
"Salam hormat hamba, Tuan Putri." Pemuda itu membungkuk, satu kaki terlipat dan menyentuh tanah. Persis seperti sikap seorang ksatria.
Iluina tercengang dengan pemandangan di depannya. Siapa lagi orang ini? Melihat dari warna mata yang tidak biasa serta pakaian ala Pangeran yang dikenakan pemuda itu membuat gadis itu semakin merasa sedang berada di dunia lain.
"Kamu ... "
"Hamba adalah Baylass anda, Tuan Putri."
Tuan Putri apanya! Iluina ingin berteriak dan memaki. Dan Baylass itu apa? Nama pemuda itu kah?
"Jadi, nama kamu Baylass? Kalau boleh tahu, ini ada dimana? Novel atau game?"
***
Netra hitam itu menatap orang-orang yang berlalu lalang. Tempat ini merupakan pasar tradisional yang mungkin hanya ada di negeri dongeng, melihat bagaimana pakaian yang dikenakan orang-orang terlihat aneh bagi gadis itu.
"Tempat ini adalah kota paling Utara negeri Kadhewa, sekaligus perbatasan menuju negeri Mahekra. Hutan tempat anda berada tadi merupakan tempat suci yang dilindungi para dewa sejak ribuan tahun lalu. Hanya keturunan para dewa yang bisa masuk ke sana. Sebuah kehormatan untukku bisa langsung berada disana di pertemuan pertama kita."
Pemuda yang tadi tiba-tiba hadir dan berlutut di depan Iluina adalah seorang Baylass. Katanya Baylass adalah sebutan untuk makhluk yang akan menjadi penunjuk jalan sekaligus penasehat dan penyusun strategi yang pasti dimiliki setiap keturunan asli Raja. Meski masih tidak mempercayai ucapan pemuda itu sepenuhnya, Iluina tetap mengikuti instruksinya untuk mengganti pakaian yang lebih pantas agar tidak ada yang memandangnya aneh.
"Jadi, dari ceritamu tadi bisa disimpulkan kalau aku adalah keturunan asli Raja juga merupakan keturunan dewa?"
Pemuda itu tersenyum simpul dan mengangguk membenarkan.
"Anda adalah satu-satunya pewaris negeri Kadhewa. Karna suatu alasan, Raja Ashgra mengirim anda ke dunia lain. Tapi hamba hanya tahu sebatas itu, karna semua informasi belum terbuka."
Iluina menghela napas. Sejauh ini, informasi yang ia dapat adalah tempat ini merupakan negeri Kadhewa, dan Iluina adalah satu-satunya pewaris negeri ini. Katanya tempat Iluina tersesat tadi merupakan tempat suci yang hanya bisa dimasuki oleh keturunan dewa. Benar-benar informasi yang sangat berguna dan luar biasa!
"Oh iya, kau bilang tadi selain Baylass, setiap pewaris tahta pasti memiliki seorang Ksatria kan? Lalu Ksatria untukku ada dimana?"
"Hamba tidak tahu, Tuan Putri. Informasi yang hamba miliki sangat terbatas. Dewa termulia belum membuka semua portal informasi untukku."
CK, dewa menyebalkan.
"Lalu bagaimana caranya aku bisa mencari informasi lebih banyak? Aku ingin pulang! Rachel pasti khawatir." Iluina berdecak tidak suka. Kenapa memberikan sesuatu setengah-setengah begini?
"Sebenarnya untuk informasi dasar seperti darimana anda berasal, siapa yang menjadi Ksatria pelindung, dan bagaimana anda bisa dikirim ke dunia lain bisa hamba dapatkan. Anda hanya perlu melakukan satu hal untuk mendapatkan semua informasi itu."
Iluina menatap pemuda yang berjalan di sampingnya dengan raut serius.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Anda harus memberi nama pada hamba."
Nama? Gadis itu terdiam. Benar juga! Sejak tadi pemuda yang berjalan bersamanya sama sekali tidak memberitahukan namanya. Apa memberi nama pada seorang Baylass merupakan salah satu tanda kalau ia benar-benar pewaris tahta?
Hmm ... Iluina berpikir sejenak, mengingat nama-nama keren yang ia tahu. Arvatha? Gadis itu segera menggeleng. Tidak ada yang pantas menyandang nama itu selain cinta pertamanya.
"Rael?"
Iluina mengernyit ketika pemuda di sampingnya nampak sangat terkejut sebelum akhirnya ia mengangguk.
"Terima kasih. Itu nama yang sangat bagus."
"Jadi, sudah ada informasinya?" Gadis itu bertanya dengan tidak sabar.
Pemuda yang baru saja diberi nama Rael itu terdiam sebentar, kemudian senyumnya terbit.
"Ksatria Tuan Putri sudah lama berada di sisi Anda, Yang Mulia. Anda bisa memanggilnya dengan kekuatan yang Anda punya. Namanya Rachel."
Gadis itu terdiam, bayangan seorang gadis melintas di benaknya. Rachel? Apakah maksudnya Rachel yang selama tujuh belas tahun ini bersamanya? Apa itu alasan mereka ditemukan di tempat dan hari yang sama? Tapi bagaimana bisa? Selama ini Rachel tidak terlihat seperti seseorang yang punya bakat menjadi Ksatria. Gadis itu tumbuh menjadi pribadi yang anggun dan lembut. Bahkan Rachel lebih cocok untuk disebut sebagai Tuan Putri daripada Iluina.
"Aku tidak memiliki kekuatan apapun, lalu bagaimana bisa memanggilnya?"
Rael menatap diam gadis di hadapannya.
"Sama seperti cara Anda memanggil hamba tadi," ucapnya meyakinkan.
Iluina menggeleng, "aku tidak pernah memanggilmu dan berhenti bicara formal! Tolong panggil aku Iluina saja."
Pemuda yang berjalan di samping gadis itu menghela napas. Netra violet miliknya menatap keadaan sekitar. Ternyata tanpa ia sendiri sadari, sejak tadi banyak sekali orang yang menatap mereka. Ini keadaan yang tidak bagus.
"Kita pergi dari tempat ini dulu," ujarnya seraya menarik tangan Iluina dengan langkah lebar.
Gadis itu sedikit berlari untuk mengimbangi langkah Rael yang tengah menyeretnya. Sebenarnya ada apa? Iluina merasa tegang tiba-tiba, seperti sedang berada dalam sebuah game dan mereka tengah dikejar para monster.
"Sebenarnya ada ap-"
__ADS_1
"Husst!" Rael membungkam mulut gadis itu sebelum Iluina menyelesaikan perkataannya.
Pemuda itu menatap sekeliling. Tempat mereka berhenti merupakan sebuah lorong kecil yang sangat sepi.
"Ayo kembali ke hutan tadi. Tempat ini berbahaya, Iluina." Rael berbisik pelan, membuat gadis yang tengah dibungkamnya merasakan ketakutan.
"Lalu kenapa kita berhenti disini?" Iluina juga bertanya dengan suara pelan setelah pemuda itu menjauhkan tangannya.
"Tentu saja untuk membuka gerbang!" Pemuda itu berujar sembari terus menatap awas keadaan sekitar.
"Gerbang apa?" Iluina bertanya dengan raut bingung. "Gerbang menuju hutan tadi ada di sekitar sini?"
Rael menatap Iluina seolah gadis itu adalah makhluk paling langka yang pernah ditemuinya.
"Gerbang yang hanya bisa dibuka olehmu, Iluina. Hutan itu bukan tempat yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Kita harus membuka gerbang untuk masuk kesana. Aku membawamu kesini karna tidak mungkin menggunakan kekuatanmu dan membuka gerbang di tempat ramai."
Gadis itu merasa ingin menangis dengan penjelasan yang dikatakan Rael. Bagaimana cara membuka gerbangnya? Sudah dibilang Iluina tidak mempunyai kekuatan apapun.
"Aku tidak bisa!" Iluina berujar frustasi. "Aku ini hanya manusia biasa juga seorang murid, mana bisa punya kekuatan tidak masuk akal yang kau bicarakan tadi. Aku bahkan tidak tahu apa salahku hingga bisa terjebak disini. Tadi pagi aku hanya ingin berangkat sekolah. Memang tadi aku berencana pergi diam-diam dan menukar kalung kami, tapi-"
"Hentikan!" Rael memotong kalimat panjang gadis yang mulai meneteskan air mata di hadapannya. Apakah tuan yang akan ia layani kali ini adalah orang cengeng?
"Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, Iluina. Aku minta maaf kalau terkesan buru-buru padahal kau belum terbiasa menggunakan kekuatanmu sendiri."
Ucapan lembut pemuda itu membuat tangisan Iluina berhenti. Gadis itu menunduk untuk melepas lensa kontak yang dikenakannya, netra merah gadis itu tampak bersinar di tempat remang.
Rael terhenyak menatap netra ruby di hadapannya, dan tanpa ia sadari tubuhnya membungkuk dengan sendirinya. Ia bisa merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Rasa rindu, kagum, takut, dan gairah yang lama tidak ia rasakan seolah berkumpul menjadi satu.
'Ah ... Dia benar-benar tuanku. Sudah berapa lama aku menunggu saat-saat ini?' Pemuda itu membatin.
"Kenapa kau seperti itu? Bangunlah! Kita harus segera pergi dari sini, kan? Ayo cari tempat yang agak lapang dan tolong beritahu aku cara menggunakan kekuatanku."
Rael mendongak, terpaku pada tatapan serius gadis di hadapannya.
"Aku akan mengajarimu pelan-pelan." Pemuda itu berdiri, membalas tatap gadis tujuh belas tahun yang ia yakin adalah sosok yang sudah ditunggunya selama ini. "Tapi kita tidak bisa pergi dari sini atau mencari penginapan. Lorong tempat kita berada sekarang merupakan satu-satunya tempat paling aman. Aku yakin beberapa orang sudah menyadari keberadaanku. Kita hanya perlu tidak bersuara."
Iluina terdiam patuh meski ia penasaran alasan orang-orang mengejar pemuda di hadapannya. Lagipula, bukankah Iluina adalah pewaris tahta negeri ini? Kenapa mereka harus lari?
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Gadis itu memilih menyingkirkan rasa penasarannya terlebih dahulu. Bagaimanapun mereka harus berhasil pergi ke hutan tempat Iluina tiba tadi.
"Karna kekuatan itu sudah mengalir di darahmu sejak kau masih dalam kandungan, kuncinya adalah keyakinanmu sendiri. Keinginan yang tulus dan kuat juga dibutuhkan. Kau hanya perlu berkonsentrasi dan kekuatan dalam tubuhmu akan keluar dengan sendirinya. Selama berkonsentrasi, pikirkan tempat yang ingin kau kunjungi."
Keinginan yang tulus dan kuat. Iluina memantapkan hatinya untuk kembali berada disana meski ia sedikit takut. Lalu keyakinan diri, yang sayangnya sama sekali tidak dimiliki gadis itu.
Iluina merasa sesuatu mengalir di seluruh tubuhnya, sangat panas dan menyakitkan. Gadis itu tetap memejamkan mata, mencoba mengabaikan rasa sakit yang semakin menggerogoti tubuhnya. Peluh mengalir di dahi gadis itu, Rael menatapnya dalam diam. Prosesnya mungkin akan sangat menyakitkan karna Iluina belum pernah menggunakan kekuatannya sedikitpun.
Rael menahan napasnya ketika cahaya merah mulai berpendar di sekitar Iluina, merambat pada tanah yang mereka pijak. Sebentar lagi! Pemuda itu tidak mengalihkan sedikitpun pandangannya dari cahaya yang semakin terang. Tapi kemudian cahaya itu menghilang begitu saja.
Iluina membuka mata, terkesiap ketika merasakan sesuatu mengalir di pipinya. Gadis itu melihat setetes cairan merah kental jatuh ke tanah, membuat tubuhnya bergetar. Perlahan ia menyentuh cairan yang terus mengalir dari matanya, netranya melebar saat darah kental berada di tangan. Matanya mengeluarkan darah?
Gadis itu menatap panik pada Rael yang terdiam mematung. Netra violet pemuda itu tampak berkaca, jantungnya terasa mencelos saat mata Iluina mengalirkan darah.
'Apa harus terjadi lagi?' Rael merasakan seluruh tubuhnya bergetar, bayangan-bayangan yang berusaha ia lupakan membanjiri ingatan. Rasa takut kembali menyergapnya.
"Rael, sebenarnya ada apa? Apa semua orang begini saat pertama kali menggunakan kekuatannya?"
Menyadari gadis di hadapannya sedang panik, Rael mengulurkan tangan, menghapus cairan merah di pipi Iluina yang mulai berhenti mengalir. Pemuda itu mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Terkadang memang seperti itu. Meskipun langka, tapi seseorang yang mengalirkan darah dari matanya ketika menggunakan kekuatan, artinya ia mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat."
Entah bagaimana, Iluina melihat kebohongan terpancar di netra violet pemuda di hadapannya. Ia tidak yakin yang dilihatnya adalah benar sebuah kebohongan atau hanya ilusi yang ia ciptakan. Iluina tidak pernah mempelajari psikologi, jadi ia juga tidak bisa memahami bagaimana bahasa tubuh seseorang yang sedang berbohong. Tapi, Iluina tahu dengan pasti bahwa tubuh pemuda di hadapannya bergetar dan nampak ketakutan. Gadis itu ingin langsung bertanya tapi memilih menyimpan keingintahuannya untuk nanti.
"Aku sudah mencoba menggunakan kekuatan seperti yang kau ajarkan, tapi kenapa kita masih disini?"
"Kau tidak yakin dengan dirimu," Rael kembali memperhatikan keadaan sekitar. Pemuda itu belum bisa menggunakan kekuatan miliknya. Butuh waktu beberapa hari untuk membangkitkan seluruh kekuatannya setelah lama tidak digunakan.
"Begini saja-"
Derap langkah terdengar mendekat, Rael menghentikan perkataannya. Indra pendengar pemuda itu menajam, merasakan bukan hanya satu dua orang yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Ada apa?" Iluina yang tidak mendengar apapun memucat saat Rael memegang pergelangan tangannya erat.
"Ada yang datang dari dua arah berlawanan. Kita harus segera pergi, Iluina. Kalau kita tertangkap disini dan ternyata itu adalah pasukan Ksatria negeri Dashkra, maka kita akan langsung tamat sebelum melakukan apapun."
Iluina terpaku mendengar penjelasan Rael yang sama sekali tidak dimengerti olehnya, wajah gadis itu semakin memucat ketika Rael mengangguk dan berbisik pelan agar ia segera membuka gerbang.
Meski tidak mengerti situasi, gadis itu segera memejamkan mata kembali, berkonsentrasi. Tubuhnya terasa bergetar, Iluina membayangkan hutan tempatnya tiba seraya berharap dengan tulus. Ia benar-benar harus ke hutan itu dan memikirkan cara keluar dari negeri antah berantah ini.
__ADS_1
Seperti tadi, ketika kekuatan itu mengalir di seluruh pembuluh darahnya, tubuhnya terasa sangat sakit dan panas. Iluina bisa merasakan cahaya merah kembali berpendar di sekitar mereka. Peluh kembali membanjir, harapan serta keinginan yang sangat kuat membuat cahaya yang berasal dari tubuh gadis itu semakin pekat.
'Aku ingin pulang dan bertemu Rachel. Bagaimanapun, tolong biarkan aku bersama Rachel lagi. Aku membutuhkannya, aku mau Rachel!' Iluina membatin sendu, airmatanya mengalir bersamaan dengan cairan merah yang membuat matanya terasa begitu menyakitkan.
Suara napas tercekat dan cahaya serta sakit yang tiba-tiba menghilang membuat gadis itu membuka kedua matanya dan netra itu langsung terbelalak. Loh? Kenapa begini?
"Iluina?"
"Rachel?"
***
Rachel berjalan gusar sembari menatap jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Iluina masih belum pulang dan tanpa kabar. Gadis itu sudah bertanya pada seksi kedisiplinan di sekolahnya, tapi memang Iluina tidak datang ke sekolah sama sekali, bukan terlambat atau sedang mengerjakan hukuman.
"Kamu sebenarnya kemana, Iluina?"
Selain gelisah karna Iluina menghilang tanpa kabar, gadis itu juga merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Sejak di sekolah tadi, telapak tangannya terasa panas dan seluruh tubuhnya nyeri tanpa sebab. Belum lagi netra zamrud gadis itu juga terasa sakit.
Rachel berdiri di depan cermin, melepas wig hitam dan lensa kontak yang dikenakannya. Gadis itu menghela napas seraya melangkah ke kamar mandi. Kos-kosan tempatnya tinggal merupakan sebuah rumah yang kebanyakan dihuni oleh pelajar atau mahasiswa dari berbagai daerah.
Ada dua kamar mandi di rumah ini, satu berada di ujung lorong, agak jauh dari kamar yang ditinggali Rachel dan Iluina. Manik zamrud itu menatap satu lagi kamar mandi paling dekat dengan kamarnya yang ternyata sedang digunakan orang lain. Rachel kembali memutar langkah melewati lorong menuju satu-satunya kamar mandi tersisa.
Rachel menghentikan langkahnya tepat di pintu kamar mandi. Lagi, seluruh tubuhnya terasa nyeri. Ditambah telapak tangan dan matanya yang terasa panas.
Gadis itu kembali melangkah memasuki kamar mandi, menghidupkan shower dan segera mengguyur tubuhnya. Rachel menahan napas ketika dinginnya air terasa menggigit, tapi anehnya rasa nyeri dan panas yang ia rasakan tidak berkurang. Malah semakin membuat seluruh tubuhnya sakit.
Rachel melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, berharap rasa sakitnya juga menghilang.
"Apa aku kelelahan?" Gadis itu meraba leher, ini pertama kalinya ia merasa sakit seperti ini. Hari ini melelahkan baginya, Iluina yang menghilang tanpa kabar ditambah sakit yang datang tiba-tiba.
Tiga puluh menit kemudian, gadis itu terpaksa menyudahi acara mandinya. Tidak sedikitpun rasa sakit di tubuhnya memudar. Rachel menatap penampilan dirinya di depan cermin, melihat kalung berbandul bulan sabit milik Iluina yang melekat di lehernya.
Menghela napas, gadis itu mengusap bandul kalungnya. Ia tercekat ketika melihat sebuah cahaya merah keluar dari bandul kalung itu dan menyebar hingga ke seluruh tubuhnya. Rachel tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia memejamkan mata ketika cahaya itu bersinar sangat terang.
Saat merasa cahaya membutakan itu sudah tidak ada, Rachel membuka kedua matanya. Netra zamrud itu menatap bingung pada gadis di hadapannya.
"Iluina?"
"Rachel?"
Rachel baru akan berteriak menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi sebelum netra zamrudnya menangkap kehadiran orang lain disana. Gadis itu terkesiap, matanya melotot seraya kedua tangan merapatkan bathrobe yang tengah ia gunakan.
Rael tersadar dari rasa takjubnya ketika gadis yang baru saja datang menatap tajam padanya. Pemuda itu berdeham seraya mengalihkan pandangan, sudut-sudut bibirnya bergetar menahan tawa.
Iluina menggigit bibir, sepertinya ia memanggil Rachel saat gadis itu baru selesai mandi.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Rachel menghembuskan napas perlahan, menenangkan diri. "Kenapa aku tiba-tiba ada disini? Cahaya tadi ap-"
Gadis itu hampir memekik saat Rael menutup mulutnya, sebelum ia melihat pemuda itu meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri. Rachel menelan ludah. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihat Iluina diam dan memasang raut tegang membuat gadis itu ikut tidak tenang.
Netra melebar ketika mendengar derap langkah mendekat dan suara beberapa orang yang sepertinya sedang berteriak.
"Mereka semakin mendekat, Iluina!" Rael berbisik meski nada suara terdengar memerintah. "Cepat buka gerbangnya. Kemanapun tempat paling aman yang bisa kau pikirkan, cepat!"
Tubuhnya sedikit bergetar ketika Iluina kembali berkonsentrasi. Gadis itu memikirkan sebuah tempat. Cahaya merah menyebar di sekitar dan membawa tubuh mereka menghilang tepat ketika orang-orang datang.
Orang-orang yang terdiri dari lima lelaki dan dua perempuan berhenti tepat di tempat Iluina tadi berada.
"Aku merasakan sisa kekuatan Yang Mulia Ashgra di sekitar sini," ucap seorang gadis berambut merah yang tengah berjongkok, menyentuh tanah yang dipijaknya dan mengernyit.
"Meski samar, ada bekas kehadiran Ksatria Leandro juga, kan?" Seorang pemuda yang juga tengah berjongkok di samping gadis itu menoleh, wajahnya terlihat serius.
"Kalau begitu hanya ada dua kemungkinan." Seorang lelaki yang seluruh rambutnya sudah berubah abu-abu menyahut, bekas goresan cukup besar di sepanjang pipi kanan membuat penampilannya terlihat cukup menakutkan. "Raja Ashgra dan Ksatria Leandro sedang melakukan patroli diam-diam, atau Tuan Putri dan Ksatria nya sudah berada di negeri ini."
Enam orang di tempat itu terkejut mendengar penuturan ketua mereka.
"Dua orang dari kita harus segera kembali ke istana dan melaporkan kejadian ini pada Yang Mulia."
***
Iluina, Rachel serta Rael berakhir di sebuah tempat paling aman yang dipilih sang Tuan Putri.
"Apa tidak ada tempat lain yang bisa kau pikirkan?" Rachel berdecak kesal, menatap ruang sempit yang dipilih Iluina sebagai tempat paling aman.
"Tapi aku biasa kesini kalau sedang dikejar, tidak ada yang lebih aman selain tempat ini yang bisa kupikirkan." Iluina membela diri, bibirnya merengut tidak terima.
"Bertengkar nanti saja. Kita harus segera keluar dari sini sebelum ada yang memergoki."
__ADS_1
Ucapan Rael membuat kedua gadis itu terdiam. Mereka memang harus segera keluar dari ruang sempit itu, meski Rachel yakin tidak akan ada yang memergoki karna seluruh penghuni sekolah sudah pulang.
Tempat paling aman yang dipikirkan Iluina adalah salah satu bilik di toilet sekolah mereka.