
Cerita Nyi Roro Kidul ratu pantai selatan, benarkah ada cerita itu ?
Let'go!! Author dengan setia menceritakan dongeng pengantar ridurmu.
Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan besar di pulau Jawa. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Kerajaan itu dipimpin bijaksana oleh prabu Mundangwangi.
Ia mempunyai permaisuri bernama dewi rembulan dan dikaruniai seorang putri yaitu Dewi Kadita yang sangat cantik.
Pada zaman itu seorang raja biasanya mempunyai istri lain yang disebut selir.
Demikian pula prabu Mundangwangi, ia mempunyai selir yang bernama Dewi Mutiara. Ternyata Dewi Mutiara memiliki sifat buruk karena ia selalu merasa iri terhadap Dewi rembulan.
Pada suatu hari pandita agung mengahadap prabu Mundangwangi. Ia menyampaikan bahwa tidak lama lagi prabu Mundangwangi akan memperoleh putra dari selirnya, yaitu Dewi Mutiara.
Prabu Mundangwangi sangat bahagia karena ia sudah lama menunggu lahir nya anak keturunannya.
"Meskipun putraku lahir dari rahim seorang selir, tetapi dengan wewenang ku ia akan ku angkat menjadi putra mahkota , " kata Prabu Mundangwangi kepada pandita agung.
Dewi Mutiara yang diam-diam mendengar ucapan tersebut menyambut dengan sangat gembira.
Ternyata ucapan pandita agung benar, karena tidak lama kemudian Dewi Mutiara hamil.
Setelah tiba waktunya ia pun melahirkan bayi laki-laki. Prabu Mundangwangi sangat gembira menyambut kelahiran putranya. Ia pun semakin menyayangi Dewi Mutiara, tetapi juga tetap mencintai Dewi Rembulan dan Dewi Kadita.
Tenyata hal itu membuat Dewi Mutiara merasa iri, ia ingin dicintai oleh Prabu Mundangwangi seutuhnya.
"Aku harus segera menyingkirkan Dewi Rembulan dan Dwi Kadita sehingga akhirnya akulah yang akan menjadi permaisuri raja," gumam Dewi Mutiara.
Dewi Mutiara mempersiapkan niat jahatnya dengan matang. Pada suatu malam ia pergi ke hutan menemui nenek jahil dengan ditemani oleh seorang pengawal setianya.
__ADS_1
Nenek jahil wajahnya sangat buruk, tubuhnya Kurus tetapi tampak sehat dan sangat gesit. Ia juga sangat sakti dan menguasai semua ilmu sihir.
Dewi Mutiara menyampaikan niat buruknya untuk mencelakai Dewi Rembulan dan Dewi Kadita.
"Baiklah, besok malam aku akan ke istana dan langsung ke Prabu Dewi Rembulan dan Dewi Kadita. Jangan khawatir, keinginanmu akan segera terwujud, " kata nenek jahil meyakinkan.
Mendengar kesanggupan nenek jahil maka Dewi Mutiara langsung memberi sekantong emas sebagai upahnya.
Pada malam yang ditentukan, nenek jahil memasuki istana Prabu Mundangwangi. Karena kekuatan sihirnya maka tak seorang pun mengetahui kedatangan nenek Jahil yang leluasa masuk ke Prabu Dewi Rembulan dan Dewi Kadita.
Nenek Jadih kemudian membaca mantra penenung untuk memanggil setan agar membantu rencana jahatnya.
Setelah selesai ia membungkuk dan meniup wajah Dewi Rembulan dan Dewi Kadita yang sedang tidur lelap.
"Wuuusshh..., "hembusan angin keluar dari mulut nenek jahil. Setelah itu ia meninggalkan istana dengan tenangnya.
"hah..., Apa yang terjadi ? "teriak Dewi Rembulan dan Dewi Kadita ketika bangun tidur. Sekujur tubuh mereka dipenuhi borok dan kudis yang mengeluarkan bau busuk.
Prabu Mundangwangi merasa sedih, bingung, dan kesal menjadi satu. Pandita agung dan para tabib didatangkan untuk menyembuhkan penyakit yang menimpa permaisuri dan anaknya.
Sayang sekali tak seorang pun berhasil menyembuhkan mereka.
Karena khawatir penyakit yang menakutkan itu menular maka prabu Mundangwangi segera memerintahkan pengawalnya untuk mengasingkan mereka ke hutan.
"Aku tidak mau istana ini dikotori penyakit yang menular dan menjijikkan itu! meraka harus di buang jauh-jauh dari istana! " perintah Prabu Mundangwangi kepada para pengawalnya.
Akhirnya pada suatu pagi Dewi Rembulan dan Dewi Kadita dimasukkan ke dalam dua tandu besar dan ditutup kain dengan rapat, kemudian dibawanya menuju hutan belantara.
Setibanya dihutan kedua tandu itu langsung dibuka dan para pengawalnya langsung lari meninggalkan.
__ADS_1
Dewi Rembulan Dan Dewi Kadita baru menyadari bahwa mereka bukan dibawa pergi untuk diobati tetapi di buang di hutan.
Dewi Kadita menangis karena tak tahan menanggung kesedihannya.
"Anakku, jangan menangis. Kita harus berpasra diri kepada sang dewata. Ini mungkin cobaan yang harus kita terima," Kata Dewi Rembulan menghibur putrinya.
Dewi Kadita berusaha membuang kesedihan dengan berjalan menyusuri hutan. Tak lama dihutan itu Dewi Rembulan sakit dan semakin lemah.
Akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Dewi Kadita.
Dewi Kadita sangat sedih ditinggalkan ibunya. Tubuhnya semakin kurus dan penyakitnya semakin parah. Ia berjalan menyusuri hutang menuju arah selatan.
"lautan! " Teriaknya gembira. Ternyata ia berada di pantai selatan. Tiba-tiba ia melihat seorang pemuda yang gagah perkasah sedang berdiri tak jauh darinnya.
"Aku akan menolongmu, dan penderitaanmu akan segera berakhir, "kata pemuda itu.
Dewi Kadita sangat gembira mendengar ucapannya. Ia bersedia menuruti perintah pemuda itu demi kesembuhan penyakitnya.
Tiba-tiba pemuda itu terjun ke laut dan Dewi Kadita langsung mengikutinya terjun ke laut juga.
Sungguh ajaib, seketika penyakit borok dan kudisnya langsung hilang.
Dewi Kadita sangat gembira mengetahui ia telah sembuh dari penyakitnya dan ingin mengucapkan Terima kasih kepada pemuda itu. Anehnya pemuda itu hilang entah kemana.
Dewi Kadita tersadar bahwa ia sudah sekian lama ada di dalam laut tetapi tidak tenggelam. Kemudian ia melihat kedua kakinya, dan sangat terkejut melihat apa yang terjadi terhadap dirinya.
"Hah....?! "teriaknya melihat kedua kakinya telah tertutup sirip sehingga menyerupai ikan.
Dewi Kadita akhirnya berusaha pasrah akan nasibnya. Ia kemudian hidup dilaut selatan dan sesekali menampakkan diri.
__ADS_1
Konon penduduk sekitar pantai selatan kadang melihat putri cantik berambut panjang yang bagian pinggang sampai ke ujung kakinya menyerupai ekor ikan. orang-orang menyebutnya Nyai Roro Kidul sebagai penguasa pantai selatan. (tamat)