Listen

Listen
Teror


__ADS_3

Berat sekali rasanya kaki ini menuju kantor. Entah kenapa perasaan ku tidak enak. Kupaksakan diriku berjalan.


Sesampainya di kantor ku sapa Rahma dan Tyo yang lebih dulu datang.


"Sorry ya gw telat. "


"Ran muka lo kok pucet banget sih. Lo sakit ya? "


tanya Rahma khawatir.


"Ngga kok ma.. Gw nggak papa. Cuma rasanya lemes aja. "


"Ya udah lo istirahat aja Ran. Biar kita yang handle semua kerjaan hari ini. "


kata Tyo.


"Thanks ya guys. " kataku pada mereka.


Aku beruntung mempunyai teman teman seperti mereka. mereka sangat perhatian dan juga siap membantu di kala aku susah.


Pulang kerja tiba tiba pak Umar memanggilku keruangannya.


Dengan perasaan was was. Aku menuju ke ruangannya.


"Raniya Carissa, Silahkan duduk!!!. " Kata nya memerintah ku.


Aku menuruti nya aku duduk di situ. Sambil menunggu apa yang dia inginkan dari ku.


"Apa pekerjaan mu sudah selesai? " Katanya.


" Sssssudah pak. Apa bapak butuh bantuan saya? "


"Jelas. Karena itu saya memanggilmu ke tempat ini. "


"Apa yang bisa saya bantu pak? "


" Saya ingin kamu lembur hari ini. "


" Hah?? kk..kk..kkkenapa pak? "


"Kamu harus me list daftar customer yang datang. Itu perintah dari bos. "


"Kenapa hanya saya pak? "


"Jangan banyak tanya. Cepat bawa laptop mu dan berkas berkas para customer sekarang!!! "


"Ss.. ss.. saaya mngerjakan disini pak? Kenapa tidak di meja saya??? "


" Kamu jangan banyak tanya. Cepat kerjakan kalau kamu masih mau bekerja disini.!!! " Teriak pak Umar kasar.


Aku buru buru menuju mejaku. Kuambil barang barang yang kubutuhkan. Jujur aku takut sekali dengan teriakan pak Umar. Mengingatkan ku akan makian yang ayah sering lakukan padaku dulu.

__ADS_1


Tok tok tok...


" Masuk"


"iii iii ni pak sudah saya bawa laptop dan data data yang dibutuhkan. "


"Oke cepat kerjakan!!! " kata nya memerintah ku.


Aku segera mengerjakan semua yang dia perintah. Tanpa banyak bicara. Aku tidak. tau apa salahku. Aku mungkin terlalu polos. Pak umar bilang tidak boleh ada yang tau kegiatan kami ini. Kalau sampai ada yang tau dia akan memberi tau bos untuk memecatku.


Aku hanya diam pasrah dan menuruti nya. Walau mataku menuju laptop tapi aku tau pak Umar melihatku dengan tatapan buas nya. Itu membuat ku sangat risih.


Setiap hari selalu ada saja alasan pak Umar untuk membuat ku lembur. Dia selalu menyuruhku lembur dan manatapku setiap saat. Aku sendiri mulai menyadari ada yang tidak beres. Tapi karena ancaman dari nya aku hanya bisa diam. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Aku tidak mau kehilangan pekerjaan ku.


***


Hari ini adalah haru rabu. Seperti biasa pulang kerja pak Umar menyuruh ku lagi setelah kantor sepi. Tak ada kecurigaan apa apa. Karena toh selama 2 minggu ini dia tidak melakukan apa apa padaku.


Tapi aku salah....


jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Pasti Radit dan nenek sangat khawatir padaku. Baterai hp ku habis. Aku juga lupa membawa charger.


Tak pernah aku lembur selarut ini.


"Bagaimana cara nya aku pulang? Hp ku mati. Aku tidak bisa order ojek online. " batinku.


Pinjam charger pak Umar aku segan. Seperti nya dia tau apa yang aku pikirkan. Tiba tiba dia bertanya padaku.


Mau tak mau akupun menerima ajakannya.


Kami berjalan menuju mobil nya.


Aku masuk ke mobil nya. Dan dia mulai menyetir.


"Mau makan dulu? " kata pak Umar.


" Nggak usah pak saya langsung pulang saja. " kataku.


Pak umar mengemudikan mobil nya cukup kencang. Di tengah perjalanan aku sadar ini bukan arah rumah ku. Kuberanikan diri bertanya padanya.


"Pak maaf ini bukan arah tempat saya. "


Dia hanya terdiam


Ku ulangi lagi pertanyaan ku.


"Pak stop ini bukan arah rumah saya. Bapak mau bawa saya kemana? "


Tiba tiba mobil berhenti.


Pak umar dengan kasar memegang dagu ku. Dia mengancamku.

__ADS_1


"Diammm!!! Ikuti saja aku atau kamu saya pecat. " ancamnya.


ingin rasanya aku berteriak tapi tubuhku mulutku semua nya terasa membeku.


Mobil melaju kencang dan berhenti di sebuah apartemen. Dia memaksa ku untuk ikut ke kamarnya.


702 A


kulihat pintu kamar yang dia tuju di lantai tujuh.


Dibuka nya pintu. Dan dia menarik ku masuk.


Bodoh nya aku tidak berteriak saat itu. Aku hanya diam mematung saking aku ketakutan nya.


Tiba tiba dia menyalakan video di hp nya. Dia juga mengambil beberapa tali.


"Paaakkk... apaa apaan ini?"


Percuma kamu teriak Ran. Ruangan ku ini kedap suara.. hahahaha... " katanya sambil tertawa licik.


Jantung ku berdesir. Aku tau hal buruk akan terjadi padaku. Aku mulai menangis dan memohon pada nya.


"Jjjjj... jangan pak. Tolong. "


" Gadis bodoh seperti mu harus di beri kenikmatan. Kamu ini harus nya bersyukur. Seorang yang punya jabatan seperti ku ini menyukai gadis kampung sepertimu. " Kata nya sambil mengikat tangan dan kaki ku.


Air mataku bercucuran.


Pak Umar mulai melucuti pakaiannya. Perlahan dia juga melucuti pakaianku satu persatu. Dia mencumbu ku dengan sangat bernafsu. Bau nafasnya adalah bau yang paling memuakkan yang pernah aku cium.


Dia melakukan hal itu dan merekamnya di handphonenya.


Malam itu malam paling menjijikkan dalam hidup ku. Pak Umar merenggut kehormatan ku dengan paksa. Dia mencambukku. Mengikatku. Menciumi ku dengan sangat bernafsu.


"Gimana Ran enak kan goyangan bapak? kamu sampai lemes gitu? Hahahahah.." Katanya sambil mengejekku.


Hati ku hancur. Kehormatan yang selalu ku jaga ini hilang di tangan lelaki bejat seperti Pak Umar.


Dia mengancam ku sampai aku melapor kepada polisi dia akan menyebarkan video video itu.


Aku hanya bisa menangis sejadi jadi nya malam itu.


Pak Umar terlihat sangat puas.Saat pak Umar tertidur kupakai semua pakaian ku. Dengan badan dan bagian intimku yang terasa nyeri, dan dengan sisa tenanga ku, aku segera menuju ke lobby. Aku meminta tolong kepada security yang berjaga untuk memesankan aku ojek online.


Akhirnya aku sampai di rumah. Berat rasanya harus bertemu nenek dan Radit. Aku merasa sangat kotor sekali. Kubuka pintu gerbang....


Kriiiiiiit


bunyi gerbang besar itu. Radit yang tertidur di bangku pendopo saat itu segera lari ke arah ku. Dia memelukku.


"Ran darimana??? Radit sama nenek khawatir banget. Kalau sampai pagi Ran ga pulang Radit bakalan lapor polisi. " Kata Radit dengan suara bergetar.

__ADS_1


Ingin rasanya saat itu kuceritakan semua beban ku ini padanya. Tapi aku kembali teringat ancaman dari pak Umar. Ku urungkan niat ku untuk bercerita pada Radit.


__ADS_2