Legend Of The Sword Goddess

Legend Of The Sword Goddess
Episode 1


__ADS_3

Seperti cerita lama lainnya, kisah ini juga dimulai dengan suasana pagi yang cerah, hangat di bawah sinar mentari. Burung gereja juga mulai ribut meninggalkan sangkar dan terbang kesana-kemari. Awal yang tampak normal dan ceria juga dirasakan para penghuni rumah singgah 'Miracle'.


Panti asuhan yang dibangun sejak dua puluh tahun lalu itu kini menampung lebih dari seratus anak-anak yatim dan terlantar. Suasana pedesaan dan sejuk dari pepohonan menjadi ciri khas panti asuhan ini. Terletak di ujung timur kota Bandung.


Hari ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, anak-anak panti asuhan 'Miracle' memulai kegiatan mereka dengan sarapan bersama. Ruangan besar yang menjadi tempat anak-anak itu makan terlihat ramai. Seorang gadis tujuh belas tahun tampak berdiri di ambang pintu, tersenyum lembut menyaksikan adik-adiknya makan dengan akur.


Melirik jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, gadis itu menghembuskan napas kasar. Sudah waktunya pergi. Kembali menatap sebentar pada anak-anak yang memiliki nasib sama sepertinya, gadis bersurai hitam panjang itu tersenyum kecil seraya melangkah keluar.


Suara ketukan sepatu kets milik gadis itu memenuhi lorong ketika langkahnya dengan berat menuju halaman utama, dimana sebuah Van yang akan membawanya ke Jakarta sedang menunggu. Keningnya mengernyit ketika melihat suasana aneh di halaman depan.


"Nanti kalau liburan aku pasti datang ke sini lagi. Bunda jangan kangen aku ya?"


Seorang gadis bersurai cokelat kemerahan tengah menangis seraya memeluk seorang wanita paruh baya yang juga meneteskan air mata. Haah ... kenapa pagi-pagi begini harus ada drama?


"Jangan lebay, deh! Bulan depan kan kita ke sini lagi."


Mendengar nada sinis dari gadis bersurai hitam yang baru saja datang membuat dua wanita itu merengut, tampak tidak terima.


"Kamu benar-benar tidak punya perasaan, Iluina. Aku kan masih kangen sama Bunda."


Wanita setengah baya yang dipanggil dengan sebutan 'Bunda' mengangguk setuju, tidak melepas pelukan dari salah satu gadis kesayangannya. "Bunda juga masih kangen sama Rachel. Kamu emang udah enggak kangen?"


Mengalihkan pandangan, Iluina memasang wajah cuek, meski manik merahnya juga mulai berkaca-kaca.


'Aku tidak boleh menangis. Seorang calon prajurit kerajaan mana boleh bersikap lemah.' Iluina membatin, menguatkan dirinya agar tidak menangis seperti perpisahan di bulan-bulan lalu.


"Ya sudah kalau Iluina enggak mau peluk Bunda dulu. Tapi gimana kalau bulan depan Bunda udah enggak ada ya?"


"Huuweee .... Bunda kenapa ngomong gitu?"


Pada akhirnya, Iluina, gadis tujuh belas tahun yang bercita-cita ingin jadi prajurit kerajaan itu ikut menghambur dalam pelukan wanita yang telah merawatnya sejak bayi. Rachel ikut menangis seraya mengeratkan pelukan, berharap bulan depan ia masih bisa merasakan kehangatan yang sama.


***


Kembali pada kamar kecil berukuran 4x3 meter, gadis bersurai hitam langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Rasanya lelah sekali meski sudah sering melakukan perjalanan Bandung-Jakarta setiap bulan. Meski tidak tahu tentang jati dirinya dan tinggal di panti asuhan sejak bayi, Iluina bersyukur ia tidak pernah putus sekolah, begitu pun Rachel.


Menurut cerita Bunda Meri, Iluina dan Rachel ditemukan tidak jauh dari panti asuhan di hari dan tempat yang sama. Tidak tahu apakah itu kebetulan atau mereka memiliki hubungan kerabat, Iluina dan Rachel tumbuh menjadi sahabat sekaligus saudara yang tidak terpisahkan.

__ADS_1


Mereka juga selalu berada di sekolah dan kelas yang sama, seperti saudara kembar. Kalau saja tidak ada perbedaan fisik yang sangat kentara, dua gadis itu akan benar-benar disebut kembar. Iluina memiliki rambut berwarna hitam dengan iris mata seperti batu ruby, merah. Sejak kecil banyak yang mengejeknya sebagai titisan iblis, monster, anak jin, dan sebagainya karna warna mata yang tidak lazim. Sejak memasuki SMA di Jakarta, gadis itu memakai softlen hitam untuk menutupi warna matanya.


Rachel juga memiliki penampilan fisik yang sedikit berbeda dari kebanyakan orang. Warna rambut cokelat-kemerahan yang ia miliki serta bola mata sewarna zamrud membuatnya kadang dianggap aneh. Seperti halnya Iluina, gadis itu juga menggunakan softlen hitam ketika pergi ke sekolah.


"Besok enggak ada PR, kan?"


Pertanyaan gadis bersurai hitam yang tengah berbaring membuat Rachel berpikir sebentar. "Sepertinya tidak ada, Nona Pengawal."


Ikut membaringkan tubuh di kasur, Rachel menatap langit-langit kamar seraya menarik napas panjang. Akhir-akhir ini perasaannya gelisah tanpa sebab, seolah ada suatu hal penting yang ia lupakan. Tapi mungkin itu hanya gejala umum yang dirasakan anak-anak kelas tiga SMA mendekati ujian kelulusan.


"Satu minggu lagi kita tujuh belas tahun, kan?"


Rachel menoleh mendengar pertanyaan dari gadis di sampingnya. "Kenapa? Ada sesuatu yang kamu harapkan?"


Karna ditemukan di hari yang sama, hari lahir untuk mereka juga otomatis sama. Setiap tahun dua gadis itu selalu merayakan bertambahnya usia mereka dengan cara bersyukur dan berharap bisa terus bersama hingga tua.


Iluina mengangguk, menatap serius pada langit-langit kamar. "Aku mau kencan dengan Arvatha sekali saja seumur hidup. Bisa enggak ya?"


Gadis dengan manik zamrud menghela napas, menepuk kepala Iluina dengan lembut. Ia tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada seseorang. Sejak menginjak usia remaja, Iluina sudah menaruh perasaan pada anak lelaki yang dijadikan pangeran oleh seluruh penghuni panti asuhan Miracle.


Bisa bersekolah di salah satu SMA favorit di Jakarta merupakan anugerah tidak terkira dalam hidup dua gadis yatim piatu seperti Rachel dan Iluina. Kalau bukan karna belas kasih dari ayah Arvatha, mereka tidak mungkin punya kesempatan mengemban pendidikan di tempat terbaik. Rachel pernah mencari tahu tentang biaya perbulan di sekolahnya, dan hasil yang ditemukan membuat gadis itu tercengang.


"Mungkin di kehidupan selanjutnya atau di dunia lain," ucap gadis itu seraya tersenyum miris. Secantik apapun wajah Iluina, gadis itu tidak boleh memiliki harapan terlalu tinggi tentang Arvatha.


"Hmm ... kalau kehidupan selanjutnya atau dunia lain itu memang benar ada. Aku pasti akan jadi seorang pengawal paling hebat dan melindungi Pangeran Arvatha."


Jawaban Iluina membuat Rachel merotasikan bola mata. Entah kenapa gadis itu sangat terobsesi menjadi pengawal kerajaan sejak masih anak-anak.


"Oh ya ... kalau mau kencan mungkin terlalu mustahil. Bagaimana kalau kita buat dia tahu nama kamu?"


"Dia pasti sudah tahu," ujar Iluina seraya memiringkan tubuh, membelakangi sahabatnya.


Rachel terkekeh dengan idenya sendiri. "Benar. Dia kan ketua OSIS, pasti tahu siapa murid paling penuh masalah seperti kamu."


Suasana hening, hanya terdengar helaan napas pasrah dari dua gadis berbeda warna rambut itu. "Tapi akhir-akhir ini ulah kamu semakin parah, Iluina. Biasanya kamu cuma suka telat atau lupa ngerjain PR. Tapi sejak kita kelas tiga, kamu bahkan bolos dan lompat pagar. Ada apa?"


Mendengar kalimat panjang dari sahabatnya membuat Iluina kembali meluruskan tubuh, menatap langit-langit yang sejak tadi menjadi pemandangan menakjubkan entah kenapa. Iluina selalu punya perasaan yang kuat terhadap sesuatu, dan sejak memasuki kelas tiga ia semakin tidak tenang.

__ADS_1


"Aku cuma merasa ada sesuatu yang akan terjadi dan kita enggak akan bisa menikmati waktu sekolah lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi gelisah, takut, khawatir, dan merasa ingin memanggil nama seseorang tapi tidak tahu siapa."


Meski cukup terkejut mendengar penuturan sahabatnya, Rachel tetap menjaga ketenangan. Yang sedang dirasakan Iluina sama persis dengan perasaannya kini. Rachel juga merasa gelisah dan tidak tenang tanpa sebab. Tapi beberapa hari belakangan gadis itu tambah tidak mengerti satu hal. Ia selalu merasa kesal, marah, iri, dan perasaan campur aduk lainnya ketika melihat Revanza, lelaki yang katanya saudara kandung Arvatha.


Sejak kecil dua anak lelaki itu selalu datang ke panti asuhan bersama ayah mereka. Meskipun secara fisik terlihat berbeda, tapi Arvatha dan Revanza merupakan saudara kembar. Sama-sama memiliki wajah di atas rata-rata dan cerdas. Hanya saja sifat mereka yang bertolak belakang membuat para gadis lebih menyukai Arvatha, meski Revanza juga memiliki penggemar yang tidak kalah banyak.


"Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama," ucap Rachel dengan suara pelan. "Akhir-akhir ini perasaanku juga aneh terhadap Revanza. Rasanya aku sangat marah melihat dia begitu bisa diandalkan dan tampak kuat."


Iluina mengernyit, heran karna sahabatnya yang tidak pernah membenci atau merasa kesal pada siapapun tiba-tiba saja terusik dengan kehadiran seorang Revanza. Senyum usil gadis itu timbul, menatap Rachel dengan pandangan berbinar.


"Itu hanya alasan. Sebenarnya kamu jatuh cinta dengan si pangeran es Revanza, kan?"


Lagi-lagi Rachel merotasikan bola mata, malas mendengar kalimat yang diucap sang sahabat. Jelas sekali yang dirasakan Rachel bukanlah jantung yang berdebar atau wajah terasa panas ketika melihat lelaki itu. Ia hanya tidak suka dan kesal melihat Revanza terlihat sangat hebat ketika berada di sisi Arvatha. Seolah kehadiran pemuda itu akan membuat segala hal jahat menjauh dari saudara kembarnya.


Rachel hanya bisa menebak ketidakpuasannya hanyalah bentuk rasa iri karna ia mungkin tidak bisa melindungi dan menjauhkan Iluina dari masalah. Perasaan seperti itu sebaiknya dibiarkan saja, nanti akan hilang dengan sendirinya.


"Mau ke super market enggak? Bahan makanan kita tinggal sedikit."


Iluina tersenyum, mengangguk. Mengingat uang jajan serta kebutuhan sehari-hari mereka juga dipenuhi oleh ayah Arvatha membuat gadis itu semakin merasa jauh. Haah ... nasib jadi upik abu yang jatuh cinta pada pangeran memang menyakitkan.


***


"Uwaah ... Kak Arvatha dan Kak Revanza keren banget!"


Seruan bernada antusias memenuhi indra pendengar gadis bersurai hitam yang baru saja memasuki gerbang sekolah, ketika dua orang siswa paling tampan melewatinya dengan mobil sport keluaran terbaru. Rachel menggeleng, sedikit tidak suka dengan kemewahan yang selalu ditampilkan dua pangeran sekolah.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, sebentar lagi bel masuk akan terdengar. Rachel menghela napas lelah, melihat ke arah gerbang sekali lagi. Iluina tidak ada dimana pun. Saat ia terbangun pagi ini, gadis itu sudah tidak ada di kamar. Sepatu dan tas sekolahnya pun juga menghilang.


Melangkahkan kaki dengan sedikit tergesa menuju kelas XII IPA3, Rachel berharap sahabatnya sudah ada di sana. Sambil menarik napas panjang untuk menenangkan diri, gadis berambut panjang itu menggenggam bandul kalungnya. Keningnya mengernyit ketika merasakan keanehan. Rachel menunduk, melihat ke arah kalung yang sudah dipakainya sejak ditemukan tujuh belas tahun lalu.


Tidak ada!


Haah ... gadis itu menghela napas gusar, sedikit kesal dengan ulah Iluina yang lagi-lagi menukar kalung mereka tanpa sepengetahuannya. Satu lagi hal yang membuat Rachel dan Iluina tidak terpisahkan adalah kalung yang mereka kenakan sejak bayi.


Kalung putih dengan bandul berbentuk pedang dengan permata merah pada gagangnya adalah milik Rachel. Sedangkan kalung dengan liontin berbentuk bulan sabit merupakan milik Iluina. Sejak dulu Iluina selalu ingin memakai kalung milik Rachel. Lebih keren katanya. Gadis bersurai hitam menggeleng seraya kembali melangkahkan kaki, dengan cepat menuju kelas.


'Awas kau, Iluina!'

__ADS_1


__ADS_2