
Istriku Tuli
Part 10
#devandro
#sekar
Motor yang dikendari Devandro berbelok kesebuah cafe cukup mewah, sesekali memanjakan Sekar dengan menikmati hidup seperti ini tidak ada salahnya.
Sekar tidak banyak bicara, dia hanya mengikuti apa maunya Devandro. Sebenarnya pertemuan dengan Aleksa tadi membuat hatinya sakit ditambah lagi mengingat bahwa Aleksa ke rumah sakit itu untuk memeriksa kandungannya. Ada anak Devandro di rahimnya.
Sekar hanya tidak ingin kelihatan lemah, sebenarnya hati itu sudah lama hancur, namun berusaha disatukannya kembali walaupun tidak bisa rapi seperti dulu.
Namun, dengan perhatian Devandro selama ini kepada dia, sudah cukup membuat dia melupakan apa itu sakit. Kini Sakit itu terasa kembali. Mungkin lebih sakit dari yang pertama.
"Sekar, mau pesan apa?" tanya Devandro.
setelah mereka menempati satu posisi kursi yang ada di sudut ruangan denga nuansa shabby.
"Terserah kakak saja!" jawab Sekar dengan tidak semangat.
"Kamu kenapa? Sakit?" Kembali Devandro bertanya.
"Iya, Sakit hati," keluh Sekar.
Mendengar jawaban Sekar, wajah Devandro langsung berubah. Air wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Setelah beef steak pesanan mereka datang, Sekar masih dibingungkan dengan garpu dan pisau.
"Awas, hot plate-nya panas!" ucap Devandro sesaat setelah pramusaji menghidangkan pesanannya.
"Tangan kanan pegang pisau, tangan kiri tetap pegang garpu," terang Devandro sambil mencontohkan cara memegangnya.
Devandro sudah mengetahui kebiasaan Sekar, tidak makan kalau belum makan nasi. Sepiring nasi juga terhidang untuk Sekar. Devandro cukup dengan kentang goreng original.
Awalnya Sekar kesusahan mengunakan pisau untuk memotong daging steak tersebut, sehingga Devandro memutuskan untuk pindak duduk di sebelah Sekar.
Tangan kanan Devandro memegang tanga kanan Sekar, begitu juga dengan tangan kirinya memegang tangan kiri Sekar.
Garpu ditusukkan ke bagian daging yang akan dipotong dan pisau mulai digesekan Devandro di atas permukaan daging hingga terputus. Garpu yang telah tertusuk daging, diarahkan Devandro kemulut istrinya. Pemandangan yang cukup membuat iri bagi yang melihatnya.
"Kakak suapin, ya?" tanya Devandro.
"Kakak, mau nebus rasa bersalah, ya? Nggak usah, Kak! Jangan seperti itu! Jangan bikin Sekar nggak bisa membedakan mana cinta, mana tipu daya," jawab Sekar ketus.
Devandro langsung menghempaskan ke atas meja Sendok yang berada di tangannya. Sekar bukannya takut, dia hanya menatap Devandro. Tatapan Sekar itu yang membuat Devandro tidak bisa marah.
Mata jernihnya memancarkan kedamaian bagi siapa saja yang memahaminya.
"Pulang, yuk, Kak! Terima kasih, ya, Kak, untuk hari ini."
"Kenapa ucap terima kasih kepada suami sendiri?"
"Tidak peduli dia anak kecil sekalipun, jika dia menolong kita, atau berbuat baik kepada kita, wajib ucapkan terima kasih," terang Sekar.
Saat mereka akan meninggalkan cafe, ada wanita sexy menyapa Devandro dan langsung berjabat tangan serta mencium pipi kakan kiri.
"Siapa ini Devan?" tanya wanita itu.
"Dia ...."
Belum sempat Devandro menyelesaikan jawabannya sudah dipotong kembali oleh perempuan sexy itu.
"Dia asisten lu, ya?"
"Pembantunya, Mbak," jawab Sekar kesal dan berlalu meninggalkan mereka.
Saat mereka meninggalakan cafe, angin sudah bertiup sangat kencang. Devandro membuka jaket kulit yang dia kenakan dan memakaikannya ke Sekar.
Ekspresi wajah Sekar datar, hal itu membuat Devandro serba salah.
"Pegang kakak erat, ya! Kakak mau ngebut, biar nggak keburu hujan. Kalau film india, kehujanan bisa langsung nyanyi-nyanyi. Kalau di sini nyanyi-nyanyi di bawah hujan dikira orang gila," canda Devandro terkesan garing.
"Hmmm." Hanya itu jawaban Sekar.
Usaha Devandro untuk mencairkan suasana sia-sia. Sekar tetap saja tanpa ekspresi.
Jarak tempuh empat puluh lima menit, dibabat habis oleh Devandro menjadi 20 menit. Sekar yang duduk di jok belakang benar-benar memeluk Devandro erat, badan mereka benar-benar berdempet tampa celah.
Devandro, bukan saja suka berkelahi, balapan liarnya juga sering dia lakukan. Untuk mendapatkan uang taruhan dua juta, tiga juta satu kali tanding.
Lima menit setelah mereka sampai di rumah hujan deras pun turun.
"Hebat kakak, kan? Bisa tepat gini," gumam Devandro membanggakan dirinya.
"Iya hebat, sanking hebatnya, rasa nyawa mau lepas dari badan," gerutu Sekar.
Tawa mereka pun lepas. Saat suara petir terdengar bergelegar begitu kuatnya. Reflek Devandro menarik Sekar ke dalam dekapannya. Mendep Sekar erat.
"Kak Dev," ucap Sekar lirih sambil mendangak menatap Devandro.
__ADS_1
"Masih takut petir?" tanya Devandro.
Sekar hanya mengangguk.
"Kak, kenapa suara petir bisa Sekar dengar?"
"Kamu pasti sembuh, yakinlah! Kakak akan lakukan yang terbaik."
Mereka terdiam menikmati dekapan itu. Hingga terlupakan rasa sakit yang terjadi tadi siang.
***
Seminggu sudah berlalu, hari ini jadwal kontrol Sekar. Namun Devandro belum juga pulang padahal janji dengam dokter THT pukul dua siang, ini sudah lewat satu jam. Pesan yang Sekar kirim belum juga dibaca.
Pukul empat Devandro belum juga datang, pesan sudah dibaca tetapi tidak dibalas. Sampai pukul lima Sekar menunggu, tidak ada juga kabar dari Devandro.
Tas kembali dimasukannya kedalam raknya. Pakaian sudah Sekar ganti dengan pakaian santai di rumah. Kecewa sangat rasanya. Sudah membayangkan merdunya suara burung.
Sekar ingin mendengar bagaimana suara Devandro, hal itu yang selalu ada dalam mimpinya sejak mereka pertama kali bertemu di desa.
Hingga Sekar tertidur di sofa ruang tengah. Devandro belum juga kembali. Tengah malam Sekar terbangun saat kakinya ada yang menyentuh. Ternyata Devandro baru pulang.
Dia pulang dengan kondisi mabuk. Rasa kecewa Sekar semakin memuncak, dia melupakan janjinya pada Sekar hanya karena ini. Sekar meninggalkan Devandro tertidur di sofa. Dia memutuskan masuk kamar.
Namun, bukan Sekar kalau dia tega melakukan itu. Sekitar pukul dua dini hari, Sekar keluar kamar sambil membawakan selimut untuk meneyelimuti suaminya.
Setelah selesai memastikan Devandro sudah tidak kedinginan lagi, dia duduk di lantai dengan kepalanya tertelungkup di sofa.
Devan terbangun, kesadarannya mulai membaik. Saat dia melihat Sekar masih tidu di dekatnya, ada rasa bersalah menjalar dalam hati Devandro.
Devandro tidak ingin mengganggu tidur Sekar. Perlahan dia turun dari sofa dan pergi ke kamar mandi, untuk membasahi badannya di bawah shower. Dia ingin kesadarannya pulih sepenuhnya.
Tidak lama Sekar terbangun, dia sudah tidak lagi melihat Devandro di sisinya. Pemikirannya langsung negatif. Berfikir Devandro memang menghindar dari dia. Sekar masuk ke kamar tamu meneruskan tidurnya. Kebetulan Sekar sedang datang bulan sehinga salat Subuh bisa langkaukannya.
Pukul sembilan pagi baru Sekar keluar kamar. Hari ini minggu, Sehingga Devandro seharian di rumah. Melihat Devandro duduk dan tersenyum ke arahnya, Sekar tidak membalas senyuman suaminya. Dia berlalu menuju kamar utama.
Baju-baju bekas dipakai Devandro yang berserak di kamar mandi dikutipnya untuk dicuci. Ada bau lain dari kemeja biru muda itu. Bukan bau alkohol dan juga bukan bau parfum Devandro. Aroma parfumnya lebih lembut, seperti ciri khas parfum wanita.
Saat mencium-cium aroma parfum di pakaian Devandro, Sekar menemukan bekas lipstik menempel di dekat kerah bagian luar.
Sekar tertunduk di lantai, air matanya kini menetes. Karena ini alasan pastinya Devandro tidak menepati janjinya.
Setelah bisa menguasai dirinya, Sekar menghapus air mata yang mengalir di pipi. Dibawanya kemeja itu keluar kamar. Kebetulan Devandro masih duduk di depan TV. Tanpa aba-aba, kemeja itu dilemparkannya ke muka Devandro. Menerima serangan mendadak begitu Devandro spontan beridiri.
"Kenapa? Kakan mau mukul? Pukul!" bentak Sekar.
"Sekar memang orang kampung, orang Desa, mungkin kakak juga nggak bisa puas dengan Sekar. Makanya kakak masih cari perempuan lain diluar sana." Sambung Sekar.
"Bekas lipstik di baju kakak sudah menjelaskan. Kakak lupa bahwa kemarin sudah janji sama Sekar untuk kita ke dokter. Kakak lebih memilih mabuk-mabuk dengan pacar-pacar kakak," ucap Sekar lirih.
Devandro berusaha menjelaskan tetapi Sekar sudah tidak mau lagi mendengarkan.
"Nanti, berapa banyak lagi wanita ke sini, minta pertanggung jawaban kakak? Kak, Sekar ini juga punya hati. Masalah Aleksa, Sekar berusaha melupakannya. Tapi kakak bikin masalah baru. Sekar benci Kak Dev." Sekar berlari, masuk ke dalam kamar tamu.
Dia tutup wajahnya dengan bantal agar tangisnya tidak terdengar oleh Devandro. Walaupun dia mengunci pintu dari dalam, dengan kunci cadangan Devandro bisa membukanya dari luar.
Hati Devandro juga sakit melihat Sekar menangis begitu. Dia coba lagi menyentuh Sekar, selalu ditepis oleh Sekar. Sekar benar-benar marah.
Sudah lelah dia menangis, akhirnya tertidur dalam isak tangisnya.
"Semua nggak seperti yang Sekar kira, Kakak nggak ada lagi tidur dengan wanita lain, kakak sayang Sekar," ucap Devandro di telinga Sekar.
Siang itu, Devandro mengadari Sekar belum makan dari pagi, dia keluar rumah sebentar, mencari makanan kesukaan Sekar.
Saat Sekar bangun, dia menemukan kertas pesan yang ditulis oleh Devandro.
[Kakak cari makan sebentar]
Sekar bukannya menunggu, dia malah mengambil kesempatan itu untuk pergi dari rumah itu. Dia merasa sudah tidak sanggup lagi jika harus bertaha. Sementara Devandro selalu saja membohonginya.
Namun, rencananya gagal, belum jauh dia meninggalkan komplek, Devandro pun pulang. Devandro langsung dihadang oleh security depan, mengatakan bahwa Seqkar baru saja keluar kompleks. Dia pun menunjukkan arah Sekar berjalan.
Mendengar itu, Devandro langsung memutarkan motornya. Berharap dia masih bisa menyusul Sekar. Harapannya terkabul, dia melihat Sekar sedang berjalan. Di pacunya motor yang dia kendarai, lalu berhenti pas di depan Sekar.
"Naik!" bentak Devandro
Sekar hanya terdiam, tidak menjawab, dan juga tidak bergerak untuk naik ke motor Devandro.
"Cepat naik atau saya paksa!" Kembali Devandro membentak dan menarik tangan Sekar memaksanya untuk naik.
Tanpa perlawanana kini Sekar ikut pulang.
"Kenapa pergi begitu? Mau kabur? Kamu harus sadar, kamu itu tuli ...." Devandro tersadar dengan kata-katanya.
Sekar tidak lagi menatap kearah bibir suaminya. Dadanya kembali sesak.
"Jadi, orang cacat seperti Sekar tidak ada hak untuk bahagia? Orang cacat seperti Sekar hanya untuk disakti? Iya, kak, Sekar memang tuli. Sekar nggak berguna. Seharusnya jangan Sekar yang kakak jadikan korban kakak. Dengan cacat Sekar aja, Sekar sudah menderita, kak. Nggak perlu kakak tambah lagi penderitaan Sekar."
Devandro menyesal dengan apa yang dia ucapkan, sebenarnya bukan bermaksud untuk menyakiti Sekar. Dia takut jika karena kekurangan Sekar akan menimbulkan bahaya untuk Sekar. Devandro lebih tidak bisa memaafkan dirinya jika hal buruk terjadi pada istrinya.
__ADS_1
***
Telah dua hari sejak kejadian itu, tidak ada lagi kehatan di rumah ini. Sekar tidak lagi secerewet dulu, semua kewajibannya dia lakukan tanpa banyak kata.
Devandro berusaha mendapatkan sedikit maaf dari Sekar. Rasa cinta Sekar kepada Devandro yang teramat besarlah, yang membuat dia seperti ini. Rasa takut kehilangan yang membuat kecewa itu semakin besar.
Sekar, hanya duduk di depan meja kerja yang menghadap ke taman komplek. Tiba-tiba Devandro menyodorkan satu rangkai bunga sebagai tanda permintaan maaf. Dengan sebuah kartu ucapan bertuliskan.
[Beri maaf, dan kita akan menua bersama]
Sekar hanya tertawa sinis.
'Menua bersama? Barh beberapa bulan menikah saja sudah seperti ini.' gumam Sekar dalam hati.
Belum selesai sesi permohonan maaf, suara bel terdengar. Devandro berjalan untuk membukakam pintu, ternyata tamunya Kiano.
"Ngapai lu? Gangguin orang pacaran aja." gerutu Devandro.
"Santai kakak bro," ledek Kiano
Sehingga dapat satu dorongan di kepalanya.
Setelah berbasa-basi dengan Sekar yang masih saja duduk di kursi meja kerja tersebut. Kiano fokus kembali kepada Devandro untuk menyampaikan maksudnya datang.
"Amanda, Rekan bisnis kita kemarin ngajak kita ketemuan lagi. Sepertinya tu perempuan, suka sama lu. Embat aja bro. Hitung-hitung nambah harta. Jadikan bini ke dua lu."
Dia tidak tahu akan kelebihan Sekar, walaupun Kiano berbicara berbisik, asal Sekar masih bisa melihat dengan baik gerak bibirnya. Semua akan terbaca oleh dia.
"Gue nggak ada apa-apa dengan Amanda, kemarin hanya sebatas ngebicarakan proyek kerja sama," bela Devandro.
Mungkin ini jalan Devandro bisa menjelaskan apa yang terjadi tempo lalu.
"Pihak Amanda minta dirayakan kesepakatan kerja sama kami. Oleh Kiano dan Nana mereka memesan satu room di sebuah club malam. Kamu tahu, kan. Kakak kalau sudah minum sulit ngontrol? Dan Kakak dengan Amanda tidak ada apa-apa. Kami sama-sama mabuk, saat itu dia sempoyongan, mungkin saat dia akan jatuh, reflek kakak menangkapnya, saat itu lipstiknya menempel." Devandro mencoba menjelaskan kepads Sekar.
Sudah terlanjur Kiano membuka masalah Amanda, lebih baik jujur dari pada timbul masalah baru. Devandro berjalan ke arah Sekar.
"Kak Dev, jangan Selalu mengira Sekar ini wanita bodoh. Posisi lipstik itu di kerah samping, tidak mungkin dengan kakak ssmbut dia jatuh bisa menempel lipstik di sebelah situ. Setelah itu dia duduk di paha Kak Dev, dan bermain-main di leher Kakak. Begitu lebih masuk akal." Sekar berdiri lalu meninggalkan mereka bedua.
Kiano benar-benar kelihat berada di situasi seperti ini.
"Lu pulang, deh, Ki! Tambah bikin kacau aja lu," perintah Devandro sambil mendobrong tubuh Kiano.
"Sorry, gue kagak tau, kalo kalian lagi bertengkar," ucap Kiano.
"Sudah dua hari, Sekar diamin gue. Lu pulang sekarang, ya!"
"O.k bro, sorry sekali lagi gue kagak maksud."
Setelah Kiano pulang, Devandro menyusul ke dalam kamar, Sekar sudah tidur. Mungkin pura-pura tidur.
Piama Devandro sudah tersedia di atas tempat tidur. Piama ini seharusnya couple, tetapi malam ini, Sekar tidak memakai pasangannya. Dia memakai baju tidur model kimono.
Saat Devan berdiri di tepi tempat tidur, Sekar menarik tangan Devandro, hingga dia terdudu di ujung tempat tidur. Sekar langsung duduk di atas paha Devandro. Mempraktekkan apa yang dikatakannya tadi dengan bagaimana bisa lipstik itu menempel.
"Jangan pernah bohongi istri. Istri itu tulus mencintai dan menyayangi suaminya, bagaimanapun sifat dan sikap suaminya. Karena itu dia memiliki feelling yang kuat.
Kakak tahu ikan hiu? Berkilo-kilo meter jaraknya tetapi dia bisa mencium di mana bau darah. Istri juga seperti itu dan istri juga bisa menjadi seperti ikan hiu."
Kemudian Sekar turun dari pangkuan Devandro. Membiarkan Devandro terdiam memikirkan kesalahannya.
"O, iya, satu lagi. Kurangi mabuk-mabuknya. Udah tua juga masih suka seperti itu. Nggak guna minum-minum seperti itu. Nggak bisa mengontro emosi dan gairah. Kalau bergairah, tu, pulang! Ada istri yang halal mau diapain aja. Jangan juga nambah dosa di luar."
Mendengar perkataan Sekar, Devandro membalikan badannya, mereka sekarang sudah duduk berhadapan di atas tempat tidur.
"Jadi, intinya kakak sudah dimaafkan?" tanya Devandro penuh harap sambil memgang tangan Sekar.
"Belum," jawab Sekar sigkat.
"Kok belum?" rengek Devandro.
"Kita lihat dalam sebulan, kalau kakak nggak mabuk lagi, nggak berantem lagi, baru dapat maaf penuh."
Devandro bersorak gembira bahwa Sekar sudah tidak marah lagi kepadanya. Dia langsung ingin memeluk Sekar. Namun langsunh dihalang oleh Sekar.
"Nggak boleh peluk-peluk. Masih harus jaga jarak aman," ucap Sekar sambil tertawa.
Sekar meletakkan bantal guling di antara mereka.
"Nggak boleh lewat batas, ya, Kak!"
"Kok gini? Entar kalau kakak pengen di manja gimana? Katanya harus sama istri?" Devandro membalikkan lagi kata-kata Sekar.
"Iya, deh, iya." Sekar menyingkirkan batal guling tersebut.
"Nah gitu, dong."
Devandro langsung bergeser mendekati Sekar dan membalikkannya menghadap dia.
"Kakak janji, kakak nggak akan bikin Sekar marah lagi. Sudah cukup, ya. Dua bulan ini aja dingin sama kakak!" Devandro mencium kening Sekar.
__ADS_1
Sebenarnya posisi teryaman bagi Sekar hanya dalam dekapan Devandro.