KABUR DARI MANTAN SUAMI

KABUR DARI MANTAN SUAMI
Hukuman


__ADS_3

Samanta menatap suaminya dengan tubuh gemetar, tangannya sakit karena baru saja bekerja keras berseluncur dari lantai dua dan kakinya masih tidak bisa menjadi normal.


Matanya memancarkan ketakutan, ketika kakinya memilih untuk berjalan mundur, kaki Arkana akan berjalan maju. Langkah pria itu besar sehingga dia dengan mudah mengikis jarak diantara mereka.


“Ingin mencoba kabur? Kau sama sekali tidak punya kemampuan itu.” Dia menekan dagu Samanta dan membalutnya mendongak agar menatap matanya.


“Lepaskan aku, Aku mohon...”


Srakk!!!


Bunyi cambukan di sisi kiri Samanta membuatnya menjadi terdiam dengan perasaan takut jika sampai benda itu menyentuh kulitnya. Wajah Arka yang tampan tapi sayang seperti anjing berada tepat di depan matanya.


“Kau...”


Uhmpt....


*Gadis nakal harus diberi hukuman...”


Setelah berisik begitu, Samanta merasakan rasa sakit di telinganya dan sesuatu yang tidak bertulang mulai menyapu kulitnya. Delima merah Arkana turun ke leher jerapah dan mulai bermain disana.


Mengangkat tubuh Samanta, Arkana membaringkannya di kursi panjang tepat santai di pinggir kolam renang. Cambuk tadi, Arkana mengubahnya menjadi tali pengikat untuk mengikat pergelangan tangan Samanta.


Tentu saja, dia menghindari tempat dimana Samanta menggores kulitnya dengan Silet. Matanya, Senyum puas yang menjijikan muncul di depan mata Samanta, Pakaiannya sudah robek di beberapa tempat dan bahkan tangan nakal Arkana sudah bermain-main dengan taman bunga Krisan ya.


"Wow, kau cepat sekali mencair. Aku baru menggunakan jari, belum peliharaanku..."


“Aku mohon, tolong hentikan. Sampai kapan kau akan memperlakukan aku seperti ini? Tolong biarkan aku pergi,” mata Samanta tertutup dan enggan untuk menatap Arkana.


Arkana. Berbisik di telinga lembut Samanta, “Em, awalnya aku sudah tidak ingin menyentuhmu tapi kau nakal, aku harus mendisplinkan istriku.”


Tangan Arka meremas kulit pinggang Samanta yang tipis, bibir delimanya mulai bertugas memberikan banyak stempel, kadang-kadang delima itu akan menampakan giginya dan menggigit kecil leher jerapah jenjang Samanta.


Dia kembali di hancurkan oleh pria gila!


“Umpt...”


Bibirnya diserang, dan lidah buayanya kembali masuk untuk menuntut. Buaya jantan menarik lidah buaya betina dan mengajaknya untuk melakukan tarian.di aula dansa. Sambil mereka berdansa, sambil pula jari-jari tangan Arka melakukan tugasnya.


“Arght!!!”


“Diam dan nikmati hukumanmu..."

__ADS_1


Pakaian Samanta di tanggalkan, dibuka secara paksa. Pria gila itu membuang semua pakaiannya kedalam kolam. Udara malam hari begitu dingin, dan rumah itu hanya akan di huni oleh keduanya.


Di malam yang gelap, suara-suara menjijikkan terdengar dari arah belakang rumah yang bercampur dengan isakan. Tubuh Samanta polos dan murni, buah kembarnya digigit oleh buaya jantan dan Bunga Krisan ya di masuki oleh beberapa jari-jari nakal.


Plak!


Plak!


Plak!


Semangka besar Samanta di tampar oleh tangan Arkana, “Buka kakimu lebar-lebar...”


“Tidak! Jangan...aku mohon padamu" Samanta mencoba untuk memberontak, dia tidak mau burung besar itu menghancurkannya lagi.


Plak!


Tamparan Keras diberikan Arkana lagi, “Sial!


plak!


“Kau wanita sialan!”


Plak!


Prak!


“Lakukan tugasmu, pengganti. Layani dan buat aku puas”


Plok...


Plok...


“Arght! Sakit... Hiks"


Burung besar kembali masuk kedalam sangkar, tanpa permisi pada sang pemilik. Samanta dia dudukkan di atas pangkuannya, lalu dengan paksa Arka menggerakkan pinggulnya,


“Sial, kau memang wanita nakal. Apa priamu pernah menyentuhmu seperti ini? Katakan, burung siapa yang membuatmu puas” Bisikan yang di dapatkan oleh telinga Samanta.


“Arght! ngh..uhm..."


Samanta menggigit bibir delimanya untuk mencegah suara jijik itu keluar. Tubuhnya sudah lelah tetapi Arkana masih belum berhenti, sambil dia memompa balon, tangannya bermain di buah kembar Samanta dan bibirnya kembali mencetak beberapa stempel merah di leher jerapah belakangnya.

__ADS_1


Setelah aktivitas panjang itu, Arka mengangkat tubuh Samanta dan membawanya ke dalam kamarnya. Dia membaringkan Samanta di bak mandi kamarnya, lalu membersihkan tubuh yang penuh dengan aroma Maranello miliknya.


“Sial, aku pasti sudah gila karena terus berhasil pada tubuh wanita ini..Tidak, Arka dia hanya pengganti. Setidaknya biarkan anak ini pulih lalu cerai.”


“Ya, Tujuanku adalah bercerai dengannya dan menunggu kepulangan Gadis kecilku.”


Setelah membersihkan tubuh Samanta dan memakaikannya baju tidur, Arka keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya sendiri, melakukan hal yang sama kemudian pergi tidur.


Arka sebenarnya sudah ingin mengabaikan Samanta lagi, dan membiarkan wanita itu tetapi karena Samanta berniat kabur, dalam kondisi yang baru saja pulih, Arka tidak punya pilihan lain selain menyelesaikan nafsunya dan membuat wanita itu tidak bisa kemana-mana.


Itu semua untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi, jika Samanta berhasil kabur, dia tidak tahu hal seperti apa yang akan dia hadapi dan perceraian tidak bisa dia lakukan selama kondisinya masih seperti itu.


“Sial, aku sudah berbaik hati akan melepaskannya tapi dia melakukan sesuatu yang bisa mencegah kebebasannya sendiri..."


",Dasar, memang wanita kalangan bawah yang bodoh"


Keesokan harinya, Samanta membuka matanya dan merasakan tubuhnya yang akan remuk. Tidak bisa bergerak. ingatannya kembali pada kejadian sialan yang menimpanya lagi. Dia di hancurkan lagi dan sarangnya dimasuki lagi.


"Nona, apa kau sudah bangun?”


Samanta mengernyit, kenapa bisa ada pelayan di rumah?Sebelumnya.hanya ada dirinya saja. Samanta menggeleng tidak ingin memikirkannya, sudah jelas pasti Arkana. Pria itu tahu dia tidak bisa bergerak sehingga meminta seseorang untuk membantunya.


“Masuklah...”


Seorang wanita masuk, dia adalah istri Pak Tono Penjaga rumah. Samanta beberapa kali bertemu dengannya saat pergi berbelanja dan kebetulan pernah melihatnya mengantarkan makan siang pada Pak Tono.


“Nona, apa anda baik-baik saja? Apa tuan melakukan sesuatu pada anda?” Wajah wanita itu tampak khawatir.


"Aku baik-baik saja bibi, kau tidak perlu khawatir padaku. Ngomong-ngomong kemana pria itu? Apa dia sudah ke kantor?”


“Oh, tuan memiliki perjalanan bisnis dia akan kembali dalam beberapa hari ke depan.”


“Begitukah?"


Samanta memikirkan hal ini, kemarin dia gagal kabur karena alarm pencuri yang di setel oleh Arka di halaman kolam renang, Mungkin dia bisa menggunakan cara lain untuk pergi, selagi pemilik rumah tidak di tempat.


Samanta baru saja memikirkan beberapa cara sayangnya dia harus kembali mendengar Bibi Ann mengatakan: “Nona, tuan meminta agar Nona tetap di rumah dan tidak meninggalkan rumah sampai Tuan kembali.”


Huh?


Samanta diam, tidak meninggalkan rumah adalah aturan yang sudah mengikatnya sejak awal pernikahan. Kenapa masih meninggalkan pesan seperti itu? Aneh sekali.

__ADS_1


“Baiklah Bibi, aku tidak akan meninggalkan rumah sampai anjing itu kembali.”


Samanta menutup matanya dan menghela napas, andai saja keberuntungan menghampiri dirinya dalam beberapa hari, Seperti misalnya dia tiba-tiba dibebaskan oleh Arka.


__ADS_2