Jangan Sendiri

Jangan Sendiri
Lubang Buaya,Pondok Gede


__ADS_3

BAGIAN 1



***Lubang buaya, pondok gede


Lantas, apa sih yang membuat Lubang Buaya angker? Apa tragedi yang terjadi di sana? Atau adakah hal-hal lain yang membuat pengunjung bergidik merinding setiap menginjakkan kaki di tempat itu?

__ADS_1


jadi begini...


Kesan horor yang hadir dari tempat ini terjadi akibat masa lalu sejarah bangsa Indonesia yang menyedihkan. Berdasarkan cerita sejarah yang pernah terjadi, Lubang Buaya pernah dijadikan sebagai tempat pembuangan mayat para korban Gerakan 30 September atau G30S/PKI. Gerakan ini dipelopori oleh PKI yang membantai petinggi militer Indonesia dan kemudian dibuang massal di sumur Lubang Buaya ini.


Nama Lubang Buaya sendiri berasal dari sebuah legenda yang menyatakan bahwa ada buaya-buaya putih di sungai yang terletak di dekat kawasan Pondok Gede. Selain itu juga terdapat rumah yang di dalamnya ketujuh pahlawan revolusi disiksa dan dibunuh. Terdapat mobil yang digunakan untuk mengangkut orang-orang.


Meskipun sekarang kawasan ini sudah padat penduduk, tapi tetap saja tidak berhasil menahan aura horor yang sangat pekat terasa di lokasi tersebut.Ketika masuk dari gerbang depan sampai ke dalam saja,rasanya seperti memasuki alam lain lho, sebab apa? suasananya yang berbanding terbalik. Di depan gerbang ramai hiruk pikuk manusia, tapi di bagian dalam sepi, tenang, namun mendebarkan.

__ADS_1


Tepatnya pada tanggal 30 September 1965. Empat Jendral yang menjadi target operasi utama PKI adalah Ahmad Yani, D.I. Panjaitan, M.T. Haryono, dan Nasution. Tiga Jendral yaitu Ahmad Yani, D.I. Panjaitan, dan M.T. Haryono berhasil dibunuh di kediamannya, sedangkan Jendral Nasution berhasil meloloskan diri. Beberapa ajudan Jendral Nasution yakni Mayjen S. Parman, Mayjen R. Suprapto, Brigjen Sutoyo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean ditangkap oleh PKI kemudian dibawa ke lubang buaya bersama tiga jasad Jendral lainnya.


Sesampainya di lubang buaya Mayjen S. Parman, Mayjen R. Suprapto, Brigjen Sutoyo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean dipaksa menandatangi Dewan Jendral, sebutan untuk sekelompok Jendral yang diisukan akan melakukan makar pada Presiden Soekarno. Dewan Jendral merupakan cerita karangan PKI untuk melancarkan rencana PKI dalam merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno.


Karena para ajudan ini menolak, mereka kemudian disiksa secara sadis hingga mati. Bersama jasad para jendral, jasad para ajudan ini diseret lalu dimasukkan dalam sebuah lubang sumur sedalam 12 meter dengan lebar 75 centimeter yang kini dikenal sebagai lubang buaya. Untuk memastikan jasad benar-benar meninggal, PKI kemudian menembak jasad-jasad tersebut dari atas lalu ditutupi sampah pohon karet dan ditanami pohon pisang diatasnya.


Sumur baru ditemukan pada 3 Oktober 1965, dan digali dengan tangan pada keesokan harinya pada 4 Oktober 1965. Berdasarkan hasil visum ditemukan retakan di bagian kepala dan patah tulang di kaki dan tangan. Diduga para petinggi militer ini dipukul, ditendang dengan sepatu lars yang keras, dan dipopor dengan ujung senjata.

__ADS_1


Untuk memperingati peristiwa kelam tersebut dibangun sebuah Monumen Pancasila Sakti di area pembantaian lubang buaya. Lebih dari setengah abad berlalu, lubang buaya seolah masih membawa suasana pembantaian sadis masa lalu. Banyak kisah-kisah misteri yang sering dialami oleh pengunjung yang datang. Misalnya seperti suara teriakan minta tolong dari dalam sumur dan suara derap langkah kaki yang menyerupai derap kaki sekelompok tentara yang berbaris***.


__ADS_2