
Maya, Dian, Rizal, dan Irfan melanjutkan perjalanan mereka melalui gua yang gelap, membawa dengan mereka artefak Kehidupan Abadi yang telah mereka temukan. Mereka merasa terbebani oleh tanggung jawab besar yang sekarang mereka miliki.
"Saya tidak tahu apa yang harus kita lakukan dengan artefak ini," kata Rizal dengan nada bingung.
Maya menatap artefak itu dengan penuh kagum. "Ini adalah benda yang sangat berharga dan berbahaya. Kita harus menjaganya dari orang-orang yang mungkin akan menggunakan kekuatannya untuk kebaikan mereka sendiri."
Irfan mengangguk setuju. "Tapi bagaimana kita bisa yakin bahwa kita bisa menjaga artefak ini dengan aman?"
Dian menyusul, "Kita juga harus mencari tahu lebih banyak tentang makhluk raksasa yang kita temui di sini. Kenapa dia tiba-tiba hidup kembali ketika Tuan Gelap menyentuh artefak itu?"
Semua pertanyaan itu menggantung dalam udara, tetapi mereka tidak memiliki jawaban saat ini. Yang mereka tahu adalah bahwa mereka harus menemukan jalan keluar dari gua ini dan mencari jawaban atas semua pertanyaan itu.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka melalui gua yang gelap, mengandalkan lampu senter mereka untuk membimbing mereka. Mereka merasa seperti tenggelam dalam dunia bawah tanah yang gelap dan misterius. Setiap suara gemuruh atau desiran angin membuat mereka merasa semakin cemas.
Saat mereka terus menjelajahi gua, mereka tiba di sebuah ruangan besar yang berisi kolam air yang tenang. Di tengah kolam, ada sebuah pulau kecil dengan pohon-pohon kecil yang tumbuh subur. Ini adalah pemandangan yang mengejutkan di tengah kegelapan gua.
Dian menatap kolam itu dengan penuh kekaguman. "Ini seperti dunia yang terpisah di dalam gua ini."
Maya mengamati air kolam dengan cermat. "Mungkin air di sini adalah sumber kehidupan abadi yang dimiliki oleh artefak ini. Barangkali itulah sebabnya makhluk raksasa itu tiba-tiba hidup kembali."
Rizal berjalan menuju kolam dan mencoba mencelupkan tangan ke dalam air. Tetapi saat tangannya menyentuh permukaan air, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Air mulai berputar dan membentuk pusaran yang kuat, menyeretnya masuk ke dalam kolam.
"Rizal!" teriak Maya, mencoba menjangkau tangan temannya yang hampir tenggelam dalam pusaran air. Tetapi Irfan segera menariknya kembali dengan susah payah.
Tiba-tiba, kolam air itu mengeluarkan gemuruh yang mengejutkan, dan sesuatu yang sangat besar muncul dari dalamnya. Itu adalah makhluk raksasa yang mirip dengan yang mereka temui sebelumnya, tetapi jauh lebih besar dan kuat.
Makhluk itu menatap mereka dengan mata yang penuh kemarahan. Tanpa ragu, makhluk itu meraih artefak Kehidupan Abadi dari tangan Maya dan meremasnya dengan kekuatan besar. Artefak itu hancur berkeping-keping dalam genggaman makhluk tersebut.
__ADS_1
"Sekarang, aku akan menjadi abadi!" teriak makhluk itu dengan suara menggema.
Maya, Dian, Rizal, dan Irfan merasa putus asa. Mereka telah kehilangan artefak yang sangat berharga, dan sekarang mereka harus menghadapi makhluk raksasa ini yang tampaknya memiliki kekuatan yang tak terbatas.
Tapi tiba-tiba, sesuatu yang aneh terjadi. Makhluk raksasa itu tiba-tiba berhenti, menggigit bibirnya dengan keras, dan kemudian perlahan-lahan jatuh ke tanah.
Mereka semua menatap ke arah makhluk tersebut, bingung oleh apa yang baru saja terjadi. Dan kemudian, mereka melihat seseorang yang tidak mereka kenal muncul dari belakang pohon-pohon di pulau kecil itu.
Dia adalah seorang pria tua yang berpakaian seperti penyihir zaman kuno, lengkap dengan jubah dan tongkat kayu. Dia tersenyum tipis ke arah mereka.
"Terima kasih telah membebaskan saya dari kutukan ini," kata pria tua itu. "Saya adalah penjaga artefak Kehidupan Abadi, dan saya terjebak di dalam kolam ini selama berabad-abad. Makhluk itu adalah inkarnasi jahat saya yang diciptakan oleh artefak ini."
Maya, Dian, Rizal, dan Irfan menatap pria tua itu dengan heran. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan.
Pria tua itu melanjutkan, "Artefak ini seharusnya tidak ada di tangan manusia. Itu adalah sumber kekuatan yang sangat besar, dan hanya bisa dijaga dengan aman jika dikembalikan ke tempatnya yang seharusnya."
Mendengar ini, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka harus mengembalikan artefak Kehidupan Abadi ke tempatnya yang seharusnya dan menghentikan segala bentuk kejahatan yang mungkin diciptakan oleh kekuatannya.
Maya, Dian, Rizal, dan Irfan melanjutkan perjalanan mereka keluar dari gua yang gelap. Mereka merasa lega setelah berhasil melepaskan diri dari makhluk raksasa dan menyelamatkan pria tua yang ternyata adalah penjaga artefak Kehidupan Abadi.
Saat mereka terus menjelajahi gua yang berliku-liku, mereka bisa merasakan adanya perubahan dalam suasana. Udara yang tadinya lembap dan berbau tanah sekarang menjadi lebih segar. Mereka mulai mendengar suara air mengalir, dan cahaya matahari mulai menembus masuk dari celah-celah di langit-langit gua.
Rizal berseru dengan gembira, "Kita hampir keluar dari gua ini!"
Namun, ketika mereka mencapai bagian gua yang lebih terang, mereka terkejut oleh pemandangan yang mereka temui. Mereka telah sampai di sebuah kawasan yang terbuka dan luas, yang sepertinya merupakan sebuah lembah di dalam gua itu sendiri. Sungai kecil mengalir di tengah-tengah lembah ini, dan tumbuhan hijau yang subur tumbuh di sekitarnya.
Ini adalah pemandangan yang sangat aneh, seperti sebuah kebun rahasia yang tersembunyi dalam gua bawah tanah. Maya, Dian, Rizal, dan Irfan merasa terpesona oleh kecantikan alam yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
"Kita harus berhati-hati," peringatkan Irfan. "Kawasan ini bisa saja penuh dengan bahaya yang kita tidak tahu."
Mereka melanjutkan perjalanan di sepanjang sungai kecil, mencari petunjuk tentang bagaimana mereka bisa keluar dari gua ini dan menuju tempat asal artefak Kehidupan Abadi. Mereka menyadari bahwa mereka tidak sendirian di sini. Makhluk-makhluk aneh dan tak dikenal mulai muncul dari semak-semak dan pohon-pohon.
Dian berusaha menjalin kontak dengan makhluk-makhluk tersebut. "Kami tidak ingin menyakiti kalian. Kami hanya ingin keluar dari gua ini."
Namun, makhluk-makhluk itu hanya menatap mereka dengan mata yang tak berkedip, tidak memberikan tanda-tanda pemahaman atau kerjasama.
Saat mereka melanjutkan perjalanan, tiba-tiba, mereka mendengar suara lonceng berdenting dari kejauhan. Suara itu terdengar jauh dan samar, tetapi mereka merasa bahwa itu adalah petunjuk.
Maya memperhatikan tanda di sekitarnya. "Apa kalian mendengar itu? Itu seperti suara lonceng."
Rizal mengangguk. "Saya pikir kita harus mengikuti suara itu. Mungkin itu akan membawa kita keluar."
Mereka mengikuti suara lonceng yang semakin nyaring, mengarahkan mereka ke arah yang benar. Semakin mereka mendekat, semakin jelas suara lonceng itu, dan semakin cepat mereka berjalan.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah gundukan kecil di dalam lembah gua tersebut. Di atas gundukan itu, mereka menemukan sebuah gereja kecil yang terbuat dari batu-batu. Suara lonceng berasal dari gereja tersebut.
Maya mendekati pintu gereja dan memberanikan diri untuk membukanya. Mereka melangkah masuk, dan di dalam gereja, mereka menemukan seorang pendeta yang duduk di bangku kayu. Dia adalah seorang pria tua dengan jubah putih, dan dia tersenyum saat melihat mereka.
"Selamat datang, anak-anak," kata pendeta itu dengan suara lembut. "Saya telah menunggu kedatangan kalian."
Maya, Dian, Rizal, dan Irfan bingung. Bagaimana pendeta ini bisa tahu tentang kedatangan mereka?
Pendeta itu menjelaskan, "Saya adalah penjaga pintu keluar dari gua ini. Saya juga adalah penjaga artefak Kehidupan Abadi. Kalian telah melepaskan kutukan yang menahan saya di dalam gua selama berabad-abad, dan saya berterima kasih atas itu."
Mereka menggambarkan perjalanan mereka dan bagaimana mereka kehilangan artefak Kehidupan Abadi. Pendeta itu mendengarkan dengan serius.
__ADS_1
"Pencarian kalian yang mulia harus berlanjut," kata pendeta itu. "Artefak itu sangat berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah. Saya akan membantu kalian menemukan jalan keluar dari gua ini dan menuju tempat asal artefak tersebut."
Dengan bimbingan pendeta tersebut, Maya, Dian, Rizal, dan Irfan melanjutkan perjalanan mereka. Mereka merasa bahwa mereka semakin mendekati tujuan mereka, dan keinginan untuk mengembalikan artefak Kehidupan Abadi ke tempat yang seharusnya semakin kuat dalam hati mereka.