
Malam telah turun di hutan Sumatra, dan kelompok petualang yang terdiri dari Melati, Dr. Javier, Irfan, Dian, dan Adi masih bersembunyi di dalam hutan yang lebat. Mereka tahu bahwa mereka harus tetap waspada karena tentara bayaran yang mencari mereka masih berada di dekat.
Melati duduk di bawah pepohonan dengan wajah cemas. Dr. Javier berada di dekatnya, mencoba menenangkannya. "Kita harus tetap tenang dan berpikir jernih. Yang terpenting sekarang adalah melindungi artefak budaya itu."
Melati mengangguk, tetapi ekspresi khawatirnya tidak hilang. "Saya hanya khawatir tentang suku Mentawai. Mereka juga terlibat dalam masalah ini sekarang."
Irfan dan Dian bergantian berjaga-jaga di sisi lain. Mereka memegang senapan laras pendek yang mereka bawa dari Jakarta. Dian berkata kepada Irfan dengan suara pelan, "Kita harus terus memastikan mereka aman."
Irfan mengangguk setuju. "Kita harus berusaha semampu kita. Mereka sudah membantu kita, sekarang giliran kita untuk melindungi mereka."
Sementara itu, Adi duduk agak terpisah dari yang lain, terlihat sedikit murung. Dr. Javier mendekatinya dan duduk di sampingnya. "Apa yang kamu pikirkan, Adi?"
Adi menatap ke arah hutan dengan pandangan kosong. "Saya merasa bersalah. Semua ini terjadi karena saya. Saya yang membawa artefak itu ke Jakarta."
Dr. Javier menepuk bahu Adi dengan lembut. "Kamu tidak bisa memprediksi semua ini, Adi. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita mengatasi situasi ini dan memastikan artefak tersebut kembali ke tangan yang seharusnya."
Malam berlalu dengan cepat, dan kelompok itu terus berjaga-jaga. Mereka mendengar suara-suara hutan yang mencekam, tetapi tidak ada tanda-tanda tentara bayaran yang mencari mereka.
Pagi tiba, dan mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka melalui hutan. Mereka merencanakan untuk mencari tempat yang lebih aman untuk bersembunyi dan menghubungi bantuan dari Jakarta.
Suku Mentawai yang telah membantu mereka sebelumnya memberikan petunjuk tentang jalur yang aman. Mereka menjelaskan bahwa ada daerah terpencil di dalam hutan yang mungkin dapat digunakan untuk bersembunyi sementara.
Kelompok itu mengikuti petunjuk suku Mentawai dan merambah lebih dalam ke dalam hutan. Mereka harus melewati sungai-sungai yang deras dan medan yang berat. Adi terus mengenang kata-kata suku Mentawai tentang pentingnya menjaga harmoni dengan alam.
__ADS_1
Setelah beberapa hari perjalanan, mereka tiba di sebuah kawasan hutan yang sangat terpencil. Tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia, dan mereka merasa bahwa mereka akhirnya aman.
Melati duduk di tepi sungai kecil yang mengalir di dekat tempat persembunyian mereka. Dr. Javier duduk di sebelahnya, dan mereka berdua menatap air yang tenang.
Melati berbicara dengan suara pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Ini semua terasa seperti mimpi buruk. Siapa yang akan menduga bahwa pencurian artefak ini akan mengarah pada petualangan seperti ini?"
Dr. Javier menatap Melati dengan penuh empati. "Kadang-kadang kehidupan bisa membawa kita ke tempat yang tak terduga. Yang penting sekarang adalah kita harus tetap bersatu dan berusaha sekuat tenaga untuk memastikan artefak ini kembali ke tempat yang seharusnya."
Irfan dan Dian bergabung dengan mereka, membawa berita yang cukup menggembirakan. Mereka berhasil menghubungi tim mereka di Jakarta, dan bantuan sudah dalam perjalanan.
Namun, ketenangan mereka terganggu oleh suara-suara aneh yang datang dari hutan sekitar mereka. Mereka mendengar gemuruh yang semakin mendekat, dan pepohonan yang bergoyang-goyang di sekitar mereka.
Adi mendekati mereka dengan wajah pucat. "Saya tahu ini terdengar aneh, tetapi suara ini seperti suara ribuan kaki yang mendekat."
Tiba-tiba, dari dalam hutan muncul sekelompok makhluk yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Makhluk-makhluk itu memiliki wajah-wajah aneh dan kulit berwarna abu-abu yang bersisik. Mereka mengenakan pakaian yang terbuat dari dedaunan dan ranting-ranting.
Dr. Javier mencoba berbicara dengan bahasa Inggris, tetapi makhluk itu hanya menatap dengan heran. Mereka berbicara dengan bahasa yang sama sekali asing bagi kelompok petualang ini.
Sementara itu, suara gemuruh semakin mendekat, dan kelompok petualang itu menyadari bahwa mereka terjebak di antara makhluk-makhluk asing ini dan bahaya yang datang dari hutan.
Ketika suara gemuruh semakin mendekat, kelompok petualang yang terjebak di antara makhluk-makhluk asing ini mulai merasa panik. Mereka mencoba berbicara dengan bahasa yang mereka pahami, tetapi komunikasi tidak mungkin terjadi. Makhluk-makhluk itu terlihat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Adi mencoba berjalan mendekati salah satu makhluk dengan hati-hati, mencoba menunjukkan bahwa mereka tidak berbahaya. Namun, makhluk itu tetap waspada dan tidak merespon dengan baik.
__ADS_1
Sementara itu, suara gemuruh semakin dekat, dan kelompok petualang itu harus memutuskan apa yang harus mereka lakukan. Dr. Javier berbicara dengan suara tenang, "Kita harus mencoba kembali ke tempat persembunyian kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita bertahan di sini."
Melati mengangguk setuju, dan mereka mulai bergerak menjauhi makhluk-makhluk asing itu, tetapi tetap berjalan hati-hati. Makhluk-makhluk itu mengikuti mereka dengan jarak yang aman, tetapi tidak menyerang.
Setelah beberapa waktu, kelompok petualang itu berhasil kembali ke tempat persembunyian mereka. Mereka berpikir bahwa mereka telah melewati bahaya, tetapi ternyata masalah baru muncul.
Bantuan dari Jakarta belum tiba, dan mereka merasa semakin terjebak di dalam hutan yang misterius ini. Mereka duduk bersama di bawah pepohonan, mencoba merencanakan langkah selanjutnya.
Irfan mencoba menghubungi tim mereka di Jakarta, tetapi sinyal sangat buruk di dalam hutan ini. "Kita perlu mencari tempat yang lebih tinggi untuk mencoba menghubungi Jakarta. Bantuan harus segera datang."
Dian menambahkan, "Sementara itu, kita juga harus mencari cara untuk berkomunikasi dengan makhluk-makhluk asing tadi. Siapa tahu mereka bisa membantu kita."
Adi menunjukkan bahwa makhluk-makhluk asing tadi tidak terlihat seperti ancaman. "Mungkin kita bisa mencoba berbicara dengan mereka lagi dengan bahasa tubuh atau mencoba menunjukkan niat baik kita."
Malam pun tiba, dan mereka memutuskan untuk tidur bergiliran untuk menjaga keamanan. Mereka merasa tegang dan waspada setiap saat, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pagi tiba, dan bantuan dari Jakarta masih belum tiba. Kelompok petualang itu memutuskan untuk mencoba berkomunikasi kembali dengan makhluk-makhluk asing tadi. Mereka berjalan mendekati tempat mereka terakhir kali bertemu dengan makhluk-makhluk itu.
Namun, saat mereka tiba di tempat itu, makhluk-makhluk asing tersebut sudah tidak ada lagi. Mereka hanya menemukan jejak-jejak kaki yang mengarah ke dalam hutan.
Melati mencoba mengikuti jejak itu dengan hati-hati. Dr. Javier dan yang lainnya mengikuti dengan waspada. Jejak itu membawa mereka lebih dalam ke dalam hutan, melewati pepohonan yang semakin lebat.
Tiba-tiba, mereka tiba di sebuah ruang terbuka yang sangat luas. Mereka tercengang oleh pemandangan yang ada di depan mereka. Ruang terbuka itu dihuni oleh puluhan bahkan ratusan makhluk asing yang lebih besar dari yang sebelumnya.
__ADS_1
Makhluk-makhluk itu terlihat tenang dan tidak mengancam, bahkan terlihat ramah. Mereka berkumpul di sekitar sebuah patung batu besar yang sangat mirip dengan artefak budaya yang dicuri dari Jakarta.
Melati, Dr. Javier, dan kelompok petualang itu melihat bahwa makhluk-makhluk asing itu tengah melakukan ritual di sekitar patung batu tersebut. Mereka tampaknya menghormati artefak itu.