Istriku Tuli

Istriku Tuli
part 6


__ADS_3

Istriku Tuli


Part 6


#devandro


#sekar


Tiga bulan bukan waktu yang lama. Waktu yang ditunggu-tunggu Devandro akan segera tiba. Tujuh hari lagi sebagian kekayaan kakek akan jatuh ketangannya, semua akan beralih nama menjadi kepemilikannya.


"Kapan, waktu pembacaan warisan, Kak?" Pertanyaan Sekar mengagetkan Devandro yang sibuk berkutat dengan ponselnya.


"Kamu tahu dari mana tentang itu?" tanya Devandro heran lalu meletakan ponselnya di atas meja.


"Kak. Dulu, waktu kakak masih di desa, Kakek menemui Sekar. Beliau meminta Sekar menikah dengan Kakak. Hitung-hitung sebagai balas budi keluarga Sekar kepada Kakek. Sekar yang yang saat itu hanya sebatang kara mengiyakan, kerena kalau Sekar tidak setuju rumah yang Sekar tempati selama itu, akan diambil kembali oleh Kakek, kerana itu rumah Kakek. Kalau itu benar-benar diambil, Sekar mau tinggal dimana? Makanya bagaimanapun Kakak memperlakukan Sekar, Sekar terima saja dengan ikhlas. Karena Sekar tahu, pernikahan ini tidak ada dasar cintanya," papar Sekar dengan suara mulai parau.


Entah kenapa penjelasan Sekar, membuat hati Devandro perih. Seperti ada benda tajam yang sedang menusuk. Terasa sangat aneh.


"Jadi, kamu mau kita segera pisah?" Devandro salah paham menanggapi ucapan Sekar.


"Kalau itu yang buat Kakak bahagia, Sekar bisa apa? Sekar nggak tau, sejak kapan rasa ini muncul. Entah sejak SMA atau setelah menikah."


Sekar beranjak dari tempat duduknya, melangkah menuju dapur. Menyiapkan makan malam itu lebih baik, jika harus menangis, saat memotong bawang kita pasti mengeluarkan air mata dan itu bisa menjadi alasan kenapa air mata itu mengalir.


Malam ini Sekar akan membuat ayam bakar, cah kangkung dan sambal kecap. Ayam yang sudah diungkep tadi sore tinggal dibakar di atas alat bakaran. Menunggu ayam matang, sekar mengiris bawang dan cabe untuk sambal kecap.


Empat potong ayam, semangkuk sambal kecap sudah tertata di meja, saat sedang memasak cah kangkung, Devandro memeluk Sekar dari belakang. Tetap memeluk sampai Sekar selesai masak.


"Kakak nggak akan ninggalin kamu. Kamu tetap istri kakak." Devandro menolehkan wajah Sekar agar bisa melihat wajahnya saat berbicara.


"Tapi, Kak Dev juga nggak akan ninggalin Alexa, kan?" tanya sekar yang tidak dijawab oleh Devandro.


Bukan karena cinta, ada alasan yang membuat Devandro tidak bisa begitu saja meninggalkan Alexa.


***


Hari ini Devandro belum juga kelihatan keluar kamar. Sekar heran mencoba mengetuk pintu kamar dan memanggil Devandro di kamarnya.


Tidak lama pintu kamar dibuka, terlihat Devandro yang sangat lesu dengan wajah pucat.


"Kakak sakit?" Sekar langsung memapah Devandro kembali ketempat tidur.

__ADS_1


Devandro demam, badannya sangat panas tetapi dia merasa kedinginan padahal AC di dalam kamar sudah dimatikan.


Sekar segera memberi Devandro obat yang ada di kotak P3K.


"Sekar, temani kakak di sini! Jangan pergi, ya!" Devandro menarik tangan Sekar.


Devandro meminta Sekar tidur di sebelahnya, kemudian Devandro memeluk Sekar. Sekar membalas pelukan itu dengan perasaan tulus.


Panas tubuh Devandro sudah turun, menggigilnya juga sudah hilang tetapi Sekar tidak boleh jauh darinya.


"Sekar mau masak makan siang dulu, Kak."


"Kita pesan makanan aja, pokoknya jangan jauh dari kakak!" Devandro mengambil ponselnya dan memesan makanan yang Sekar mau.


Tidak lama pesanan mereka datang, Devandro memberi tahu kepada Sekar. Segera ia menjemput pesanan ke depan.


Sikap Devandro sungguh sangat manis, seperti suami yang benar menyayangi istrinya. Devandro sudah mulai mengakui sebenarnya dia mencintai Sekar, tetapi karena gengsi akan kekurangan Sekar, dia berusaha menutupi rasa cinta itu.


***


"Kak, kenapa barang-barang Sekar dikeluarkan?" Sekar bertanya heran


Pakaian Sekar dimasukan semua kedalam travel bag, begitu juga dengan barang-barang yang lain. Kini kamar Sekar bersih.


"Sekar salah apa, Kak?"


"Salah kamu, tidur di kamar berbeda. Seorang istri itu harus tidur satu kamar dengan suaminya," ucap Devandro sambil menarik tangan Sekar ke arah kamarnya.


Devandro tidak bisa lagi berpura-pura tidak mencintai Sekar. Benar kata Kiano, dia akan mati jika kehilangan Sekar.


Dia sudah tidak peduli lagi akan kekurangan Sekar. Nanti akan dibawa berobat setelah urusah warisan selesai. Sebentar lagi, hanya satu hari lagi.


***


Pagi ini, keluarga Pramesti berkumpul di perusahaan yang dipegang Devandro. Dayana dan Bayu tiba pertama kali, disusul Mama Elisa dan Papa Yuda. Namun si pemilik perusahaan belum juga muncul. Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan.


Jauh di sebuah rumah berlantai satu ini, Sekar masih sibuk membangunkan Devandro yang masih saja bergulung dalam selimut.


"Kak, bangun! Kakak nggak ke kantor, katanya hari ini janji sama pengecara kakek."


"Ya ampun, kakak lupa."

__ADS_1


Devandro langsung duduk dan berusaha membuka matanya.


"Kamu siap-siap juga, ganti pakaian. Kita ke kantor sekarang," ucap Devandro sambil melangkah ke kamar mandi.


Sekar menggunakan gamis kombinasi warna putih biru, serasi dengan warna dasi biru dan kemeja putih yang dikenakan Devandro.


Tidak ada lagi waktu untuk sarapan, Sekar memasukan nasi goreng ke dalam lunch box, rencananya akan dimakan saat di dalam mobil.


"Yuk, sayang!" ajak Devandro.


Ucapan itu menggejutkan Sekar, Sekar yang tadinya mau melangkah jadi terdiam.


Devandro merangkulnya dan mereka berjalan beriringan.


Sepanjang perjalanan, Sekar menyuapkan nasi goreng ke mulut Devandro. Devandro akhirnya jujur dengan perasaannya selama ini.


Kini mereka seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Setibanya di kantor tangan Devandro tidak lepas dari genggaman tangan Sekar.


"Assalamualaikum, maaf telat," salam Devandro saat masuk keruangannya.


Tatapan Dayana kepada Sekar tidak pernah berubah, selalu sinis. Sekar menyalami Mama Elisa dan dibalas pelukan. Papa Yuda untuk menjaga harga dirinya, dia tetap menyambut tangan Sekar walaupun tidak tulus.


Pembacaan pembagian warisan pun selesai. Seperti janji kakek. Devandro mendapatkan lima puluh persen saham perusahaan yang dia pegeng, dan lima puluh persen dari keseluruhan harta kakek.


Tampak wajah Dayana yang tidak senang, karena dia hanya mendapatkan dua puluh persen saja.


***


"Kak, dengan selesainya pembagian warisan tadi pagi. Apa kakak akan cerai kan Sekar?"


Devandro yang saat itu berbaring di samping Sekar, memiringkan badan dan melihat kearah Sekar, kini jarak wajah mereka tidak lebih dari lima centi meter.


"Belum cukup, kata maaf dan kejujuran yang kakak utarakan kemarin? Apa Sekar masih ragu dengan kakak?" tanya Devandro yang membuat Sekar tambah bingung.


'Masih kak, karena kakak masih bersama Alexa' jawab Sekar dalam hati.


Seketika Devandro mencium bibir Sekar, Sekar yang masih terkejut, hanya terdiam. Namun, setelah dia menyadari bahwa dia seorang istri, melayani suami adalah kewajibannya. Sekar berusaha melayani Devandro dengan baik. Setelah tiga bulan menikah, inilah malam pertama bagi mereka.


Lubuk Dalam 21/08/20


By: Yati Suryati

__ADS_1


__ADS_2