
Setelah sampai di gudang Diandra dan Celsi segera mengikat tubuh Keila dengan tali, tak lupa mereka memakai masker supaya tidak ketahuan.
"Nih pakek, jangan sampek ketahuan," ucap Diandra memberi masker kepada Celsi dan langsung di pakai.
"Sekarang kita apaain nih anak?" tanya Celsi.
"Di gores dikit enak kali ya? sambil bangunin nih anak," jawab Diandra.
"Emang lu ada barang nya?" tanya Celsi.
"Tenang udah gue siapin nih," balas Diandra mengeluarkan pisau lipat dari tas nya.
"Gass lah, mulai dari lengan aja," suruh Celsi.
Diandra pun mulai melancarkan aksinya tanpa rasa kasihan sedikit pun, sedangkan Celsi? dia hanya tersenyum puas akan hal itu.
"Akhh sakitt," lirih Keila mulai membuka matanya pelan.
"Gitu aja dah lemah lu, bangun," suruh Diandra.
"Ka--kalian siapa?" tanya Keila takut sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Lu nggak perlu tau kita siapa, lu cukup nikmati permainan kita," jawab Diandra yang terus mengores tubuh Keila satu persatu tanpa terkecuali.
"Akhh hentikan, ku mohon ini sakitt ahkk," pinta Keila tapi hanya di hiraukan oleh mereka berdua.
"Hikss sakitt, Bang Kenzii tolong Keilaa sakitt," rengek Keila.
Plak!
Plak!
"Lu bisa diem nggak hah, jadi cewek lemah banget," bentak Celsi yang menampar kedua pipi Keila.
"Eumm kek nya tambah satu goresan lebih seru nih iya nggak Cel, tapi di mana yaa?" tanya Diandra kepada Celsi sambil melihat-lihat tubuh Keila yang sudah penuh dengan darah dan goresan yang amat banyak.
"Di muka tuh, biar rusak sekalian hhh," tawa jahat Celsi.
"Tapi kali ini gue aja ya, lu ambil air lemon dulu gih," lanjut Celsi.
"Ok deh, nih pisau nya, yang banyak ya hhh," jawab Diandra memberikan pisau nya dan Diandra pun langsung mengambil air lemon yang telah di siapkan nya di dalam tas.
"Rasain lu," Ucap Celsi yang menggores pipi Keila tanpa rasa kasihan pun.
Srekk!
Srekk!
Dua goresan pun berhasil ia daratkan di kedua pipi chubby Keila.
"Ahkk hentikann, ini sakitt hikss, kalian tegaa," ucap Keila yang tengah merasakan rasa sakit di sekujur tubuh nya.
"Ini masih di pertengahan loh, kok udah lemah si?" jawab Celsi yang memegang rambut Keila kasar.
"Sakitt," lirih Keila.
"Dan ini akhirnya, rasainn," lanjut Celsi sambil menumpahkan sebotol air perasan lemon ke tubuh Keila.
"Ahkk hikss sakitt, ka--kalian ja--jahatt aww," ungkap Keila yang berbicara berbata-bata.
"Utututu kasihann, makanya jangan berani cari perkara sama seorang DIANDRA SAHADEWA atau terima sendiri akibatnya," sombong Diandra lalu melepaskan maskernya dan di ikuti oleh Celsi.
"ka--kaliann," ucap Keila terkejut.
"Iyaa kenapa hah, mau lawan? sini kalo berani," ejek Celsi lalu mendorong kursi yang di duduki Keila hingga terjungkal ke kiri.
Ingin rasa nya Keila berteriak dan melawan, tapi apa daya? keadaan tak mendukung nya, ia hanya bisa pasrah dan berharap bantuan akan segera datang.
"Dah lah cabut aja yok Cel, biarain dia mati di dalam gudang ini," ajak Diandra dan mengambil tasnya.
"Yokk," sahut Celsi mengambil tasnya tetapi saat melewati tubuh Keila yang sangat memperihatinkan dia malah menendang tubuh Keila tanpa rasa kasihan.
"Ups! terakhir," ucap Celsi sedangkan dengan Diandra dia hanya tertawa lalu mereka pun keluar dari sekolah tersebut tanpa ada orang yang curiga.
Sedangkan dengan Keila? saat ini dia tengah terbaring lemah dengan posisi tubuh masih di ikat dengan kursi, serta tangan yang di ikat sangat kuat, tak lupa tubuh yang penuh akan goresan yang sangat dalam.
__ADS_1
"Tolongg, Bangg Kenzi tolongg hikss, Keila ngga kuatt, sakittt," lirih Keila yang tengah menangis di gelap nya gudang tersebut, karna memang tidak ada lampu di dalam nya cuman ada cahaya matahari yang masuk lewat celah-celah jendela.
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_
Sedangkan dengan Kenzi, dia saat ini tengah menunggu Keila di depan sekolah SMK Merah Putih.
"Duhh Keila mana si? kok belum keluar, padahal kan udah pada pulang semua," ucap Kenzi sambil mondar-mandir.
"Apa terjadi sesuatu sama keila?" cemas Kenzi.
"Aa gue cari lewat hp aja deh, untung gue pasang alat pelacak di hp Keila," ucap Kenzi mengeluarkan handpone nya.
"Lohh posisi hp nya Keila kok ada di dalem? apa mungkin Keila masih di dalem? Tapi ngapain cobak, ahh mending gue nanya ke satpam nya aja dah," khawatir Kenzi.
"Misi pak, saya mau nanya apakah di dalem sekolahan masih ada murid?" tanya Kenzi kepada Pak Rahman.
"Seperti nya tidak ada, memang nya adek nyari siapa?" tanya balik Pak Rahman.
"Saya lagi jemput adek saya tapi kok belum keluar-keluar, nama nya Keila," jelas Kenzi.
"Ohh jadi adek ini anak nya Pak Nando ya," tanya Pak Rahman.
"Iya pak, apakah bapak liat Keila?" ucap Kenzi.
"Tadi bapak liat nak Keila lagi di halte, kek nya lagi nunggu jemputan deh dan saya kira nak Keila udah pulang soalnya udah ngga ada," jelas Pak Rahman.
"Tapi kok saya lacak hp nya Keila masih ada di dalem, apa kemungkinan Keila masih ada di dalem pak," heran Kenzi.
"Begini saja sebaiknya kita cari nak Keila di dalam," ajak Pak Rahman.
"Ya sudah pak ayok," jawab Kenzi.
Mereka pun masuk kedalam untuk mencari keberadaan Keila.
"Bentar-bentar pak, kek nya Keila ada di sekitar sini deh, soal nya GPS nya ngarah ke sini," ucap Kenzi.
"Kalau begitu kita cari saja," usul Pak Rahman.
Mereka pun mencari dan tepat di depan pintu gudang, tiba-tiba ada suara orang yang tengah meminta tolong.
"Iya pak saya juga denger, apa jangan-jangan itu Keila?" firasat Kenzi.
"Bentar pak pintu nya di kunci, bapak ada kunci cadangan nya nggak," tanya Kenzi.
"Oh ada, ini," jawab Pak Rahman memberikan kunci pintu gudang.
cklekk!
suasana di dalam gudang sangat lah gelap cuman ada beberapa cahaya yang masuk melalui celah-celah jendela.
"Hallo apa ada orang?" teriak Kenzi.
Keila yang mendengar ada suara orang langsung berusaha mengeluarkan suara nya untuk berteriak.
"Itu suara bang Kenzi," lirih Keila.
"Bang Ke--kenzi tolong Keila, Keila ada di sini awsss," ucap Keila sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuh nya.
"Suara Keila, berarti memang bener Keila disini," gumam Kenzi yang mendengar ucapan Keila tadi.
"Seperti nya Nak Keila memang berada di sini," ucap Pak Rahman.
"Saya pikir juga begitu pak, mari kita berpencar," jawab Kenzi.
Mereka pun berpencar sambil memanggil-manggil nama Keila berulang kali.
Keila yang merasa nama nya di panggil langsung mengumpulkan tenaga nya untuk berteriak.
"Bang Kenzi Keila di sini hiks, Keila takutt," teriak Keila di sertai dengan tangisan.
Kenzi semakin yakin bahwa Keila berada di sini setelah mendengar teriakan Keila, Kenzi pun mencari Keila di setiap sudut gudang tersebut, sampai di satu sudut gudang paling pojok yang memperlihat kan gadis yang tengah terbaring menahan kesakitan (Keila).
"Yaampun Keila kamu kenapa," cemas Kenzi menghampiri Keila yang dengan kondisi memprihatinkan.
"Pak Rahman Keila udah di temuin, cepet panggil Ambulanc," suruh Kenzi dan di patuhi oleh Pak Rahman.
__ADS_1
Lalu Kenzi pun melepaskan ikatan tali tersebut dan menggendong Keila keluar di ikuti dengan pak Rahman yang tengah khawatir.
"Ya tuhan Kei kamu kenapa? badan kamu kenapa kek gini? ada yang nyakitin kamu pasti, bilang sama Abang biar abang hukum orang nya hikss," ucap Kenzi sambil menangis di tengah-tengah perjalanan sambil menggendong Keila menuju keluar.
"Uustt Ke--keila ngga papa, Abang jan--jangan nangis, Keila ngga su--suka," jawab Keila terbata-bata sambil berusaha tersenyum.
"Kamu yang kuat Kei, kamu harus kuat, demi abang please jangan tutup mata kamu Kei hikss," isak Kenzi yang melihat mata Keila mulai tertutup.
Selang beberapa menit mobil Ambulanc pun datang dan langsung menuju rumah sakit terdekat.
Saat Keila telah sampai di rumah sakit, Kenzi tak henti-hentinya menagis dan berusaha untuk membuat sang adik kembali membuka matanya, tapi nihil.
"Mas tunggu di sini sebentar, biar kami periksa dulu," cegat suster kala melihat Kenzi ingin masuk ke ruang ICU.
"Lakukan yang terbaik sus buat adik saya," mohon Kenzi dan di angguki oleh suster tersebut.
"Ya tuhan selamatkan lah Keila, Kenzi mohonn hikss," mohon Kenzi.
"Telfon bunda sama ayah dulu," ucap Kenzi.
thutt!
thutt!
thutt!
"Kok nggak di angkat si sama ayah? telfon bunda aja," seru Kenzi.
"Iya kenapa Ken?" ucap Bunda astrid.
"Bu--Bundaa Kei--Keila Bunn," ucap Kenzi sambil menangis.
"Keila kenapa Kenzi? kenapa?" panik bunda astrid.
"Sekarang bunda ke RS* buruan Keila dirawat di sini hiks," usul Kenzi.
"Bunda otw," Sahut Bunda Astrid.
Selang beberapa menit Bunda astrid pun datang bersama dengan Ayah Nando tapi dokter belum kunjung keluar.
"Kenzi, Keila kenapa hikss," tanya Bunda Astrid.
"Sabar Bun, tenang," sahut Ayah Nando sambil menenagkan istrinya.
"Kenzi juga ngga tau Bun, tadi pas Kenzi nemuin Keila, Keila ternyata di dalam gudang dan banyak luka gores, maafin Kenzi bun, Kenzi ngga becus jaga Keila hiks," tangis Kenzi.
"Udah ngga papa, kita tunggu dokter nya keluar dulu ya," tenang Ayah Nando.
"Dengan keluarga pasien yang bernama Keila?" ucap dokter yang menangani Keila.
"Iya dok saya Ayah nya, gimana keadaan putri saya?" tanya Ayah Nando yang menghampiri dokter tersebut dan di ikuti oleh Kenzi dan juga Bunda Astrid.
"Begini nak Keila kehilangan banyak darah nya karna luka yang ada di tubuh nya dan luka nya sangat lah dalam, kemungkinan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memulihkan nya, saya saran kan nak Keila di rawat di sini dahulu supaya kami bisa memantau kondisinya," jelas dokter tersebut.
"Tapi anak saya baik-baik aja kan dok?" tanya Bunda Astrid.
"Iya anak ibuk baik-baik saja, saya sudah berikan obat bius mungkin sebentar lagi nak Keila akan sadar, tapi jangan buat dia banyak bergerak, karna luka nya belum pulih," jelas dokter itu lagi.
"Apakah kami boleh masuk dok?" tanya Kenzi.
"Iya silahkan," jawab dokter tersebut.
Mereka pun masuk ke ruang ICU tempat Keila di rawat. "Ya tuhann, kenapa Keila banyak luka gores? bahkan hampir di setiap tubuh nya, kasihan nya anak ku, hiks," ucap Bunda Astrid yang membelai rambut Keila lembut.
"Kenzi ngga tau mah, tadi Kenzi temuin di gudang sekolah dengan kondisi kek habis di siksa," ungkap Kenzi.
"Ayah bakal cari tahu siapa dalang di balik semua ini," tegas Ayah Nando.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1