
Pernikahan.yang mengikat Samanta dan Arkana adalah sebuah pernikahan Bisnis. Mereka menikah bukan karena cinta tapi karena paksaan keluarga mereka. Samanta harus menggantikan anak dah keluarga angkatnya yang kabur ke luar negeri sebulan sebelum hari pernikahan.
Sementara Arkana, dia di ancam akan kehilangan hak warisnya jika menolak pernikahan ini dan mempermalukan keluarga di depan keluarga James yang lumayan di segani di kota ini. Dia harus menyetujui pernikahan tersebut agar bisa menjadi pewaris keluarga konglomerat.
Jika tidak seluruh harta warisan akan jatuh ke tangan sepupunya yang sudah lebih dulu menikah. Kehidupan pernikahan mereka aman -aman saja sejak awal, dengan memegang prinsip tidak ada yang boleh ikut campur urusan masing-masing.
“Tuan, sesuatu telah terjadi. Aktor yang digosipkan terlibat skandal dengan nyonya sudah mengklarifikasi...” Edward asisten sekaligus sekertaris Arkana di kantor melaporkan perkembangan terkini tentang skandal tersebut.
"Semudah itu, aku yakin mereka sudah bekerja sama untuk menutupinya. Dan tolong, jangan gunakan gelar nyonya pada wanita itu, karena dia sama sekali tidak layak.”
"Tuan, tapi aturan keluarga menegaskan bahwa gelar nyonya harus digunakan oleh istri anda.”
"Aku katakan tidak, Gelar itu hanya milik gadis kecilku, tidak ada orang lain yang bisa menggunakannya.”
Arkana memperhatikan kondisi di sosial media, memang ada banyak artikel yang sudah meliput pernyataan aktor tersebut. Sayangnya, Arkana bukan orang bodoh yang gampang di tipu. Sejak tiga bulan di awal pernikahan mereka, rumor itu terus terjadi.
Jadi menangkap Samanta dengan pria yang sama bukanlah hal yang baru lagi..Arka memilih diam di awal karena memang itu bukan urusannya, hanya saja belakangan ini media terus saja membawa mananya dan juga keluarganya.
Media hanya mengenal wajah Samanta karena ketika mereka menikah itu tidak di publish sejarah utuh, hanya mempublish gambar wajahnya saja. Sehingga penulis artikel lebih banyak menyebutnya sebagai Istri CEO atau menantu keluarga Frederik.
“Siapkan mobil, aku akan kembali ke rumah utama. Ayah memanggilku."
“Baik, akan segera saya siapkan.”
Arkana berjalan keluar dari ruangannya, melewati koridor gedung dan menuju ke pintu utama perusahaannya. Mobil terparkir dengan pas di depan, Arkana masuk dan Edward kemudian menjalankan mobil.
Mobil melaju terus sampai mereka tiba di gerbang utama mansion Frederik. Gerbang di buka dan mobil langsung menuju area parkiran setelah menurunkan Arkana di depan pintu utama mansion..
Pria tua.berdiri di sana dengan tongkat kayunya, menatap sang cucu yang baru aja tiba. "Anak nakal! Apa kau sama sekali tidak bisa menjaga kelakuan istrimu?”
“Pak tua, kenapa kau marah padaku? Sejak awal aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Sejak awal ini adalah keinginan kalian, dan lihat hasilnya wanita itu licik itu di luar sana.”
Plak!
__ADS_1
“Diam jika tidak ingin aku marah. Semua ini tidak akan terjadi jika kau bisa lebih perhatian padanya...” Pria tua duduk di kursi dan mengatur napasnya.
“Kakek, aku tidak percaya kau mengangkat tanganmu untuk wanita itu, ap aku masih cucumu?” Arkana menyentuh wajah dimana kakeknya tampar tadi..
”Ini bukan tentang siapa cucuku, tapi tentang tanggungjawab sebagai pewaris perusahaan bisnis keluarga dalam mengatur keluarganya, kau masih belum ada kemajuan dalam hal ini, pria tua ini sungguh kecewa.”
“Ck, dasar pria tua sensitif. Tunggu dan lihat saja, aku pasti akan bercerai!”
Arkana masuk kedalam kamarnya dan mandi. Kakeknya itu terbiasa memukul jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pengaturannya. Seperti halnya pernikahan yang mengikat dirinya sekarang, seharusnya itu batal setelah kabar bahwa pengantin asli kabur keluar negeri.
Tapi Kakeknya, Tuan tua Frederik justru mengatur pengantin pengganti untuknya, dan itu adalah anak angkat yang di pungut oleh keluarga James beberapa tahun silam di panti asuhan.
[Arkana: Edward, siapkan mobil aku ingin keluar]
^^^[Edward: Sudah siap]^^^
Arka turun dari lantai atas dan keluar tanpa peduli tatapan dan panggilan sang kakek. Dia membutuhkan ketenangan, Masuk kedalam ambil Arkana menyetir dan menuju ke Bar langganannya, memesan ruangan VIP dan juga minuman keras.
Dia minum sampai agak mabuk, terdengar dari luar bunyi dentuman musik yang keras. Arkana berjalan dengan sempoyongan keluar dan masuk kedalam mobilnya, dia menteri dengan uring-uringan di malam hari menuju ke rumah pribadinya di pinggir kota.
Pak Tono satpam rumahnya bangun dengan terkejut, dan segera membuka gebang rumah; “Tuan anda kembali?”
Arkana mengabaikan keberadaannya...
.Arkana masuk kedalam rumah dengan penampilan yang buruk. Dia berjalan masuk kedalam salah satu kamar, sangat kebetulan wanita penghuni kamar itu baru saja selesai mandi. Matanya langsung membulat ketika mendapati seseorang di dalam kamarnya.
Bergegas untuk kembali ke kamar mandi tapi tangannya sudah lebih dulu di cengkram oleh Arkana dengan kasar. Dan tubuhnya di lempar dengan kuat keatas ranjang. Samanta menatap horor suami iblisnya.
“Sialan menjauh dariku, anjing Gila!”
Plak!
Tamparan keras diterima oleh pipi kiri Samanta, Sementara itu Tangan Arkana dengan cepat mengunci kedua tangan Samanta di atas kepalanya. Dan menahan gerak kaki Samanta dengan menekannya menggunakan kakinya sendiri.
__ADS_1
“Benar-benar wanita nakal. Apa kau sering bersama dengan priamu selagi aku tidak di rumah, Emm?” Arkana merendahkan suaranya dan berbisik di telinga Samanta.
"Tidak, aku tidak...,”
Plak!
"Aku tidak memberimu hak untuk bicara!”
“Huh, kulit yang sensitif baru di sentuh aja sudah merah,” Arkana merendahkan kepalanya dan menghirup aroma sabun di pangkalan leher Samanta.
"Baumu enak...”
Dia memberikan kecupan di permukaan leher Samanta dan juga dengan gigitan kecil di sekitar lehernya. Mata Arkana tampak aneh, sorotannya tidak biasa dan Samanta dapat dengan jelas mencium aroma minuman keras dari bibirnya.
Sial, Pria ini mabuk lagi!
Samanta ingin melawan tetapi Setiap kali dia melakukan perlawanan, Tindakan Arkana semakin kasar, Pria itu tidak segan-segan bermain fisik padanya dan juga semakin Brutal. Bibir Samanta di hancurkan dengan telak olehnya, dan lagi-lagi Arkana berhasil membuat tanda merah di kulitnya.
Ciumannya kasar dan jubah mandinya di lepas tanpa persetujuan sang pemilik, lidah buaya Arkana terus bermain di sekitar leher jerapah Samanta dan mencetak stempel merah di sana sebagai hak milik.
“Argh! Huhuhu... Hentikan!”
"Gadis nakal harus dapat hukuman...”
”Tidak biarkan aku pergi... jangan lakukan itu lagi...Hiks!” Lagi-lagi Samanta menangis mengetahui dirinya kembali berada dalam situasi ini.
"Jangan melawan, dan nikmati saja. Aku tahu kau haus dengan sentuhan kan, lihat kulitmu sangat putih dan lembut," Suara Arkana kian berubah menjadi lebih manusiawi, dia mulai minum susu lagi dengan gerakan lidah buayanya yang lembut.
Dan kemudian...
Dor!
Satu tembakan selesai dan Burung berhasil masuk kedalam sangkar lagi!
__ADS_1