
Renata merupakan anak tunggal dari keluarga Darwis. keluarga Darwis merupakan keluarga pemegang saham terbesar kedua di kota Nggawia.
Karena anak tunggal, Renata terpaksa di jodohkan oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Namun, Renata sama sekali tidak ingin dijodohkan. Renata hanya ingin menemukan jodohnya sendiri.
"Renata, kamu merupakan anak satu-satunya dikeluarga ini, ayah ingin kamu bisa mendapatkan penerus untuk keluarga kita. Ayah menjodohkanmu dengannya karena ia merupakan calon menantu yang baik untuk ayah" ucap ayah Renata.
"Maaf ayah, Renata tidak akan pernah mau dijodohkan oleh seseorang yang Renata tidak cinta. Jika ayah tetap ingin menjodohkan Renata maka, Renata akan pergi dari rumah" ucap Renata.
"Baiklah, ayah akan memberikan kamu waktu selama setahun, temui orang yang kamu cinta dan orang tersebut harus bisa mengelolah perusahaan keluarga kita dan pantas untuk menjadi menantu ayah" ucap ayah Renata.
"Apakah ayah serius dengan perkataan ayah? baiklah, aku akan pergi mencari cinta sejati Renata, dan yang pasti, orang yang akan Renata temui jauh lebih baik dari perkiraan ayah" ucap Renata sambil menuju ke kamarnya untuk mengemasi barang barangnya.
Setelah selesai mengemasi barang-barangnya, Renata akhirnya meninggalkan rumah tanpa mendapatkan uang dari keluarganya serta Ia dialarang menggunakan nama keluarganya selama ia tinggal diluar.
Setelah keluar dari rumah, Renata merasa sedih karena ia akhirnya meninggalkan rumah yang ia tiggali dari kecil hanya karena persoalan jodoh. Meskipun ia sedikit sedih, ia tetap tidak ingin kembali dan menerima perjodohan tersebut. ia ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa ia akan menemukan seseorang yang akan mencintainya apa adanya.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Renata menemukan apartemen. Namun, uang yang ia miliki sama sekali tidak cukup untuk menyewa apartemen tersebut. Hingga akhirnya, ia terpaksa mencari kost yang harganya sedikit lebih murah dibandingkan apartemen.
"Kenapa aku begitu sial sih? seharusnya sekarang aku tinggal dirumah yang nyaman dibandingkan tempat ini. Ibu, Renata kangen sama ibu. Andai saja ibu masih disini, Renata pasti tidak akan menjadi seperti ini". Ucap Renata sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
Setelah beristirahat, Renata akhirnya keluar untuk mencari pekerjaan untuk melanjutkan studinya selama satu tahun.
Setelah 2 jam berjalan, Renata beristirahat di halte bus. karena merasa sangat lelah, akhirnya Renata mulai putus asa karena tidak mendapatkan pekerjaan. Namun, ditengah keputusasaannya, Renata melihat seorang nenek tua jatuh di tengah jalan dan hampir ditabrak mobil. Akhirnya, Renata bangkit secepat mungkin untuk menyelamatkan nenek tersebut.
Setelah nenek dibawa ke Halte untuk duduk, akhirnya nenek tersebut mengungkapkan terima kasih kepada Renata.
"Terimakasih ya nak, kalau bukan kamu yang datang menyelamatkan nenek, nenek tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kepada nenek" ucap nenek tersebut.
"Sama-sama nek, nenek panggil saya Renata saja nek" ucap Renata.
"Kamu benar-benar anak yang baik. Sekarang, Renata mau kemana?" ucap nenek.
"Bagaimana kalau kamu kerja dirumah nenek saja. Nenek kebetulan punya cucu yang masih kecil. kamu bisa kok jadi guru privat nya saja" ucap nenek.
"Wah beneran nih nek? aku mau banget nek. Kerjanya kapan nek?" ucap Renata semangat.
"Kamu boleh kerja hari ini. sekalian kita kerumah bersama-sama" ucap nenek.
"Baik nek" ucap Renata penuh semangat.
__ADS_1
Akhirnya, nenek dan Renata menuju rumah nenek. Setelah sampai di gerbang rumah nenek, Renata takjub dengan pemandangan di depannya. Rumah nenek sangat besar bagaikan istana.
Setelah sampai di ruang tamu, cucu nenek langsung menghampiri neneknya. cucu nenek bernama Ben, Ben sangat pintar di sekolahan. Ben sebenarnya tidak membutuhkan guru privat. Hanya saja, nenek ingin berterima kasih kepada Renata sehingga nenek mengajukan supaya Renata menjadi guru privat Ben.
Ben pun sangat patuh saat diberitahukan kepada nenek kalau dia akan memiliki guru privat. Meskipun dalam hati Ben tidak menginginkan hal tersebut.
Setelah berkenalan, Ben akhirnya mengajak Renata ke ruang belajarnya. Setelah memasuki ruang belajar, tiba-tiba sikap Ben yang patuh berubah menjadi anak yang nakal dan keras kepala.
"Kalau bukan karena nenek yang merekomendasikan kamu, aku tidak akan pernah mau setuju kamu menjadi guru privat aku. Aku anak yang pintar di sekolah, aku tidak butuh guru privat sepertimu. Jadi, kalau kamu tidak ingin menderita maka dengarkan perkataanku. Kamu harus mengajukan pengunduran diri sekarang atau kamu akan menderita selama menjadi guru privat ku" ucap Ben dengan nada yang sombong dan mengancam.
Namun, Renata sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan Ben karena, Renata sudah sering berjumpa dengan anak-anak yang lebih sombong darinya.
"Aku bukanlah seseorang yang bisa ditindas oleh anak kecil sepertimu anak nakal!" ucap Renata sambil mengambil kayu yang ada di meja.
Ben sedikit takut dengan Renata akhirnya mulai menerima Renata sebagai gurunya.
Setelah selesai mengajar Ben, Renata akhirnya pulang ke kostnya yang kecil dan sempit. Ia sangat bangga karena telah menemukan pekerjaan. Renata tersenyum puas dengan hasil yang ia peroleh menjadi guru privat. Ia senang karena Ben akhirnya patuh dan tunduk kepadanya saat ia mengajar.
"Ternyata Ben bukanlah anak yang keras kepala. Ia hanyalah anak yang kurang perhatian dari orang tuanya sehingga ia menjadi anak yang dingin dan sombong" ucap Renata dalam hati.
__ADS_1