
Aryan, Maya, dan Dian melangkah lebih cepat, mencoba meninggalkan kelompok anak muda yang tampak mencurigakan itu. Mereka merasa ketegangan yang menggelayuti situasi, tetapi mereka juga sadar bahwa mereka harus tetap tenang dan waspada. Kehidupan di jalanan telah mengajari mereka untuk tidak mudah panik dalam situasi genting.
Kelompok anak muda itu semakin mendekati mereka. Ada lima orang dalam kelompok itu, semua tampak lebih tua daripada Aryan, Maya, dan Dian. Salah satu dari mereka, seorang pemuda berbadan besar dengan tatapan tajam, melangkah maju.
"Pergi dari sini, kalian tiga!" kata pemuda berbadan besar itu dengan nada kasar. "Kami ingin jalanan ini untuk diri kami sendiri."
Maya menggelengkan kepala. "Kami tidak mencari masalah. Kami hanya mencoba bertahan hidup."
Pemuda berbadan besar itu tertawa meremehkan. "Kalian pikir kalian bisa tinggal di sini tanpa membayar?"
Aryan mencoba menjelaskan, "Kami hanya mencari tempat berteduh dan makanan. Kami tidak mencari masalah."
Tetapi pemuda itu tidak tergerak oleh penjelasan mereka. Dia mendekati mereka dengan ancaman yang lebih jelas di matanya. "Pergi sekarang juga atau kalian akan menyesalinya."
Mimik wajah Maya penuh dengan keberanian saat dia menatap pemuda berbadan besar itu. "Kami tidak akan pergi begitu saja."
Pemuda berbadan besar itu mengangkat tinjunya, siap untuk mengancam mereka. Namun, sebelum dia bisa melangkah lebih jauh, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Rizal, pemuda yang pernah mereka temui dan bantu, muncul dari sudut jalan. Dia memegang sepotong kayu besar dan berdiri di antara kelompok anak muda dan Aryan, Maya, dan Dian. "Kalian pikir kalian bisa mengganggu anak-anak ini tanpa berhadapan denganku?"
Mimik wajah pemuda berbadan besar itu berubah, dan dia terlihat ragu-ragu. "Siapa kau?"
"Nama saya Rizal," jawab Rizal dengan mantap. "Saya telah melihat apa yang dilakukan anak-anak ini untuk membantu sesama yang membutuhkan, dan saya tidak akan membiarkan kalian mengganggu mereka."
Pemuda berbadan besar itu melihat sekelilingnya, menyadari bahwa mereka berada dalam posisi yang sulit. Kelompoknya merasa ragu-ragu, dan beberapa dari mereka bahkan kelihatan tidak nyaman dengan situasi ini.
Aryan, Maya, dan Dian melihat keberanian Rizal dan merasa bersyukur karena bantuan tak terduga ini. Mereka tidak pernah berpikir bahwa Rizal akan datang untuk membantu mereka, tetapi itu adalah tindakan yang sangat berarti.
Pemuda berbadan besar itu akhirnya mengalah, dan kelompoknya pergi dengan menerima kekalahan. Setelah mereka pergi, Rizal berpaling kepada Aryan, Maya, dan Dian dengan senyum lembut. "Kalian baik-baik saja?"
__ADS_1
Aryan mengangguk dengan tulus. "Terima kasih, Rizal. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak datang."
Rizal tersenyum dan menggelengkan kepala. "Kalian sudah melakukan banyak hal baik untuk orang lain, dan kalian pantas mendapat bantuan ketika kalian membutuhkannya."
Maya menambahkan, "Kita harus selalu saling membantu di jalanan ini. Kita semua dalam perjuangan yang sama."
Mereka berbicara dengan Rizal sebentar lagi, berbagi cerita tentang pengalaman mereka dan mendengarkan cerita Rizal tentang kehidupan di jalanan. Pertemuan ini membuat mereka semakin dekat satu sama lain, merasa bahwa mereka memiliki sahabat yang bisa diandalkan di tengah kota yang keras ini.
Saat malam tiba, mereka bersama-sama mencari tempat berteduh yang aman. Mereka merasa bahwa pertarungan untuk keberanian tadi telah menguatkan ikatan mereka sebagai keluarga tak resmi yang saling mendukung di jalanan yang penuh tantangan ini. Meskipun mereka tahu bahwa kehidupan di jalanan akan selalu menjadi perjuangan, mereka juga tahu bahwa mereka tidak sendirian. Mereka memiliki satu sama lain, dan itu adalah harta yang sangat berharga di dunia yang keras ini.
Malam terus berlanjut, dan Aryan, Maya, Dian, dan Rizal telah menemukan tempat berteduh di sebuah gudang tua yang sudah lama ditinggalkan. Mereka duduk di lingkaran kecil di sekitar api unggun yang mereka nyalakan dari potongan-potongan kayu yang mereka kumpulkan.
Rizal menatap tiga anak pengemis itu dengan rasa kagum. "Kalian benar-benar hebat, tiga bersaudara muda ini. Banyak orang yang tidak akan bertahan dalam situasi seperti ini."
Aryan tersenyum dan menjawab, "Kami belajar untuk bertahan dari kehidupan ini, Pak Rizal. Kami juga belajar untuk saling membantu dan bersama-sama kita bisa menghadapi apa saja."
Maya mengangguk setuju. "Pertemanan dan empati adalah hal-hal yang sangat penting bagi kami."
Rizal tertarik. "Bisakah saya mendengar melodi yang indah itu?"
Aryan mengambil seruling tua dari saku bajunya dan mulai meniupkannya. Melodi yang indah mengalun di udara malam, menciptakan suasana yang tenang dan penuh keindahan di tengah kehidupan yang keras ini. Rizal, Maya, dan Dian merenung dengan mata terpejam, larut dalam melodi yang memukau itu.
Saat Aryan selesai memainkan seruling, mereka membuka mata mereka dengan senyum di wajah mereka. Rizal memberikan tepukan lembut di bahu Aryan. "Kalian memiliki bakat yang luar biasa, Aryan. Musik adalah cara yang indah untuk mengungkapkan perasaan."
Aryan merasa tersanjung. "Terima kasih, Pak Rizal. Musik adalah satu-satunya cara kami bisa melarikan diri sejenak dari kenyataan yang keras."
Rizal tertarik. "Kalian memiliki mimpi-mimpi untuk masa depan, bukan? Apa yang kalian inginkan dari hidup ini?"
Maya menjawab dengan mantap, "Kami ingin memiliki tempat yang hangat untuk tinggal dan cukup makan setiap hari. Kami juga ingin melanjutkan pendidikan kami, meskipun itu sulit di jalanan ini."
__ADS_1
Dian dengan bersemangat menambahkan, "Aku ingin belajar lebih banyak tentang musik, dan mungkin suatu hari bisa menjadi musisi seperti Kak Aryan."
Rizal tersenyum, terharu oleh tekad mereka. "Itu adalah impian yang indah, anak-anak. Dan aku yakin kalian bisa mencapainya jika kalian tetap bekerja keras dan saling mendukung."
Mereka melanjutkan percakapan mereka tentang impian dan harapan mereka, menciptakan ikatan yang semakin kuat antara mereka. Mereka merasa bahwa mereka memiliki satu sama lain untuk saling mendukung dalam perjuangan mereka mencapai impian tersebut.
Namun, di tengah percakapan mereka yang hangat, mereka tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang mendekat dari luar gudang. Mereka semua merasa tegang dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan konfrontasi dengan orang asing yang mungkin datang untuk mengusir mereka dari tempat tersebut.
Dalam kegelapan gudang yang hanya diterangi oleh cahaya redup api unggun, seseorang muncul. Itu adalah seorang wanita muda dengan rambut panjang yang mengalir dan mata yang berkilau dalam gelap. Wanita itu tersenyum lembut melihat mereka.
"Tidak perlu khawatir," kata wanita itu dengan suara yang hangat. "Aku datang untuk membantu."
Wanita muda itu mendekati mereka dengan langkah yang hati-hati, seperti tidak ingin menakut-nakuti mereka. Rambutnya yang panjang dan berkilauan tampak seperti aliran sungai keemasan di malam gelap. Dia memakai pakaian yang tampak cukup baik, yang kontras dengan pakaian kumal yang dikenakan oleh Aryan, Maya, Dian, dan Rizal.
"Siapa kalian?" tanya Maya dengan hati-hati, tetapi ada rasa penasaran di matanya.
Wanita muda itu tersenyum lembut. "Nama saya Nadia. Saya bukan dari sini. Saya melihat kalian dari jauh dan saya tahu kalian sedang dalam kesulitan."
Aryan, yang selalu waspada terhadap orang asing, bertanya, "Apa yang membuatmu yakin kita bisa dipercaya?"
Nadia mengangguk mengerti. "Saya mengerti kecurigaan kalian, tetapi saya tidak datang ke sini untuk mencelakai kalian. Saya membawa makanan dan beberapa perlengkapan yang mungkin bisa membantu kalian."
Dengan ekspresi campur aduk, mereka menerima bantuan yang ditawarkan Nadia. Makanan dan barang-barang lainnya dibagikan di antara mereka, dan mereka merasa terharu dengan kebaikan yang tidak terduga ini.
"Terima kasih, Nadia," kata Dian dengan suara serak. "Kamu adalah malaikat penolong kami."
Nadia tersenyum, tetapi kemudian dia menunjukkan ekspresi keprihatinannya. "Aku bisa melihat bahwa kalian memiliki impian dan harapan untuk masa depan. Ini adalah perjuangan yang sulit, dan aku tahu itu. Tapi aku ingin membantu kalian mencapai impian-impian itu."
Rizal menatap Nadia dengan kebaikan. "Kamu sangat murah hati. Apa yang kamu inginkan dari kami sebagai balasannya?"
__ADS_1
Nadia menjawab dengan tegas, "Saya hanya ingin kalian berjanji untuk membantu orang lain ketika kalian memiliki kesempatan. Kalian telah membantu banyak orang di sini, dan aku yakin akan ada lebih banyak orang yang membutuhkan bantuan kalian di masa depan."
Aryan, Maya, Dian, dan Rizal dengan tulus berjanji untuk mematuhi permintaan Nadia. Mereka tahu betul betapa berharganya pertolongan yang mereka terima dari wanita muda ini.