JODOH 2

JODOH 2
episode 1


__ADS_3

PoV Ajeng


“ajeng ...., kunci pintumu ....” suara teriakan setiap pagi selalu


mengusikku, jangan keras-keras itu suara ibu kos ku


Perkenalkan namaku Ajeng, aku tinggal di kos karena jarak sekolah


ku dengan rumah lumayan jauh, entah dapat kekuatamn dari mana kakakku dulu


harus pulang pergi sejauh ini tanpa kendaraan


Oh iya aku hampir lupa, kakak ku kan punya bodyguard setia


siapalagi kalau bukan tetangga kami, aku lebih memilih tinggal di kos karena


menurutku lebih efetif saja waktunya


Oh iya, jika lupa, aku ingatkan lagi ya ..., kakakku namanya Diah


Wulandari, saat ini kakak ku sedang bekerja di surabaya, kakakku sangat baik


dia tak pernah lupa mengirim uang untuk biaya sekolahku


Aku sedangbmenempuh pendidikan di SMA favorit di kota ku, aku


lumayan pintar sih jadi cukup mudah untuk masuk sekolah favorit


“ajeng ayo ...., kita sudah terlambat” gadis yang sedang menarik


tanganku ini namanya Rita, dia teman satu kos ku, kami tidak satu kamar, karena


ukuran kamar kos kami sangat kecil, aku memilih kos yang biayanya terjangkau


“tunggu sebentar ..., aku belum pakek sepatu ....”


‘terserah kau saja, aku duluan ...” pasti itu yang terjadi, mana


mungkin Rita akan menungguku, dia itu kutu buku, dan lagi anak teladan, ya


biarlah dia duluan ...


“tunggu sebentar ....,” aku harus segera mengejar pintu


gerbang,  pintunya tak akan lari walau di


kejar, tapi sayang nya dia akan tertutup


Tet tet tet


Itu suara ngeri yang paling tidak ingin aku dengar, aku harus lebih


memacu langkahku untuk meraih pintu yang tinggal sejengkal lagi tertutup rapat


“pak ...... tunggu ....” aku berteriak sekuat tenaga agar pintu itu


tidak tertutup


Cklekklek


Haahhhhhhh ...., akhirnya aku terlambat lagi kan ....


‘ajeng ..., ajeng ...., kebiasaan ya kamu ....” keluh pak satpam,


namanya pak Totok, kebetulan rumahnya bersebelahan dengan tempat kosku,


istrinya begitu baik, dia seperti pengganti ibu untukku, sering banget ngasih


makanan, tau kan kantongnya anak kos ...., tipissssss banget ...., hingga


transparan


“maaf pak ..., tadi aku harus ini, harus itu, harus ngerjain ini ,


ngerjain itu ...”


“banyak alasan ......, masuklah ....”


“bapak mengijinkan aku masuk ...., wah bapak baik hati sekali ...”


aku benar-benar memujinya


“ya karena kau harus berdiri di lapangan di depan teman temanmu,


sampai upacara selesai”


Ya kan ...,hukuman yang sama setiap pagi ..., tapi sayang aku lupa


kalau hari ini adalah hari senin, seharusnya aku mengingatnya, ini akan jadi


hari yang memalukan karena akau harus berdiri di tengah lapangan sampai upacara


selesai, di depan anak-anak satu sekolah


Cahaya matahari semakin menyilaukan mataku, aku harus menantang


matahari di depan sendiri..., tanpa teman yang lain..., rasanya aku ingin


menangis, apalagi saat pak kepala sekolah memberikan sambutannya, rasanya aku


ingin mengelupas kulit wajahku saja karena malu


“selamat pagi anak-anak yang sangat saya sayangi, hari ini jumlah


pelanggaran sudah berkurang, karena hanya tinggal satu ekor saja yang berdiri


di depan sini, dan itu adalah orang yang sama setiap senin, bla bla bla ...”


itu lanjutkan sendiri ya , tahu kan yang sudah langganan telat pasti pernah


ngrasain sepertiku


Kakak harusnya aku mengikuti jejakmu jadi anak yang penurut


saja..., kakakku juga alumni sekolah ini, semua guru mengenalnya karena


prestasinya yang membanggakan sekolah, tapi jangan salah, aku juga terkenal,

__ADS_1


terkenal karena kebadunganku ..., yah aku bangga setidaknya suatu saat nanti


guruku akan tetap mengenalku sebagai Ajeng


Akhirnya setelah sekian lama aku berdiri sebagai artis yang menjadi


tontonan, acaranya di bubarkan, lega ...


Semua anak menuju ke kelasnya masing-masing, tapi aku ..., aku haus


dong ..., aku akan ke kantin,kasihan kan tenggorokanku jika harus di biarkan


kering, ini tak ada onderdilnya, ini orisinil dari sang pencipta, jadi nggak


boleh di sia siain


“mbak ajeng ...., mau minum ya ...”


‘wah budhe tau aja aku haus ...”


“mau minum  apa mbak?”


“seperti biasa aja”


“air putih?”


Mulai kan ngledek dia itu budhe juminten, ibu kantin, dia tau


banget kebiasaan ku, paling aku ke kantin Cuma minta iar putih, biasa cari gratisan


...., tau sendiri hemat pangkal kaya, itu yang jadi pegangan hidupku


“jeng ...., air putih lagi ...., kembung tau rasa ...”


“resek kau Dik....” nah ni satu lagi pengacau datang, ia itu


sebelas dua belas lah sama aku, namanya Dika, akan IPS 1 tempatnya para anak


bandel, tapi jangan salah gini-gini aku anak IPA , entah dulu kenapa ya kok


bisa aku masuk di kelas anak-anak yang bertemannya sama buku


“kamu bolos juga ...?” tanyaku padanya


“ya ..., aku ada jam komputer, males ikutin ..., aku udah biasa main


komputer di rumah”


“sombong kali kau ...”


“ya begini lah jadi anak orang kaya ...”


Ya Dika itu emang anak orang kaya, bapaknya pemilik beberapa mini


market di kota ini, mau minta apa aja pasti di kasih sama bapaknya, dia aja


datang ke sekolah dengan motor gedenya


“ya udah aku ke kelas dulu ...” aku harus segera pergi dari dia,


bisa-bisa aku lupa nggak masuk kelas kalau dengerin dia ngomong terus


akunya”


Kami dekat walaupun beda kelas, karena saat kelas 1 kami satu


kelas, plus satu bangku, walaupun ngomongnya gede sebenernya anaknya baik dan


pastinya setia kawan


“hausku udah ilang ...”


“aku traktir deh ...”


“ntar aja .... kalau sudah istirahat, simpan dulu uangmu ...” aku


benarnjak dari dudukku dan tak lagi menghiraukan tatapan Dika yang memohon


untuk tetap tinggal


“budhe aku ke kelas dulu ...” aku berpamitan dulu dong sama budhe


juminten, dia benar-benar murah hati karena setiap hari ngasih aku air putih


gratis


Aku menyusuri lorong kelas, menuju kelasku yang hatus melalui


begitu banyak kelas yang berjejer, bagaimana tidak jika satu tingkat itu butuh


sepuluh kelas, berarti di sekolah ini ada tiga puluh kelas, kelasku cukup jauh


jaraknya dengan kantin


Setelah sampai di depan kelasku , aku langsung menundukkan kepala


dan merapat pada dinding, karena tempat dudukku tepat di samping dinding, aku


mendongakkan kepalaku saat sudah tepat di samping bangkuku, aku masih di luyar


ya


“hetss hetss ...., Rita ...” aku memanggil Rita dengan suara yang


begitu pelan, aku duduk satu bangku dengan Rita


“astaga ...., Ajeng .....” aku tahu pasti dia terkejut


“simpan tas ku ...” aku memasukkan tas melewati cendela yang


untungnya tasku isinya nggak banyak, mau banyak bagaimana jika hampir sebagian


besar bukuku aku tinggal di laci bangkuku, jadi sangat mudah memasukkannya


melalui jendela


Untung saja pak guru sedang sibuk menulis di papan tulis, jadi

__ADS_1


tidak tahu apa yang aku lakukan, kemudian aku menuju ke pintu


Tok tok tok


Pak Guru menghentikan kegiatannya dan menoleh ke pintu


‘ada apa?” tanyanya garang ...., aku lupa kalau jam pertama


pelajaran matematika, itu pak Dadang, guru paling kiler di sekolah


“maaf pak, saya baru dari kamar mandi ...” aku peralasan dong


“duduk ...”


Ah ..., akhirnya aku aman, aku segera menuju ke bangkuku, bangku


kosong di sebelah Rita


“kau dari mana saja ?” tanya Rita, dia memang mirip kakakku cerewet


...., tapi aku suka


“aku habis minum di kantin...”


“kebiasaan ..., cepat buka bukumu ....., sebelum pak Dadang menyadarinya


...”


Aku pun menggangguk dan segera menbuka buku yang dari tadi


tersimpan di laci mejaku, belum sempurna aku membuka buku tiba-tiba sebuah


suara menghentikan kegiatanku


“yang baru datang tadi, berdiri dan kerjakan soal ini di depan....”


pak Dadang memang ter the best deh


“mati aku ....” aku segera memegang kepalaku, astaga bahkan aku


belum sempat mebuka bukuku, tapi sudah ditodong dengan sebilah soal yang


tajamnya lebih tajam dari sebilah belati, menakutkan....


Aku pemberani sih..., jadi apa boleh buat, aku harus majukan ...,


semua mata menatap padaku, mata-mata yang menyerukan sebuah kebangkitan, aku


bangkit dan berjalan bak pejuang perang yang sudah siap mati..., ayo lah ....,


santai saja .....


Hiks hiks hiks


Mimpi apa aku semalem, hingga harus menhadapi dilema yang seperti


ini, aku menuliskan sebisa ku, seingatku, tak ada rumus matematika yang seperti


ini, apa aku yang salah..., atau mungkin di halaman itu aku belum pernah


membacanya, mungkin kemungkinan yang terakhir itu yang paling tepat


“ini apa ini ..., jawabannya sesuai tidak?” ucapnya , maksudku pak


Dadang


“tidak pak ...” jawabku sambil menunduk, bisa mati aku jika


berhadapan dengannya


“lalu ..., ini jawaban dari mana ?”


Dan kalian tahu apa yang bisa aku lakukan, aku hanya bisa memutah


kapur di tanganku yang tunggal sebiji jagung,


“salin soal plus jawaban sebanyak lima kali yang benar”


“hah ...., baik pak”


“duduk ...”


Pasti ujungnya seperti ini, kena karma lagi ..., tapi tak apa lah


satu soal doang kan, tapi lima kali ...., menyebalkan ...., bukan sama bapak ya


..., sama diriku sendiri


Tet tet tet tet tet tet


Enam kali berarti istirahat, akhirnya aku bisa bernafas lega


“apa kau sudah mendapatkan jawabansoal yang tadi?” tanyaku pada


Rita, karena dia yang paling jago matematika di kelas


“aku belum mendapatkan jawabannya Jeng ...”


“wah kau benar saja ...., kau kan yang paling bisa matematika” aku


sedikit memaksa sih


“maaf..., tapi benar aku tidak bisa....”


“lalu aku harus minta bantuan siapa dong ...?” aku benar-benar


sedang gundah gulana, bagaimana tidak jika besok aku belum mengerjakan makan


hukumannya akan di tambah lima kali lipat lagi, dan jika aku menjawabnya salah


aku harus mengfgandakannya lagi sampai jawabannya benar-benar betul


Bukan apa, beliau adalah Guru paling-paliiiiing kiler di sekolah,


tahu kan artinya killer ...MEMBUNUH ..., membunuh nilai-nilai para pejuang


nilai sepertiku, beliau tak segan memperi nilai empat di raport jika tak

__ADS_1


mengumpulkan tugas , tak berlaku nilai minimum untuk pelajaran matematika


-JANGAN LUPA KASIH LIKE DAN KOMENTARNYA YA


__ADS_2