
Nama aslinya adalah Barrah (yang bermakna cincin di hidung dan kaitannya dengan wanita merupakan sebuah kiasan tentang seorang wanita cantik yang telah bersuami). Rasulullah Saw setelah menikah dengannya, karena tidak senang dengan nama ini, menggantikan nama itu dengan nama Juwairiyah (mushaggar Jariyah). Demikian juga sebagaimana para istri Nabi Muhammad Saw lainnya, Juwairiyah memiliki gelar sebagai Ummul Mukminin. Ayahnya adalah Harits bin Abi Dhirar seorang kepala suku Bani Mustaliq. Karena Bani Mustaliq merupakan bagian dari Khuza'ah maka nasab Mustaliq dan Khuza'ah juga disebutkan untuknya
__ADS_1
Setelah suami pertamanya tewas pada Ghazwah Bani Mustaliq, Juwairiyah tertawan pasukan Islam dan menjadi kanizah salah seorang Muslim. Lalu, ia meminta tolong kepada Rasulullah Saw untuk kebebasannya dan kemudian Rasulullah Saw pun membeli dan membebaskannya. Setelah itu, Rasulullah Saw menikah dengan Juwairiyah. Sebagai mahar pernikahan ini, Rasulullah Saw membebaskan empat puluh orang budak dan kaum Muslimin pun mengikut Rasulullah Saw membebaskan seluruh tawanan perang ini. Menurut pengakuan Juwairiyah bahwa ia menikah dengan Rasulullah Saw ketika berusia dua puluh tahun.
__ADS_1
Nama Juwairiyah tersebut dalam silsilah sanad sebagian riwayat. Di antara perawi itu adalah Abdullah bin Abbas dan Mujahid bin Jabar Makki.
__ADS_1
Juwairiyah pada tahun 56 H, pada masa khilafah Muawiyah, tutup usia di Madinah. Marwan bin Hakam yang menjadi Gubernur Madina menyalatkan jenazahnya. Kuburan Juwairiyah terletak di Jannatuk Baqi
__ADS_1