
Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya,
ajeng pasti akan selalu melewatkan jam pertamanya untuk menerima hukuman, ia
harus menyapu lapangan karena terlambat
“aku sudah
berusaha berangkat pagi ..., kenapa masih telat ...” keluh Ajeng
“jangan-jangan
pak totok sengaja menutup gerbangnya lebih awal, agar aku tetap terlambat”
Sepanjang
menjalani hukumannya bibirnya tak pernah berhenti mengeluh, membuat seseorang
menghampirinya
“jika kesalahan
sendiri, jangan dilimpahkan pada orang lain” ucap Rendi dingin, membuat ajeng
sedikit terkejut
“bapak ....,
kenapa bapak bisa di sini?”
“kau lupa ya
..., saya masih guru di sini ...”
“iya ..., aku
tahu ...” ucap Ajeng dan segera melanjutkan kegiatannya menyapu, rasanya enggan
menanggapi ucapan Rendi, ia masih kesal dengan pria di depannya
“jangan lupa
nanti sore ..., saya tunggu ...” ucap rendi sambil meninggalkan ajeng yang
sedang menahan kesal
Setelah dua jam
pelajaran akhirnya hukuman selesai, Ajeng tak berniat kembali ke kelas, seperti
biasa ia akan datang ke kantin, hanya untuk minum
“budhe ...,
minta air putihnya ya ...”
“iya .....”
sahut dari dalam,
“nih....
minum ...” belum sempat Ajeng menuangkan
air putih ke dalam gelas, seseorang sudah lebih dulu menyodorkan sebungkus
minuman untuknya
“kau tau aja
aku lagi haus Dik ...” Ajeng pun langsung menyambar minuman yang di sodorkan
dika dan duduk di salah satu bangku kantin
“ya tahu lah
..., kamu telat lagi ya ...”
“iya nih ...,
padahal aku udah bela-belain bangun pagi, tapi tetap aja telat”
“sudah jangan
ngeluh ...” Dika mengacak rambut Ajeng gemas, tapi Ajeng tak terganggu dengan
apa yang di lakukan Dika, itu sudah biasa
Tapi lain
dengan seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka, ia menampakkan wajah
dinginnya, tangannya yang membawa minuman sedikit mengepal, dia adalah Rendi,
dan segera meninggalkan mereka berdua
“bagaimana
kemarin?”
‘kemarin yang
mana?”
‘belajarmu
dengan bang Rendi?”
“jahat banget
pak Rendi”
“emangnya kamu
di apain?” tanya Dika dengan wajah khawatirnya
“nggak di
apa-apain, tapi masak dia minta upah”
“upah ...?”
“ya ..., dia minta
aku magang di percetakannya selama seminggu untuk satu kali meminta bantuan”
“mana mungkin?”
“jadi kau tak
percaya padaku”
“bukan begitu
..., sudah minumlah ..., aku tinggal dulu ...”
“kau mau
kemana?”
“ada urusan
sebentar ...” Dika langsung beranjak meninggalkan Ajeng yang masih di buat
bingung, tapi bukan sajeng namanya kalau terlalu memikirkan sesuatu
***
Ternyata Dika
__ADS_1
menemui abangnya yang berada di peralatan olah raga
“bang ...”
“ada apa?”
seperti biasa Rendi hanya berucap dengan dingin
“kenapa bang
Rendi minta upah sama Ajeng, kan perjanjiannya nggak seperti itu”
“kenapa kau
perhatian sekali padanya?” Rendi malah balik bertanya
“bang..., Ajeng
temanku ...”
“kau suka
padanya?”
‘itu bukan
urusan bang Rendi”
“berarti nggak
ada masalah kan”
“aku nggak suka
sama cara bang rendi”
Karena tak
mendapatkan jawaban yang di inginkan membuat Dika semakin kesal dan
meninggalkan Rendi dengan kemarahan, sedangkan Rendi hanya melengkungkan senyum
tipisnya
***
Sore ini
sepulang sekolah seperti yang sudah dinjanjikan maka Ajeng pun mencari
percetakan yang ada dalam kartu nama yang di berikan oleh Rendi, ternyata
jaraknya tak begitu jauh dari tempat kosnya
Ajeng meminjam
sepedah Rita, untung saja Rita tak terlalu menggunakan sepedahnya, ia tidak suka
bepergian keluar, Rita lebih suka menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan
berdiam diri di dalam kamar
Ajeng mengayuh
sepedanya di bawah terik matahari, sambil sesekali menatap kertas kecil di
tangannya
“ akhirnya
ketemu juga ....” Ajeng berhenti di depan gedung yang lumanyan luas untuk
ukuran percetakan,
Ia memarkirkan
strategis karena dekat dengan sekolah dan kantor desa
“permisi mbak
...” sapa ajeng pada seorang wanita yang
sedang duduk di depan laptop di balik meja
“ada yang bisa
saya bantu dek, mau print atau copy?” tanyanya ramah
“maaf mbak saya
di suruh ke sini sama pak Rendi”
“mas Rendi?”
“iya ....”
wanita yang kira-kira usianya sekitar 21 tahun itu menatap Ajeng penuh tanda
tanya
“mas Rendinya
di dalam, sebentar ya aku panggilkan”
‘makasih ya
mbak” Ajeng pun duduk di bangku kecil biasa di gunakan pelanggannya untuk duduk
Belum lama
Ajeng mendudukkan bokongnya, dari dalam keluar dua orang pria dan wanita,
mbak-mbak yang tadi dan Rendi, Ajeng pun kemudian berdiri menyambut mereka
“kamu sudah
datang” kata Rendi dingin, Rendi berdiri di depan Ajeng dengan kedua tangannya
yang di sakukan di celananya
“apa yang bisa
aku kerjakan?” ajeng tak mau berbasa-basi lagi, ia sudah terlalu capek mengayuh
sepedah akan sangat melelahkan jika harus berdebat dengannya , pikirnya
“ikut aku ...”
Rendi pun berjalan kembali masuk kedalam , ajeng hanya bisa mengikutinya
berjalan di belakangnya meninggalkan mbak yang memanggilnya tadi
Mereka masuk ke
dalam ruangan yang cukup jauh dari depan, ternyata bangunan itu memanjang ke
belakang, masih banyak ruangan di belakan, mereka juga berpapasan dengan
beberapa karyawan memang tak tampak terlalu besar dari luar, tapi jika di lihat
ke dalam, peralatan di percetakan itu cukup lengkap
Rendi berhenti
di depan sebuah pintu dan membukanya
“kamu lihat itu
...” Rendi menunjuk ke dalam ruangan
__ADS_1
“apa?” Ajeng
bingung apa yang di maksud, ia hanya melihat berbagai tumpukan kertas dengan
berbagai warna
“masuklah ...”
“aku ...?”
Ajeng bertambah bingung, pekerjaan seperti apa yang akan dia terima
“memang di sini
ada orang lain?” jawab Rendi dingin
“iya aku tahu
...” ajeng begitu kesal dengan sikap Rendi, ia pun menuruti pertintah Rendi, ia
masuk ke dalam, tapi belum sempurna ia masuk, ia sudah berbalik memegang daun
pintu
“eits ...,
tunggu dulu ...”
“apa?”
“bapak nggak
aku ngunciin aku di dalam sini kan?” tanya ajeng khawatir, jika sampai ia di kurung
di dalam ruangan itu
“apa untungnya
buatku”
“baiklah jika
begitu ....., aku masuk nih ...” ajeng masuk ruangan dengan merjalan mundur,
jaga-jaga jika tiba-tiba pintu di tutup dan di kunci dari luar, tapi sayang
sekali kakinya malah terbentur pada tumpukan kertas di lantai membuat tubuhnya
hilang keseimbangan
“aaahhhh ...”
ajeng memejamkan matanya, ia sudah pasrah jika terjengkal ke belakang , tapi saat
membuka mata, tubuhnya tetap melayang di udara dengan tangan kanannya yang di
pegang erat oleh Rendi
Mata mereka
saling bertemu, jantung Ajeng rasanya bekerja lbih cepat,
“tangannya
mengalirkan aliran listrik tegangan tinggi” batin ajeng
Rendi menarik
tangan Ajeng hingga wajahnya mendarat tepat di dada bidang Rendi
“oh ... astaga
...., jantungku ..., dada ini .....nyaman sekali ...” batin ajeng
“sekarang bisa
menjauh dari dadaku” ucap Rendi dingin membuat ajeng segera menggeser tubuhnya
sedikit menjauh dari Rendi
“tugasmu
sekarang, rapikan tempat ini, taruh semua kertas-kertas itu pada rak yang
tersedia berdasarkan seri nomornya”
“hah ...,
semuanya ...?” itu begitu banyak pikirnya, tidak akan selesai dalam waktu satu
hari
“ya ....”
“baiklah ...”
ajeng terpaksa menyanggupi, mau bagaimana lagi, ia terlanjur punya hutang
“besok kau bisa
membawa bukumu ke sini, aku akan membantumu belajar, nilai sunggu hancur ...”
“pintar sekali
dia mencuri kesempatan ...” gerutu Ajeng
“aku dengar...”
“aku kan
bicara, kalau bapak pintar, tapi aku tidak akan meminta bantuan bapak lagi”
“benarkah ...,
jika sampai kamu tidak lulus dan tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi
seperti yang di inginkan kakakmu bagaimana ya ...., dia pasti sangat kecewa”
“pintar sekali
dia memaksa ...”gerutu Ajeng, memang benar yang di katakan Rendi, akan sulit
baginya masuk ke perguruan tinggi seperti yang di inginkan kakaknya jika
nilainya begitu jauh di bawah rata-rata satu kelas
“baiklah ...,
aku akan membawa buku ku besok, tapi itu berarti aku akan tetap magang di sini
sampai aku lulus dong?”
“ya ternyata
kau faham, baguslah ..., jadilah akan penurut ...” Rendi mengusap rambut Ajeng
kasar lalu pergi begitu saja
“dasar
menyebalkan ....” gerutu Ajeng saat Rendi sudah menghilang di balik ruangan
yang lainnya
jangan lupa kasih dukungan ya ke author
dengan memberikan like dan komentarnya
serta bermurah hatilah mengiklaskan beberapa vote nya
__ADS_1