JODOH 2

JODOH 2
lima


__ADS_3

   Sore ini benar, Ajeng akan menemui


Rendi,ia sedikit cemas karena ia tahu jika Rendi kini adalah gurunya, tapi rasa


takut akan hukuman yang menumpuk membuatnya yakin untuk melangkah


“Rit ...., aku


pinjam sepeda mu ya ...” Ajeng memasuki kamar temannya itu tanpa permisi


“emang kamu mau


ke mana?” tanya Rita, gadis itu sedang tiduran sambil memegang buku di


tangannya


“kenapa kau


selalu lupa sih ..., kau memberiku solusi yang membingungkan aku ...” keluh


Ajeng


“membingungkan


bagaimana?” Rita yang merasa tak melakukan apapun dan di persalahkan tak terima


“aku harus


menemui pak Rendi ...”


‘ya maaf ...,


aku kan juga tidak tahu jika dia bakal jadi guru kita” sekarang Rita baru tahu


apakah maksud temannya itu


“ya udah aku


berangkat ..., pinjam sepeda mu ...”


***


Ajeng pun


mengayuh sepedanya memecah panasnya sinar mentari siang itu, seandainya Dika


bisa menemaninya ia tidak akan sebimbang seperti sekarang ini


Silau karena


cahaya mentari yang menyorot tepat ke depan matanya, sesekali ia menutup


pandangannya, menutupnya dengan topi yang bertengger di kepalanya


Ajeng gadis


yang cukup tomboy, ia hampir tidak pernah mengenakan riasan jadi tak masalah


baginya panas-panasan


 Setelah menempuh perjalanan yang cukup


melelahkan akhirnya Ajeng sampai di depan mini market yang di tunjuk


Ia memarkirkan


sepedanya di halaman mini market, keraguan kembali hadir saat ia menatap gedung


mini market itu


“semangat ...”


ia menyemangati dirinya sendiri, kemudian melangkahkan kakinya menuju ke pintu


masuk yang terbuat dari kaca, seluruh dindingnya pun hampir semua terbuat dari


kaca


Di halaman ada


beberapa bangku yang rest area, sungguh nyaman jika bisa sejenak saja duduk di


sana , pikirnya


Tapi kemudian


ia kembali teringat dengan tujuannya datang ke tempat itu, tatapannya kembali


fokus ke dalam mini market, tanpa dari luar karyawan wanita yang sedang


melayani pembeli


Ajeng segera


membuka pintu kaca itu dan berdiri di belakan pembeli, setelah pembeli itu


meninggalkannmeja kasir, Ajeng melangkah mendekat

__ADS_1


“kak ...., pak


Rendi nya ada?” karyawan toko itu menatap ajeng dengan penuh selidik


“maaf..., saya


temannya Dika”


“ada perlu apa


dengan mas Rendi?”


Tapi belum


sempat Ajeng menjawabnya, dari kejauhan Rendi sudah berjalan mandekat


“itu pak


Rendinya ..., terimakasih mbak..” Ajeng segera menghampiri Rendi, ia mendapat


tatapan tidak menyenangkan dari karyawan wanita itu, tapi abaikan saja, itu


sudah kebiasaan Ajeng


“pak Rendi


....” sapa Ajeng


“ajeng ..., aku


kira kamu tak datang”


“manamungkin


....., ini masalah hidup dan matiku pak ...”


“separah itu ya


...”


“ya ,.....”


“tidak datang


bersama Dika?”


“tidak, Dika


nya ada tournamen basket antar sekolah ...”


“oh ..., ya


“terserah bapak


saja, aku ngikut aja ...”


“ya udah..., di


luar sana saja ya ....”


“ok .....”


Rendi berjalan


mendahului Ajeng, ia berjalan menuju ke luar minimarket melewati karyawan


wanita tadi, saat melihat Rendi ia tampak tersenyum begitu manis, berbeda dari


yang di tampakkan kepada Ajeng, ia menampakkan wajah sinisnya


Mereka menuju


ke bangku yang sama yang begitu ingin Ajeng duduki tadi, di bawah pohon


trengguni, begitu sejuk, bunganya yang berguguran jatuh di atas meja, semilir


angin sore menambah kenyamanan bagi dua manusia yang sedang berkecimpung dengan


rumus-rumus


Sesekali nampak


Ajeng memperhatikan penjelasan Rendi, tak jarang yang masuk dalam pikirannya


malah wajah ganteng bapak guru


“ok ...., gimana


sudah paham kan?” ucapan Rendi seketika membuyarkan keterkesimaan Ajeng pada


Rendi


“oh ..., astaga


..., apa yang aku lakukan, wajahku..., wajahku panas sekali ....., pasti


keliatan banget ...” batin Ajeng

__ADS_1


“hallo .....,


gimana? Sudah paham?” Rendi mengulang kembali pertanyaannya


“i-iya ....,


sedikit ...” ajeng nyengir sendiri, sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah


memerah


“minumlah ...,


sepertinya kau sangat kepanasan ...” perintah Rendi sambil menyodorkan segelas


es jus yang sudah di siapkan Rendi untuknya


“kelihatan


sekali ya ....” gumam Ajeng sambil menyambar minumannya


‘wajahmu


memerah ..., aku kira kau kepanasan ...”


“dasar es batu


....” gerutu Ajeng pelan tapi masih bisa di jangkau pendengaran Rendi


“apa?”


“ti-tidak ...,


ini es nya kena gigi ....” Ajeng hanya tersenyum menampakkan gigi-giginya yang


berjejer rapi


“kalau belajar


itu fokus ....”


“iya ....”


jawab Ajeng ketus


Mereka kembali


melanjutkan kegiatannya hingga tanpa terasa langit sudah berubah menjadi gelap,


bintang-bintang saling berebut untuk bermunculan


“ah ....,


akhirnya selesai ...” Ajeng tampak meregangkan otot-ototnya


“ini tidak


gratis ...” ucapan Rendi seketika menghentikan kegiatan Ajeng


“hah ...., apa


...?”


“ya ...., semua


tidak gratis ...” ucapan Rendi sedikit di tekankan


“apa?”


“kau harus


membantuku di percetakan selama satu minggu, jika kau meminta bantuanku lagi


sebelum hutangmu lunas, maka kau harus menambahnya lagi, satu kali meminta


bantuan, berarti satu minggu magang di  tempatku”


“hah ..., bapak


perhitungan sekali ...”


“ini


alamatnya...” Rendi menyerahkan sebuah kartu pada Ajeng “ satu minggu di mulai


dari besok, jika satu hari tidak datang berarti hutang di tambah”


“baiklah ...,


aku pulang ..” Ajeng begitu kesal, ia menyambar tasnya dan mengenakan kembali


topinya,  menghampiri sepedahnya yang


terparkir tak jauh dari tempatnya


Ajeng mengayuh


sepedahnya dengan penuh kesal, ternyata bukan Cuma wajahnya yang dingin tapi

__ADS_1


hatinya juga sekeras batu, pikirnya


__ADS_2