih! Sekarang terjawab kenapa dia kabur tanpa membawa mobilnya."
"Iya, mudah-mudahan ini menjadi titik terang kasus pembunuhan mama kamu. Semoga si keparat itu secepatnya tertangkap."
__ADS_1
"Mudah-mudahan, Pa. Aku juga sudah menyewa seorang detektif sekaligus IT untuk menyelidiki keberadaan Cakra," sambung Langit, dia tak mau mengatakan jika selama ini dia mendapatkan teror dari nomor Cakra sebab tak ingin sang ayah cemas.
"Bagus, kabarin Papa jika ada informasi terbaru tentang dia!"
Langit mengangguk, "Iya, Pa. Kalau begitu aku mau mandi dulu."
"Baiklah, Papa juga mau ke ruang kerja, ada berkas yang harus Papa pelajari."
Langit mengangguk dan bergegas pergi ke kamarnya, namun beberapa saat kemudian ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku dan termangu melihat ID si penelepon.
"Mas Jacky?"
Langit langsung menjawab panggilan masuk dari detektif yang dia sewa itu.
"Halo, Mas."
"Halo, Mas Langit. Lagi sibuk enggak?"
"Enggak tuh, Mas. Ada apa?" tanya Langit penasaran.
"Bisa kita jumpa, ada sesuatu yang mau aku katakan."
"Bisa, Mas. Mau ketemuan di rumah atau di mana, nih?"
"Di kafe aja, Mas. Nanti aku share lokasinya."
"Baiklah, satu jam lagi bisa enggak? Aku mau mandi dulu."
"Oke, Mas. Sampai jumpa nanti."
Langit dan Jecky mengakhiri pembicaraan mereka. Langit masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan ponsel serta kunci mobilnya di atas meja, lalu buru-buru mandi. Dia begitu bersemangat, berharap akan mendapatkan titik terang tentang kasus kematian sang mama dan keberadaan Cakra yang misterius.
Sementara itu di dalam kamarnya, Senja tengah berbaring sambil membayangkan kejadian di dalam mobil Langit tadi. Entah mengapa belakangan ini jantungnya berdetak kencang saat berada sangat dekat dengan pemuda itu?
Tring.
Sebuah pesan dari Cakra masuk, Senja meraih ponselnya dan buru-buru membuka pesan tersebut. Matanya terbelalak saat melihat foto dirinya tengah tidur, dari pakaian yang dia kenakan, dia ingat di mana dan kapan itu.
Tring.
Satu pesan lagi kembali masuk, sebuah foto tangkapan layar percakapan Langit dan Cakra semalam. Senja terperangah membacanya, dia tak menyangka Langit akan melakukan hal itu.
Tring.
Pesan dari nomor Cakra lagi-lagi masuk, dengan emosi yang mulai naik, Senja bergegas membuka dan membacanya.
"APA YANG DIA LAKUKAN PADAMU? DIA BERNIAT BALAS DENDAM DENGAN KAKAK DENGAN CARA MERUSAK MASA DEPAN DAN HIDUPMU, JADI JAUHI DIA!"
Senja meremas ponselnya dengan kuat, "Berengsek kau, Langit!"
__ADS_1
***