
Fatimah Az Zahra, putri bungsu Nabi Muhammad Saw dengan Siti Khadijah, tidak asing bagi kaum muslim di seluruh dunia. Allah Swt telah menjanjikan surga kepada Fatimah yang juga menjadi role model perempuan Islam tersebut
Rasulullah saw dikaruniai seorang putri cantik bernama Fatimah Az-Zahra buah pernikahannya dengan Siti Khadijah. Nama Fatimah Az-Zahra berarti gadis yang lembut hatinya dan selalu berseri-seri.
Banyak pendapat yang menyebutkan tentang kapan perempuan mulia ini dilahirkan. Salah satunya yang paling populer di kalangan Ahlussunah wal jamaah adalah tanggal 20 Jumadil Akhir sebagai tanggal lahir Fatimah Az-Zahra.
Perempuan mulia ini memiliki keyakinan, keteguhan dan ketakwaan yang luar biasa. Sebagai seorang perempuan yang tumbuh mengesankan, banyak laki-laki yang berniat untuk meminang putri Rasulullah tersebut.
Hingga akhirnya Fatimah Az-Zahra memilih sosok Ali bin Abi Thalib sebagai suaminya yang kelak menjadi khalifah melanjutkan risalah kepemimpinan Nabi Muhammad saw.
Pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib menurut Nabi saw bukan pernikahan yang sembarangan.
Nabi Muhammad saw ketika menolak lamaran banyak laki-laki selain Ali beliau berkata, "Pernikahan Fatimah adalah urusan langit dan membutuhkan keputusan dan hukum Tuhan."
Di hari pernikahannya, Fatimah Az-Zahra mendapat hadiah berupa kalung dari Ali bin Abi Thalib. Di kemudian hari, terdapat kisah menarik antara Fatimah Az-Zahra dengan kalung istimewa tersebut.
__ADS_1
Suatu ketika, ada seorang musafir yang menemui Rasulullah saw di sebuah masjid. Musafir itu kemudian meminta belas kasih Rasulullah karena bekal makanan dan seluruh hartanya telah habis.
Bahkan si musafir juga menjelaskan bahwa pakaian yang dimilikinya hanya yang menempel di badannya ketika itu.
Rasulullah saw kemudian meminta maaf kepada si musafir karena saat itu beliau tidak memiliki makanan atau benda lain yang bisa diberikan kepada si musafir. Lantas Rasulullah menyuruh si musafir untuk pergi ke rumah Rasulullah agar meminta bantuan kepada putrinya, Fatimah Az-Zahra.
Sesampainya di rumah Rasulullah, si musafir langsung menemui Fatimah dan menjelaskan maksud kedatangannya.
Fatimah Az-Zahra yang memiliki kelembutan hati lantas berpikir bagaimana cara agar bisa membantu musafir tersebut meski saat itu Fatimah juga tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada musafir
Kalung bersejarah itu pun diberikan kepada si musafir agar dijual dan hasilnya bisa digunakan untuk membeli keperluan perjalanannya.
Setelah menerima kalung dari Fatimah, si musafir kemudian kembali kepada Rasulullah dan menceritakan kejadian yang baru dialaminya.
Mendengar cerita si musafir, sahabat Nabi bernama Ammar bin Yasir lantas membeli kalung Fatimah itu. Sahabat Ammar membelinya dengan harga fantastis yakni 20 dinar ditambah sebuah pakaian dan seekor unta.
__ADS_1
Setelah kalung itu di tangan Ammar, ia pun segera mengutus budaknya untuk memberikan kalung tersebut kepada pemiliknya, Fatimah Az-Zahra.
Ammar berkata kepada budaknya, "Pergilah engkau menghadap Rasulullah dan katakan aku menghadiahkan kalung ini dan juga engkau kepadanya. Jadi, mulai hari ini kamu bukan budakku lagi tetapi budak Rasulullah."
Budak Ammar itu pun memenuhi amanah yang diberikan majikannya dan menyerahkan kalung bersejarah tersebut.
Mengetahui itu, Fatimah kemudian menerima kalungnya kembali sekaligus memerdekakan budak tersebut hingga membuat si budak tertawa.
Budak itu berkata, "Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung tersebut. Kalung tersebut telah mengenyangkan orang yang lapar, menutup tubuh orang yang telanjang, memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya telah membebaskan seorang budak."
Begitulah kisah ketulusan hati Fatimah Az-Zahra dan barokahnya kalung pernikahannya. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.
Menjalani pernikahan dan hidup seadanya
Pasangan Ali dan Fatimah hidup seadanya, dengan pekerjaan sebagai pembawa air serta pembuat roti. Suatu hari, Ali mengeluh punggungnya sakit sedangkan Fatimah merasakan hal yang sama pada tangannya. Keduanya kemudian pergi ke rumah Nabi Muhammad Saw untuk meminta seorang budak. Rasulullah Saw menolak permintaan tersebut dan mendatangi rumah keduanya. Saat itu Ali membukakan pintu sedangkan Fatimah masih di tempat tidur. Nabi Muhammad Saw kemudian duduk di antara mereka dan menyarankan membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali menjelang tidur. Nabi Muhammad SAW mengatakan, kebutuhan mereka akan terpenuhi atas izin Allah Swt. Ali kemudian mengatakan, kekuatan mereka meningkat hingga tak perlu lagi budak atas izin Allah Swt. f. Di usia 28 tahun Menjelang usia 28 tahun berbagai pengalaman hidup memperkuat karakter Fatimah sebagai pribadi yang dewasa, sabar, dan bijak. Dia sempat bertengkar dengan Ali, karena suaminya ditawari menikah lagi dengan Juwayriyah binti Abu Jahal. Ali mengatakan tidak menerima tawaran tersebut, sehingga pasangan ini rukun dan menyelesaikan masalahnya. Di usia ini, Fatimah juga harus menghadapi kehilangan Rasulullah Saw. Fatimah tahu karena Rasulullah tak lagi mencium keningnya seperti biasa karena kondisi yang makin menurun. Saat itu, Fatimah harus mendekatkan telinganya pada Nabi Muhammad Saw untuk mendengar yang dikatakan. Nabi dikisahkan mengatakan waktu meninggal dan Fatimah akan menyusul dalam waktu tidak lama. Fatimah juga dijanjikan surga bersama Khadijah, Asiyah, dan Maryam. Fatimah kemudian menyaksikan ayahnya berpulang dan menyusul setengah tahun setelahnya
__ADS_1