
Nisa mengerjapkan matanya, terbangun saat adzan subuh benar benar berkumandang dari masjid yang tak jauh dari rumahnya.nisa segera merapikan tempat tidurnya yang hanya berupa kasur santai, bantal tipis, dan selimut yang tidak tebal tentunya. kemudian dia beranjak menuju dapur merapikan alat alat dapur yang kotor sebelum nanti dia akan bawa ke sumur untuk di cuci. hari masih gelap tidak membuat nisa hendak bermalas malasan. apa yang bisa dia kerjakan saat ini tentu akan segera dia kerjakan. perutnya mendadak lapar tapi dia tidak berani makan apapun sebelum ibu memberinya, walaupun saat ini dimeja makan ada potongan bolu sisa cemilan ayah tadi malam.nisa meneguk liurnya.. yah dia akan minum lebih banyak untuk mengganjal perutnya.
"hati hati bawa piringnya ya nis.. " kata ibu lembut".. nanti kalau sudah selesai cuci piringnya, makan bolu untuk sarapan nya ya.. nanti ibu taro dikamar nisa.. " kata ibu setengah berbisik mungkin takut membangunkan ayah.
Mendengar itu nisa lumayan bersemangat, nisa menganggukan kepalanya sebelum akhirnya dia membawa piring kotor yang sebelum sudah dia masukkan kedalam ember kecil ke sumur. dengkuran ayah masih terdengar keras, nisa berharap sampai nanti dia ke sawah untuk menggembalakan bebek ayah jangan dulu bangun atau dia akan mendengarkan kalimat kalimat kejam ayah seperti hari - hari sebelumnya.
... **** ** ***** ....
Smp 037.desa wono rejo.
10:30 , jam istirahat.
seorang anak laki laki, berperawakan sedang pada umumnya anak anak kelas 7. sedang melangkah perlahan menuju perpustakaan. tangannya tampak membawa bekal,.. setelah tiba di perpustakaan anak laki laki itu menuju rak buku bacaan sebelum kemudian dia memilih kursi yang berada di pojok ruangan. dia akan membaca buku itu sambil menikmati bekalnya.
anak laki laki itu membuka bekalnya tampak ada beberapa pisang goreng dan ubi goreng, kemudian dia mulai membaca.
"andi...!! sebuah seruan membuat anak yang dipanggil andi itu menoleh ke asal suara. andi merasa sedikit terganggu, tapi dia segera menutupi dengan segera memasang senyum .. dan menyapa anak yang menegurnya. " apa her??.
heri langsung duduk disamping andi".. tumben istirahat kamu ke perpustakaan. gak main bola? ujarnya
"aku lagi pengen baca buku. panas sekali hari ini her.. lagian kamu enggak liat ada anak anak main bola juga kan?
heri tersenyum kuda karna tidak ada anak anak yang terlihat main bola hari ini, bukan karna sekarang jam istirahat kedua, tapi karna hari ini memang lagi lagi sangat panas. dia baru menyadarinya.
"sepulang sekolah mancing yuk?!
__ADS_1
" gak bisa kayaknya her, ada kerja kelompok nanti aku.. kapan kapan saja.. "kata andi menolak secara halus. aneh sekali temannya satu ini. sudah tahu hari lagi murka malah ngajak mancing. dan andi tahu disaat seperti ini dia tidak bakalan dikasih izin oleh orang tuanya untuk beraktifitas diluar rumah.
" ah payah kamu mah.. "heri seperti menyesal telah mengajakku
" aku gak menolak loh ya her.. cuma memang hari ini gak bisa.. "
menghiburnya. tak berapa lama bel tanda masuk kelas berbunyi andi segera mengemas tas bekalnya yang tadi dia bawa , kemudian meletakkan buku yang di pinjam tadi dirak perpus, sebelum kemudian andi melangkah menuju kelas bersama heri.
Masih ada satu jam pelajaran lagi, matapelajaran IPA, dengan pembawaan pak solehan yang kocak sepertinya satu jam tiga puluh menit tidak akan terlalu terasa. mudah mudahan nanti tidak ada PR.
***** ** *****
"Assalamu'alaikum.... " andi mengucapkan salam saat dia hendak masuk kedalam rumah, sepulang sekolah.
"waalaikumsalam... " sahut ibu andi dari dalam.
"masak apa ibu hari ini??
" ibu gak masak banyak nak,.. ada sayur lodeh ikan asin sama sambel terasi.. "kata ibu perlahan
" itu sudah enak sekali loh bu.... "kata andi. toh andi masih ingat sekali ketika ayah belum mendapatkan pekerjaan yang pasti hampir setiap hari mereka makan dengan minyak jelantah. kadang malah dengan garam yang digoreng dulu dicampur bawang putih. dan itu berjalan selama hampir dua bulan, beruntung juga meski lauknya menyedihkan mereka masih bisa makan nasi. tidak seperti beberapa tetangga mereka ketika dalam kesulitan ada yang bahkan tidak bisa memakan nasi. diganti dengan olahan yang terbuat dari bahan singkong yang sudah direndam dengan air selama tiga hari baru setelah itu di tumbuk kasar sebelum kemudian dikukus beberapa menit. orang orang sini menamakan makanan tersebut dengan sebutan iyek.. semacam nasi tiwullah. tapi untungnya ayah andi segera mendapatkan pekerjaaan jadi guru ketika itu barulah dari situ ekonomi keluarga andi berangsue angsur membaik sampai saat ini. itu adalah hal yang patut disyukuri kalau saat ini mereka bisa makan nasi pakai sayur lodeh, ikan asin, dan sambal terasi. hal apapun kalo kita menjalaninya dengan rasa syukur akan mudah untuk menikmatinya.
Setelah mengganti bajunya, andi segera duduk di meja makan bersiap untuk makan siang . andi membuka tudung saji, diatas meja makan terlihat menu yang disebutkan ibu tadi. sayur lodeh, ikan asin, dan sambal terasi. tapi ada satu yang tidak disebutkan oleh ibu barusan, ada semangkuk ukuran sedang sambal goreng hati ayam yang dicampur petai, menu favorit andi. mata andi langsung berbinar segar.
"ibu masak sambal goreng ampela ini??
__ADS_1
" itu suprise dari ibu... heheheh"ibu terkekeh melihat andi. ".. tadi ada tukang ayam lewat ibu hanya beli jeroan nya saja.. " jelas ibu pada andi.
andi mengangguk anggukkan kepalanya tanda faham. senyum kecil tersungging di ujung bibirnya. "makasih bu... " katanya kemudian,.. "makin sayang deh sama ibu.. apalagi kalau masak begini terus setiap hari... " lanjut andi sambil terkekeh.
"walaupun enak kalau masak begini setiap hari sudah pasti bosannya nak... " kata ibu... "apalagi adikmu itu gak suka sama yang pedas pedas... " kata ibu melanjutkan.
"oh iya... mana thalia bu..?? tanya andi
" lagi ibu suruh nganterin nasi ke si nisa... kasian dia sarapan tadi ibu tanya cma makan bolu sepotong... sama air putih.. kata ibu sedih.
"ibu ketemu dijalan..? andi bertanya
" iya.. kalau terus terusan begitu bisa sakit itu anak sekuat apapun dia.. memang dia bawa bekal tapi untuk siang. kalau bekal itu dia makan pagi otomatis siang dia enggak makan.. "
kata ibu prihatin
andi menghela nafas panjang. kalau sudah membicarakan nisa siapapun akan prihatin mendengarnya. tapi mereka bisa apa sedang kan mereka hanya berstatus tetangga. jika seorang istri saja tidak bisa mencegah sikap buruk suaminya apalagi yang hanya sebagai tetangga, emang bisa??
Pernah suatu waktu ibu berniat untuk mengadopsi nisa sebagai anak. tapi ayah melarang karna takut mempermalukan keluarga pak sutrisna yang rasanya bahkan tak memperdulikan itu.dan memang istrinya pun menolak karna bagaimanapun juga dia tidak mau kehilangan harga dirinya jika sampai nisa diadopsi oleh ibu andi. tapi bukankah itu lebih baik bagi nisa jika dia bisa bersama orang orang yang mau menerimanya sebagai keluarga dengan ketulusan dan kasih sayang, dari pada tetap tinggal bersama orang orang yang disebut keluarganya, sebagai ayah ibunya malah tidak bisa memposisikan nisa sebagai anaknya.. bahkan tidak bisa memposisikan seseorang yang mereka sebut sebagai anak sebagai manusia. kasihan nisa.. tapi segala keinginan itu harus berdasar kan mufakat antar dua keluarga bukan? dan keluarga nisa terutama ibu nisa tidak bisa menyetujui itu. akhirnya hanya doa terbaik buat nisa yang bisa di lafadz kan oleh ibu setiap harinya.
Bukan hanya dirasakan oleh ibu andi,segala keresahan tentang nisa.semua penduduk desa pun tampaknya seperti itu. tapi lagi lagi mereka tidak dapat berbuat banyak, mereka hanya akan selalu menunggu sambil terus mengawasi kalau sudah benar benar keterlaluan sikap pak sutrisna kepada nisa baru mereka akan memperhitungkan menurut cara mereka.. dan tak akan memperdulikan batas batasan lagi.kadang andi berfikir apakah pak sutrisna tidak tahu malu atau benar benar tidak tahu kalau dia sudah menjadi gunjingan oleh penduduk desa, bahkan anak anak kecil tahu tentang itu. tapi pak sutrisna sepertinya cuek cuek saja. bahkan terkesan songong. seolah olah sikapnya terhadap nisa adalah suatu hal yang wajar yang akan biasa dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya. meskipun anak itu adalah perempuan. tidaklah dia memikirkan pertanyaan mengapa sikap kasarnya hanya tertuju kepada nisa. tidak kepada ke tiga anaknya yang lain. bahkan yuli adalah anaknya yang paling besar malah tidak pernah ada beban berlebihan kepadanya. kalau logika di pakai seharusnya yuli lah yang mengerjakan pekerjaaan yang dilakukan nisa. tapi nyatanya malah di lakukan oleh anak perempuan berusia delapan tahun. nisa... malang sekali nasibmu.. "gumam lirih andi.
sepertinya pak sutrisna menyimpan sesuatu didalam hidupnya. apakah ada sebuah kejadian yang membuat seorang nisa harus bertanggung jawab. adakah sesuatu hal yang membuat pak sutrisna begitu membenci nisa. tapi tetap saja apa yang sudah dilakukan oleh dia tidaklah pantas, terlalu kejam jika itu harus diberi alasan sebagai pendidikan seorang ayah kepada anak perempuannya. alasan apapun itu terlalu kejam. tak adakah rasa kasihan dari seorang pak sutrisna yang diberikan nya sedikit saja untuk nisa. bahkan setingkat tetangga saja bisa merasakan itu.. ya satu rasa untuk nisa sebagai sesama manusia yaitu EMPATY. tidakkah pak sutrisna memilikinya? atau pak sutrisna sudah tidak mempunyai nalar untuk sesuatu yang dikatakan sebagai manusia?? bukan hanya terasa tidak memiliki EMPATY bahkan pak sutrisna sepertinya tidak begitu mengenal apakah EMPATY itu.
ibu.. meski bukan siapa siapa akan selalu meneteskan air matanya jika sudah berbicara tentang nisa.andi pun merasa demikian, atau penduduk desa pun?meski saat ini hukum sosial berlaku, dengan sangat jarang yang mau menyapa pak sutrisna jika berpapasan di jalan. dan jarang mau sekedar berkelakar jika bertemu disuatu tempat semacam di tempat hajatan mungkin atau acara apapun. tapi bagaimanapun pak sutrisna tidak begitu memperdulikan hal itu. dia merasa biasa biasa saja tanpa ada sesuatu yang dia rasa aneh. dan sikapya pada nisa pun tidak berubah. selalu seperti itu sebagaimana biasanya.
__ADS_1
&