Legend Of The Sword Goddess

Legend Of The Sword Goddess
2


__ADS_3

Menjadi pusat perhatian dan disukai semua orang bukanlah hal baru bagi pemuda bersurai abu-abu kehijauan yang baru saja menapakkan kaki di lapangan, berjalan santai menuju kelasnya di XII IPA1. Manik zamrud miliknya menatap lembut setiap sudut sekolah yang selama hampir tiga tahun ini menjadi rumah kedua baginya. Mengemban tugas sebagai ketua OSIS selama setahun membuatnya makin mencintai sekolah ini.


"Jangan sembarangan menunjukkan wajah ramah pada semua orang, Pangeran."


Pemuda yang dipanggil dengan sebutan 'Pangeran' itu melirik sebentar ke arah lelaki bersurai hitam yang berjalan di sisi kanannya. Kepalanya menggeleng seraya berdecak.


"Berapa kali harus kukatakan jangan memanggilku begitu saat di depan umum. Orang-orang bisa salah paham nanti. Mereka hanya tahu kalau kita adalah saudara kembar."


"Baiklah, Arvatha yang tampan, baik hati, dan memesona. Sekarang tolong hentikan senyum lembutmu itu dan mulailah bersikap tegas."


Mendengar omelan dari pemuda di sampingnya membuat Arvatha semakin tersenyum lebar. "Akan kuusahakan, Revanza."


'Tidak bisa dipercaya,' batin pemuda bernama Revanza. Kening pemuda itu mengernyit ketika manik cokelatnya melihat seorang siswi baru saja memasuki kelas XII IPA3.


Revanza tahu gadis itu adalah salah satu murid di sekolah ini dan sudah berada di sekolah yang sama sejak mereka kelas satu. Tapi sepertinya ada yang aneh ketika Revanza terus saja merasa pernah melihat gadis itu entah dimana. Ayahnya pernah mengatakan kalau ada dua gadis dari panti asuhan Miracle yang ia sekolahkan di sini. Revanza juga sempat berpikir gadis yang baru saja dilihatnya itu merupakan salah satu penerima donatur dari sang ayah. Tapi sekeras apapun ia coba mengingat, wajah gadis itu tidak pernah ia lihat tapi terasa tidak asing.


Pemuda itu sebenarnya tidak mau peduli pada siapapun selain Arvatha yang harus selalu ia lindungi. Hanya saja kadang ketika melihat Rachel ia merasa pernah bertemu gadis itu entah dimana.


"Kau masih penasaran dengan gadis bernama Rachel itu? Aku bisa mencari tahu untukmu," tawar Arvatha seraya tersenyum menggoda.

__ADS_1


"Pikirkan saja tentang apa yang harus kau lakukan di hari terakhir kita di sini."


Jawaban dari pengawal pribadi sekaligus sahabatnya membuat Arvatha berdecih, tidak suka mendengar kenyataan yang baru saja diucap lelaki itu. Hari ini memang merupakan hari terakhir mereka berada di sekolah ini. Sudah tujuh belas tahun berlalu sejak mereka tinggal di dunia asing. Sekarang waktunya untuk pulang ke tempat asal dan bersekolah di tempat seharusnya.


"Bisakah kau mengatur waktu agar aku dan Iluina bisa berkencan sebentar saja?"


Revanza menghela napas. Iluina, gadis penuh masalah dan biang onar seperti itu kenapa bisa menarik perhatian Arvatha? Meski begitu Revanza tetap mengangguk, sambil berpikir apa yang harus ia lakukan agar sahabatnya bisa berdua saja dengan gadis cinta pertamanya.


Sebenarnya sejak hari pertama masa orientasi sekolah, Arvatha sudah terpesona pada seorang gadis yang menyanyikan lagu dangdut sambil memberi sikap hormat pada tiang bendera. Hukuman yang diberikan padanya karna tidak membawa satu pun perlengkapan malah dijalani dengan sangat santai dan penuh percaya diri oleh gadis itu. Dan Iluina langsung menjadi terkenal sebagai biang onar yang penuh pesona. Dan yang membuat Revanza merasa sedikit tidak nyaman adalah kenyataan bahwa Iluina dan Rachel ternyata sangat dekat.


***


Jam istirahat kedua sudah lewat dan Iluina belum juga menampakkan batang hidungnya. Rachel bergerak gelisah, memaki gadis pembuat onar yang tidak tahu sekarang sedang dimana dan melakukan apa. Biasanya meski terlambat, Iluina akan tetap masuk kelas dan menjalani hukuman setelah pulang sekolah.


Duh, pikiran seperti itu membuat Rachel semakin tidak tenang. Tidak biasanya juga gadis itu pergi tanpa memberi kabar sama sekali.


***


Sudah berapa lama waktu berlalu? Iluina sama sekali tidak tahu. Jam di pergelangan tangannya mendadak tidak berfungsi sejak gadis itu tiba di tempat ini. Sebuah tempat yang sangat gelap, berkabut, dan mengerikan. Iluina tidak tahu bagaimana pastinya hingga ia bisa mendarat di tengah hutan lebat dengan pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi. Ia bahkan tidak tahu apakah ada matahari bersinar di tempat ini. Langit yang bisa ia lihat hanyalah daun-daun hijau nan rimbun.

__ADS_1


Kembali pada awal ketika ia mengalami kejadian ini, Iluina sedang bersiap berangkat sekolah lebih pagi. Gadis itu sudah siap dengan perlengkapan sekolahnya. Ia bahkan menukar kalung miliknya dengan senyum lebar. Semuanya berjalan normal, tapi ketika gadis itu membuka pintu dan melangkah keluar, tiba-tiba ia sudah berada di hutan ini.


Beberapa kali Iluina mencubit pipinya hingga memerah untuk memastikan kejadian ini nyata atau tidak. Iluina sama sekali tidak suka baca novel fantasi tentang dunia lain, dunia paralel, perjalanan waktu, reinkarnasi dan hal-hal berjenis fantasi lainnya. Tapi kenapa sekarang ia ada disini? Dan lagi, tempat ini terasa sangat nyata.


"Aku harus berjalan sejauh apa lagi?" Iluina mengeluh seraya menghentikan langkahnya, napas gadis itu tidak teratur. Ia tidak tahu sudah sejauh apa berjalan, tapi tetap tidak menemukan jalan keluar.


Gadis itu mendongak, menatap hijaunya pepohonan yang sangat tinggi. Tubuh lelahnya bersandar pada akar pohon. Akarnya saja sangat besar, Iluina tidak bisa membayangkan kalau harus mengukur seberapa tinggi pohon-pohon disini.


"Aku haus, lapar, dan merindukan Rachel." Iluina memegang bandul kalung berbentuk pedang yang dikenakannya.


Setelah merasa napasnya sudah kembali normal, gadis itu kembali melangkah kan kaki menyusuri tanah licin serta bebatuan dan akar besar dengan sangat hati-hati. Meski yakin kakinya sudah lecet, Iluina tidak bisa berlama-lama di satu tempat. Hutan yang sangat lebat dan berkabut seperti ini pasti dihuni oleh bermacam hewan buas, meski Iluina tidak atau belum melihat satu pun sejak tadi.


Tapi, sampai kapan ia harus berjalan tanpa tujuan? Gadis itu benar-benar haus dan kelaparan.


"Rachel ... "


Meski sudah memanggil nama sahabatnya ribuan kali, Iluina tetap tidak keluar dari tempat ini.


"Ah, siapapun tolong aku!" Gadis itu memekik frustasi. "Atau setidaknya kalau ini seperti di novel-novel atau game, berikan aku petunjuk untuk keluar dari sini! Beri aku hint sedikit saja!" Iluina berteriak seraya menatap pohon-pohon di hadapannya dengan kesal.

__ADS_1


Dan tanpa gadis itu duga, sebuah cahaya merah melesat dengan sangat cepat dari langit. Iluina bergerak mundur ketika cahaya itu terlihat memudar di hadapannya. Hingga ketika semuanya sudah kembali normal, gadis itu melihat seseorang berdiri di hadapannya. Seorang pemuda tampan dengan rambut hitam dan bola mata sewarna violet.


"Salam hormat hamba, Tuan Putri." Pemuda itu membungkuk, satu kaki terlipat dan menyentuh tanah. Persis seperti sikap seorang ksatria.


__ADS_2