Listen

Listen
Interview


__ADS_3

Pagi itu aku sangat bersemangat. Kupakai pakaian terbaikku. Kupersiapkan segala kebutuhan interviewku. Aku memakai tas,sepatu dan baju yang Radit belikan kemarin untukku. Walau aku tidak nyaman menggunakan separu dengan hak tinggi. Aku harus membiasakannya kata Radit.


Aku bergegas sarapan pagi itu. Nenek sudah menyiapkan Roti bakar susu dan juice jeruk pagi itu. Tak lupa aku meminta doa restu pada nenek yang sudah kuanggap sebagai orangtuaku di kota ini.


" Nek, doain Ran ya nek supaya Ran di terima kerja."


" Iya sayang pasti nenek berdoa yang terbaik buat anak sebaik Ran. Tapi sebenarnya Ran ngga perlu bekerja. Ran bisa ikut nenek dan Radit disini tanpa harus bekerja keras. "


"Ran ngga mau merepotkan nenek dan Radit lebih banyak lagi nek. "


"Anak baik" kata nenek sambil mengusap kepalaku.


" Nenek doakan kamu selalu sayang. "


Nenek begitu baik dan sangat perhatian.Sekarang aku tau kenapa Radit begitu menyayangi nenek melebihi apapun. Kasih sayang nenek begitu luar biasa.


Setelah kami menyelesaikan sarapan,


Radit segera mengantarku pagi itu. Kami berangkat menggunakan motor. Motor antik kesayangan Radit. Hari itu Radit menggunakan jaket kulit dan celana panjang juga sepatu kulit. sangat cocok sekali dengan motornya.


" Ayok naik."


Aku bergegas naik ke atas motor. kupegang bagian belakang motor supaya tidak terjatuh.


"Eh emang gw tukang ojek. Sini peluk pinggang gw. " Canda Radit.


"Eehhhh ... pelukk pinggang??? " aku tersipu malu.


"Ya iya. Kalo nanti lo pegangan belakang terus lo jatoh gimana? Gw bakal kena marah nenek. " Kata Radit seraya memegang tanganku dan merangkulkan tangan ku ke pinggangnya.


Kami memulai perjalanan kami. Kucium aroma parfum Radit. Aroma nya sangat enak. membuat jantungku berdebar kencang. Belum pernah aku sedekat ini dengan diri nya. Dengan pria manapun belum pernah. Biasanya setiap naik motor dengan yang bukan satu gender dengan ku aku selalu menjaga jarak dengan ber pegangan jok belakang . Aku cukup menjaga jarak dengan lawan jenisku. Di saat semua teman temanku mulai di mabuk cinta. Aku memilih fokus belajar. Aku tidak mau konsentrasi ku buyar karena cinta. Walau sebenarnya ada beberapa kakak kelas dan teman sekelas ku yang mendekati. Karena aku selalu acuh mereka mundur dengan sendiri nya. Mungkin mereka bosan dengan kutu buku sepertiku. Aku sama selalu dibilang cupu oleh teman temanku. Bukan karena aku tak mau. Aku hanya tidak mau harus menghambur hamburkan uang ayah dan ibu. Aku tau mereka akan sangat marah jika aku melakukan itu. Aku tau batasan mana yang boleh aku lakukan mana yang tidak.


Banyak teman teman ku yang sering menceritakan pengalaman percintaan mereka. Terutama teman sebangku ku. Bahkan sangat banyak yang sudah melakukan hal di luar batas. Bagi anak anak se usia ku mungkin itu hal biasa. Tapi bagi ku hal itu sangat aku jaga. Aku hanya mau memberikan kesucianku pada orang yang benar benar aku cintai nanti nya. Itu janji ku pada diriku sendiri. Banyak yang bilang aku ini naif. Tapi aku sama sekali tidak peduli. Aku memegang teguh pendirianku. Aku tidak mau mnghancurkan segala impianku begitu saja.


Perjalanan kami berjalan lancar tanpa hambatan. Pagi itu tidak macet sama sekali.

__ADS_1


Hembusan angin sepoi sepoi menyentuh kulit wajahku. Tak terasa kami pun sampai tujuan.


Pelan pelan aku turun. Kurapihkan baju dan rambutku yang tertiup angin.


"Thanks ya dit udah mau anterin gw. "


"Slow aja Ran. Bang Radit siap anter neng Ran." kata Radit padaku.


"ihhh apaan dehh.. " kataku.


"Good luck ya Ran. Gw tunggu di sini oke. "


" Makasih ya dit. "


Aku bergegas masuk menuju meja customer service. Kulihat wanita cantik disana. Dengan pakaian biru gelap dan rok diatas lutut.


"Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu? "


seru wanita itu dengan ramah.


"Saya mau interview mba. Sudah janjian dengan pak Umar. "


Aku menunggu, duduk di sofa.


Ruangan ini terasa sangat dingin. Ditambah hatiku yang sangat berdebar debar. Tak lama aku dipersilahkan masuk ke ruang HRD di lantai 2.


Aku bertemu dengan pak Umar. Pak umar Tidak setinggi Radit. Kulitnya hitam dan ditumbuhi bulu yang cukup lebat. Rambut nya tersisir rapi ke arah samping. Dia memandangku dari atas ke bawah.


"Silahkan duduk. "


kata pak Umar memulai pembicaraan


Aku pun duduk. Interview di mulai. Suasana agak tegang saat itu. Pak umar bertanya tentang pengalaman kerja ku dan juga pendidikan terakhirku. Setelah interview yang cukup panjang akhirnya aku di terima di perusahaan itu dengan gaji yang cukup menurutku.


Aku di posisikan sebagai customer service. Setelah semua selesai, aku segera menghampiri Radit yang menungguku di tempat parkir.

__ADS_1


Kuceritakan pengalaman ku hari itu. Dia sangat senang mendengarku diterima.


Kamipun bergegas untuk pulang. Sesampainya di rumah. Aku menyiapkan makan siang untuk aku dan Radit. Nenek tidak ada di rumah. Nenek sedang mengurus sesuatu.


Siang itu aku membuatkan Radit bakwan jagung, sayur lodeh dan ikan goreng. Tak lupa juga aku membuat sambal untuk nya.


"Wah aroma masakan lo enak banget Ran. Ga sabar gw. Udah mateng belom? "


"Udah ni. Yuk makan"


Radit dengan lahap memakan masakan yang kumakan.


"Sumpah Ran. Ini enak banget."


"Masa sih dit? "Kataku tersipu malu.


" Iya beneran Ran."


Kami meneruskan makan. Tak lupa aku membuatkan Radit kopi susu untuk menemaninya merokok.


"Jadi besok Lo udah mulai kerja ya Ran? "


"Iya dit."


"Sebenernya lo ga perlu kerja tau Ran. Gw sama nenek sanggup kok biayain elo. "


"Ngga dit jangan. Gw ga mau ngerepotin lo sama nenek. Gw udah banyak banget ngerepotin elo. "


"Ngga gitu Ran. Kan semua bukan mau lo. Gw sama nenek yang minta lo disini. Jadi jangan ngerasa ngga enak. " Kata Radit sambil menatap mataku.


Aku salah tingkah. Pipiku memerah. Aku segera mengalihkan pembicaraan kami dengan membersihkan piring piring yang ada di meja.


Setelah semua bersih dan rapi siang itu aku dan Radit kerjasama untuk membersihkan se isi rumah. Kami mulai dari rumah utama. Banyak sekali debu yang menumpuk juga beberapa pakaian dan seprai kotor. Kami juga membersihkan halaman depan dan pendopo di depan. Kami ingin memberi kejutan pada nenek. Hanya lantai 2 yang belum sempat kami bersihkan.


Malam itu badanku terasa sangat lelah. Kubersihkan diriku. Dan aku bersiap untuk pergi tidur. Aku harus mempersiapkan diriku untuk bekerja di perusahaan baruku.

__ADS_1


Kucoba memejamkan mata. Tapi sulit rasanya. Akhirnya kuambil handphone ku. Kulihat foto foto ayah dan ibuku. Aku rindu mereka. Tak terasa airmata ini menetes. Mereka memang bukan orangtua yang perhatian. Tapi bagaimanapun juga mereka tetap orangtuaku.


"Ran rindu Ayah & ibu. " batinku dalam hati


__ADS_2