
Rumah itu sama seperti rumah kebanyakan didesa ini, desa transmigrasi dari Jawa ke kalimantan angkatan tahun 94,meski sudah direnovasi disana sini untuk menyesuaikan keinginan, tapi tak menghilangkan khas rumah trans.. panggung dan berdinding papan.nomor 75 tertera di pintu utama, beserta nama sikepala keluarga"sutrisna".disanalah tempat nisa dan keluarga tinggal. sutrisna adalah nama ayah nisa.. nisa tinggal bersama ayah, ibu, beserta satu kakak perempuan dan 2 orang adik yang masih sangat kecil kecil. posisi nisa saat ini adalah anak kedua diantara 3 orang saudaranya.
Tapi semua tahu akan hal itu.yang mungkin orang tidak tahu atau yang sering orang pertanyakan adalah mengapa sikap pak sutrisna terasa menganak tirikan nisa.. berbeda dengan ke tiga anaknya yang lain, baik yulli, isma, atau mawar, sikap pak sutrisna sangat dingin kepada nisa bahkan cenderung kasar dan tak jarang dia main tangan terhadap bocah perempuan delapan tahun itu.terkadang bu ilma, istrinya menengahi saat nisa diperlakukan kasar oleh suaminya, tapi tak jarang juga hanya menangis tanpa berbuat apapun.atau mungkin dia sebenarnya sangat takut kalau pak sutrisna akan lebih kasar jika dia coba tenangkan.
Nisa gadis ringkih itu sepertinya didewasakan oleh keadaan.pukul setengah lima nisa sudah terbiasa bangun kemudian dia akan beranjak kedapur untuk mencuci apapun alat alat dapur yang kotor dari piring sisa makan tadi malam, sampai ke kuali dan alat2 dapur yang lainnya. meskipun dia tidak pernah duduk makan bersama orang orang yang dia sebut keluarga.. dia hanya mendapat jatah 2 piring ukuran standar untuk dua kali makan pagi dan malam.. karna kalo untuk makan siang sudah pasti sudah dibungkus kan oleh ibu.dan dia akan makan bekal itu sembari mengawasi bebek bebek milik sang ayah. kemudian setelah makan pagi , nisa akan mulai membuka pintu kandang bebek dan menghalau nya menuju pematang sawah basah yang sengaja tak ditanami padi, dan pematang sawah itu ada 4 petak dan semuanya milik sang ayah. karna ayah sudah mendapatkan pekerjaan disalah satu PT kebun sawit di daerah yang tak jauh dari rumah jadi pak sutrisna lebih memilih konsen kerja di PT dan 4 petak sawah dia biarkan terbengkalai tanpa tanaman padi dia hanya akan mengairi petak petak sawah itu untuk supaya jadi tempat gembala bebek bebek nya. oleh nisa tentunya.
. " gembala kan bebek bebek itu dengan teliti nisa!!.. jangan sampai ada yang hilang. bagaimanapun kalau sampai ada bebek yang hilang atau bermasalah ayah akan menyalahkanmu, dan sama sekali ayah takkan menerima alasan apapun dari kamu." itu adalah kalimat yang selalu nisa dengar dari ayahnya setiap pagi, entah sudah kali yang keberapa.nisa hanya bisa mendengarkan dan tak pernah berniat untuk membalas kalimat kalimat itu, walaupun dia baru berusia delapan tahun tapi dia sudah tahu dan bisa merasakan sakit hati itu seperti apa.
Dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore dia akan berada disawah.bersama bebek bebek itu tentunya. saat makan siang dia akan berteduh dan mulai menghabiskan bekalnya.dia tidak tahu berapa batas waktu untuk menggembalakan bebek pada umumnya.. yang dia tahu hanya dari jam tujuh sampai jam empat sore dia harus berada disawah.dan dia tidak dapat menolak itu. nisa , dia bahkan sudah lupa kapan dia pertama menggembalakan bebek bebek itu, dia sudah benar benar lupa.
setelah jam empat sore, dia akan pulang kerumah ,mandi membersihkan diri mengganti bajunya yang tidak seberapa banyak. kemudian melipat seluruh baju yang sudah kering milik keluarganya dari ayah sampai adiknya, yang sudah dicuci pagi tadi oleh kak yuli. kemudian makan malam akan dihantar kekamar nisa setelah itu nisa akan langsung tidur. dirumah mereka tidak punya televisi satu satunya hiburan hanyalah radio tape, yang tidak mungkin nisa akan ikut nimbrung karna sudah pasti disitu ada ayah. jadi apa boleh buat, langsung tidur adalah pilihan yang tepat buat nisa. bukankah besok pagi dia akan menjalani rutinitas yang berat juga.? Pertanyaan tinggallah pertanyaan terlebih pak sutrisna sepertinya tak begitu memperdulikan pandangan orang orang akan sikapnya terhadap nisa.terlihat seperti masa bodoh.. entah itu dia anggap sebagai didikan ala dia atau malah penyiksaan, tapi kenapa diusianya nisa bahkan belum dan tidak di daftar kan untuk masuk sekolah dasar manapun??
__ADS_1
. **** ** ****
"Nisa.. ini bekalmu, " suara ibu menyadarkan nisa dari renungan nya. entah apa yang dia renungkannya tadi. "ibu sudah tambahi ikan tongkol nya.. air teh sama putihnya sudah ada didalam.. " kata ibu sambil menyerahkan tas bekal yang langsung disambut oleh nisa. "trimakasih bu.. " ujarnya.
Nisa tak berlama lama, dia langsung bergerak menghalau bebek bebek untuk segera menuju pematang sawah.kali ini dia memakai topi lebar khas petani yang terbuat dari anyaman bambu, ditambah kerudung tipis supaya kulitnya tidak terlalu terbakar.
Kaki kaki mungil nisa mengayuh perlahan melewati pematang sawah. setelah bebek bebek itu masuk ke pematang sawah nisa mulai membentangkan kain seukuran setengah badannya di sepanjang dan sekeliling pematang sawah tempat bebek bebek itu bersuka ria supaya tidak ada yang kabur. kemudian nisa akan duduk di salah satu pohon pisang yang ada di salah satu pematang dan mulai mengawasi bebek bebek itu, kemudian biasa nya dia akan mengambil pucuk daun singkong beserta batangnya dia akan menyesuaikan daun nya ada yang dipotong pendek ada yang dibiarkan memanjang. kemudian dia akan memainkannya sebagaimana anak anak perempuan lain memainkan mainan bongkar pasang atau boneka. karena hanya disanalah dia bisa menjadi apapun yang dia mau, dan sedikit lupa bahwa dia adalah bocah perempuan yang tidak bersekolah yang setiap harinya melakukan rutinitas baku yang sepertinya takkan pernah berubah,. berteman dengan bebek bebek dan berkubang lumpur serta bermandikan terik mentari sepanjang hari. dia bisa jadi ratu, dia bisa jadi ah entahlah... apapun itu.! pokoknya selain kenyataan yang setiap hari harus di Terima dan jalani. sesekali dia berdiri melihat lihat kawanan bebek, atau jangan jangan pagar lainnya ada yang roboh karena bisa gawat kalau sampai ada bebek yang hilang. jika dirasa aman maka nisa akan kembali duduk dan melanjutkan permainannya.
disebelah pematang sawah tempat nisa menggembalakn kawanan bebek itu, ada sungai kecil yang mengalir airnya jernih. terkadang kalau nisa tak kuat menahan panas, nisa akan menyebutkan diri kedalam sungai yang hanya sebatas punggungnya itu sampai puas kemudiam mulai mengawasi bebek lagi sampai baju yang basah itu akan kering dengan sendirinya.
begitu lah setiap hari nya kegiatan nisa seperti itu. menjelang malam kadang kak yuli datang kekamar nisa untuk mengajari nisa mengaji atau baca tulis.itupun hanya terkadang bukan rutinitas setiap malam. nisa hanya mencoba memahami keadaan saja.
__ADS_1
*** ** ****
Seperti biasanya, ketika menjelang jam empat sore kak yuli akan berlarian menghampirinya dan selalu membawa buah tangan. hari ini kak yuli membawa eskrim berbentuk potongan semangka, segar sekali. nisa langsung melahap nya ketika kak yuli memberikan es krim itu padanya.
"ayo kita pulang... " kata kak yuli setelah nisa menghabiskan eskrimnya.
nisa tidak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. kali ini kak yuli tidak berjalan mendahuluinya, kak yuli berjalan di belakang nisa. dan membantu nisa menghalau bebek. nisa sedikit merasa heran tapi tetap diam tanpa kata. dia hanya tahu kak yuli perhatian kepadanya tapi karena pengaruh ayah yang begitu kuat kak yuli sangat jarang sekali bercengkrama dengannya sebagaimana sepasang saudara sebagaimana umumnya. mata sayu nisa memandang ufuk barat.. agak sedikit gelap dan nisa berharap malam ini turun hujan supaya bisa dia anggap sebagai music untuk menghantar tidurnya. mudah - mudahan saja. kata nisa didalam hati.
Tak lama merekapun sudah sampai didepan rumah mereka. kak yuli langsung masuk kedalam rumah saat melihat motor ayah sudah terlihat disamping rumah mereka, berarti ayah sudah pulang. nisa seperti biasa langsung menggiring bebek sampai semuanya dia pastikan sudah masuk kedalam kandang. kemudian nisa akan bersiap untuk segera membersihkan tubuhnya, mandi, dan mengganti baju. samar nisa mendengar ayah dan ibu sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius, tak begitu mendengar tapi nisa jantung nisa mendadak berdegup kencang. entah karena apa. nisa langsung beranjak melangkah menuju tempat mandi sumur yang berada diluar rumah mereka.
.. nisa harus menimba airnya. saat ini hanya orang orang yang mempunyai uang lebih saja yang sudah pasang mesin air. tapi untuk keluarga nisa lebih memikirkan untuk membeli keperluan yang lain dari pada hanya sekedar mesin air. sekitar 15 kali timba barulah ember besar itu penuh, baru kemudian nisa bisa mandi. dan setelahnya pun dia harus menimba lagi untuk memenuhi ember besar itu kembali. untuk ayah tentunya karna jam saat ini sudah menunjukkan hampir jam lima sore. ibu dan adik adiknya mereka sudah pasti sudah mandi.kembali nisa melirik ufuk barat. mendung itu masih ada. dan dia kembali berharap agar malam ini bisa turun hujan, nisa melangkah masuk kedalam rumah dengan perlahan.
__ADS_1
&&&##&&&&