
" Yaaa!! apa yang kau lihat!!" Wira berteriak panik karna handuk yang melingkar di pinggangnya melorot.
" Dasar mesum!!.." Vio menendang kaki Wira dan berlari keluar kamar sambil menutup matanya.
Wira yang mengaduh kesakitan segera masuk ke ruang ganti. Ada senyum tipis di bibirnya. Dia tadi sempat melihat wajah Vio yang merona malu.
" Lucu juga."
" Gila, gila!! dasar mesum, menodai mata suciku.." Gerutu Vio.
Wira selesai ganti baju, Ia keluar untuk mengambil minum. Tetapi melihat Vio yang mondar mandir tak jelas, timbul niatnya untuk menggoda. " Kenapa kau begitu naif, toh cepat atau lambat juga akan melihatnya.."
" Apa katamu, Hei siapa yang mau melihatnya! dasar mesum.."
" Bukankah kita suami istri, tinggal serumah, tidur sekamar.." Menghempaskan tubuhnya di sofa.
" Siapa yang akan tidur denganmu, aku akan tidur di sini, kau enyahlah.. "
" Terserah kau saja.." Berlalu meninggalkan Vio di ruang tamu.
'Dasar manusia berhati dingin, setidaknya kan mengalah, masa perempuan yang tidur di luar ' Vio.
Malam ini Vio tidur di sofa ruang tamu, berkali-kali Ia mengatur posisi tidurnya tetapi tetap saja tidak nyaman. Sofa itu memang kecil hanya berukuran setengah tubuhnya. Memang sengaja Wisnu tidak menaruh sofa besar agar Ia dan Wira tidak tidur terpisah.
" Bodo amat, aku ngantuk.." Vio akhirnya menyerah dan tidur di kamar.
*****
Sinar mentari pagi mulai masuk menyelinap lewat celah jendela yang tertutup tirai. Pengantin baru itu belum juga membuka matanya. Sepertinya mereka tidur dengan nyaman dan nyenyak.
Ding.. ding.. dong dering ponsel berbunyi memecah kesunyian.
“ Hei, ponsel mu berbunyi, berisik cepat matikan..” Vio menendang kaki pria di sebelahnya.
“ Kau saja yang matikan, jangan menggangguku..” Wira menutup telinganya dengan bantal.
Dengan mata yang masih setengah merem, Vio meraih ponsel di nakas seberang. Ada panggilan masuk dengan nama kontak Bidadariku. Matanya langsung terbelalak melihat nama si penelpon.
“ Hei bangun, ada panggilan di ponsel mu dari bidadari..” Vio membuka bantal di telinga Wira.
Spontan Wira langsung merebut ponselnya dan berdiri keluar kamar.
‘ Apa itu dari wanita yang waktu itu, apa dia masih berhubungan dengan pacarnya padahal kan statusnya sudah menikah ‘ Vio.
“ Ih kenapa aku memikirkannya, haha mau dia punya pacar kek istri lagi kek apa peduli ku..” Ia menyadarkan dirinya dengan menepuk-nepuk pipinya. Kemudian mengecek ponselnya sendiri, ada beberapa pesan dari Mikha. “ Ini sudah jam berapa, bukanya kau ada interview dengan mode desain..” Bunyi pesan dari Mikha.
Membaca pesan itu tanpa membalas, Vio langsung berlari ke kamar mandi. Secepat mungkin Vio bersiap, sekarang Ia sudah berdiri di luar kamarnya.
“ Kapan kita berkencan? Akhir pekan ini? Mmmh baiklah aku akan suruh Benny mengatur semuanya..” Wira masih bertelpon. Di belakangnya ada Vio yang terpaku.
‘Manis sekali kata-katanya.. tapi kalau lihat siapa yang bicara anda semua pasti akan mual ‘ Vio.
“ Apa menguping adalah hobby mu?..” Wira mengagetkannya.
“ So..sorry, aku hanya lewat dan tak sengaja mendengar..” Vio berjalan melewati Wira. Ia mengambil sepotong roti dan selai untuknya sarapan.
“ Lain kali jangan pernah menyentuh benda milikku, apalagi ponselku. Aku paling benci barangku di sentuh sembarang orang!.” Wira menegaskan, sebelum Ia masuk ke kamar.
“ Lagian siapa juga yang mau menyentuh barang milikmu, bukannya kau sendiri tadi yang menyuruhku mematikan dering ponselmu..” Vio mengomel tapi pelan agar Wira tak dengar.“ Aaa sudah jam segini..” Vio membawa rotinya keluar, di luar Ia bertemu asistennya dan Benny.
“ Anda mau pergi Nona?..” Sapa Benny.
__ADS_1
“ Selamat pagi Nona..” Sapa Reni dan Rani.
“ Yaaa, selamat pagi minggir kalian..” Vio berlari tanpa menatap mereka.
“ Sepertinya Non Gleysha buru-buru..” Celetuk Reni.
Di gedung mode desain..
“ Kenapa bisa telat?..”
“ Semalam aku susah tidur..”
“ Baiklah, semoga berhasil, semangat ..”
“ Semangattt..” Mengepalkan tangannya sambil tersenyum gugup.
Hari ini adalah hari dimana Vio interview kerja, Mikha mengantarnya sampai di depan gedung. Vio berjalan masuk melewati lobby dan naik lift ke lantai 8. Di sana sudah antri beberapa orang sesuai nomor urut masing-masing. Vio sedikit tenang karna dia berada di urutan terakhir. Hingga tiba giliran dia di panggil.
“ Pelamar terakhir, saudara Vionitta..”
Vio masuk ruangan interview, ada sedikit rasa gugup karna ini pertama kalinya Ia melamar pekerjaan. Sebenarnya dia ingin membuka usahanya sendiri tetapi setelah berpikir matang, sepertinya dia butuh pengalaman di dunia kerja.
*****
Jam menunjukkan pukul 19.30 malam, Vio masih bersama Mikha di sebuah Cafe tak jauh dari Apartemen tempatnya tinggal.
“ Apa suami tampanmu tak mencarimu? Ini sudah malam loh..” Mengingatkan sahabat di depannya, yang sepertinya masih enggan untuk pulang.
“ Kenapa belum ada pesan masuk, apa aku gagal..” Mengacak-acak rambutnya sendiri. Terlihat frustasi karna belum mendapat hasil dari interview kerjanya hari ini.
“ Mungkin akan di umumkan besok, sebaiknya kau pulang dulu..” Menepuk pundak sahabatnya.
“ Baiklah..” Berjalan gontai meninggalkan Cafe.
“ Dari mana saja kamu?..”
“ Bukan Urusanmu..” Menjawab cuek tanpa menatap lawan bicaranya.
“ Wah, sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu baik padamu, sampai kau kurang ajar padaku!..” Wira mengeraskan rahangnya. Masih duduk di sofa.
“ Apa mau mu? Aku sedang capek tidak mau berdebat..” Vio masih menanggapi dengan ogah-ogahan.
“ Sepertinya kau salahpaham nona muda, aku tidak peduli dengan hidupmu bukan berarti kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau. Apa kau tidak membaca apa yang tertulis di surat perjanjian! Baca lagi sebelum kau ku tendang dari sini!.” Wira melemparkan bukunya dan masuk ke dalam kamar.
Vio tersentak kaget, kenapa Ia bisa lupa siapa Wira. Berani sekali dia berbicara begitu dengan Mr. Arrogant itu. Ia memukul-mukul kepalanya, menyesali kebodohannya. Kalau sampai Wira menendangnya dari sini, sudah di pastikan dia dan keluarganya juga akan hancur bangkrut dan entah jadi apa.
“ Baiklah, pertama mari kita mandi dan membaca lagi isi surat perjanjian itu. Sepertinya si Mr. Arrogant sudah tidur..” Vio mengendap-endap masuk ke dalam kamar. Pelan-pelan membuka dan menutup pintu kamarnya, tetapi masih saja Wira bisa mendengar suaranya.
“ Cih, berani sekali kau masuk seperti maling begitu..”
Vio kaget sekaligus menoleh ke arah Wira. “Anda belum tidur Tuan?..” Tanya Vio sopan, dengan senyuman manis di wajahnya.
“ Setelah aku mau menendangmu keluar baru kau bersikap baik..” Ejek Wira.
“ Maafkan saya yang tidak sopan tadi Tuan, jangan usir saya dari sini..” Mengatupkan tangannya memohon kepada pria licik di depannya.
‘Kalau bukan demi keluargaku, tak sudi aku memohon pada pria arogan sepertimu’ Vio.
‘Haha, matamu penuh kebencian padaku, tapi bibir dan wajahmu memelas belas kasihan padaku'. Wira.
" Apa sudah kau baca surat perjanjian itu? kau sudah tau tugasmu sebagai istri?.."
__ADS_1
" Aku mau mandi dulu Tuan, badanku bau apa kau mau dekat denganku.."
" Cih, Sana mandi!!"
" Baik, permisi tuan.." Vio undur diri menuju kamar mandi.
Jam menunjukkan pukul 22.00 tepat. Vio masih berada di ruang ganti membaca dan menghafal surat perjanjian yang di berikan Wira.
" Apa-apaan ini, masa aku harus melayaninya? melakukan semua perintahnya? Aku tahu tugas istri dari melihat cara Ibukku mengurus keluarga, tapi melayani si Mr. arrogant ini rasanya aku bukan istri tapi budak hiks.." Membanting surat perjanjian yang tak masuk akal itu ke lantai.
" Berapa lama lagi kau akan sembunyi disitu! " Wira mengagetkan Vio.
'Sial kenapa belum tidur sih, kenapa harus menungguku..' Gerutu Vio.
" Maaf Tuan.. "
" Aku pusing."
'Lalu? kalau kau pusing tinggal minum obat atau tidur saja, kenapa masih menggangguku' Vio.
" Apa mau ku ambilkan obat?.."
" Aku tidak bisa minum obat, pijat saja!.."
" Ah akan aku panggilkan tukang pijat besok? kalau sekarang tidak mungkin, ini kan sudah malam.."
" Kenapa harus memanggil tukang pijat, ada kau!.." Wira menunjuk ke arah Vio. Dia sudah memposisikan dirinya, siap untuk Di pijat.
" Ah iya, ada aku. Baiklah akan aku pijat.." Dengan muka masam Vio mendekat dan mulai membuat kepalanya.
'Ya perbudakan telah di mulai ' Vio.
Di lain tempat...
“ Bagaimana apa kau sudah dapat tiket ?..”
“ Belum..”
“ Aku sudah tidak sabar ingin pulang dan bertemu dengannya..”
“ Kau harus sabar, ingatlah bagaimana perjuangan mu mendapatkan semua ini..” wanita di sampingnya menepuk-nepuk pundak sahabatnya.
“ Berapa hari lagi pekerjaan disini selesai?.."
“ Masih ada acara untuk minggu depan, kurang lebih 2 atau 3 minggu lagi baru kita bisa pulang.." Jelas Tere.
" Baiklah, aku akan menelponnya lebih dulu.." Vanya meraih ponselnya, hendak menelpon kontak yang bernama My Love.
" Apa kau akan jadi orang ketiga dalam pernikahannya?" Tanya Tere penasaran.
" Dia yang merebutnya dariku bukan aku!!.." Vanya berdiri hendak menelpon, tetapi Tere masih saja mencercanya dengan pertanyaan.
" Bukankah kalian hanya bersahabat?.."
" Kami lebih dari sahabat!.." Vanya menegaskan. "Sudahalah aku tak perlu menjelaskan statusku, yang jelas aku adalah wanita spesial untuknya.." Jelas Vanya membungkam Tere.
Tuut.. Tuuut Suara dering tersambung. " Lama sekali, angkat dong.." Keluh Vanya.
Nomor yang ada tuju sedang di luar jangkauan, silahkan.. tiit " Kenapa dia tak bisa di hubungi.." Vanya membanting ponselnya ke sofa. Dia kesal karna dia merasa hanya dia yang patah hati, dan merindukannya.
'Apa hanya aku yang merasa bahwa aku spesial di hatimu, kenapa semenjak aku disini tak pernah ada kabar darimu. Lalu tiba-tiba kamu menikah dengan perempuan lain. Harusnya aku menerimamu, aku menyesal.' Vanya masuk ke kamarnya menutup pintu dengan keras, melampiaskan kekesalannya.
__ADS_1
Bersambung..