Kalau Jodohku Adalah Mantanku( Aku Bisa Apa?)

Kalau Jodohku Adalah Mantanku( Aku Bisa Apa?)
Sania Sakit


__ADS_3

Setelah mendengar semua yang diucapkan Riska, Zidan langsung menuju mobilnya. Ia menangis sesenggukan di sana. Bagaimana bisa ia sebodoh ini? Bagaimana bisa ia salah paham sampai bertahun-tahun, menyakiti diri sendiri. Berjuang sekuat tenaga untuk menghilangkan bayang Sania setiap hari. seharusnya ia tak perlu melakukan itu.


“Kesalahpahaman ini, pasti membuat Sania sakit. Aku harus mengganti hari-hari menyakitkan sania dengan senyuman merekah.” Kata Zidan dalam hati.


Ia segera melajukan mobilnya ke rumah Sania. Ke rumah ayah Sania tepatnya . Ia harus bicara dengan ayah Sania.


Setelah sampai di sana ia langsung mengetuk pintu, dan mengucap Salam. Ayah sania membukakan pintu. Ia kaget melihat Zidan menemuinya, dan Zidan sudah jauh brubah dibandingkan dulu.


“ Silahkan duduk, Nak Zidan.” Kata Pak Toni, Ayah Sania.


“ Terima kasih,Pak.” kata Zidan. ia lalu duduk di sofa.


“ Bagaimana kabarmu? Lama sekali Bapak tidak melihatmu, Nak Zidan.”


“Alhamdulillah sehat Pak. Bapak pasti sudah mendengar cerita dari Sania soal saya. ”


“ Iya.”

__ADS_1


“ Maaf Pak, saat itu saya dikuasai emosi. Hingga tidak mau mendengar penjelasan Sania. sekarang saya menyesal pak, saya ingin memperbaiki Semuanya.” Kata Zidan to the point.


“ Nggak apa-apa nak Zidan. Semuanya sudah diatur sama Gusti Allah. Kita tinggal menjalankan.” kata Ayah Sania sambil membenarkan letak songkok hitamnya.


“Bapak, izinkan saya mengambil alih tanggung jawab Bapak atas sania pak. Izinkan saya membahagiakan Sania dan menjadi imam yang baik untuk Sania.” Kata Zidan. Ia langsung saja mengutarakan niatnya. Ia tak mau terlalu lama berbasa-basi. Dari suaranya trerdengar jelas. Ia sedang gemetar. Matanya kembali berkaca-kaca. Ia tak mau kelihangan Sania lagi.


“Nak Zidan, sebenarnya ini ada apa? Mengapa tiba-tiba nak Zidan bicara seperti itu?” kata Pak Toni. Ia menatap laki-laki yang ada dihadapannya itu dengan tatapan ingin tahu. ada apa sebenarnya?


“ Bapak tahu kan, kalau Sania tidak bahagia dengan Rizal. Bapak, saya mohon, izinkan saya memperbaiki semua kesalahan saya di masalalu yang pernah meninggalkan sania tanpa kabar.” Kata Zidan. Ia terus memohon. Wajahnya lesu, muram dan memererah tapi bukan karena amarah.


Zidan mengangguk. Lalu ia menunduk.


“ Kamu sudah bicara dengan Sania?”


“Belum Pak, Saya hanya butuh restu dari Bapak. Kalau Bapak mengizinkan saya untuk menjadi imam Sania, saya tidak perlu menanyakan kesediaan Sania. Sania pasti akan menaati permintaan Bapak. Sania tidak mungkin menolak permintaan Bapak” Kata Zidan. Zidan tahu betul, Sania sangat menyayangi Ayahnya, Orangtua tunggalnya. Jadi, Sania pasti akan menuruti permintaan Pak Toni.


Pak Toni tahu betul siapa Zidan. Ia tahu Zidan anak yang baik, Sopan dan bertanggung jawab. Pak Toni juga tahu, kalau anaknya masih mencintai Zidan meski Sania tidak pernah bercerita. Lagi pula pak Toni tidak begitu menyukai Rizal. Mungkin jalan terbaik adalah Pak Toni menerima lamaran Zidan untuk anaknya.

__ADS_1


“ Zidan berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan putri Bapak?”


Tanya Pak Toni


“ Apakah Bapak ragu dengan Zidan?” Rizal balik bertanya.


“ Bapak hanya ingin mendengar kesaksianmu”


“ Saya berjanji pak, Zidan akan berusaha menjadi imam yang baik untuk Sania.”


“ Baiklah, Bapak menerima lamaranmu. Kapan kau berencana untuk menikahi putri Bapak?”


“ Besok Pak,”


“ Besok?, nak Zidan, ini pernikahan bukan permainan.” Kata pak Toni. ia terlihat shock. " Nekat sekali anak muda ini" pikirnya


tulisan ini tidak saya lanjutkan. Jangan dibaca

__ADS_1


__ADS_2