JODOH 2

JODOH 2
enam


__ADS_3

   Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya,


ajeng pasti akan selalu melewatkan jam pertamanya untuk menerima hukuman, ia


harus menyapu lapangan karena terlambat


“aku sudah


berusaha berangkat pagi ..., kenapa masih telat ...” keluh Ajeng


“jangan-jangan


pak totok sengaja menutup gerbangnya lebih awal, agar aku tetap terlambat”


Sepanjang


menjalani hukumannya bibirnya tak pernah berhenti mengeluh, membuat seseorang


menghampirinya


“jika kesalahan


sendiri, jangan dilimpahkan pada orang lain” ucap Rendi dingin, membuat ajeng


sedikit terkejut


“bapak ....,


kenapa bapak bisa di sini?”


“kau lupa ya


..., saya masih guru di sini ...”


“iya ..., aku


tahu ...” ucap Ajeng dan segera melanjutkan kegiatannya menyapu, rasanya enggan


menanggapi ucapan Rendi, ia masih kesal dengan pria di depannya


“jangan lupa


nanti sore ..., saya tunggu ...” ucap rendi sambil meninggalkan ajeng yang


sedang menahan kesal


Setelah dua jam


pelajaran akhirnya hukuman selesai, Ajeng tak berniat kembali ke kelas, seperti


biasa ia akan datang ke kantin, hanya untuk minum


“budhe ...,


minta air putihnya ya ...”


“iya .....”


sahut dari dalam,


“nih....


minum  ...” belum sempat Ajeng menuangkan


air putih ke dalam gelas, seseorang sudah lebih dulu menyodorkan sebungkus


minuman untuknya


“kau tau aja


aku lagi haus Dik ...” Ajeng pun langsung menyambar minuman yang di sodorkan


dika dan duduk di salah satu bangku kantin


“ya tahu lah


..., kamu telat lagi ya ...”


“iya nih ...,


padahal aku udah bela-belain bangun pagi, tapi tetap aja telat”


“sudah jangan


ngeluh ...” Dika mengacak rambut Ajeng gemas, tapi Ajeng tak terganggu dengan


apa yang di lakukan Dika, itu sudah biasa


Tapi lain


dengan seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka, ia menampakkan wajah


dinginnya, tangannya yang membawa minuman sedikit mengepal, dia adalah Rendi,


dan segera meninggalkan mereka berdua


“bagaimana


kemarin?”


‘kemarin yang


mana?”


‘belajarmu


dengan bang Rendi?”


“jahat banget


pak Rendi”


“emangnya kamu


di apain?” tanya Dika dengan wajah khawatirnya


“nggak di


apa-apain, tapi masak dia minta upah”


“upah ...?”


“ya ..., dia minta


aku magang di percetakannya selama seminggu untuk satu kali meminta bantuan”


“mana mungkin?”


“jadi kau tak


percaya padaku”


“bukan begitu


..., sudah minumlah ..., aku tinggal dulu ...”


“kau mau


kemana?”


“ada urusan


sebentar ...” Dika langsung beranjak meninggalkan Ajeng yang masih di buat


bingung, tapi bukan sajeng namanya kalau terlalu memikirkan sesuatu


***


Ternyata Dika

__ADS_1


menemui abangnya yang berada di peralatan olah raga


“bang ...”


“ada apa?”


seperti biasa Rendi hanya berucap dengan dingin


“kenapa bang


Rendi minta upah sama Ajeng, kan perjanjiannya nggak seperti itu”


“kenapa kau


perhatian sekali padanya?” Rendi malah balik bertanya


“bang..., Ajeng


temanku ...”


“kau suka


padanya?”


‘itu bukan


urusan bang Rendi”


“berarti nggak


ada masalah kan”


“aku nggak suka


sama cara bang rendi”


Karena tak


mendapatkan jawaban yang di inginkan membuat Dika semakin kesal dan


meninggalkan Rendi dengan kemarahan, sedangkan Rendi hanya melengkungkan senyum


tipisnya


***


Sore ini


sepulang sekolah seperti yang sudah dinjanjikan maka Ajeng pun mencari


percetakan yang ada dalam kartu nama yang di berikan oleh Rendi, ternyata


jaraknya tak begitu jauh dari tempat kosnya


Ajeng meminjam


sepedah Rita, untung saja Rita tak terlalu menggunakan sepedahnya, ia tidak suka


bepergian keluar, Rita lebih suka menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan


berdiam diri di dalam kamar


Ajeng mengayuh


sepedanya di bawah terik matahari, sambil sesekali menatap kertas kecil di


tangannya


“ akhirnya


ketemu juga ....” Ajeng berhenti di depan gedung yang lumanyan luas untuk


ukuran percetakan,


Ia memarkirkan


strategis karena dekat dengan sekolah dan kantor desa


“permisi mbak


...” sapa ajeng pada seorang  wanita yang


sedang duduk di depan laptop di balik meja


“ada yang bisa


saya bantu dek, mau print atau copy?” tanyanya ramah


“maaf mbak saya


di suruh ke sini sama pak Rendi”


“mas Rendi?”


“iya ....”


wanita yang kira-kira usianya sekitar 21 tahun itu menatap Ajeng penuh tanda


tanya


“mas Rendinya


di dalam, sebentar ya aku panggilkan”


‘makasih ya


mbak” Ajeng pun duduk di bangku kecil biasa di gunakan pelanggannya untuk duduk


Belum lama


Ajeng mendudukkan bokongnya, dari dalam keluar dua orang pria dan wanita,


mbak-mbak yang tadi dan Rendi, Ajeng pun kemudian berdiri menyambut mereka


“kamu sudah


datang” kata Rendi dingin, Rendi berdiri di depan Ajeng dengan kedua tangannya


yang di sakukan di celananya


“apa yang bisa


aku kerjakan?” ajeng tak mau berbasa-basi lagi, ia sudah terlalu capek mengayuh


sepedah akan sangat melelahkan jika harus berdebat dengannya , pikirnya


“ikut aku ...”


Rendi pun berjalan kembali masuk kedalam , ajeng hanya bisa mengikutinya


berjalan di belakangnya meninggalkan mbak yang memanggilnya tadi


Mereka masuk ke


dalam ruangan yang cukup jauh dari depan, ternyata bangunan itu memanjang ke


belakang, masih banyak ruangan di belakan, mereka juga berpapasan dengan


beberapa karyawan memang tak tampak terlalu besar dari luar, tapi jika di lihat


ke dalam, peralatan di percetakan itu cukup lengkap


Rendi berhenti


di depan sebuah pintu dan membukanya


“kamu lihat itu


...” Rendi menunjuk ke dalam ruangan

__ADS_1


“apa?” Ajeng


bingung apa yang di maksud, ia hanya melihat berbagai tumpukan kertas dengan


berbagai warna


“masuklah ...”


“aku ...?”


Ajeng bertambah bingung, pekerjaan seperti apa yang akan dia terima


“memang di sini


ada orang lain?” jawab Rendi dingin


“iya aku tahu


...” ajeng begitu kesal dengan sikap Rendi, ia pun menuruti pertintah Rendi, ia


masuk ke dalam, tapi belum sempurna ia masuk, ia sudah berbalik memegang daun


pintu


“eits ...,


tunggu dulu ...”


“apa?”


“bapak nggak


aku ngunciin aku di dalam sini kan?” tanya ajeng khawatir, jika sampai ia di kurung


di dalam ruangan itu


“apa untungnya


buatku”


“baiklah jika


begitu ....., aku masuk nih ...” ajeng masuk ruangan dengan merjalan mundur,


jaga-jaga jika tiba-tiba pintu di tutup dan di kunci dari luar, tapi sayang


sekali kakinya malah terbentur pada tumpukan kertas di lantai membuat tubuhnya


hilang keseimbangan


“aaahhhh ...”


ajeng memejamkan matanya, ia sudah pasrah jika terjengkal ke belakang , tapi saat


membuka mata, tubuhnya tetap melayang di udara dengan tangan kanannya yang di


pegang erat oleh Rendi


Mata mereka


saling bertemu, jantung Ajeng rasanya bekerja lbih cepat,


“tangannya


mengalirkan aliran listrik tegangan tinggi” batin ajeng


Rendi menarik


tangan Ajeng hingga wajahnya mendarat tepat di dada bidang Rendi


“oh ... astaga


...., jantungku ..., dada ini .....nyaman sekali ...” batin ajeng


“sekarang bisa


menjauh dari dadaku” ucap Rendi dingin membuat ajeng segera menggeser tubuhnya


sedikit menjauh dari Rendi


“tugasmu


sekarang, rapikan tempat ini, taruh semua kertas-kertas itu pada rak yang


tersedia berdasarkan seri nomornya”


“hah ...,


semuanya ...?” itu begitu banyak pikirnya, tidak akan selesai dalam waktu satu


hari


“ya ....”


“baiklah ...”


ajeng terpaksa menyanggupi, mau bagaimana lagi, ia terlanjur punya hutang


“besok kau bisa


membawa bukumu ke sini, aku akan membantumu belajar, nilai sunggu hancur ...”


“pintar sekali


dia mencuri kesempatan ...” gerutu Ajeng


“aku dengar...”


“aku kan


bicara, kalau bapak pintar, tapi aku tidak akan meminta bantuan bapak lagi”


“benarkah ...,


jika sampai kamu tidak lulus dan tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi


seperti yang di inginkan kakakmu bagaimana ya ...., dia pasti sangat kecewa”


“pintar sekali


dia memaksa ...”gerutu Ajeng, memang benar yang di katakan Rendi, akan sulit


baginya masuk ke perguruan tinggi seperti yang di inginkan kakaknya jika


nilainya begitu jauh di bawah rata-rata satu kelas


“baiklah ...,


aku akan membawa buku ku besok, tapi itu berarti aku akan tetap magang di sini


sampai aku lulus dong?”


“ya ternyata


kau faham, baguslah ..., jadilah akan penurut ...” Rendi mengusap rambut Ajeng


kasar lalu pergi begitu saja


“dasar


menyebalkan ....” gerutu Ajeng saat Rendi sudah menghilang di balik ruangan


yang lainnya


jangan lupa kasih dukungan ya ke author


dengan memberikan like dan komentarnya


serta bermurah hatilah mengiklaskan beberapa vote nya

__ADS_1


__ADS_2