![Illest [Minyoon GS]](https://asset.asean.biz.id/illest--minyoon-gs-.webp)
Pantulan cahaya dari rembulan dan bintang masuk ke dalam jendela yang terbuat dari sel. Dinding besi dan lantai keramik menjadi pemicu suhu ruangan yang lebih rendah. Ranjang besi berwarna putih dan tiang infus yang setia menemani. Pintu besi dengan jendela kecil yang dapat dibuka. Seperti sebuah ruang tahanan. Nyatanya, itu adalah deskripsi kamar tidur Park Jimin.
Sudah pukul sembilan malam, tetapi sang pemilik hanya menutup kepalanya dengan tangan. Bergetar ketakutan layaknya dikejar pembunuh. Pun keringatnya yang menetes tiada henti, seolah dikejar kekerapan. Jimin selalu begitu setiap malam. Maka dari itu, ia dijaga dengan dua perawat lelaki bertubuh besar. Karena bukan sekali dua kali ia merasa tersudut dan menggila.
Hanya saja, kali ini ia mendapatkan kunjungan dari seseorang yang telah diselamatkannya. Reaksi berlebihan yang dikeluarkannya saat mendengar pintu besi kamar tergeser. Ia tidak mampu menatap siapa yang datang. Namun, frekuensi gelisah yang dirasakannya kian memudar. Ia sedikit merubah posisi dari terduduk menekuk lutut ke gerakan merebah diri.
Seorang perawat wanita yang diketahui bernama Suster Lee, masuk melihat keadaan Jimin. Saat aman, ia memberikan aba-aba kepada seseorang di luar, Min Yoongi. Suster Lee keluar saat Yoongi mengatakan ingin berdua saja dengan Jimin, karena ada hal yang akan didiskusikan.
Yoongi mendekat ke arah ranjang Jimin. Kamar pria tersebut ternyata sangat sempit, hanya tiga kali tiga meter saja. Ia mendekat ke arah Jimin yang sedang gemetar ketakutan. "Aku di sini, Jimin. Aku mendengarkanmu," ucapnya memulai.
Jimin menengadah, menatap Yoongi yang melihatnya dengan pandangan ragu. Ia bangkit dan kembali menekuk kakinya. "Apa kau diperintahkan untuk membunuhku, gadis mungil seperti kau ini?" sahut Jimin dengan nada panik. Yoongi segera menenangkannya.
__ADS_1
"Aku datang ke sini untuk mengucapkan terima kasih. Ingat kejadian tadi siang, 'kan? Kau memberiku napas buatan." Pipi Yoongi bersemu merah saat mengklarifikasi maksud kedatangannya ke kamar Jimin. Ia perlahan memegang tangan Jimin yang terkepal.
Jimin melihatnya, ia berkata, "Lalu, apakah kau yang akan membantuku di masa sekarang dan masa depan, untuk melupakan masa lalu? Lucifer mengatakannya akan ada seorang gadis yang menyelamatkanku."
Yoongi mengernyitkan dahi. Setahunya, Lucifer adalah Raja Iblis atau pimpinan di Neraka. Dalam mitologi yang berbeda seperti dari Yunani, Inggris, dan China, penggambaran sosok Lucifer sangat bertolak belakang. Namun, semuanya menjurus ke hal negatif. Apakah ini semua adalah ilusi yang biasa dilihat oleh Jimin?
"Terserah kau mau menganggapku apa. Dokter bilang, gejalamu kian menurun saat ada di dekatku. Lalu aku pun pernah tertolong olehmu. Kalau begitu, maukah kita memperkenalkan diri masing-masing. Jika cocok, kita bisa berteman," ujar Yoongi kembali mengingatkan tujuannya ke sini.
Yoongi menyodorkan tangannya, mengajak untuk berjabat tangan. "Aku Min Yoongi, tinggal dari tujuh tahun yang lalu di sini. Kita pernah bertemu sekali, dulu. Mungkin kau lupa karena gejalamu itu," balasnya tanpa ragu.
"Noona atau aku yang dipanggil Oppa?" Tubuh Jimin mulai rileks kembali, bahkan matanya sayu. "Noona, aku setahun lebih tua darimu. Bahkan aku dirawat tiga tahun sebelum ke sini. Total sepuluh tahun," jelas Yoongi.
__ADS_1
Yoongi mendekat dan duduk di depan Jimin. Ia melihat penampilan yang luar biasa kumal. Dua perawat lelaki di depan pernah bilang kalau Jimin sukar diajak mandi. Serajinnya hanya dua hari sekali, semalasnya bisa seminggu. Pun mandi tidak tenang, ia harus diikat terlebih dahulu baru dimandikan.
Gadis itu mendekat lagi, menyeka bulir keringat yang ada di wajah Jimin. "Kau cukup tampan, hanya saja kusam dan kumal karena jarang mandi. Yakinkan dirimu untuk sembuh, lalu kita akan melakukan yang biasa dilakukan orang dewasa, yaitu mandi bersama," kelakarnya dengan makna tersirat.
"Bukankah mandi bersama biasa dilakukan anak kecil? Apa untungnya itu," gumam Jimin yang didengar Yoongi. Gadis itu membalas, "Itu berbeda, orang dewasa melakukannya untuk hal erotis. Mungkin kau tumbuh di tempat yang tidak ada hal tersebut. Pria dewasa sepertimu mungkin karena alasan tersebut."
Jimin masih menunjukkan raut wajah belum paham. Yoongi yang gemas langsung mengacak rambutnya. "Usaha dulu untuk sembuh, " katanya.
Apakah Yoongi tidak sadar jika mengatakan sesuatu yang membuat penasaran kepada seseorang pemilik riwayat penyakit jiwa, akan berubah menjadi obsesi?
To Be Continued ...
__ADS_1