
Jam menunjukkan angka 3 pagi, lalu tak lama suara alarm terdengar dari handphone laki-laki yang tertidur di ranjang samping meja tempat hp itu berada.
Laki-laki itu dengan setengah sadar meraih hpnya dan mematikan alarmnya. Ia pun terduduk sambil mengumpulkan kesadarannya. Setelah dirasa ngantuknya mulai hilang, ia bangun dan merai handuk di jemuran kecil dekat pintu kamar mandinya. Setelah beberapa saat ia selesai mandi, lalu ia mengambil air wudhu, kemudian segera bergegas keluar kamar mandi. Air pagi memang ampuh menghilangkan ngantuk. Ia berganti menggunakan sarung dan koko putih. Tak lupa juga ia memakai peci hitamnya.
Kemudian ia merentangkan sajadahnya menghadap kiblat, memulai ritualnya setiap hari. Sholat malam dan dilanjutkan dengan dzikir sampai menjelang subuh. Baru setelah adzan subuh terdengar ia mengakhiri dzikirnya dan beranjak keluar dari kamar.
Saat keluar dari kamar ia berpapasan dengan ayahnya.
"Ayok ke masjid bareng Ayah gus" ucap Ayahnya
__ADS_1
"Iya Yah" ucap anak laki-laki tersebut. Anak laki-laki ini tidak lain adalah gus Fahmi, putra sulung dari Kyai Ibrahim pengasuh pondok Darul Falah. Beliaulah teman ayah Hana. Para santri biasa memanggilnya dengan Kyai Ahim. Beliau adalah Kyai yang bijaksana, namun tetap tegas apabila ada masalah dalam pondoknya. Kyai Ahim sendiri menikah dengan santri ayahnya terdahulu alias kakek Fahmi. Beliau dikaruniai 3 anak. Pertama anak laki-laki Gus Fahmi, kedua perempuan ning Aisha dan yang terakhir gus Qoim yang masih kecil.
Gus Fahmi sudah didik sejak kecil untuk menjadi penerus pondok. Dia mulai menghafal Al-Quran sejak umur 7 tahun. Lalu mempelajari berbagai ilmu agama yang bermacam-macam sejak usia 9 tahun. Ayahnya sendiri yang mengajarkan. Setiap selesai sholat subuh dan habis asar. Gus Fahmi sendiri masih bersekolah di jenjang SMA, tahun ini dia mau menginjak kelas 2. Rencananya ia akan melanjutkan pendidikannya di mesir kalau sudah lulus SMA.
Kembali ke saat ini
"Oh ya gus, hafalannya sudah sampai juz 19 ya" tanya Kyai Ahim
"Berarti hari minggu kita murojaah ya, kalau kurang ya disambung hari berikutnya" ucap Kyai Ahim
__ADS_1
"Iya Yah" jawab Gus Fahmi
Tak terasa mereka telah sampai di masjid pondok Darul Falah. Santri yang melihat Kyainya sudah datang segera mengumandangkan iqomah, pertanda sholat subuh akan segera di mulai.
Gus Fahmi yang datang bersama ayahnya tidak serta merta mendapat shaf paling depan. Ia mengisi shaf yang masih kosong. Gus Fahmi tidak merasa lebih tinggi di banding santri lain. Ia terbiasa apa adanya dan menganggap sama semua santri. Kalau santri umurnya lebih tua ia hormati, kalau lebih muda ia sayangi. Begitulah indahnya pondok, apabila di pimpin orang yang tepat.
Sholatpun berjalan dengan khidmat kemudian dilanjutkan denga dzikir subuh. Setelah selesai akan ada kultum singkat dari Kyai Ahim, kultum yang dibawakan bermacam-macam, lebih sering membahas masalah masalah terkini yang kemudian disambungkan dengan sikap nabi jaman dahulu ketika menghadapi masalah. Ini membuat santri lebih memiliki wawasan yang mendalam dalam menyelesaikan masalah.
Adakalanya yang menyampaikan kultum adalah Gus Fahmi, karena sang Ayah kadang tindak ke luar kota karena mendapat undangan ceramah. Karena sudah terbiasa ngobrol dengan ayahnya, ia pun selalu siap dengan materi yang bermacam macam.
__ADS_1
Baru setelah kultum santri bersiap-siap untuk ke sekolah formal
...****************...