
Sore ini benar, Ajeng akan menemui
Rendi,ia sedikit cemas karena ia tahu jika Rendi kini adalah gurunya, tapi rasa
takut akan hukuman yang menumpuk membuatnya yakin untuk melangkah
“Rit ...., aku
pinjam sepeda mu ya ...” Ajeng memasuki kamar temannya itu tanpa permisi
“emang kamu mau
ke mana?” tanya Rita, gadis itu sedang tiduran sambil memegang buku di
tangannya
“kenapa kau
selalu lupa sih ..., kau memberiku solusi yang membingungkan aku ...” keluh
Ajeng
“membingungkan
bagaimana?” Rita yang merasa tak melakukan apapun dan di persalahkan tak terima
“aku harus
menemui pak Rendi ...”
‘ya maaf ...,
aku kan juga tidak tahu jika dia bakal jadi guru kita” sekarang Rita baru tahu
apakah maksud temannya itu
“ya udah aku
berangkat ..., pinjam sepeda mu ...”
***
Ajeng pun
mengayuh sepedanya memecah panasnya sinar mentari siang itu, seandainya Dika
bisa menemaninya ia tidak akan sebimbang seperti sekarang ini
Silau karena
cahaya mentari yang menyorot tepat ke depan matanya, sesekali ia menutup
pandangannya, menutupnya dengan topi yang bertengger di kepalanya
Ajeng gadis
yang cukup tomboy, ia hampir tidak pernah mengenakan riasan jadi tak masalah
baginya panas-panasan
Setelah menempuh perjalanan yang cukup
melelahkan akhirnya Ajeng sampai di depan mini market yang di tunjuk
Ia memarkirkan
sepedanya di halaman mini market, keraguan kembali hadir saat ia menatap gedung
mini market itu
“semangat ...”
ia menyemangati dirinya sendiri, kemudian melangkahkan kakinya menuju ke pintu
masuk yang terbuat dari kaca, seluruh dindingnya pun hampir semua terbuat dari
kaca
Di halaman ada
beberapa bangku yang rest area, sungguh nyaman jika bisa sejenak saja duduk di
sana , pikirnya
Tapi kemudian
ia kembali teringat dengan tujuannya datang ke tempat itu, tatapannya kembali
fokus ke dalam mini market, tanpa dari luar karyawan wanita yang sedang
melayani pembeli
Ajeng segera
membuka pintu kaca itu dan berdiri di belakan pembeli, setelah pembeli itu
meninggalkannmeja kasir, Ajeng melangkah mendekat
__ADS_1
“kak ...., pak
Rendi nya ada?” karyawan toko itu menatap ajeng dengan penuh selidik
“maaf..., saya
temannya Dika”
“ada perlu apa
dengan mas Rendi?”
Tapi belum
sempat Ajeng menjawabnya, dari kejauhan Rendi sudah berjalan mandekat
“itu pak
Rendinya ..., terimakasih mbak..” Ajeng segera menghampiri Rendi, ia mendapat
tatapan tidak menyenangkan dari karyawan wanita itu, tapi abaikan saja, itu
sudah kebiasaan Ajeng
“pak Rendi
....” sapa Ajeng
“ajeng ..., aku
kira kamu tak datang”
“manamungkin
....., ini masalah hidup dan matiku pak ...”
“separah itu ya
...”
“ya ,.....”
“tidak datang
bersama Dika?”
“tidak, Dika
nya ada tournamen basket antar sekolah ...”
“oh ..., ya
“terserah bapak
saja, aku ngikut aja ...”
“ya udah..., di
luar sana saja ya ....”
“ok .....”
Rendi berjalan
mendahului Ajeng, ia berjalan menuju ke luar minimarket melewati karyawan
wanita tadi, saat melihat Rendi ia tampak tersenyum begitu manis, berbeda dari
yang di tampakkan kepada Ajeng, ia menampakkan wajah sinisnya
Mereka menuju
ke bangku yang sama yang begitu ingin Ajeng duduki tadi, di bawah pohon
trengguni, begitu sejuk, bunganya yang berguguran jatuh di atas meja, semilir
angin sore menambah kenyamanan bagi dua manusia yang sedang berkecimpung dengan
rumus-rumus
Sesekali nampak
Ajeng memperhatikan penjelasan Rendi, tak jarang yang masuk dalam pikirannya
malah wajah ganteng bapak guru
“ok ...., gimana
sudah paham kan?” ucapan Rendi seketika membuyarkan keterkesimaan Ajeng pada
Rendi
“oh ..., astaga
..., apa yang aku lakukan, wajahku..., wajahku panas sekali ....., pasti
keliatan banget ...” batin Ajeng
__ADS_1
“hallo .....,
gimana? Sudah paham?” Rendi mengulang kembali pertanyaannya
“i-iya ....,
sedikit ...” ajeng nyengir sendiri, sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah
memerah
“minumlah ...,
sepertinya kau sangat kepanasan ...” perintah Rendi sambil menyodorkan segelas
es jus yang sudah di siapkan Rendi untuknya
“kelihatan
sekali ya ....” gumam Ajeng sambil menyambar minumannya
‘wajahmu
memerah ..., aku kira kau kepanasan ...”
“dasar es batu
....” gerutu Ajeng pelan tapi masih bisa di jangkau pendengaran Rendi
“apa?”
“ti-tidak ...,
ini es nya kena gigi ....” Ajeng hanya tersenyum menampakkan gigi-giginya yang
berjejer rapi
“kalau belajar
itu fokus ....”
“iya ....”
jawab Ajeng ketus
Mereka kembali
melanjutkan kegiatannya hingga tanpa terasa langit sudah berubah menjadi gelap,
bintang-bintang saling berebut untuk bermunculan
“ah ....,
akhirnya selesai ...” Ajeng tampak meregangkan otot-ototnya
“ini tidak
gratis ...” ucapan Rendi seketika menghentikan kegiatan Ajeng
“hah ...., apa
...?”
“ya ...., semua
tidak gratis ...” ucapan Rendi sedikit di tekankan
“apa?”
“kau harus
membantuku di percetakan selama satu minggu, jika kau meminta bantuanku lagi
sebelum hutangmu lunas, maka kau harus menambahnya lagi, satu kali meminta
bantuan, berarti satu minggu magang di tempatku”
“hah ..., bapak
perhitungan sekali ...”
“ini
alamatnya...” Rendi menyerahkan sebuah kartu pada Ajeng “ satu minggu di mulai
dari besok, jika satu hari tidak datang berarti hutang di tambah”
“baiklah ...,
aku pulang ..” Ajeng begitu kesal, ia menyambar tasnya dan mengenakan kembali
topinya, menghampiri sepedahnya yang
terparkir tak jauh dari tempatnya
Ajeng mengayuh
sepedahnya dengan penuh kesal, ternyata bukan Cuma wajahnya yang dingin tapi
__ADS_1
hatinya juga sekeras batu, pikirnya