Istriku Tuli

Istriku Tuli
part 11


__ADS_3

Istriku Tuli


Part 11


#devandro


#sekar


Cinta adalah anugerah yang tidak tahu kapan iya akan menyapa. Sesungguhnya cinta itu tidak pernah salah. Namun, kita yang terkadang salah menempatkanya. Sehingga menyalahkan cinta saat hati terluka.


Biarlah cinta menjalankan tugasnya. Nikmati setiap proses yang akan membuat kita mengerti apa itu cinta.


Cinta bukan sekedar rasa ingin memiliki, cinta itu ikhlas, melepaskan dia bahagia meski tidak bersama.


- Sekar -


Devandro menemukan kertas putih berisi tulisan tangan Sekar. Dia merasa sangat bersalah kepada istrinya. Wanita kampung yang dengan tulus memberikan semua rasa cinta kepadanya.


Kertas tersebut dilipat oleh Denvandro dan menyimpannya di dalam dompet. Devandro juga menemukan banyak karikatur lengkap dengan tanggal tentang dirinya di tas milik Sekar.


"Ada apa, Kak?" tanya Sekar heran, melihat isi tasnya keluar semua.


Devandro panik karena ketahuan oleh pemiliknya telah berani membongkar barang pribadinya.


Sekar mengambil semua kertas-kertas di tangan Devandro.


"Kamu menggambar itu semua?" tanya Devandro seakan tidak percaya.


"Jadi kalau bukan Sekar, siapa?"


Mendengar pertanyaan dari Sekar, Devandro hanya nyengir kuda.


Dua bulan terlupakan tetang alat dengar yang telah dipesan Devandro khusus untuk Sekar. Jadwal baru sudah diatur oleh Nana. Hari ini pukul dua.


***


Di rumah lain, Alexa sedang menikmati makan siangnya bak putri kerjaan, satu orang asisten rumah tangga khusus bertugas untuk melayani semua keinginannya. Bukan Devandro yang memberi fasilitas itu, melainkan Papa Yuda.


Dia begitu menantikan seorang cucu, sehingga apapun keinginan Alexa pasti akan dipenuhinya. Hal ini sangat-sangat dimanfaatkan oleh Alexa. Sifat liciknya kembali bekerja.


"Pa, aku, tuh, pengen, deh, sekali aja Devan nginep di sini. Udah hampir lima bulan usia kandungan ini, belum pernah sekalipun di sentuh sama papinya. Si dedek pasti kangen, Pa," ucap Aleksa dengan nada manja.


Wanita yang tidak bisa membedakan, mana mertua dan mana mangsanya. Atau mungkin Papa Yuda akan dijadikan mangsa?


Seiring berjalannya waktu, Mama Elisa yang dulunya tidak peduli dengan keberadaan Alexa, kini telah menunjukkan sikap pedulinya.


[Makan malam di rumah!]


Pesan dikirim ke ponsel Devandro, dari ponsel Papa Yuda.


***


Membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Devandro menjadi kesal. Kenapa harus di rumah. Apa salahnya makan malam di restoran, sehingga dia bisa mengajak Sekar.


"Kak Dev, Sekar sudah selesai. Jadi kita ke dokter hari ini?" tanya Sekar.


Dengan cepat, Devandro memasukan ponselnya ke dalam tas selempangnya.


"Jadi, dong, sayang. Kita naik mobil?" ledek Devandro.


"Iya, udah, coba aja!" jawab Sekar.


Seperti tidak percaya, Sekar mau diajak naik mobil.


"Sekar lihat Kakak kurang nyaman naik motor. Ya udah Sekar aja yang ngalah," tutur Sekar seakan semua tanpa beban.


Perjalan kerumah sakit, lancar. Sekar hanya merasakan sedikit mual. Setelah minum air jeruk hangat di kantin rumah sakit, semua baik-baik saja.


***


Ruangan dengan nuansa putih menambah kesan menegangkan bagi Sekar. Sebuah alat yang cukup kecil dikeluarkan dari dalam kotak.


Alat bantu dengar yang dipilih Devandro, merupakan keluaran terbaru. Alat yang dipasang di dalam telinga.


"Mungkin, Ibu Sekar merasa kurang nyaman. Itu wajar, karena ada benda asing masuk ke telinga kita. Tapi Ibu bisa belajar sedikir demi sedikit untuk membiasakannya. Bisa memakainya tujuh sampai delapan jam sehari, lalu dilepas. Kalau Ibu merasa sesuatu yang menyakitkan, segera kasih tahu kami!" penjelasan Dokter THT yang menangani Sekar.


Mendapatkan penjelasan dari sang dokter, Sekar mengangguk pasti.


"Bismillah, ya, Bu! Kita mulai pasang sekarang." ucap sang dokter, mulai beranjak dari tempat duduknya.


Sekar yang sudah duduk di kursi pasien, menatap Devandro, tatapan cemas tidak bisa ditutupi dari wajah Sekar.


"Nggak apa-apa, sebentar lagi kamu bisa dengar suara kakak," ucap Devandro menyemangati Sekar.


Dia duduk di depan Sekar, sambil memegang tangan Sekar dengan erat. Seakan sedang mentransfer keberanian kepada istinya.


Setelah proses pemasangan selesai. Dokter memberi kode kepada Devandro, agar Devandro berbicara, sehingga suara pertama yang Sekar dengar adalah suara suaminya.


"Sekar," panggil Devandro lembut.


Sekar meneteskan air matanya. Segera iya memeluk Devandro.


"Terima kasih, Kak Dev," ucap Sekar bercampur tangis.


Sekarang Sekar sudah bisa mendengar, walaupun belum begitu jelas, tetapi dia sudah bisa manangkap suara walaupun terkadang masih pecah.


***


"Bagaimana rasanya?" tanya Devandro saat berada di dalam mobil.


"Masih aneh, Kak. Semoga cepat terbiasa dan cocok ya, Kak. Nggak sakit seperti yang Sekar pakai dulu."


Dengan tangan kirinya, Devandro megusap puncak kepala Sekar, kemudian dia menggenggam tangan kanan Sekar, mengarahkanq ke bibir, untuk di ciumnya.


"Malam ini, Kakak mau makan apa?"

__ADS_1


"Hmmm, Kakak tadi di WA Papa, Kakak malam ini disuruh kerumah. Sebenarnya Kakak mau ngajak kamu, tapi ...." Devandro tidak meneruskan perkataannya.


"Tapi, Papa dan Kak Dayana nggak suka sama Sekar," jawan Sekar polos.


Dia belum tahu, bahwa ada Aleksa di rumah itu.


Sesampainya di rumah mereka, Devandro tidak langsung berangkat. Dia mengantar Sekar ke dalam rumah. Mencium bibir Sekar terlebih dahulu.


"Kakak pulang, kan?" tanya Sekar seperti merasakan ada sesuatu.


"Pastilah sayang, paling Papa mau bicarakan proyek baru. Kakak menang tander kemarin. Nanti mau dibawaain apa?" Devandro tetap memeluk Sekar.


"Hmmm, terang bulang isi coklat kacang, deh,"


Devandro pun pergi, meninggalkan Sekar sendirian di rumah. Sebenarnya dia juga tidak tahu bahwa itu adalah permintaan Aleksa.


Dia berpikir, Papa Yuda benar akan membicarakan kerjaan karena siang tadi dia tidak masuk kantor.


Takut Devandro pulang ke malaman dan pedagang terang bulan sudah tutup. Dibelinya saja sekarang. Nanti di rumah bisa dihangatkan dalam mickrowafe.


Sebuah mobil hitam keluaran Eropa memasuki rumah mewah peninggalam Kakek. Menurut surat warisan, rumah ini sudah atas nama Devandro.


Setelah turun mobil, Devandro memanggil security depan, membagikan dua kotak terang bulan. Satu kotak untuk dia dan satu kotak lagi untuk temannya yang sebentar lagi pertukaran shift.


"Terima kasih Mas Devan. Anak saya pasti senang dibawakan ini," tutur security tersebut.


Setelah masuk ke rumah, Devandro juga memanggil Bik Yah, memberikan lagi dua kotak, untuk dimakan dengan asisten yang lain.


Ternyata mereka sudah siap di meja makan, hanya menunggu kedatangan Devandro.


"Kenapa lu duduk di situ?" tanya Devandro yang tidak senang melihat Alexa duduk di sebelahnya.


"Ya, aku harus duduk di mana, sayang?" Alexa kembali bertanya.


"Itu tempat duduk Sekar," bantah Devandro


"Tidak ada tempat Sekar di rumah ini!" bentak Papa Yuda.


Mendengar itu, Devandro berbalik arah ingin pergi. Namun dilarang oleh Mama Elisa.


"Nggak boleh ribut-ribut depan makanan. Kapan lagi kita bisa lengkap begini. Ada anak dan menantu." terang Mama Elisa.


"Kamu jangan pikirkan ucapan Devandro! Saya tidak mau bayi kamu stres. Kami ingin cucu kami lahir sehat!" pinta Papa Yuda kepada Alexa, menggambarkan bahwa Papa dan Mama menyukai Alexa.


Hanya Devandro yang ingin mempertahankan Sekar. Devandro teringat akan Sekar yang sendirian di rumah. Selesai makan, dia akan menghubunginya.


***


Sendirian bagi Sekar itu sudah biasa, alat bantu dengar sudah mulai bekerja dengan baik. Suara hujan mulai terdengar oleh Sekar. Awalnya suara hujan itu sangat indah lama kelamaan berubah menyakitkan. Terlalu berisik dia dengar di dalam telinganya.


Dia tetap mencoba memakainya, dia ingin selalu mendengar. Namun, rasa sakit mengalahkan keinginan tersebut. Alat kecil di dalam lubang telinganya dilepas.


Besok pagi, dia akan mencoba memakainya kembali. Pukul sebelas malam Devandro belum juga pulang. Perasaan Sekar tidak enak.


Berbalas pesan hanya sebentar mereka lakukan, setelah itu tidak ada lagi balasan dari Devandro.


Sekar tetap melakukan tugas seperti biasa, menyiapkan sarapan suaminya.


"Pasti Kak Dev pulang, dia, kan, mesti kerja hari ini."


Bubur kacang hijau kesukaan Devandro, sudah selesai di masak. Wangi pandan mengisi dapur pagi ini. Sekar mengisi empat box yang nanti akan diantar ke pos depan. Makanya para security sangat mengenal Sekar, dan gerak Sekar selalu dipantau. Berawal dari sikap baik Sekarlah yang suka berbagi makanan dan Devandro setiap bulan pasti memberi mereka uang tips khusus.


Pukul tujuh pagi Devandro sudah sampai di depan rumah mereka. Mendengar suara mobil, Sekar berlari ke depan rumah, membuka pintu dan menyambut suaminya.


Devandro langsung merangkul Sekar dan mencium keningnya.


"Maaf tadi malam, kakak nggak bisa pulang. Kakak ngantuk banget jadi nggak berani nyetir." ucap Devandro bohong.


"Iya, kak. Pasti penat, ya. Udah dari rumah sakit, langsung nemuin Papa, bahas pekerjaan."


Mereka melangkah ke dalam rumah. Devandro menyerahkan bungkusan martabak yang dibelinya tadi malam.


"Kakak, nggak tau masih enak apa nggak."


"Pasti masih enak, kak. Tinggal dipanasi aja." Jawaban tulus dari istri yang telah dibohonginya.


Devandro memeluk Sekar erat.


"Jangan tinggalin kakak, ya!" pinta devandro


Sekar membalas dengan anggukan.


Seketika, Sekar melepaskan pelukan Devandro.


"Kakak ngapain tadi malam?" pertanyaan Sekar seolah membuat jantung Devandro berhenti berdetak.


Devandro diam, mengingat-ingat apa yang terjadi malam itu. Yang dia ingat, merasa sangat mengantuk sampai tidak sanggup lagi membalas pesan Sekar.


"Bau parfum kakak, bercampur dengan parfum lain. Itu bukan harum parfum Sekar" Sekar memang mempunyai penciuman yang sangat peka.


"Itu parfum mama. Kemarin, Mama meluk Kakak." Kembali Devandro berbohong.


"Ya udah, mandi, lah! Biar segar!" ucap Sekar yang berusaha mempercayai semua perkataan suaminya.


Devandro benar-benar merasa bersalah. Saat pagi hari dia terbangun, dia sudah berada di kamar dalam pelukkan Alexa, hanya selimut yang menutupi badan mereka.


Devandro memang tidak tahu apa-apa malam itu, setalah dia meminum cokelat hangat, matanya begitu sulit dibuka.


"Brengsek, gue dikerjain Alexa. Apa minuman itu dicampur obat tidur? Dasar *****!" upat Devandro saat berada di kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar mandi, Devandro melihat Sekar sedang menyiapkan pakaian kerjanya.


"Gimana alat bantu dengarnya? Cocok?" bisik Devandro di telinga Sekar, lalu dia memeluk Sekar dari belakang.


"Kalau suasan sepi begini, enak, Kak. Tapi kalau sudah banyak suara. Terasa sangat sakit semua masuk ketelinga Sekar. Sekar belum bisa berada di keramaian," jelas Sekar.

__ADS_1


"Lama-lama pasti terbiasa. Tapi kalau memang sangat sakit, lepas aja, nggak usah pakai lagi!"


"Kakak nggak malu punya istri seperti Sekar?"


"Nggak, Kakak malah bangga dan bersyukur ada yang mencintai kakak dengan tulus," terang Devandro sambil membalikkan tubuh Sekar.


"Bukan bersyukur karena istrinya gampang dibohongi, kan?" sindir Sekar.


Devandro hanya terdiam, tidak tahu akan menjawab apa. Apa yang diucapkan Sekar itu benar. Terlalu sering dia membohongi Sekar.


"Kak, Nanti pulang kerja temani Sekar ke Baby Shop ya!" pinta Sekar.


Devandro mengerenyitkan keningnya.


"Mau ngapain?"


"Taman di kampung ada yang melahirkan, Sekar mau belikan baju bayi yang bagus. Katanya barang-barang baby shop bagus-bagus."


"Siapa temannya?" tanya Devandro heran, bukannya Sekar tidak punya teman.


"Dewi, anak Bude Darti."


Devandro pun menyetujui. Pukul lima Devandro berjanji sudah sampai ke toko yang Sekar maksud.


***


Tanpa Devandro sadari, saat dia mandi tadi. Sekar membaca pesan yang dikirim Alexa ke ponselnya.


[Sayang, nanti aku dan mama mau ke beli perlengkapan bayi kita. Kamu susul! bisa ikut?]


Bayi kita, hati Sekar sakit saat membacanya. Namun, dia tidak mau terlihat bodoh dengan langsung marah-marah.


[iya, sayang. Nanti jam lima aja, ya! Tunggu aku pulang kantor. Jangan dibalas lagi! Nanti ketahuan Sekar]


Sekar lincah membalas pesan tersebut dan segera menghapus riwat pesan itu.


Seolah tidak terjadi apa-apa, Sekar masih bersikap manis kepada Devandro, mengantarnya sampai depan pintu, dan juga menitip bubur kacang hijau yang sudah dia siapkan untuk security komplek.


"Hati-hati di rumah, ya! kalau capek istirahat aja. Minta tolong saja orang yang ngerjakan semuanya!" Perhatian Devandro terdengar seperti dogeng oleh Sekar.


"Jangan lupa nanti sore," teriak Sekar, sebelum Devandro masuk ke dalam mobil.


"Ingatin kakak, ya!" jawab Devandro sambil melambaikan tangannya.


Terlihat begitu indah rumah tangga mereka. Namun ada boom waktu yang akan meledak sebentar lagi.


Sekar bukanlah wanita bodoh, jangan pernah mengira orang-orang kampung itu bodoh dan bisa dibodoh-bodohi.


***


Pukul empat sore, Sekar sudah bersiap dengan penampilan yang sangat manis. Long dress panjang dengan dasar kream bunga-bunga dipadukan pasminah dengan satu tingkat warna di atasnya.


[Kak Dev, jangan lupa ya, Ketemu di sana aja! Sekar berangkat naik taksi online.]


Pesan dikirim Sekar ke ponsel Devandro.


Sekar sengaja berangkat lebih dulu agar tidak ketahuan bahwa dia juga berada di toko itu.


Pukul lima kurang, pintu toko terbuka. Dua orang wanita memasuki toko. Mereka Alexa dan Mama Elisa. Terlihat mereka sangat akrab. Mama Elisa sudah menerima Alexa, karena anak di dalam kandungannya.


Melihat itu, sebenarnya air mata Sekar ingin tumpah. Namun, itu tidak boleh terjadi. Dia harus kuat. Harus bisa membuktikan semuanya.


Toko ini cukup luas, ada beberapa bagian. Ada bagian khusus menjual perlengkapan bayi baru lahir. Mereka menuju bagian itu. Sekar berjalan perlahan, berdiri di rak sebelahnya. Cukup bisa mendengar pembicaraan mereka, tetapi tidak akan ketahuan karena terhalang oleh barang pajangan.


"Ma, Kenapa mau punya menantu seperti Sekar? Sudah orang kampung, cacat lagi." mendengar itu hati Sekar panas.


"Mama menyayangi Devan. Apapun keputusan Devan, akan Mama dukung. Asal kamu tau, Devan begitu mencintai Sekar. Jadi kamu jangan pernah nyentuh Sekar kalau tidak mau diceraikan. Saya bukan baik sama kamu. Tetapi sama calon cucu saya." ucap Mama Elisa kepada Alexa.


Bagi Alexa itu malah membuat dia senang, dia bisa menggunakan anak ini untuk mengeruk kekayaan Pramesti.


'Tau gini, dari dulu aja gue hamil,' bisik Aleksa dalam hati.


Ponsel Sekar bergetar, ternyata pesan dari Devandro menanyakan di mana posisi Sekar.


[Masuk aja kak, terus ke bagian bekalang, sebelah kiri, ada tulisan new born]


Dari jauh, Sekar melihat Devandro melangkah mencari tempat yang dimaksud Sekar.


Yap, drama dimulai saat Devandro bertemu Alexa dan Mama sedang memilih-milih perlengkapan bayi.


"Senang deh, kamu benaran datang," Sambut Aleksa sambil mengelayut manja di tangan kekar Devandro.


Belum hilang rasa tekejut Devandro, sudah ada lagi kejutan yang baru. Dari arah yang berbeda Sekar berjalan mendekati mereka.


'Sekar kuat! Sekar kuat! Sekar kuat!'


Kata-kata itu yang selalu ditanamkan dipikirannya.


"Sekar," desis Devandro.


Membuat Alexa dan Mama memalingkan kepalanya. Terlihat Sekar berdiri mematung menatap Devandro tajam.


Devandro merasa sedang dihakimi.


"Ngapain lu kemari?" tanya Alexa ketus.


"Saya tidak mau cari ribut, Saya hanya ingin membuktikan semuanya. Sekarang saya sudah dapat bukti. Terima kasih, saya pergi," jawab Sekar tegas.


Sekar berlalu pergi meninggalkan toko, disusul oleh Devandro. Devandro tetap memanggil namun, tidak dipedulikan oleh Sekar.


Hingga di luar toko, Devan berhasil menghentikan langkah Sekar.


"Sekar benci Kak Dev."


Sekar berlari meninggalkan Devandro yang terdiam, bingung tanpa tahu apa yang akan dia lakukan.

__ADS_1


By: Yati Suryati


__ADS_2