
Di sebuah kafe yang cukup sepi, Langit sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berkaca mata yang tak lain adalah Jacky, detektif sekaligus IT yang dia sewa.
"Apa yang ingin Mas katakan?" tanya Langit tak sabar.
"Aku sudah berhasil melacak keberadaan nomor ponsel yang Mas Langit berikan waktu itu," terang Jacky.
"Benarkah? Kalau begitu di mana keberadaannya?"
"Di jalan permata, kompleks perumahan Puri Indah," jawab Jacky.
Langit tercengang, dia terkejut setengah mati, "Itu kan alamat rumahku!"
Jacky mengangguk, "Iya, tapi tadi sekitar pukul empat pagi dia sempat berpindah ke daerah puncak. Dan kemudian kembali ke Puri Indah lagi."
Langit kembali tercengang, "Apa? Berarti dia mengikuti aku? Soalnya aku juga baru dari puncak."
"Benarkah? Tapi dari mana dia tahu kalau Mas Langit ke puncak?"
"Aku yakin dia selalu berada di sekitar ku dan memantau aku."
"Sebaiknya Mas Langit berhati-hati! Bisa saja dia melakukan hal yang buruk."
Langit lantas mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Jacky lalu berbicara dengan suara berbisik, "Kalau begitu sekarang coba lacak keberadaannya! Apakah dia juga ada di sini?"
Jacky mengangguk, "Sebentar, Mas."
Jacky mengeluarkan laptop dari dalam tasnya dan mulai melacak nomor Cakra.
"Bagaimana? Apa dia ada di sini?" cecar Langit penasaran.
Jacky menggeleng, "Enggak, Mas. Dia terlacak masih di sekitar rumah Mas Langit."
Langit mendadak panik dan tegang, "Dia masih di sekitar rumahku? Kalau begitu aku harus secepatnya pulang dan menangkap keparat itu."
"Apa enggak sebaiknya Mas Langit lapor polisi dulu, jadi dia enggak bisa kabur lagi."
"Iya, aku akan hubungi polisi saat dijalan nanti. Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih, ya! Nanti aku hubungi lagi!" Langit buru-buru pergi dari kafe tersebut.
Jacky mengembuskan napas melihat kepergian Langit, dia lantas menutup laptopnya dan ikut beranjak pergi.
***
Setelah mendapatkan pesan dari nomor Cakra tadi, Senja yang baik darah langsung mendatangi kediaman Aryawiranata untuk melabrak Langit. Dia harus meminta penjelasan pada pemuda itu atas apa yang terjadi.
Langit menekan bel, pintu besar berwarna coklat itu pun dibuka oleh Karina.
__ADS_1
"Kau? Mau apa kau ke sini?" cecar Karina sinis, dia sedikit terkejut melihat kedatangan Senja.
"Aku mencari Langit? Mana dia?" tanya Senja ketus.
"Dia enggak ada di rumah," jawab Karina.
"Kapan dia pulang?" tanya Senja lagi.
"He, gadis enggak punya sopan santun! Aku ini bukan ibunya Langit, mana aku tahu kapan dia akan pulang," sahut Karina sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ada apa ini?" tanya Daniel, dia keluar karena mendengar suara Karina.
Senja terkesiap melihat Daniel yang sangat familier, dia seperti pernah melihat pria itu tapi lupa di mana.
"Adik si pembunuh datang mencari Langit!" ujar Karina.
Daniel mengamati Senja, ini pertama kalinya dia bertemu langsung dengan putri sahabatnya itu. Karena selama ini dia hanya sering bertemu dengan Cakra saja.
"Kamu ini Senja, kan? Mari masuk!" Daniel memastikan, dia pernah beberapa kali melihat foto Senja.
"Mas ini apa-apaan, sih? Kenapa adik si pembunuh ini di suruh masuk?" protes Karina tak suka.
"Karin, belum tentu Cakra yang melakukannya. Lagian kalau pun benar dia pelakunya, adiknya kan enggak bersalah. Jadi kita harus tetap memperlakukan nya dengan baik," kata Daniel.
"Sudah pasti kakaknya yang melakukan itu! Buktinya sekarang dia melarikan diri dan bersembunyi! Kalau kakaknya pembunuh, bisa jadi adiknya juga sama," kecam Karina.
"Oh, berani sekali kau kurang ajar padaku!" Karina hendak memukul Senja, tapi Daniel menahannya.
"Sudah-sudah! Karin, hentikan!" bentak Daniel.
"Dasar ******!" Karina pun merajuk dan bergegas pergi dari hadapan suaminya dan Senja.
Daniel menatap Senja, "Maaf, ya, Senja. Ayo masuk!"
"Enggak usah, Om! Aku cuma mau bertemu Langit."
"Tapi Langit sedang keluar, sebaiknya kamu tunggu di dalam, sebentar lagi pasti dia pulang," bujuk Daniel.
"Enggak, aku pulang saja! Permisi!" Senja berbalik dan bergegas pergi, namun baru beberapa langkah, mobil Langit pun memasuki pekarangan rumah mewah itu.
Langkah Senja terhenti, dia terpaku menatap mobil mewah itu dengan tajam.
Langit terkejut melihat kehadiran Senja di rumahnya, dia buru-buru keluar dari mobil dan membawa langkahnya mendekati gadis mungil itu. Sedangkan Daniel hanya memperhatikan mereka dari depan pintu.
"Apa yang kau lak ...."
__ADS_1
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Langit sebelum dia sempat selesai bicara. Daniel yang melihat kejadian itu terkejut setengah mati.
"Kenapa kau menampar ku?" sungut Langit seraya memegangi pipinya yang perih, dia bingung bercampur kesal.
"Karena cowok berengsek dan kurang ajar sepertimu pantas mendapatkannya, bahkan kalau bisa aku ingin sekali mencekik mu sampai mati," sahut Senja marah.
Langit mengerutkan keningnya, "Kau ini kenapa?"
"Aku enggak menyangka kau tega memanfaatkan aku dan berniat merusak hidupku demi balas dendam pada kakakku! Kau biadab! Enggak punya hati!"
Langit terhenyak, perasaannya mendadak tak enak. Dia curiga Cakra yang mengatakan semua itu pada Senja.
"Apa maksudmu?" Langit pura-pura enggak mengerti.
"Jangan pura-pura bodoh! Kau pasti tahu maksudku! Kau sengaja membawaku ke puncak dan menyewa penginapan karena berniat ingin merusak aku, kan? Aku curiga jangan-jangan kau mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku, agar aku tertidur dan kau memperkosaku!" tuduh Senja, matanya memanas dan dengan cepat cairan bening menggenangi pelupuk matanya.
Daniel yang mendengar itu kembali terkejut, namun dia hanya menyimak tanpa berniat mencampuri.
Langit menggeleng cepat, "Aku enggak melakukan apa pun padamu! Aku berani bersumpah!"
"Jangan bohong!" bentak Senja, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya, "apa salahku sampai kau tega melakukan semua ini?"
"Aku bersumpah! Aku enggak melakukan apa pun padamu!"
"Aku enggak percaya! Aku tahu kau membenciku dan kakakku, kau ingin balas dendam pada kami. Puas kau sekarang?" Senja bersungut-sungut lalu menangis terisak-isak.
Langit merasa bersalah, dan tak mau Senja salah paham, "Aku mohon percayalah! Aku enggak melakukan apa-apa!"
"Aku benci kau!" Senja mengusap air matanya dengan kasar dan berlalu dari hadapan Langit.
"Senja!" panggil Langit, tapi Senja tak peduli dan terus melangkah meninggalkan rumah megah milik keluarga Aryawiranata tersebut.
Daniel pun memutuskan untuk mendekati Langit dan menyentuh pundak pemuda itu, "Apa benar yang dia katakan?"
Langit menoleh dan kembali menggeleng, "Enggak, Om. Aku memang mengajaknya ke puncak, tapi aku bersumpah demi mendiang ibuku, aku enggak melakukan apa-apa padanya."
"Kalau begitu kejar dia, minta maaf padanya! Jangan biarkan dia salah paham!" cetus Daniel
"Tapi saat ini ada hal lebih penting yang harus aku lakukan, Om."
Daniel menautkan kedua alisnya, "Apa itu?"
"Cakra ada di sekitar sini, dan aku harus menemukannya," ujar Langit, kemudian berlari memasuki rumah megah milik keluarganya.
__ADS_1
Daniel yang bingung bercampur panik pun segera menyusul Langit masuk.
***