KABUR DARI MANTAN SUAMI

KABUR DARI MANTAN SUAMI
Rasanya ingin Mati


__ADS_3

Samanta berbaring dengan lembut di atas kasurnya, tulang-tulangnya begitu sakit. Sudah tidak terhentikan lagi rasa sakit yang di dapatkannya selama satu Minggu penuh ini.


Sejak kejadian mabuk anjing liar itu, terjadi. Tidak ada kata damai dalam kehidupan sunyi Samanta. Arkana tidak membiarkan dia untuk istirahat sedikitpun. Pagi hari dan malam hari yang panjang adalah waktu liar si anjing gila tersebut.


Selalu main kuda-kudaan.


Samanta tidak dapat melawan, tubuhnya lemah karena kekerasan yang sering dia dapatkan. Sudah tidak terhitung lagi, umpatan kutukan yang di berikan oleh Samanta pada Arkana.


Samanta bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sekarang jam menunjukkan pukul 17.00 sore, masih ada beberapa jam lagi sebelum Arkana pulang.


Samanta memasak untuk makan malamnya, dia penuh harap agar anjing liar itu tidak kembali, tubuhnya sangat membutuhkan istirahat yang cukup.


Namun mungkin memang takdirnya yang buruk, Samanta melihat Arkana berdiri di ambang pintu ruang makan dan menatap kearahnya.


"Kau, apa kau sudah makan?" Samanta mencoba bertanya dengan tenang.


Arkana menyeringai menatap ke Samanta dan berkata dengan dingin; "Hm, apakah kau menyiapkan semua ini? Sangat bagus, bagaimana jika kita melakukan sebuah permainan kecil?"


Samanta melotot, kakinya gemetar sehingga perlahan dia tanpa sadar meluncur ke belang, ketika Arkana melangkah maju ke ke dekatnya.


"Apakah kau takut? Ini sudah satu Minggu, seharusnya kau sudah terbiasa. Benar bukan?"


"Kau, apa yang mau kau lakukan?"


"Aku hanya ingin bermain dengan istriku. Lihat kulitmu yang lembut ini, dan oh apa ini, lihat bibirmu sangat merah. Apakah ini strategi baru untuk menggoda pria?"


Samanta melotot, dasar suami gila. Bibirnya bukan merah tapi bengkak, seekor anjing liar sering menggigitnya. Samanta bersandar di dinding, kepalanya tanpa sadar menoleh ke arah lain.


"Aku sudah bilang, tatap mataku dan jawab pertanyaannya ku, apa kau masih tidak mengingatnya?" Arkana mencengkram dagu Samanta lalu mengangkatnya.


Kemudian bibir Samanta digigit lagi oleh seekor anjing liar. Rasa perih dirasakan oleh Samanta, pasti berdarah lagi, sangat sakit. Air matanya pun akhirnya tumpah lagi, dan suara tangis kemudian menyerang pendengaran Arkana.


Arkana melepaskan gigitannya lalu memandang Samanta, dan berdecak tidak suka; "Dasar cengeng!"

__ADS_1


Arkana membanting Samanta ke lantai, dan meninggalkan wanita itu tanpa menoleh. Samanta duduk dan memeluk lututnya, masih terus menangis.


Kapan dia bisa bebas dari rumah ini?


Adakah hari dimana dia bisa pergi?


Samanta tidak bisa menahan jika harus mengalami pelecehan dan kekerasan rumah tangga setiap harinya. Bagaimanapun juga dia cuma manusia biasa, bukan robot yang tahan banting.


Samanta berdiri nafsu makannya menghilang, dia akhirnya berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai pertama, mengunci pintunya dan mengurung dirinya di dalam kamar mandi.


Samanta meraih sebuah silet yang ada di sana, entah sudah berapa kali pula Samanta melakukan hal ini, tapi langit sepertinya masih belum mau menerimanya.


Dia menggores area nadinya lagi, goresan itu tidak dalam. Namun cukup untuk membuatnya menjadi tenang sedikit, darah miliknya mengalir, menetes kebawah lantai dingin.


"Aku ingin pergi, ini menyakitkan," Samanta masuk kedalam bak mandi dan membiarkan dirinya diam disana.


Brakk!!!


Gubrak!!


"Buka pintunya wanita sialan!!!" Arkana berteriak dari luar, tadinya dia ingin memulai permainannya tetapi dia tidak menemukan sosok sang istri di ruang makan.


"Kau pasti di dalam kan? Ayolah, jangan sembunyi dariku. Jika kau membuatku puas, aku bisa memberikanmu banyak hartaku. Kau mau kan?"


Samanta mengabaikan pendengarannya, dia tetap menutup matanya, merasakan sesuatu yang mengenai area luka bekas silet tadi, "Tolong biarkan aku mati. Aku tidak kuat," lirihnya


Brakk!


Brakk!


Gubrak!


Pintu akhirnya berhasil di buka oleh Arkana, dia berjalan memasuki kamar Samanta, dan melihat isinya. Lalu kemudian dia berjalan ke arah kamar mandi, karena mendengar suara air yang mengalir.

__ADS_1


Terkejut! Mata Arkana membulat sempurna dan tali yang dia bawa tadi terjatuh di lantai. Dia melihat Samanta sudah tidak sadarkan diri sambil berendam di air, yang sudah mulai keruh.


Arkana bergegas mengangkatnya dan melihat kulit serta wajahnya yang memucat; "Apakah aku terlalu berlebihan?"


Jujur saja setelah menghabiskan malam yang panjang dengan Samanta, Arkana seperti merasakan perasaan yang aneh, tubuhnya bergejolak dan seperti meminta lebih.


Ini perasaan yang sulit dia jelaskan, selama ini dia sudah melakukannya dengan banyak wanita dan tidak pernah ada perasaan yang semenyenangkan ini, Arkana merasa lebih bersemangat dan lelahnya akan hilang ketika dia bersama dengan Samanta.


Istri yang selama ini sudah dia abaikan.


Dia baru menyadari bahwa Samanta memiliki aroma tubuh yang khas dan menenangkan, sehingga itu membuat perasaan Arkana lebih tenang, dan tidurnya juga jadi lebih baik.


Tetapi Arkana tidak bisa menyadari hal ini, baginya Samanta pasti memiliki tujuan sehingga sejak awal tidak menolak perjodohan ini, Arkana melihat Samanta seperti wanita di luar sana.


Hanya menginginkan harta keluarganya.


Hatinya juga masih terus menunggu kepulangan wanita itu, wanita yang dengan tidak elitnya di usir oleh keluarganya. Di buang ke luar negeri, Arkana benci mengingat hal ini.


Sudah dua tahun lamanya Arkana terus berusaha untuk menemukan gadis itu, tetapi sama sekali tidak memberikan hasil yang baik. Kedatangan Samanta di dalam hidupnya sepanjang tahun ini justru semakin membuatnya marah.


Pada awalnya Arkana berpikir Samanta berbeda dengan gadis yang lain lain, tetapi karena rumor di luar sana dan kedekatannya dengan seorang selebriti terkenal, Arkana menjadi ragu dan memungkinkan melampiaskan semuanya pada Samanta.


Setelah dokter memeriksa keadaan Samanta, dia pun berkata; "Tubuh nyonya sangat lemah, dan terlalu banyak luka di tubuhnya. Jika terus seperti ini, itu akan membahayakan hidupnya."


Arkana mengangguk pada dokter kemudian mempersilahkannya untuk keluar dari ruangan tersebut. Setelah dokter pergi Arkana masuk kedalam ruang kamar Samanta, dia berdiri menatap wajah Samanta yang sedang tertidur pulas.


"Apa aku sudah terlalu berlebihan?" Dia mendekat kemudian mengelus kepala Samanta dengan lembut.


"Baiklah, Karen kau sedang sekarat aku akan bersikap baik padamu sebentar.”  Setelah mengucapkan itu Arkana meninggalkan kamar Samanta.


Di dalam ruangan yang hening, Samanta perlahan membuka matanya, kepalanya sangat pusing dan hatinya terasa nyeri. Kenapa laki-laki itu harus datang dan menolongnya? Samanta sudah tidak kuat tinggal di rumah ini, dia ingin kebebasan yang sudah lama dia impikan.


“Aku ingin bebas, bisakah aku mendapatkannya?” Samanta bertanya pada langit-langit kamarnya.

__ADS_1


Hidup Samanta tidaklah baik, dia hanya anak adopsi yang di pungut di panti asuhan dan dibesarkan dengan  baik oleh keluarga angkatnya, kemudian menjadikannya alat tukar dalam bisnis keluarga kelas atas.  Sekarang dia menjadi jaminan kerja sama oleh orang tua angkatnya dan orang tua suaminya, di satu sisi dirinya juga berperan sebagai pengganti.


__ADS_2