Istri Istri Rasulullah

Istri Istri Rasulullah
Sayyid Ibrahim bin Muhammad


__ADS_3

Ibrahim bin Muhammad. Beliau merupakan putra Rasulullah yang lahir dari hasil pernikahan Mariyah binti Syam’un. Mariyah binti Syam’un atau Mariyah al Qibthiyah adalah seorang budak Kristen yang dihadiahkan oleh penguasa Mesir kepada Rasulullah saw. Mariyah memeluk Islam kemudian menikah dengan Rasulullah saw.


Namun pernikahannya dengan Rasulullah menimbulkan kecemburuan pada istrinya yang lain, ditambah lagi kehamilannya setahun setelah ia dibawa ke Madinah oleh Rasulullah.


Bahkan Aisyah pun sangat mencemburuinya,

__ADS_1


“Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariah karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu ia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, ia sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi ia tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi kami.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”


Kecemburuan para istri juga semakin menjadi ketika terbongkarnya pertemuan Mariyah dengan Rasulullah di rumah Hafshah ketika Hafshah tidak ada di rumah. Kejadian ini membuat Rasul mengharamkan diri Mariyah atas dirinya.


 

__ADS_1


bidan Ibrahim adalah Salma, pembantu Nabi saw. Setelah kelahiran Ibrahim, Salma memberi tahu suaminya, Abu Rafi ' dan dia pergi menemui Nabi Muhammad saw kemudian mengabarkan tentang kelahiran bayi itu. Dengan kabar yang didengarnya itu, Nabi Muhammad Saw menjadi bahagia dan memberinya seorang budak. Setelah kelahiran Ibrahim, para perempuan Anshar saling berebut untuk menjadi ibu susu bagi Ibrahim. Nabi Muhammad saw mempercayakan putranya kepada Ummu Barda, putri Mundhir bin Zaid sebagai ibu susu bagi Ibrahim. 


Ibrahim meninggal pada tanggal 10 atau akhir Rabiul Awwal ketika berusia 16 bulan. Menurut laporan lain, Ibrahim meninggal pada usia 18 bulan. Sedangkan menurut laporan yang lainnya lagi, Ibrahim meninggal pada usia satu tahun, sepuluh bulan dan delapan hari. Ibrahim di makamkan di  Pemakaman Baqi disamping kuburan Umar bin Mazh'un (meninggal pada tahun 2 H/623)  Nabi saw meletakkan batu dan menuangkan air ke atas kuburannya. 


Nabi Muhammad saw telah menempatkan putranya Ibrahim dan cucunya, Imam Husain as di pangkuannya. Kemudian, Malaikat Jibril turun dan mengabarkan bahwa "Tuhan menyampaikan salam kepadamu dan berkata: "Aku tidak akan mengumpulkan keduanya, jadikan salah satunya sebagai korban bagi yang lainnya)". Kemudian Nabi memilih Imam Husain as dan tiga hari setelah itu, Ibrahim pun meninggal dunia. 

__ADS_1


Nabi Muhammad saw sangat sedih dengan kematian Ibrahim. Dalam menjawab kritikan orang-orang, Nabi saw mengatakan: "Aku juga seorang manusia, yang menangis dan bersedih hati, tetapi aku tidak akan mengatakan apa-apa yang akan menyebabkan Tuhan menjadi murka. Hai Ibrahim! Demi Allah, aku bersumpah bahwa kami sedih karena kematianmu.” Juga dinukilkan bahwa Nabi Muhammad saw berdiri menghadap gunung dan berkata:"Wahai gunung, Apabila yang terjadi padaku juga terjadi padamu, maka kamu pasti akan hancur namun kami akan berkata sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah swt.


Hari ketika Ibrahim meninggal, terjadi gerhana matahari. Sebagian orang berkata: "Gerhana matahari ini terjadi karena kematian Ibrahim". Ketika Nabi Muhammad Saw mendengar perkataan ini, beliau berkata: Matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Ilahi dan tidak terjadi karena kelahiran atau kematian seseorang. 


__ADS_2