
Vio merasa dadanya sesak seperti ada beban berat yang menindihnya. Perlahan Ia coba membuka matanya dan betapa terkejutnya dia, ada kaki manusia yang menimpa tubuhnya.
" Aaaaaaaaaaa.." Vio berteriak histeris dan sontak menghempaskan kaki itu.
" Hei ada apa??.." Wira terkejut gelagapan mendengar teriakan Vio. Matanya menyipit karna masih berat untuk di buka, Ia menyalakan lampu kamarnya. " Jam berapa ini, kenapa teriak apa kau melihat hantu??.." Tanyanya dengan wajah sedikit kesal.
" Hei kenapa kau ada di kamarku?" Vio berteriak ke Wira.
" Aku kan suamimu, apa kau lupa kalau sudah menikah! ."
" Ah iya, Ma..maaf aku lupa kalau sekarang aku sudah menikah.." Vio menunduk, lalu Ia mengangkat kepalanya dengan mata melotot ke arah Wira.
'Hei, kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini. Hah bukannya dia yang salah sudah melanggar aturan yang kita sepakati ' Batin Vio.
" Berani sekali kau menatapku seperti itu.." Cletak.. Wira menyentil kening Vio.
" Yaaa.. sakit tahu.." Vio mengusap keningnya sembari menatap tajam ke arah Wira.
" Jaga matamu.." Wira bergeser hendak berbalik memunggungi Vio.
" Dasar mesum.."
" Apa katamu?!.." Wira yang mendengar kata mesum langsung berbalik menghadap Vio.
" Iya kau mesum, dasar cowok mesum. Pura-pura bodoh dan tak tahu menahu dengan apa yang barusan terjadi, Hah memang kau pikir aku wanita gampangan apa.." Vio menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar. " Bukankah sudah jelas, tidak ada kontak fisik di surat perjanjian kita, tapi apa?? barusan kakimu menindihku, tanganmu memelukku bagaimana aku tidak kaget dan histeris.." Kesal Vio.
" Apa? Aku memelukmu? mimpi kali.." Jawab Wira berkilah karna Ia tadi sedikit sadar saat Vio menghempaskan kakinya dengan kasar.
'Apa aku sudah gila, kenapa aku memeluknya pantas saja dia melempar kakiku.' Batin Wira.
" Mungkin aku mengira kau guling jadi aku tanpa sengaja memelukmu.." Jelas Wira. " Sudahlah aku ngantuk jangan menggangguku lagi dengan hal tak penting.." Wira berbalik menarik selimut dan melanjutkan tidurnya.
" Apa hal tak penting katamu.. dasar manusia arogan.." Vio juga menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.
*****
Matahari sudah meninggi menyinarkan cahayanya, para pelayan di rumah besar keluarga Adnanjaya mulai sibuk bekerja sesuai tugas masing-masing. Keluarga juga sudah berkumpul di meja makan untuk menyantap sarapan pagi, namun yang di tunggu-tunggu si pengantin baru belum juga menampakkan batang hidungnya.
" Pak Pri.." Wisnu memanggil kepala pelayannya.
" Iya Tuan besar." Pak Pri mendekat.
" Kemana Wira dan istrinya, apa mereka tidak ikut sarapan bersama?.."
" Apa-apaan mereka ini, tidak sopan membuat orang tua menunggu" Sahut Ratna dengan sewot.
" Apa perlu saya ke atas Tuan.." Pak Pri bertanya.
" Tidak, biarkan mereka. Ayo kita mulai makan, kalian pasti sudah lapar.." Ajak Wisnu kepada anggota keluarga lain. Selain Wisnu dan istrinya ada anak kedua Wisnu yang juga tinggal di rumah besar beserta suami dan anak-anaknya.
Di dalam kamar..
Wira berdiri menghadap jendela sambil menelpon seseorang, yang tak lain adalah Benny sekretarisnya. Ia memastikan semua siap untuk pindah ke rumah baru.
Sedangkan Vio masih terlelap di bawah selimut. Wira membiarkannya tapi lama-lama dia kesal karna Vio tak kunjung bangun, salah satu hal yang paling dia benci adalah menunggu.
" Hei, bangun! Mau sampai kapan kau tidur!!.." Seru Wira.
__ADS_1
" 5 menit lagi.." Jawaban dari bawah selimut.
Wira gusar Vio membuatnya makin kesal, Ia membuka selimut dengan paksa. Wira geleng-geleng kepala melihat Vio yang masih memejamkan matanya.
" Kau mau tinggal disini atau ikut aku? 5 menit kalau kau tidak siap akan aku tinggal.." Tegas Wira
Mendengar itu Vio langsung meluncur ke kamar mandi dan beberapa saat kemudian dia sudah rapi. Wira saja sampe takjub dengan kecepatan bersiap Vio.
" Mau kemana kita??.." Tanyanya penasaran.
" Ke rumah baru.." Jawab Wira singkat, sambil membereskan beberapa barang pribadinya.
" Tu..tuuu." Vio enggan meneruskan kata-katanya, sebenarnya dia lapar tapi dia tak berani mengatakannya.
" Kalau lapar ada kulkas di pojok situ, ambillah sesuatu yang bisa kau makan.."
'Eh apa dia memang bisa meramal, Oh Tuhan syukurlah tanpa mengatakan dia tau maksudku. Perut ku sudah lapar sekali '
Vio mengambil roti dan susu untuk dirinya dan untuk Wira. Dia melirik ke arah meja yang disana ada bekas susu jadi dia kembalikan lagi, lalu dia mengambil untuk dirinya sendiri.
" Bereskan barangmu, aku tunggu di bawah. jangan lebih dari 5 menit." Wira keluar kamar menuju lantai satu. Di depan pintu kamar sudah ada Reni dan Rani, mereka menundukkan kepala saat Wira lewat.
' Hei Tuan kau pikir aku the flash yang bisa ini itu secepat kilat, baru saja aku selesai menelan rotiku sudah kau suruh lagi dengan waktu 5 menitmu itu. Seenaknya saja dasar Mr. Arrogant ' Dumel Vio.
" Nona ada yang bisa kami bantu.." Tanya Rani dari balik pintu kamar.
" Tidak, aku sudah siap." Vio keluar dari dalam kamar. " Terimakasih ya, semoga kita bertemu lagi.." Ia mengucapkan salam perpisahan pada asisten sehari nya itu.
" Terimakasih untuk apa nona?.." Tanya Reni heran.
" Kami akan ikut bersama nona di rumah baru, karna yang mempekerjakan kami kan Tuan Wira.." Timpal Rani.
" Mari nona, Tuan Wira pasti sudah menunggu.." Reni dan Rani mempersilahkan Nonanya untuk jalan duluan.
Vio berjalan menuju lantai satu, disana sudah ada Wira dan keluarga besarnya menunggu.
Setelah berpamitan mereka masuk ke dalam mobil, di ikuti dengan Benny. Reni dan Rani masuk ke mobil yang lain. Mobil melaju menuju rumah baru.
*****
Di lain tempat..
" Tega sekali, hiks hiks dia tak mengubungiku sama sekali.." Protes seorang gadis di depan temannya dengan berurai air mata.
" Sudahlah, Dia sudah menikah relakan saja.." Temannya menimpali dengan enteng.
" Apa? Aku sudah sabar menunggunya selama 10 tahun, dan apa yang aku dapat sebuah kenyataan kalau dia menikah dengan wanita lain.." Prank. Gadis itu membanting gelas di sampingnya.
" Lalu apa yang akan kau lakukan, Vanya aku mohon jangan lakukan hal gila, fokuslah pada tujuanmu disini.."
" Pesankan aku tiket, cari penerbangan lusa.." Gadis yang tak lain adalah Vanya Rosalinda, seorang model papan atas yang tengah memulai debutnya di kancah internasional itu masuk ke dalam kamarnya. Dia menangis sejadi-jadinya, layaknya gelas kaca yang pecah berkeping-keping mungkin itu yang hatinya sekarang rasakan. Bagaimana tidak, tak ada hujan tak ada angin, tiba-tiba mendapat kabar pria yang telah lama menjadi pujaan hatinya menikah dengan wanita lain. Ia terbayang kenangan manisnya dengan pria itu yang membuatnya tak kuasa menahan emosinya.
' Lihat apa yang akan aku lakukan, takkan ku biarkan kau berpaling dariku '
Tok..tok pintu kamar di ketuk. " Boleh aku masuk.." Tanya Tere teman Vanya yang merangkap menjadi manajernya, Ia mengurus jadwal dan segala keperluan Vanya.
" Masuklah.." Jawaban lirih dari dalam kamar.
__ADS_1
" Tidak ada tiket untuk lusa, seminggu lagi ada show dan kita sudah tanda tangan kontrak, jadi tidak mungkin untuk di batalkan. Sabarlah sebentar lagi, kita selesaikan dulu pekerjaan disini, setelah itu kita pulang.." Jelas Tere penuh harap agar temannya itu mau mendengarkannya.
" Ok mau bagaimana lagi, Kau yang atur semuanya. Keluarlah jangan mengganggu ku, hari ini aku ingin bedrest "
" Baiklah tenangkan hatimu.." Tere berpaling dan menutup pintu kamar, membiarkan sahabatnya menenangkan diri.
Di dalam kamar Vanya menyesali telah meninggalkan lelaki yang di cintainya, dulu dia benar - benar ingin meraih impiannya tetapi sekarang melihat semua yang terjadi membuat hatinya hancur.
'Apa aku masih sanggup melanjutkan mimpi ku'
*****
Mobil yang di tumpangi Wira dan Vio telah sampai di depan rumah baru mereka, tapi Wira maupun Vio di buat kaget oleh tulisan di depan pagar, yang bertuliskan Rumah ini telah di segel.
" Apa-apa an ini, siapa yang berani menyegel rumahku.." Wira turun dari mobil dan menanyai Benny, Benny juga tidak bisa menyembunyikan raut wajah kagetnya.
" Tuan muda, saya akan mencari tahu.." Benny terlihat mengotak-atik handphonenya hendak menelpon seseorang. Selesai menelpon Ia segera melaporkan ke Wira. " Tuan, sepertinya ini sudah di atur oleh Tuan besar.." Benny sedikit takut mengatakannya.
" Apa maksudmu!!." Wira tidak sabar untuk mendapat penjelasan.
" Tuan besar telah memilihkan tempat tinggal untuk Nona dan Tuan.."
" Siit.." Wira terlihat kesal. " Dimana?.."
" Apartemen Galindra Tuan.."
Wira langsung masuk ke dalam mobil, Vio yang bingung ingin bertanya namun mengurungkan niatnya.
'Bagaimana aku akan bertanya, wajahnya terlihat kesal dan menakutkan.' Vio membatin dan memilih diam.
Beberapa menit kemudian mobil memasuki area parkir Apartemen mewah.
" Loh kenapa kita kesini.." Tanya Vio yang sedari tadi diam.
" Tuan dan Nona akan tinggal di sini sementara.." Jawab Benny.
Vio mengangguk diam, mau dimana saja toh dia tidak terlalu peduli, yang penting dia bisa tidur dan makan dengan nyaman.
Mereka memasuki pintu Apartemen nomor 112, setelah mengecek semua isi ruangan betapa kagetnya mereka, karna di sana hanya ada 1 kamar tidur.
" Tuan, ini semua perintah Tuan besar.." Benny mulai menjelaskan lagi. " Karena kalian menikah mendadak dan belum terlalu mengenal satu sama lain, maka dari itu Tuan besar berinisiatif memberikan tempat tinggal yang kecil. Agar kalian bisa lebih dekat. Semua pelayan, asisten dan penjaga akan bekerja di pagi hari dan pulang di sore hari. Ini merupakan syarat dari Tuan besar, membolehkan Tuan Wira keluar dari Rumah besar.."
Vio tak bisa membayangkan akan tinggal berdua dengan lelaki arogant ini, dia kehabisan kata.
" Berapa lama?.." Wira tahu ini syarat sementara.
" 3 bulan Tuan, setelah itu kalian bebas ingin tinggal dimana saja.."
" Semua sudah beres, kami undur diri dulu.." Benny mewakili semua pelayan berpamitan.
Tinggal mereka berdua, rumah tiba-tiba terasa sunyi. " Aku mandi dulu.." Wira memecahkan keheningan.
" Ah.. Iya.." Vio agak canggung karna hanya berdua. Dia bingung mau melakukan apa. Apartemen ini benar - benar sempit, hanya ada ruang tamu yang menjadi satu dengan ruang Tv, dapur, meja makan dan kamar utama. Setelah lewat beberapa menit tidak ada suara orang mandi, Ia berpikir bahwa Wira sudah selesai. Ia masuk ke dalam kamar, melihat Wira yang baru keluar kamar mandi dengan hanya memakai handuk di pinggangnya membuatnya kaget dan hampir terjatuh. Untung Wira dengan reflek menangkap tubuhnya. Akan tetapi karna sedikit berlari untuk mengakap Vio, Wira tidak sadar bahwa Ia hanya memakai handuk.
" Aaaaaaaaa.." Vio berteriak kencang, membuat Wira juga kaget dan spontan ikut berteriak.
" Yaaa.. apa yang kau lihat.." Teriak Wira.
__ADS_1
Bersambung..